Sabtu, 21 Mei 2011

Hari Senin 11 April 2011

Tuhan Mendengar Suaraku
Mazmur 18 : 7
Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya
Dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia sering dikatan sebagai "memanggil nama Tuhan", yang berarti berdoa. Tetapi menurut arti kata dari bahasa aslinya, "berseru" ini bukan berarti berdoa, dalam bahasa Ibraninya berarti "berseru keapada", "berteriak kepada". Arti bahasa Yunaninya sebagai "memohon kepada orang", "memanggil nama orang", yaitu dengan suara yang terdengar oleh orang lain memanggil nama seseorang. Karena itu "menyeru nama Tuhan" arti yang benar adalah menyeru nama Tuhan Yesus, dengan suara yang terdengar orang berseru "Ya Tuhan Yesus, O Tuhan Yesus". Demikian juga kita, setelah kita mengenal kesia-siaan hidup manusia, kita lalu berkata: "Ya Tuhan, aku tidak seharusnya menurut pandanganku sendiri, aku harus menurut caraMu dan hidup beribadah kepadaMu. Tuhan, kehidupan manusiaku kosong dan sia-sia, aku adalah orang yang lemah dan pasti mati." Pada saat ini dengan sendirinya kita bisa berseru kepada nama Tuhan.
Seringkali apa yg kita alami sangat bertolak belakang dengan apa yg kita harapkan.... kita menginginkan sesuatu yg baik tapi justru penderitaan dan kesesakanlah yg menghampiri kita. Tidak ada yg bisa memperidiksi kapan kesesakan itu datang semua terjadi tanpa di undang... bahkan terkadang kita merasa bahwa hidup kita berada di jalur yg benar. Kita setia berdoa, saat teduh, aktif dlm kegiatan kerohanian di gereja dan lain sebagainya, namun kepahitan dan masalah tak juga kunjung selesai bahkan semakin bertambah... Sementara orang lain yg kelihatannya hidup jauh dari Tuhan, menuruti hawa nafsu mereka tapi seolah-seolah kebaikan lebih berpihak kepada mereka... Sehingga menimbulkan tanda tanya besar dalam hidup kita... "Mengapa ini yg harus aku alami?' di manakah Tuhan ketika aku dalam kesesakan ? atau masihkan Tuhan mendengar seruanku ?
Dalam keadaan baik maupun buruk, Tuhan selalu ada menyertai kita sebagai penolong dalam kesakan. Dia mengerti keluh kesah kita. jeritan batin kita. Dia terlalu sangat memahami apa yg kita alami. Tuahan katakan pencobaan-pencobaan yang kamu alami tidak melebihi kekuatanmu. Artinya jika kita selalu berlindung dalam naungan tangannya maka kekuatan untuk menghadapi masalah itu semakin luar biasa. mengapa Tuhanlah yang menjaga kita. Dalam naungan sayapNya kita berlindung, maka tidak ada satu badai persoalan pun yg tidak mampu untuk di atasi. Berlindunglah dalam pemeliharaan dan penjagaan Tuhan.

Hari Minggu Judika, 10 April 2011

Hidup Takut Akan Allah
Kejadian 22 : 1 – 13
Adalah seorang anak yang mau naik kelas harus melewati test / ujian terlebih dahulu. Bagi mereka yang ingin menyandang gelar akademis, tentunya ada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Proses kesitu adalah ujian, baik ujian semester, ujian praktek, ujian skripsi, dll. Ujian memang berat, tetapi harus dilewati sebelum diumumkan lulus atau menjadi seorang pemenang. Hidup kita juga demikian, tidak luput dari berbagai ujian sebagai proses menuju keberhasilan. Kadang kala pikiran, keinginan, emosi dan kesetiaan kita kita diuji. Di-berbagai aspek kehidupan, manusia juga pasti diuji, dan ujian itu bisa terjadi dalam rumah tangga, digereja, diperjalanan, ditempat pekerjaan dan sebagainya, yang tujuannya adalah untuk memperkuat iman kita, memurnikan iman kita dan membuat iman kita semakin bertumbuh .
Renungan kita minggu ini mencermati ujian yang dihadapi Abraham pada saat Allah meminta anak satu-satunya menjadi korban bagi Tuhan. Didalam cerita ini kita tahu bahwa Abraham lulus dari ujian ini secara memuaskan; sehingga Tuhan bersabda: Jangan bunuh anak itu. sebab telah Kuketahui sekarang bahwa engkau takut akan Allah.
Sangat jelas sekali permintaan Allah kepada Abraham, tidak perlu ditafsir lagi ; Allah meminta “Anak tunggal yang dikasihi”. Seperti kita ketahui, untuk menantikan kelahiran Ishak, Abraham harus menanti janji Tuhan ini selama duapuluh lima tahun. Sejak Ishak lahir Abraham dengan penuh suka-cita dan penuh kasih membesarkan anak ini, namun sekarang secara tiba-tiba Allah memintanya kembali. Apa maksud Tuhan? Apakah Tuhan sedang mepermainkan Abraham?
Apakah tadinya sebelum peristiwa ini Allah tidak tahu ? Ya, pasti Tuhan tahu reaksi Abraham seperti apa! Tahu disini adalah berkaitan dengan pengalaman, telah membuktikan bahwa Abraham beriman dan takut kepada Tuhan. Dua kata kunci dalam kisah ini yaitu : "Beriman dan takut akan Tuhan". Kalau setiap orang percaya memiliki hal ini, maka Tuhan berkata : "Jangan kauapa-apakan masalahmu.. Saya yang membereskannya.
Sekarang ini manusia lebih takut kepada hantu, takut jatuh sakit, takut miskin, gempa bumi, banjir, takut kepada teroris, tetapi tidak takut akan Tuhan. Manusia hanya takut dipenjarakan, kalau ketahuan perbuatannya, tetapi tidak takut kepada Tuhan yang menentukan hidupnya nanti di Sorga atau di neraka.
Kalau kita takut akan Tuhan, maka kebenaran ini akan mengubah dan merombak hidup kita. Apa sih takut akan Tuhan ? Arti sederhananya adalah kalau ada kesempatan untuk berbohong, kalau ada kesempatan untuk mencuri, kalau ada kesempatan untuk korupsi, ada kesempatan untuk berzinah atau berbuat cabul, ada kesempatan melakukan kejahatan ; maka "janganlah kita lakukan itu", meskipun orang lain tidak mengetahuinya, tetapi "mata Tuhan ada disegala tempat, mengawasi orang jahat dan baik" (Amsal 15 : 3).
Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang percaya pada Tuhan sepenuhnya, tidak setengah-setengah. Orang yang tidak meragukan kebaikan, kesetiaan dan kemurahan Tuhan. Dia yakin bahwa Tuhan memberikan yang terbaik dalam hidupnya. Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang mengasihi Tuhan lebih dari segala-galanya.
Andaikata kita ini adalah seorang karyawan. Pada saat kita sedang mempersiapkan diri untuk pergi beribadah pada jam yang sudah biasanya, lalu tiba-tiba boss kita mengajak kita makan direstoran, mana yang akan kita pilih ? mana yang harus kita prioritaskan ? Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang taat pada Allah sepenuhnya. Meskipun apa yang diminta Tuhan begitu sulit seperti yang dialami Abraham, tetapi dia tidak membantah, dia tidak ragu-ragu untuk melaksanakannya. Dia beriman bahwa apa yang dilakukannya menyenangkan hati Tuhan, walaupun hal itu tidak menyenangkan hatinya sendiri. Mari, hadapilah ujian iman kita, untuk melihat kemuliaanNya. Kalaupun gagal, janganlah patah semangat atau undur daripada Tuhan, tetapi mintalah ampun kepadaNya dan mintalah hikmatNya dan kekuatanNya, pastilah kita akan dibuatNya berhasil dan lulus.
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah:  itu adalah ibadahmu yang sejati."  Roma 12:1
Klimaks kehendak Bapa ialah pelaksanaan korban tubuh kristus Yesus.  Ia mengorbankan diriNya di salib bagi umat manusia.  Jadi dalam melaksanakan kehendak Bapa kita pun dituntut mengorbankan tubuh kita.  Pengorbanan Yesus tentunya berbeda dengan pengorbanan kita.  Pengorbanan Yesus berarti kematianNya, tetapi pengorbanan kita ialah mempersembahkan tubuh kita yang hidup seperti dikatakan rasul Paulus,  "...demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah..." Adapun langkah kedua dalam meneladani Yesus adalah mengorbankan atau mempersembahkan tubuh kita di atas mezbahNya.  Dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup kita tidak lagi punya hak atas hidup kita dan sama sekali tidak punya hak menuntut apa-apa lagi karena hidup kita bukanlah milik kita lagi.  Sejak saat kita mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan, tubuh kita ini menjadi milik Dia sepenuhnya.  Paulus berkata, "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.  Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dan Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku."  (Galatia 2:19b-20).     Karena segala sesuatu yang diletakkan di mezbah menjadi milik Allah maka Dialah yang menentukan segalanya atas milikNya tadi.  Kemana pun tubuh diutus kita tak dapat menuntut apa-apa, dan apa pun yang kita perlukan Dialah yang mengaturnya.  Tapi sebelum Dia dapat berkarya sepenuhnya dalam hidup kita, kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan mempercayakan hidup ini sepenuhnya kepadaNya, artinya tidak lagi hidup atas dasar kehendak diri sendiri. Jadi, "Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah, ...untuk menjadi senjata-senjata kebenaran."  Roma 6:13

Hari Sabtu 9 April 2011

Menegur Dengan Kasih
Imamat 19 : 17
Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia 
Berbicara merupakan salah satu aktivitas setiap manusia normal. Tentu saja, berbicara bukan asal-asal saja, karena berbicara memiliki maksud tertentu. Bahkan, ada juga berbicara sebagai basa basi belaka, sehingga membutuhkan kesanggupan interpretasi dan ketajaman pribadi untuk memahaminya. Dalam hal ini berbicara tidak lagi mengambarkan keadaan apa adanya, melainkan sesuatu yang harus ditafsirkan!
Perenungan ini mengajak kita untuk berbicara secara jujur, apa adanya. Rasul Paulus sungguh risau ketika ia mengatakan ‘16 Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? (Galatia 4:16)’. Kejujuran orang beriman dalam berbicara diteladankan juga oleh Tuhan Yesus.
Bila menegur itu juga adalah kasih, karena Yesus sendiri yang mengajarkan. menegur ada caranya dan tahapannya, yaitu secara pribadi (empat mata), dengan dua atau tiga orang, dan terakhir dihadapkan kepada jemaat (paroki). Bila kita mendapati saudara/i yang berdosa/bersalah (baca: melawan cinta kasih) maka seyogyanya kita menegornya dengan kasih (baca: mengembalikan kasih yang dilawan tersebut). Namun seringkali kita lebih suka mendiamkan/acuh tak acuh /sungkan untuk menegur jika saudara/i kita bersalah/berdosa dengan alasan takut menyinggung perasaan mereka, takut melukai hati mereka atau membuat mereka marah dsb. Atau sebaliknya, kita malah menggosippin saudara/i kita yang bersalah/berdosa itu atau menghakimi mereka dihadapan umum yang membuat mereka malu tanpa melalui tahap demi tahap.
Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah; bagaimana kita harus menegur? Pertama-tama berusahalah kita hidup dalam kebenaran cinta kasih Allah, dan dengan semangat cinta kasih yang didahului doa barulah kita "siap" menegur seseorang. Bilamana kita mengasihi seseorang maka kita pun tidak akan segan menegur seseorang yang kita tahu ia bersalah/berdosa. Kita juga harus meminta Hikmat Allah dalam menegur, jangan berdasar emosional atau secara subyektif semata, namun yang terpenting, kita menegur karena kita mengasihi dia.Bila kita mengawali dengan kasih, maka kita juga akan mengakhiri dengan kasih. 

Hari Jumat 8 April 2011

Tidak Berbuat Dosa Lagi
Yohanes 8 : 10 – 11
Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.
Jika menuruti hukum Taurat Musa, perempuan yang demikian harus dihakimi - dihukum mati dengan cara dilempari dengan batu sampai mati (ayat 5, bdk. Imamat 20:10; Ulangan 22:22-24). Meski hal ini jelas merupakan tipe "penghakiman massa". Penghakiman dalam konteks demikian tidak hanya dilakukan sebagai reaksi spontan atas tindak kejahatan dan dosa perzinahan tetapi juga semakin menemukan motifnya yang suci yakni sebagai usaha pembelaan atas tegaknya hukum Taurat. Dengan kata lain, melempari si pendosa itu dengan batu sampai mati adalah suatu kebenaran seturut hukum. Tetapi pada masa itu hal semacam ini tidak sesuai hukum sipil Romawi. Tuhan Yesus mengerti persoalan itu, bahkan lebih dalam, yaitu bahwa persoalan moralitas itu dibawa oleh mereka yang hendak menghakimi perempuan itu adalah juga orang-orang yang berdosa. Mereka merasa diri orang benar dan hanya bisa melihat serta menilai kekurangan dan kesalahan orang lain, kemudian menghakimi.
Apakah yang kira-kira ditulis oleh Yesus? Alkitab tidak menjelaskannya. Dalam beberapa tafsiran mengatakan apa yang dilakukan Yesus itu menunjukkan bahwa Yesus sedang menunjukkan bahwa Dia adalah Allah. Siapakah yang menulis ke-sepuluh firman dengan jariNya diatas dua loh batu yang diberikan kepada Musa di atas gunung Sinai?. Alkitab berkata bahwa perintah-perintah ini ditulis oleh jari Allah : Keluaran 31:18 : "Dan TUHAN [YHVH] memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah."
Hal itu menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri. Sementara Yesus menulis di atas tanah, ini seolah-olah menunjukkan, "lihat, Akulah Allah yang menuliskan hukum-hukum itu dengan jari tangan-Ku." Dan sebenarnya, ketika Dia sedang menulis, orang-orang Farisi yang membawa perempuan yang terbukti melakukan dosa-dosa itu. Dan inilah fungsi dari hukum Allah, hukum ini membuktikan adanya dosa. Hukum itu menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang sangat-sangat berdosa.
Jawaban Yesus menyadarkan mereka bahwa mereka juga orang berdosa, dan semakin tua atau tambah usia berarti semakin tambah dosa dan kekurangannya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak dengan mudah menyalahkan atau melecehkan orang lain, serta secara khusus mengajak dan mengingatkan mereka yang sudah tua atau lebih tua untuk dengan rendah hati menyadari dan mengakui dosa-dosanya. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk lebih menghormati dan menghargai mereka yang lebih muda dari kita, antara lain lebih memberi kesempatan dan kemungkinan untuk tumbuh berkembang atau memberi fungsi dalam kehidupan bersama. Mereka yang lebih tua atau lanjut usia hendaknya rela mengundurkan diri dan memberi kesempatan yang lebih muda untuk menggantinya.
Seorang pendeta berdiri di pinggir jalan di dekat sebuah halte bus. Tak henti-hentinya ia berteriak: “Siapa yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia akan diselamatkan.” Ia juga meneriakan agar semua manusia bertobat dan tak berbuat dosa.  Tiba-tiba seorang anak muda datang dan berdiri di depannya lalu bertanya; “Bapak pendeta; Anda mengatakan bahwa semua manusia adalah orang-orang berdosa tanpa terkecuali. Membawa serta dosa dalam diri sendiri sama dengan memikul sebuah beban yang amat berat. Namun saya tak pernah merasakannya sedikitpun. Katakanlah padaku, berapa berat sebuah dosa itu? Lima kilo? Sepuluh kilo? Atau seratus kilo?”

Sang pendeta memperhatikan anak muda tersebut dengan seksama lalu balik bertanya; “Bila kita meletakan 500 kilo beban ke atas mayat, apakah mayat tersebut akan merasa bahwa beban yang dipikulnya itu berat?” Dengan cepat dan pasti anak muda tersebut menjawab; “Tentu saja tidak!! Ia pasti tidak merasa berat karena ia telah mati.”  Sang pendeta mengagumi anak muda tersebut. Sambil tersenyum ia menjawab; “Hal yang sama terjadi pada kita. Kita tentu tak merasa bahwa beban dosa yang kita pikul itu berat. Karena pada saat kita berada dalam dosa, saat itulah kita sebetulnya telah mati.”
Saudara-saudara yang terkasih dalam nama Yesus, betapa malang orang yang sudah jatuh tapi tidak menyadarinya, tetapi betapa bahagianya orang yang pernah jatuh tetapi bangkit kembali. Mintalah pengampunan kepada Tuhan, sebab sesungguhnya Dia adalah Allah yang kaya akan kasih karunia. Grasi dari Tuhan diberikan kepada mereka yang memohonnya.

Hari Kamis 7 April 2001

Takut Akan Tuhan
Yesaya 59 : 19
Maka orang akan takut kepada nama TUHAN di tempat matahari terbenam dan kepada kemuliaan-Nya di tempat matahari terbit, sebab Ia akan datang seperti arus dari tempat yang sempit, yang didorong oleh nafas TUHAN
Saudara-saudari yang dikasihi Yesus Kristus, kita dapat belajar mengenal cara Allah berhadapan dengan umat Israel yang telah dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri dari antara segala bangsa. Pelajaran itu adalah satu pelajaran berharga bagi kita. Jika kita benar-benar belajar dari pengalaman mereka, maka tentulah kita tidak akan meniru perilaku mereka yang membuat Allah berduka dan membiarkan mereka tanpa juruselamat. Bangsa Israel berhadapan dengan murka Allah atas keberdosaan mereka. Karena mengalami tekanan yang berat, mereka bertobat, lalu Allah mengampuni mereka dari keberdosaannya. Tetapi setelah murka Allah surut, Israel kembali berbuat kesalahan yang sama. Itulah keberadaan manusia yang berdosa. Ia tidak boleh tidak akan kembali kepada keberdosaannya.
Di saat kita takut akan Tuhan, berserah dan memuliakanNya, sebenarnya saat itulah kita menunjukkan bahwa kita tahu siapa Dia sebenarnya. Kita tahu dimana posisi kita, bagaimana hubungan kita, yang diciptakan dengan Sang Pencipta. Takut akan Tuhan menunjukkan bahwa kita menanggapi perintahNya dengan sungguh-sungguh, dan kita memiliki kerinduan penuh untuk menyenangkan Tuhan dengan segala yang kita lakukan atau katakan, bahwa kita mendasarkan semuanya kepada Tuhan, kapanpun, dimanapun, setiap saat, setiap waktu.
Orang yang takut akan Tuhan akan bebas dari ketakutan karena padanya tidak ada dosa yang disembunyikan. Selalu ada penlindungan bagi keturunannya! Sekali pun mata manusia tak melihat, ia tetap memilih untuk hidup taat dan tidak melakukan kejahatan karena telah mengerti bahwa “. . . tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13).

Hari Rabu 6 April 2011

Terus Mengalami Ujian
Efesus 1 : 4 – 6
Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya
Ketika kita masih berada di rahim ibu atau bayi kiranya kita sungguh kudus dan tak bercacat di hadapan Tuhan. Kehadiran dan keberadaan kita sebagai bayi mungil sungguh menarik, memikat dan mempesona. Namun sungguh sayang ketika kita menjadi dewasa semuanya itu pudar kena erosi, dengan kata lain kita kurang atau tidak kudus lagi serta penuh dengan cacat dan cela. Tambah usia dan pengalaman berarti bertambah pula dosa dan kekurangan maupun kelemahan. Meskipun demikian kita tetap dikasihi oleh Tuhan, maka baiklah kami ingatkan bahwa semakin tambah usia dan pengalaman hendaknya berusaha semakin rendah hati, karena juga semakin menerima lebih banyak kasih pengampunan atau kemurahan hati Tuhan. Harus dibedakan: kepastian keselamatan dan ketidakyakinan akan keselamatan. Keselamatan dari Allah adalah kepastian, namun siapa yang diselamatkan tidak ada yang tahu. Maka, keselamatan adalah kepastian, namun memahami diri diselamatkan adalah sebuah proses pergumulan hidup. John Calvin: “Ketika kita mengajarkan bahwa iman haruslah yakin dan pasti, kita tidak dapat membayangkan adanya keyakinan yang tidak ternodai oleh keraguan, atau kepastian yang tidak diserang oleh rasa was-was. Di sisi lain, kita berkata bahwa orang-orang percaya terus-menerus berada di dalam konflik dengan rasa tidak percaya mereka sendiri
Keselamatan dari Allah layak untuk diyakini, tetapi keyakinan adalah sebuah proses seumur hidup. Itulah sebabnya mengapa sepanjang hidup kita terus mengalami ujian! Kita semua diundang untuk memiliki mata iman yang mampu melihat lebih jauh dan mendalam karya keselamatan Yesus untuk dunia. Biarlah kita membuka diri untuk dituntun oleh Yesus dan masuk kedalam Kerajaan-Nya. Kita berdoa supaya kita dianugerahi mata iman, yang akan menguatkan kita dalam segala permasalahan.
Pekerjaan Allah hanya ada yang pasti, keselamatan adalah karya Allah yang pasti. Tetapi membutuhkan suatu pergumulan untuk mengerti apaka kita secara pribadi diselamatkan oleh Allah? Jika ya, maka itu akan terlihat dari hidup kita. Kepastian keselamatan tidak sama dengan percaya diri (self-confidence), tetapi keyakinan kita dikerjakan oleh Roh Kudus.

Hari Selasa 5 April 2011

Berseru Dan Bersorak
Yesaya 12 : 6
Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!
Berseru adalah sebuah akibat dari suatu sukacita maupun dukacita. Berseru berarti menunjukkan sesuatu yang mau diungkapkan baik syukur maupun permohonan. Berseru berarti kita memerlukan sesuatu perhatian dari orang lain. Berseru dan bersorak adalah dua kata yang saling menguatkan. Bersorak berarti tindakan yang sangat kuat dari sebuah seruan. Sorak merupakan aksi yang sungguh-sungguh keluar dari ke dalaman hati.
Roh TUHAN ada pada Yesus Kristus (Yohanes 1:32). Yesus Kristus menghakimi dengan keadilan (Yohanes 5:30). Penggenapan lengkap dari nubuat mengenai kedatangan Tunas dari tunggul Isai ini bukan terjadi dalam satu kali kedatangan-Nya, melainkan dalam dua kali kedatangan-Nya. Pada kedatangan yang pertama, Yesus Kristus memberikan damai sejahtera secara batiniah bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Pada kedatangan yang kedua kali, Yesus Kristus memberikan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan-Nya, karena Ia adalah Raja Damai. Hal ini digambarkan dengan rukunnya hewan-hewan yang sepengetahuan kita tidak mungkin bisa rukun satu sama lain. Pada waktu itu, TUHAN juga menggenapi janji-Nya kepada bangsa Israel bahwa sisa bangsa ini akan mewarisi janji-Nya. TUHAN yang berjanji tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Kita yang percaya kepada Yesus Kristus adalah orang-orang yang mengalami damai sejahtera-Nya secara batiniah. Damai sejahtera tersebut sangat mempengaruhi sikap hidup kita dalam menghadapi kegelisahan dunia ini. Kegelisahan dunia ini masih terus terjadi karena TUHAN belum selesai menggenapi janji-Nya. Namun, berdasarkan janji-janji yang telah Ia genapi, kita percaya bahwa Ia akan menggenapi seluruh janji-Nya dengan sempurna. Kita pun tahu bahwa Ia tidak pernah melupakan umat-Nya.
Mengapa kita berseru dan bersorak? Pemazmur berkata, sebab Yang Mahakudus di tengah-tengah kita. Kita mau bersorak sebab DIA  berada dekat dan diam bersama kita. Kita berseru sebab DIA menopang dan menolong kita dalam perjalan hidup ini. Karenanya jangan lagi takut menghadapi kenyataan hidup ini sebab DIA Yang Mahakudus bersama-sama dengan kita. Mulailah harimu dengan keyakinan bahwa Tuhan bersama-sama dengan kita.

Hari Senin 4 April 2011

Mau Di Didik
Amsal 4 : 13
Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu
Dalam proses pengembangan kemampuan atau bentuk tingkah laku, yang pertama diperoleh tentu dari lingkungan paling dekat yaitu di rumah. Namun setelah seseorang bekerja, maka lingkungan yang cukup dominan adalah lingkungan kerja. Di lingkungan kerja ini peran Pimpinan akan sangat besar pengaruhnya terhadap pola tingkah laku para bawahannya (anak buahnya).
Seperti pepatah mengatakan bahwa “buah tidak akan jauh dari pohonnya” atau “Like Father Like Son”. Semua pepatah itu menggambarkan betapa faktor didikan atau pola asuh pimpinan itu demikian melekat pada setiap anak buahnya dalam berperilaku kerja. Mungkin sering kita jumpai ada karyawan yang sangat cekatan dan antusias dalam melayani customer atau sesama karyawan. Tapi sebaliknya, ada karyawan yang begitu egois dalam bekerja. Prinsipnya bahwa pekerjaannya harus selesai, terserah bagian lain mengalami kesulitan atau tidak. Perilaku-perilaku kerja semacam itu memang bisa “bawaan” dari lingkungan orang tua di rumah, atau didikan pimpinan di tempat kerja yang sudah menjadi bagian dari pola pikirnya.
Salah satu cara bawahan menerima didikan pimpinan adalah belajar dari pengamatan. Setiap saat, para bawahan disadari atau tidak akan mengamati perilaku pemimpinnya. Perilaku yang memang pas dan “nyaman” untuk dia, maka perilaku itu yang akan ditampilkan. Jadi ada semacam proses pembentukan pola pikir lewat pengamatan tadi.
Saat kita mengiktui Instruksi Tuhan dan melakukan apa yang Ia katakan, kita dapat mengharapkan hidup yang berkepenuhan dan kedamaian dengan orang lain. Ingat, kegagalan hanya datang kepada mereka yang memilih untuk tidak melewati jalan sempit dari kesuksesan itu. Hari ini, mengapa kita tidak memulai untuk menerapkan kebijaksanaan Tuhan dalam kehidupan kita sehari- hari dan melihat bagaimana hidup kita diubahkan dan diberkati?

Hari Minggu Letare, 3 April 2011

Yesus Adalah Roti Kehidupan
Yohanes 6 : 55 – 65
Apa yang Yesus maksudkan? Jelaslah bahwa bahasanya tidak dapat diambil secara harfiah : Dia tidak menganjurkan kanibalisme. Kalau begitu, bagaimana harus diartikan? Hal ini tidak hanya kabur, mereka berpikir : itu bersifat menantang. Bagi orang yahudi, minum darah apapun, bahkan makan daging yang darahnya masih belum dialirkan, adalah tabu. Apalagi meminum darah manusia yang tidak masuk akal kalau perlu disebutkan. Ini merupakan perkataan yang keras dipandang dari lebih banyak segi.
Bernard menerangkan perkataan "Barangsiapa yang makan dagingKu dan minum darahKu mempunyai hidup yang kekal" dengan arti "Barangsiapa merefleksikan kematianKu, dan mengikuti teladanKu sehingga tersiksa di bumi, memperoleh hidup yang kekal – dengan kata lain, "Bila engkau menderita bersamaKu, engkau juga akan memerintah bersamaKu" (Bernard, The Love of God, 4.11).
Timbul suatu pertanyaan : Apa hubungan perkataan yesus dengan Perjamuan Kudus, yaitu orang-orang percaya yang menerima roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah Yesus Kristus? Berbeda dengan penulis-penulis lainnya, Yohanes tidak mencatat institusi Perjamuan Kudus, tetapi hal ini memang menunjuk kepada kebenaran yang sama dalam perkataan seperti dalam Perjamuan Kudus dalam tindakan. Kebenaran ini diringkas dalam undangan yang disampaikan kepada pengikut Perjamuan Kudus dalam Book of Common Prayer : 'Ambillah dan makanlah, ini sebagai peringatan bahwa Kristus telah mati bagimu, dan hiduplah dari Dia dalam hatimu oleh iman dengan ucapan syukur'. Hidup dari Kristus dalam hati oleh Iman dengan ucapan syukur adalah 'makan daging Anak Manusia dan minum darahNya' dan dengan demikian, kita memperoleh kehidupan yang kekal.
Kita lihat bagaimana Yesus secara berangsur-angsur memberi pengajaran orang beriman tentang roti dari sorga yang membawa hidup, yang akan Ia berikan kepada dunia (melalui pemecahan lembaran roti, mengacu kepada hujan manna yang diberikan kepada bangsa Israel, dan akhirnya mengacu kepada roti yang Yesus akan berikan, yang mana adalah dagingNya sendiri). Ketika bangsa Yahudi mempertanyakan Yesus tentang bagaimana mungkin ia bisa memberi mereka dagingNya untuk dimakan, Yesus menjadi lebih harafiah di dalam penjelasanNya. Yesus mengatakan beberapa kali bahwa kita harus makan (di dalam bahasa Yunani, "phago") dagingNya untuk memperoleh hidup abadi (yang secara harafiah berarti "untuk mengunyah").

Hari Sabtu 2 April 2011

Berbahagia Dalam Tuhan
Mazmur 84 : 5
Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela
Pada masa raja Salomo, kemah suci itu diganti dengan bangunan baru yang permanen yang disebut bait (rumah) Allah atau bait TUHAN. Sebagaimana halnya dengan kemah suci, bait TUHAN ini tetap diyakini sebagai tempat Allah berdiam. Sekalipun demikian, raja Salomo menyadari bahwa bangunan yang dia dirikan itu tidak dapat memuat (membatasi) Allah yang Mahabesar (1 Raja-raja 8:27). Pada zaman nabi Yeremia, dosa telah merajalela. Penduduk Yehuda masih beribadah kepada TUHAN, tetapi tidak dengan segenap hati. Mereka beribadah juga kepada Baal dan melakukan berbagai macam kejahatan (7:4-15). Oleh karena itu, keyakinan bahwa Allah berdiam dalam bangunan tersebut merupakan keyakinan yang kosong dan menyebut "bait Tuhan" bisa dianggap sebagai perkataan yang menipu. Ibadah kepada Allah harus dilandasi oleh ketulusan hati (tidak menyembah ilah lain) serta kekudusan hidup (menjauhi kejahatan).
Saat ini, kita juga menyebut gereja tempat kita beribadah sebagai rumah Tuhan. Akan tetapi, bila ibadah kita tidak disertai dengan ketulusan hati dan kekudusan hidup, kita juga tidak layak menyebut gereja sebagai rumah Tuhan. Saat membaca teguran-teguran Allah yang keras terhadap umat-Nya dalam kitab Yeremia ini, marilah kita memeriksa diri apakah kita sudah mengikuti Allah dengan hati yang tulus, tidak bercabang, dan apakah kita sudah menjaga kesucian hidup kita.
Dalam realita hidup yang menderita ini manusia mengimpi-impikan adanya suatu kebahagian. Banyak orang yang hidupnya mencari bahagia. Ada orang yang memikirkan bahwa bahagia akan didapatkan bila ia mempunyai harta yang banyak. Tetapi kenyataan di dalam hidup adalah ketika banyak harta justru banyak kuatir dan juga manusia yang tidak pernah puas tidak merasakan bahagia. Ada orang yang berpikir bahwa bahagia adalah ketika ia mempunyai teman yang banyak. Tetapi kenyataan di dalam hidup adalah banyak orang yang mempunyai teman banyak, kehidupan sosial yang luas tetapi merasa kesepian di dalam hidupnya. Masih banyak target yang manusia ingin raih supaya hidup itu bahagia. Ada yang dengan mencari kebahagian dalam status sosial, kedudukan dan pangkat, pasangan hidup, pengalaman hidup, kepandaian, bijaksana. Tetapi akhirnya semua ini tidak membawa manusia bahagia. Lalu bahagia sejati itu apa ? Bahagia sejati itu hanya ada di dalam Tuhan dan di dalam FirmanNya.

Hari Jumat 1 April 2011

Selalu Berharap Pada Tuhan
Yesaya 50: 2
Mengapa ketika Aku datang tidak ada orang, dan ketika Aku memanggil tidak ada yang menjawab? Mungkinkah tangan-Ku terlalu pendek untuk membebaskan atau tidak adakah kekuatan pada-Ku untuk melepaskan? Sesungguhnya, dengan hardik-Ku Aku mengeringkan laut, Aku membuat sungai-sungai menjadi padang gurun; ikan-ikannya berbau amis karena tidak ada air dan mati kehausan
Alkitab menyatakan bahwa kehidupan orang percaya di dunia ini seperti seekor domba di tengah-tengah serigala.  Mampukah kita menghadapinya bila kita mengandalkan kekuatan sendiri?  Domba sangat bergantung sepenuhnya kepada gembalanya.  Begitu pula kita.  "...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."  (Yohanes 15:5).  Tanpa penyertaan Tuhan kita tidak punya kekuatan apa-apa karena hidup kita sepenuhnya di tangan Tuhan, seperti Gembala kita.
     Jadi kita harus senantiasa berdoa.  Berdoa berarti menyadari keterbatasan dan ketidak berdayaan kita.  Kita harus berdoa karena kita sangat membutuhkan uluran tangan Tuhan yang penuh kuasa itu.  Tuhan Yesus sendiri telah meninggalkan teladan bagi kita, selalu membangun kekariban dengan Bapa melalui doa.  Orang Kristen yang suka berdoa berarti selalu mengandalkan Tuhan dalam seluruh kehidupannya.  Dikatakan demikian,  "Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!"  (Yeremia 17:7).  Artinya hidupnya akan berbagia karena ia senantiasa dipelihara oleh Tuhan.  Sebaliknya orang yang tidak suka berdoa berarti mengandalkan kekuatannya sendiri, dan inilah yang dikatakan Alkitab:  "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!"  (Yeremia 17:5).
Paulus mengatakan tentang kasih Allah dengan sebuah  ungkapan: “betapa dalamnya, betapa tingginya, betapa panjangnya dan betapa lebarnya kasih Allah”. Adakah orang yang pernah sampai pada sisi tepi dari kasih Allah yang diungkapkan Paulus ini? Rasanya tidak. Oleh karena itu kasih karunia Allah tidak akan pernah habis di lubuk hati-Nya Allah yang paling dalam. 
Sebuah pertanyaan diajukan: siapakah yang menerapkan kasih karunia Allah itu di dalam hidup manusia? Jawabannya jelas ialah: Roh Kudus! Ia bekerja dengan cara-Nya sendiri untuk menerapkan kasih karunia Allah yang ada di dalam diri Yesus Kristus pada siapa pun yang dihehendaki-Nya. Bahkan bagi orang yang mau menghembuskan nafasnya yang terakhir pun Roh Kudus dapat berkarya untuk membuat orang itu berseru kepada Allah. 
 Nabi Yoel di PL dan Paulus di PB mengatakan: “barang siapa yang berseru kepada Allah akan diselamatkan”. Orang yang sekarat itu dapat berseru di dalam hatinya kepada Allah. Lalu Roh Kudus berkarya untuk orang itu dengan jalan memberinya kasih karunia. Jika demikian, maka ia akan selamat. Selamat karena kasih karunia yang di dalam Yesus.
Allah tidak pernah membiarkan dosa tanpa menjatuhkan hukuman. Walaupun Allah sering menunda saat penghukuman untuk memberi kesempatan agar umat-Nya bertobat, penundaan itu tidak boleh diremehkan. Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan Yesus, kita harus senantiasa bersyukur karena Tuhan Yesus sudah menanggung hukuman dosa kita melalui kematian-Nya di kayu salib. Tanpa Tuhan Yesus, kita semua akan menghadapi saat penghukuman. Kita yang sudah dibebaskan oleh pengorbanan Tuhan Yesus harus membalas dengan menjauhi dosa.

Jumat, 06 Mei 2011

Hari Kamis, 31 Maret 2011

Penyesalan
Mazmur 32 : 3 – 5
Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. S e l a. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. S e l a 
Disiplin adalah hal yang sulit—dan kita mungkin berusaha menghindarinya. Namun, dalam dunia olahraga maupun kehidupan, bersakit-sakit dahulu untuk jangka waktu singkat sering menjadi satu-satunya jalan supaya dapat bersenang-senang untuk jangka waktu yang lama. Dalam suatu pertempuran yang sengit, terlambat sudah kalau masih bersiap-siap. Pilihannya: Anda harus siap sedia menghadapi segala tantangan hidup atau Anda akan terus dibayangi pemikiran “bagaimana jika”, “seandainya saja”, dan “seharusnya aku” yang muncul ketika Anda gagal mempersiapkan diri. Itulah pedihnya penyesalan.
Mengapa masalah tidak untuk disimpan, tetapi dibagikan? Sebab Allah rindu kita bertumbuh dalam karakter kita sebagai orang percaya. Salah satu karakter yang Allah kehendaki adalah hidup jujur. Transparan dan hidup apa adanya. Allah mau kita jujur dengan perasaanperasaan kita. Tidak hanya yang positif, tapi juga yang negatif. Namun kita umumnya cenderung memakai topeng, berusaha menampilkan kelebihan dan kebaikan-kebaikan kita saja; namun menutup rapat kelemahan kita. Mengakui masalah kepada orang yang dapat kita percayai, adalah sarana kita merendahkan diri kepada Allah.
Tuhan mengetahui akan segala yang kita kerjakan, karena itu hendaknya kita mengakui segala pelanggaran kita kepada Tuhan. Jikalau kita orang percaya, kita berbuat dosa maka ada hal yang mengganjal / mengganggu dalam hati kita, maka kita harus mengaku & menyesali segala dosa / pelanggaran kita. Amsal 28 : 13 - Jangan menyembunyikan pelanggaran. Yehezkiel 18 : 21 - 23 - Pertobatan orang fasik. Tuhan rindu untuk mencurahkan kasihNya bagi orang yang berdosa. Yohanes 16 : 8 - Kedatangan Tuhan untuk menginsafkan dunia dari dosa, kebenaran dan penghakiman. I Yohanes 1 : 9 - Jikalau kita mengaku IA akan mengampuni dosa kita. Yesaya 1 : 18 - Kebesaran ampunan Tuhan.
Pengampunan dari Tuhan selalu diberikan bagi semua orang, bagi kita semua. Yesaya 1 : 20 - Janganlah kita melawan & memberontak. Kita harus berdoa supaya Roh Kudus menyadarkan diri kita akan segala kesalahan kita, akui, sesali dan bertobat. Lukas 19 : 1 - 10 - Tentang Zakheus. Di dalam pertobatan pastilah ada buah hasil dari pertobatan kita. Matius 3 : 8 - Buah sesuai dengan pertobatan. Pertobatan harus ada dalam kehidupan kita, jadi setiap malam sebelum tidur kita harus mengakui segala dosa / pelanggaran kita sepanjang hari & malam. Filipi 2 : 12 - Mengerjakan keselamatan kita.


Hari Rabu, 30 Maret 2011

Yesus Adalah Terang
Yohanes 12 : 46
Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan
Kata terang memiliki makna yang sangat kaya, baik dalam Kitab Suci maupun dalam pengertian umum. Dalam pengertian umum terang dapat berarti cahaya nurani, yakni sumbu ilahi yang berkedip-kedip dalam batin kita, yang menegur bila kita akan melawan kehendak Allah dan membisikkan kata-kata dorongan bila kita mengikuti kehendak Tuhan dalam hidup kita. Tetapi makna terang jauh lebih kaya lagi dalam Kitab Suci. Misalnya beberapa contoh: menurut Kitab Kejadian, terang merupakan awal dari kehidupan, awal penciptaan dari segala sesuatu (bdk Kej 1,4-5); kalau pemazmur berkata: Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Mzm 119-102), ia memaksudkan kebijaksanaan yang datang dari Sabda Allah sendiri; dalam pengertian Lukas kata terang menunjuk pada keselamatan dari Allah (bdk Lk 1,78; 2,30-32); dan dalam pengertian Rasul Yohanes ia berarti kehadiran Yesus dalam dunia (bdk Yoh 12,46). Nah, segala sifat terang tsb di atas dapat dikenakan kepada Yesus, yang sendiri mengaku: Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup (Yoh 8,12). Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepadaKu jangan tinggal di dalam kegelapan (Yoh 12,46).
Ketika ‘terang’ datang, maka kegelapan akan terusir. Itulah yang akan terjadi.  Begitu juga dengan kehidupan kita secara rohani. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa, itu berarti dia tinggal dalam kegelapan. Gelap yang pekat, yang bahkan untuk bisa melihat tangannya sendiripun sulit untuk dilakukan. Kegelapan yang tidak bisa disingkirkan oleh kekuatan sendiri. Sekalipun ia menyadari betapa muram dan menyedihkannya hidupnya, ia tidak akan pernah punya kemampuan untuk menyingkirkan gelap itu dari hidupnya. Ia membutuhkan pertolongan seseorang untuk memberikan terang itu bagi hidupnya.
                Dan ketika Allah mengirimkan ‘Terang’ yang sesungguhnya, bukan hanya dalam bentuk matahari yang bersinar, tapi justru dalam wujud Yesus Kristus, anakNya yang tunggal, Putera kesayanganNya sendiri, saat itulah semua ‘kegelapan’ itu berteriak ketakutan dan tidak tahan dengan kehadiranNya. Di dalam ‘gelap’, dosa bisa menipu dan mempermainkan manusia, karena mata yang ditutupi kegelapan tidak akan bisa melihat dengan jelas sekelilingnya. Dosa bermain sebagai ‘pemimpin’ tipuan, yang akan membawa manusia ke jalan-jalan yang disangka orang lurus, padahal ujungnya maut (Amsal 14:12). Semua manusia yang masih tinggal dalam kegelapan akan berakting sepertinya mereka pandai tetapi sebenarnya mereka dikendalikan oleh satu kuasa gelap yang terus menerus menipu dan mempermainkan hidup mereka. Alangkah malangnya orang-orang yang masih terus hidup dalam kegelapan itu. Mereka sibuk mencari pertolongan, mencoba melakukan hal yang ‘benar’, tetapi terus berkutat dalam kegelapan yang sepertinya sudah terlalu ‘nyaman’ untuk mereka diami. Saking terbiasanya dengan semua kegelapan yang menyelimuti diri mereka, benar-benar membuat mereka curiga ketika ‘Terang’ yang sesungguhnya itu datang.
                Dosa membuat hidup mereka terlalu terbiasa dengan segala kegelapan dan kekotoran. Mereka tidak lagi punya rasa malu ketika ditemui dalam keadaan seadanya, karena mereka memang tidak pernah bisa memandang diri mereka sendiri di dalam kegelapan pekat itu. Mereka selalu berpikir bahwa selama ini mereka baik dan sungguh baik-baik saja, apapun yang mereka lakukan dalam gelap itu, mereka pikir semua itu sangat baik dan membuat mereka layak untuk disebut baik. Padahal, semua itu hanya tipuan dosa. Dosa yang sudah meracuni pikiran mereka sehingga membuat mereka merasa baik-baik saja. Dosa sudah menipu mereka sehingga mereka merasa tidak memerlukan pertolongan dari ‘Terang’ itu.

Hari Selasa, 29 Maret 2011

Beroleh Penebusan
Efesus 1 : 7
 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya
Motivator modern mengajarkan untuk berpikir positif, terutama tentang dirinya sendiri. Katanya hanya dengan berpikir positif saja orang bisa menjadi segala sesuatu yang diinginkan, berani keluar dari zona nyaman serta menghadapi zona tantangan dalam kehidupan yang bertumbuh.
Masalahnya, tidak ada yang positif di dalam dosa. Berpikir positif tidak membuat keadaan menjadi positif, dan keyakinan manusia bahwa "Allah itu baik" tidak menghapuskan dosa-dosanya. Sebaliknya, berpikir positif tanpa menerima penebusan yang sesungguhnya membuat manusia menjadi mahluk yang paling munafik di atas muka bumi. Mulut bisa bernyanyi dan mengatakan, "Terpujilah TUHAN!" tetapi hatinya busuk dan dipenuhi iri dengki, keegoisan, serta manipulasi. Dalam manipulasi itu bahkan orang mengajak teman-temannya, kerabatnya, orang-orang yang dekat serta mau mendengarkan, untuk turut mempercayai manipulasi yang dibuatnya.
Alkitab menyatakan bahwa dosa itu identik dengan hutang. Konsekwensi dosa adalah mati/ kebinasaan yg kekal (Roma 6:23a band. Kejadian 2:17), maka harus ada nyawa untuk membayarnya, agar dosa itu dapat ditebus. Pengampunan dosa dapat terjadi apabila ada nyawa yang dipakai untuk membayar hutang/dosa itu. Pengampunan dosa itu ibarat seseorang yang punya hutang tapi dianggap lunas oleh si kreditor dimana si kreditor mengambil alih kerugiannya untuk membebaskan pihak yang berhutang itu. Itulah mengapa untuk penebusan dosa manusia, Tuhan harus datang ke dunia, menyerahkan nyawanya sebagai pelunasan hutang-hutang – yaitu dosa manusia – dengan cara mati di kayu salib. Pemahaman ini tidak dimiliki dalam agama-agama lain, sehingga seringkali ada banyak pertanyaan bahkan cibiran, mengapa Allah perlu hadir sebagai manusia hanya untuk mati di kayu salib, seolah-olah Allah lemah dan tidak-berdaya. Kematian Yesus bukanlah kematian 'martir' seperti kematian seorang syuhada yang berjihad, kematiannya bukan pula sebagai kekalahan dalam suatu peperangan. Namun, kematian Yesus adalah KEMATIAN-KURBAN, dimana Allah merelakan diriNya sendiri untuk dikorbankan demi kasih yang begitu besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang dikasihiNya.

Hari Senin, 28 Maret 2011

Yesus Memimpin Iman Kita
Ibrani 12 : 2
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah
Iman berhubungan dengan dunia yang tidak tampak. Anda mungkin tidak sanggup melihat hal positif sedang terjadi dalam kehidupan dengan mata jasmani anda. Anda mungkin sedang mempunyai banyak masalah, sedangkan dunia tempat anda tinggal tidak menampakkan perubahan yang berarti. Tetapi jangan putus asa. Lihatlah ke dalam dunia supernatural itu, dan melalui mata iman anda, lihatlah keadaan itu berubah. Lihatlah sukacita dan damai sejahtera anda dikembalikan.
Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan persembahan ini harus diwujudkan ke dalam perilaku atau tindakan konkret. Orang yang menderita sakit, entah sakit hati, jiwa, akal budi atau phisik, yang juga berarti kurang beriman, jika menghendaki penyembuhan atau keselamatan harus mengutuhkan imannya kembali. Memang ada berbagai pihak yang terlibat dalam proses penyembuhan dan semuanya harus sungguh beriman.
Yang membuat sakit dan menderita adalah dosa-dosa baik yang kita lakukan sendiri maupun yang dilakukan oleh orang lain atau sesama kita. Kita dipanggil untuk meneladan Yesus dalam hidup beriman dengan ‘mengabaikan kehinaan tekun memikul salib’. Kita tidak perlu malu untuk senantiasa setia pada ‘salib’ atau diketahui bahwa kita adalah murid-murid Yesus Kristus. Pengalaman telah membuktikan bahwa cukup banyak orang yang ‘tekun memikul salib’ alias dikenal kekristenan atau kekatolikannya baik secara formal maupun kenyataan hidup sehari-hari dalam penghayatan iman, tetah mengalami ‘hinaan’ tersebut antara lain senantiasa menjadi sorotan mata atau tidak mungkin menduduki jabatan-jabatan terhormat di kantor/di dunia ini. Syukur dan terima kasih kepada mereka yang bertahan dalam ‘hinaan’ tersebut. Lebih baik tetap dalam ‘hinaan’ namun selamat, damai dan sejahtera, daripada menjadi ‘pejabat terhormat’ senantiasa merasa diri terancam karena tidak bermoral dengan dan melalui aneka macam bentuk korupsi yang telah dilakukannya. Jalan keselamatan, damai dan kesejahteraan adalah jalan salib; kesalamatan, damai dan kesejahteraan ada pada “Yang Tersalib”., dimana Ia mempersembahkan Diri secara total kepada Allah dan dunia/manusia.

Hari Minggu Okuli, 27 Maret 2011

Mempersembahkan Hidup Pada Allah
Markus 12 : 41 – 44
Yesus mengangkat topik "janda miskin yang tulus hati” datang kerumah Tuhan membawa persembahan. Dalam penglihatan Yesus "janda" itu sendirian saja mempersembahkan seluruh miliknya kepada Allah Dia yakin akan campur tangan Allah yang terus menerus memelihara hidupnya. Allah yang diyakininya mampu memberikan perlindungan kepadanya Janda itu tidak menjadikan "kemiskinannya” menjadi alasan untuk menghentikan langkahnya datang ke rumah Tuhan membawa persembahan. Menurut pengamatan Yesus persembahan sebesar 2 peser (Yun : Lepta, mata uang tembaga yang paling kecil nilainya), jauh lebih berharga dari pada semua uang yang dimasukkan kedalam peti persembahan
Bagaimanakah Yesus dapat tahu akan banyaknya persembahan janda itu, dapat dikatakan bahwa mungkin la mengetahui dengan alat-alat yang biasa saja, hal itu tidak dikatakan. Bagi kita orang percaya, kita meyakini bahwa Yesus adalah Anak Allah, kita meyakini bahwa la mampu melihat jauh kedalam lubuk hati kita dan setiap orang yang percaya kepada-Nya, yang datang membawa persembahan kerumah Tuhan. Bagi Yesus bukan besar kecilnya nilai uang yang dipersembahkan tetapi dorongan-dorongan yang menyentuh hatinya untuk menyerahkan persembahan yang tulus kepada Tuhan.
Renungkanlah mengenai janda miskin ini. Sudah janda, ditambah lagi miskin. Dengan tidak memberi saja sudah miskin. Akan tetapi ia memilih untuk memberikan semua uang yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya. Di pemandangan Yesus, pemberiannya itu adalah yang terbesar dari semua pemberian orang kaya saat itu, karena ia memberikan semua yang ia punya.  Persembahan merupakan ekspresi dari sikap kita terhadap uang. Jika uang adalah segalanya bagi kita, maka kita akan mengorbankan Tuhan demi uang. Tetapi sebaliknya, jika Tuhan adalah segalanya, maka kita akan mengorbankan uang untuk menyatakan kasih kita kepada Tuhan.

Hari Sabtu, 26 Maret 2011

Selalu Memuji Tuhan
Mazmur 63 : 5
Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu
Banyak orang tidak mengerti akan arti dari memuji Tuhan. Arti dari pujian kepada Tuhan adalah suatu penghormatan yang sangat besar yang ditujukan kepada Allah. Banyak orang Kristen nampak begitu rohani di gereja, mengangkat tangan dan sampai berkeringat memuliakan Tuhan, tetap dalam kehidupan sehari-hari ‘tangannya patah’. Mengangkat tangan artinya mengucap syukur, mempersembahkan korban yang terbaik bagi Tuhan.
Namun kita jarang mengucap syukur, malah suka mengomel, mengumpat, menjelek-jelekkan dan menghakimi orang lain, selalu menutup mata dan berpura-pura tidak tahu terhadap orang berkekurangan, walaupun itu saudara sepersekutuan atau anggota geraja yang sama, padahal Alkitab jelas menyatakan: “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” (Matius 5:42).
‘Tangan yang patah’ sulit memegang sesuatu dan menurut perintah Tuhan. Memegang perintah Tuhan adalah demi kita sendiri, karena jika kita hidup seturut firmanNya kita pun akan mendapatkan upah. “Demikianlah kamu harus melakukan ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-Ku serta melakukannya, maka kamu akan diam di tanahmu dengan aman tenteram. Tanah itu akan memberi hasilnya, dan kamu akan makan sampai kenyang dan diam di sana dengan aman tenteram.” (Imamat 25:18-19).
Tuhan ingin kita mempercayai dan mengandalkan Dia sepenuh hati, agar Dia dapat menggenapkan rencana-Nya dalam hidup kita. Ada dua langkah yang bisa kita lakukan. Pertama, memulai hari bersama Dia dan memohon pimpinan-Nya dengan berdoa. Kedua, senantiasa memelihara komunikasi dengan-Nya melalui Doa Intimasi Pribadi. Bila ini kita lakukan setiap hari, maka kita juga akan memiliki kepekaan terhadap kehendak-Nya, sehingga kita bisa menyadari penyertaan-Nya dan tidak salah dalam melangkah.
Sungguh pujian Daud sangat berkenan kepada Allah, sehingga Allah hadir di dalam kerajaannya dan memberinya kemenangan terhadap setiap peperangan melawan musuh-musuhnya. Lewat pujian Allah membawa Daud kepada kemenangan, dan membuat setiap orang menjadi takut dan percaya pada Allah. Anda seharusnya memiliki sukacita ketika Anda mengetahui bahwa Allah yang Anda sembah itu mempunyai janji yang selalu di genapi! Ketika Anda takut dan cemas, Dia katakan dalam Yesaya 41:10, “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

Jamita Epistel Minggu XI Dung Trinitatis - 31 Agustus 2025

Jesus Kristus Manguluhon Hita Ro Di Salelenglelengna (Yesus Kristus Pemimpin Yang Kekal) Poda 25: 2 – 6     1.      Huria ni Tuhan...