Senin, 20 September 2010

BAHAN SERMON PARHALADO, 21 SEPTEMBER 2010



Mendengar Suara Hati
Yohanes 8 : 1 - 11
Baru-baru ini ada berita tentang seorang wanita yang akan dihukum rajamkarena ketahuan berbuat zinah. Berita tersebut terdengar ke seluruh dunia, sampai akhirnya Presiden Brazil menawarkan suaka politik kepada seorang perempuan Iran yang dihukum setelah didakwa melakukan perzinahan. Presiden Luiz Inacio Lula da Silva mengatakan dalam sebuah rapat umum kampanye bahwa dia meminta kepada Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad untuk mengizinkan Brazil mengambil perempuan itu. Sakinah Mohamad Ashtiani didakwa karena berzinah tahun 2006 dan dihukum sampai mati dengan dirajam. Pejabat-pejabat Iran mengatakan, mereka telah menarik bagian perajaman dari hukuman itu, tetapi perempuan itu masih menghadapi hukuman mati. Silva mengatakan, dia ingin Iran tahu bahwa apabila perempuan membawa masalah di sana, dia akan disambut di Brazil.
Dari ternyata hal hukum rajam itu sudah lama ada bahkan sebelum zaman Yesus dalam Perjanjian Lama, hingga pada masa Yesus dalam nas ini.
Latar Belakang: Tuhan Yesus dihadapkan pada suatu jebakan dari ahli Taurat dan orang Farisi.
Jebakan ini berhubungan dengan dua hukum yang bertentangan pada masa itu. Yaitu hukum Taurat yang masih dijunjung tinggi oleh orang Yahudi, yang menyatakan hukuman mati atas orang yang berzinah dengan cara pelemparan batu ( Ul. 22;24) dan hukum pemerintahan Roma yang melarang tindakan hukuman mati bagi siapa pun menurut hukum adat istiadat Yahudi ( hukum Taurat). Bandingkan dengan Yoh 18:31. Jika Tuhan Yesus menuruti hukum Taurat, Ia akan dituntut oleh pemerintahan Roma karena bertindak main hakim sendiri. Jika Tuhan Yesus menuruti hukum Roma dan menolak hukum Taurat, maka Tuhan Yesus akan dicap sebagai penghianat bangsa dan akan dibenci oleh bangsa Yahudi.

MENGAPA YESUS TIDAK MERAJAM PELACUR ? 
Dalam salah satu fragment di injil Yohanes disebutkan bahwa Yesus tidak merajam pelacur, karena merupakan wujud kasih sayang Yesus terhadap manusia dan hendak merubah hukum taurat, sebagaimana dipaparkan dalam kutipan ayat-ayat berikut : Episode ini dibaca secara tidak teliti oleh orang-orang kristen sehingga tidak memperolah pengertian yang benar dalam memahami ayat diatas. Sepintas memang tampak bahwa tidak terjadi hukuman rajam dan memang betul bahwa
tidak terjadi hukuman rajam ketika itu. lalu ketidak-adaan rajam diklaim bahwa Yesus meniadakan rajam.
Hal diatas ini adalah pandangan yang sangat tidak alkitabiah,, kalaupun alkitabiah adalah alkitabiah yang sepotong. mestinya alkitab harus dibaca secara menyeluruh hingga ketemu sebab musababnya. apakah memang sejatinya hukum A harus dihapus atau ditegakkan, atau jika hukum A tidak dilaksanakan apakah sebabnya? Sebab inilah yang harus sama-sama kita teliti agar terkuak
kebenaran bagi semua manusia.  Ada beberapa keganjilan dalam fragment diatas;
Pertama : Terhukum adalah wanita seorang saja adalah tidak mungkin, dan aneh yang dibawa kepada Yesus adalah hanya pelacur seorang, padahal menurut ketentuan Taurat, mestinya pria yang melacur dan perempuan yang melacur harus dibawa serta untuk diadili atau dirajam, apalagi ayat diatas jelas menegaskan bahwa pelacur tersebut tertangkap basah (Yoh 8:4). Artinya ketika proses perzinahan laki-laki dan pelacur tersebut tengah terjadi, mereka kepergok massa. menurut hukum taurat mestinya mereka berdua, laki-laki yang melacur dan pelacur itu yang harus dihukum lihat ayat-ayat berikut :  Imamat 20:10 Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu. Ulangan 17:5 Maka engkau harus membawa laki-laki atau perempuan yang telah melakukan perbuatan jahat itu ke luar ke pintu gerbang, kemudian laki-laki atau perempuan itu harus kau lempari dengan batu sampai mati. Ulangan 22:24 Maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu. Mengapa hanya perempuan saja yang dibawa ke Yesus, untuk diadili?
Kedua : Farisi dan ahli taurat dalam penggalan ayat Yoh 8:5, orang Farisi dan ahli taurat berkata : Musa dalam hukum Taurat merintahkan kita....dst. Betul sekali seluruh orang Yahudi diperintahkan demikian, yaitu merajam para pezina laki-laki dan perempuan. tetapi tidakkah terlihat suatu keanehan lagi... ?? Ya.. sangat aneh.. karena orang Farisi dan ahli taurat menuntut seseorang dihakimi menurut Taurat sedangkan mereka (Ahli taurat dan Farisi) sama sekali tidak pernah melaksanakan Hukum Taurat... jika anda tidak percaya bahwa orang yang disebut sebagai ahli Taurat dan Farisi ternyata tidak pernah melaksanakan Hukum Taurat.. sungguh ironi.. tentu ini ada dasarnya , silahkan buka ayat berikut : Joh 7:14 Waktu pesta itu sedang berlangsung, Yesus masuk ke Bait Allah lalu mengajar di situ. Joh 7:19 Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu? Namun tidak seorangpun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu. Mengapa
kamu berusaha membunuh Aku?" Jelas tampak sekarang keanehan tsb, kenapa orang yang tidak melaksanakan Taurat tapi mengaku-aku malaksanakan Taurat, tentu saja MUNAFIK, nah orang2
munafik ini (MAT 6:2, mat 6:5, mat 7:5 dll) menuntut orang lain melaksanakan hukumt Taurat..???? sungguh aneh...
Ketiga: Kenapa Yesus harus menanggapi omongan Farisi, dari dua keanehan diatas lalu apa gunanya Yesus menanggapi omongan Farisi ?, jelas telah diketahui bahwa orang Farisi itu hendak mencobai Yesus (Yoh 8:6). lalu apa gunanya Yesus menanggapi makanya Yesus asyik aja nulis terus di tanah, sebuah kewaspadaan yang sangat tinggi kini mulai tampak dalam pribadi Yesus. mohon dicermati lagi kali ini.
Keempat: Kewaspadaan Tinggi Yesus dalam hal menanggapi pelacur ini sangat tinggi  kewaspadaannya, kenapa? keanehan lagi muncul disini. Kenapa Ahli Taurat tidak menghukum
sendiri Pelacur tersebut ? kenapa? tetapi justeru meyerahkan kepada Yesus yang ajarannya-pun sangat mereka ragui? melihat keanehan pertama bahwa cuma wanita tersebut yang dibawa, maka Yesus segera sadar bahwa belum tentu wanita tersebut berzina, jika kemudian Yesus mengikuti saja kemauan Farisi dan ahli taurat tentu Yesus akan menjatuhkan hukuman mati. jika ini dilaksanakan maka keinginan sejak awal orang Farisi dan Ahli TAurat terwujud dengan manisnya..yaitu MEMBUNUH YESUS (YOh :18, Yoh 7:1, Yoh 7:19), karena Yesus telah memutuskan hukuman mati bagi "pelacur" yang belum tentu bersalah (lihat point pertama diatas), alias memutuskan hukuman mati kepada wanita biasa, dengan demikian hukum mata-balas mata, nyawa balas nyawa harus diaplikasikan thd Yesus. Sedangkan terhadap orang Farisi dan ahli Taurat tidaklah akan dihukumi sebagai pembohong seperti dalam ten commandment, karena memang sejak semula mereka tidak pernah melaksanakan Hukum taurat, .. dalam kasus ini Yesus cukup waspada.
Kelima: Jangan berbuat dosa lagi penutup epilog ini ditutup oleh perkataan Yesus dengan : jangan berbuat dosa lagi... kenapa Yesus tidak mengatakan Jangan berbuat Zina lagi.. kenapa? Yesus pun mempertanyakan kepada para ahli taurat dan Farisi siapa yang tidak berbuat dosa, bukan pertanyaan siapa yang tidak berbuat zina melempar duluan? kenapa.. satu jawaban yang mungkin adalah karena sejumlah keanehan2 diatas.
Keenam: Kenapa Yesus sendiri tidak menghukum wanita tsb, ini bisa karena uraian-uraian diatas, atau bisa juga karena Yesus pun sebenarnya pernah "berdosa" karena Yesus telah mengaku dosa ketika dibaptis Yohanes.
Ketujuh: Yesus sosok manusia yang jujur dan konsekuen dengan perkataannya Jika Yesus tidak melakukan perajaman, tentu ada sebab musabab yang logis, tidak karena alasan Yesus hendak merubah Taurat, karean Yesus tegas menyatakan bahwa tidak akan merubah taurat, dan lebih baik dunia dan langit ini hancur daripada hukum Taurat berubah, seperti ayat berikut : Luk 16:17 Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal. Mat 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Dengan demikian tidak ada alasan Yesus merubah Taurat. Kalau merubah, artinya Yesus plin plan... setujukah anda bahwa Yesus plin-plan, tentu tidak. jalan paling logis memahami keanehan ayat diatas adalah, seperti yang saya paparkan diatas, bahwa wanita tersebut tidak berzina.
Aplikasi
1.       Dietrich Bonhoeffer: Cheap grace dan costly grace. Jangan berpikir bahwa orang yang berdosa bisa berdosa seenaknya, kemudian bisa minta ampun lagi. Itu membuat pengorbanan Yesus menjadi murah. Jadi orang bisa tak berdosa lagi, bila melihat harga yang mahal dari pengorbanan Yesus. Pepatah Chinese: 1 langkah jatuh, menyesal seumur hidup. Tapi, dalam Tuhan, ada pengampunan (I Yoh. 1:9). Jadi bagi orang berdosa, ada pengharapan dan pengampunan. Lalu bagaimana sikap kita kepada orang berdosa??? Selama masih hidup, ia masih ada kemungkinan berdosa, tapi juga ada kemungkinan bertobat. Sepanjang orang itu masih ke gereja, orang itu mendengar Firman Tuhan, ia bisa berdosa. Orang Farisi adalah orang yang tak memberi kesempatan bagi orang berdosa. Kalau gereja seperti ini, maka gereja itu akan terkenal sebagai gereja yang tak memiliki kasih.
2.       Yesus menghadapi dilema: maju kena mundur kena. Mengapa Yesus melarang berdosa lagi? (1) ada konsekuensi penghukuman (2) Yesus sudah membebaskan diadari perempuan itu dari hukuman (ay.7, 11: bukan alasan untuk tidak mendisplin dosa jemaat tetapi menyatakan rencana penebusan Allah di salib. Aplikasi: (1) jangan mempermainkan anugerah Tuhan dengan terus berdosa karena ada konsekuensi; (2) Tuhan Yesus sudah membebaskan kita, apa balasan kita? jangan berbuat dosa lagi tetapi memuliakan Dia dengan tubuhmu.
3.       Dua hal: (1) Apa yg menjadi standar manusia menghukum seseorang? Taurat, adat, hukum negara? Manusia masih bisa kompromi, tetapi Allah tidak bisa kompromi. Upah dosa= maut. (2) Cara pandang Tuhan Yesus menghadapi orang berdosa à belas kasih, simpati, rahmat kepada yg berdosa. Ilustrasi: kontrak mati pencopet di Yogyakarta, sekali mencopet tidak bisa bertobat lagi karena sudah terikat kontrak mati. (cf. Harian Kompas). Itulah cara dunia ketika memandang seorang berdosa: tiada ampun, tiada belas kasihan. David Atkinson: pengampunan adalah suatu konsep perubahan dinamis. Pengampunan mematahkan perangkap ke dalam suatu determinisme fatalistik. Pengampunan sadar akan adanya kenyataan kejahatan, kesalahan dan ketidakadilan, namun berusaha menanggapi kesalahan dengan cara yg kreatif untuk kemungkinan-2 baru.
4.       Rumah ibadah dijadikan tempat pengadilan bukan lagi tempat untuk beribadah. Ada hakim, pendosa dan pendakwa. Tetapi tidak ada pengacara. Mereka tidak datang untuk menyelesaikan dosa tetapi untuk menghakimi. Yesus tahu maksud busuk mereka. Mereka melepaskan pria itu, tetapi menangkap perempuan itu. 1. Yesus tahu apa yang menjadi motifasi mereka. Ada yang mengatakan Yesus menulis, Hukum Taurat, hukum kasih, daftar2 dosa. 2. Kalimat Tuhan Yesus tidak memberikan hukuman itu tetapi lebih menyadarkan mereka akan keberadaan mereka, siapa mereka dan bagaimana mereka sendiri. Maka mereka pergi. 3. Kesempatan itu Tuhan Yesus berikan agar perempuan itu mengalami perubahan. 
Suatu ketika saat seorang pendeta sedang mengajar anak-anak kecil, ada seorang anak kecil bertanya kepada Pendeta, "Pendeta, sedemikian berharganya kah kita sehingga Tuhan Yesus mau berkorban demi kita?" Pendeta itu heran namun akhirnya tersenyum dengan pertanyaan polos dari anak tersebut. Anak itu benar, seberharga apakah kita ini, manusia, sehingga Tuhan Yesus mau datang ke bumi, menderita dan wafat di salib demi kita semua? Pendeta itu lalu mengeluarkan selembar uang sebesar Rp 50.000,00 lalu memperlihatkannya di depan anak-anak tersebut. Pendeta itu bertanya, "Siapakah di antara kalian yang menginginkan uang ini?" Spontan semua anak mengangkat tangannya sambil berteriak, "Saya! Saya!" Tentu saja, siapa yang tidak mau diberikan uang 50 ribu rupiah gratis? Berapa banyak permen dan snack yang bisa dibeli dengan uang sebesar itu?
Pendeta itu lalu meremas uang itu keras-keras, lalu kembali memperlihatkan uang itu pada anak-anak. "Siapakah di antara kalian yang masih menginginkan uang ini?" tanya pendeta itu kembali. "Saya! Saya!" kata anak-anak itu, biar pun penampilannya jelek, uang kan tetap uang. Dirapikan sedikit nanti bagus lagi kok. Uang itu tidak diberikan kepada siapa pun, sebaliknya, uang itu dilemparkan ke tanah, diinjak-injak hingga bercampur dengan debu dan tanah. Uang itu sekarang benar-benar kusam dan kotor. Sekali lagi pendeta itu mengangkat uang itu dan bertanya, "Siapakah di antara kalian yang masih menginginkan uang yang kumel ini?" Pendirian anak-anak itu tidak berubah, biar pun jelek, kotor, toh itu tetaplah uang sebesar 50 ribu rupiah! "Demikianlah nilai kita di mata Tuhan. Sejelek apapun, sebodoh apapun, sekotor apapun, semiskin apapun, betapapun berdosanya kita, Tuhan tidak menganggap kita berbeda. Nilai kita di mata Tuhan begitu besar, bahkan dosa-dosa kita sekalipun tidak menutupi nilai kita di mata Tuhan. Tuhan berusaha agar kita tidak hancur, agar kita tidak lenyap. Karena itu Ia mengutus anak-Nya, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kehancuran." Karena itu percayalah, sehina apapun kamu di dunia ini, tangan Tuhan tetap terbuka untukmu."


Renungan Hari Selasa, tgl. 21 September 2010


Yang Indah Dalam Tuhan
Kolose 3 : 20-21
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
Para orangtua memelihara dan melindungi anak-anak mereka.Para suami memelihara dan melindungi isteri mereka.Para raja atau penguasa memelihara dan melindungi rakyat,dan juga para pendeta dan penatua memelihara dan melindungi gereja.Orang-orang ini tdk dapat melaksanakan tugas yang diberikan Allah kepada mereka apabila mereka terus-menerus berdebat dengan orang2 yang berada dibawah otoritas mereka untuk menentukan apa yg terbaik.Jadi Allah telah memberikan otoritas kepada mereka.Orang2 yang mereka pimpin harus menghormati dan mentaati mereka.Memang orang-orang yg berkuasa tdk selalu benar.Namun selama mereka tdk memerintahkan kita untuk tidak taat kepada Allah,kita harus menghargai dan menaati mereka.Apabila kita tdk menunjukkan rasa hormat kepada pemimpin,itu berarti kita tdk menghormati Allah,yang telah menetapkan mereka menjadi pemimpin kita.(Roma 13:1-2).
Dalam keluarga-keluarga di mana orangtua masih belum mengenal Tuhan, anak-anak harus tetap hormat dan takut akan orangtua, tetapi dalam hal-hal yang melawan firman Tuhan patutlah anak-anak menurut Tuhan lebih dari pada orangtua.  Tuhan sangat benci terhadap anak yang tidak menghormati orangtuanya.  Alkitab menyatakan:  "Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu dan bapanya."  (Ulangan 27:16a).  Contohnya Absalom.  Ia menjadi orang yang berhasil dan memiliki segalanya (fasilitas dan harta) karena bapanya (Daud).  Sayang, setelah dewasa ia malah mengusir bapanya sendiri dan hendak membunuhnya.
Dilain sisi kita akan banyak merenungkan tentang kepedulian yang kita wujudkan kepada anak. Salah satu bentuk kepedulian kita kepada anak adalah, tidak menyakiti (hati) anak, atau dalam bahasa Efesus 6:4, jangan bangkitkan amarah di dalam hati anak. Amarah adalah respon manusiawi ketika seseorang hatinya tersakiti. Jadi, tidak menyakiti hati anak, bukan sekedar tidak memukul, tetapi tidak melakukan apapun yang dapat menyakiti hati anak. Mengajarkan disiplin memang mengandung hukuman buat anak yang melanggar, tetapi asalkan hukuman itu disepakati bersama, maka hukuman itu tidak menyakiti anak, malahan menimbulkan pemahaman bahwa orangtua memperhatikan mereka dan mengasihi mereka. Bukankah Firman Tuhan mengatakan: “Jika kamu harus menanggung ganjaran, Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” (Ibrani 12:7)

FENOMENA INDIGO


Indigo : Tidak Sebatas bisa melihat hantu  Anak indigo. Istilah ini belakangan begitu mengemuka. Bagaimana  caranya  mengetahui apakah anak      kita indigo atau bukan?    Belakangan ini Vina dibuat gundah oleh putra tunggalnya yang baru  berusia    3,5 tahun. Oleh guru  kelasnya di sebuah pre-school di Jakarta Selatan dicap 'aneh' dan   'menakutkan'. Bagaimana tidak, saat bermain di halaman sekolah, Gilang tampak asyik berbicara  sendiri,  namun seolah matanya sedang memandang lawan bicaranya. Ketika sang guru mendekati dan  bertanya  kepadanya, dengan   gamblang ia bercerita. "Aku tadi ngobrol sama dia, Bu Guru. Dia baik,   mengajak aku bermain  ayunan, Tuh, dia lagi tertawa," tutur Gilang sambil menunjuk ke sudut   taman.  Sekali dua kali pengajarnya menganggap celoteh bocah montok ini   sebagai  imajinasi seorang anak.  Namun, ketika ia mampu mendiskripsikan gambaran sosok yang diajaknya  berkomunikasi, gurunya mulai  cemas dan mengajak orang tuanya untuk membicarakan hal ini.  Kecurigaan akan adanya sesuatu yang aneh semakin menguat, ketika suatu  hari ketika pembantu  pulang mudik, Vina membawa si kecil Gilang ke kantornya. Tiba-tiba, Gilang berlari mendekati  sebuah ruangan dan terdengar tertawa sambil berceloteh. Ketika sang  mama bertanya, ia menjawab  santai, "Tante yang di sana itu baik sekali Ma, dia mengajak Gilang bercanda." Padahal ruang yang   dimaksud adalah ruangan kosong.  Ternyata bukan hanya dua kejadian tersebut, hari berikutnya, Gilang  semakin sibuk dengan  'teman-teman'-nya. Bahkan ia menjadi semacam indikator kehadiran  makhluk  lain di sekitarnya. Dan   sama seperti teman dalam kehidupan sehari-hari, terkadang 'teman'  Gilang  pun ada yang tak  bersahabat. "Kalau kebetulan mahluk itu 'jahat', biasanya setelah itu  Gilang langsung demam, dan  dia nggak bakal mau ke tempat itu lagi," kata Vina.
 Namun, sejauh ini Vina dan suaminya tak terlalu khawatir dengan  pertumbuhan dan perkembangan     putranya, karena di luar dari itu Gilang tumbuh sebagai anak yang  cerdas  dan periang.  Suatu hari ketika membaca artikel di sebuah media, Vina menemukan  istilah  baru: indigo! Yang  banyak cirinya menyebutkan adanya kemiripan dengan Gilang. Antara  lain:   energinya sangat  berlebihan, mudah bosan, mudah frustrasi, cepat belajar namun sangat  lengket dengan orang yang  sangat ia sayangi, sehingga ada perasaan takut kehilangan.
 Beberapa waktu lalu, karena penasaran dengan sifat anaknya tersebut,  Vina  meminta pertolongan      psikiater anak. Namun dikatakan oleh sang ahli bahwa Gilang baik-baik  saja, tak perlu     dikhawatirkan. "Waktu itu saya khawatir sekali dengan sifat Gilang  yang  suka membanting mainannya   dan tidak bisa diam. Tadinya saya kira dia termasuk anak hiperaktif." Untuk kian meyakinkan apa yang terjadi dengan anaknya, Vina dan suami  mengajak Gilang melakukan  foto aura. Benar aura di sekeliling bocah lucu ini menampakkan warna   indigo (biru nila).
 Sejak itu, Vina jadi rajin membaca buku-atau segala informasi-tentang  anak   indigo. "Saya tidak      mau salah dalam memperlakukannya. Dan saya berusaha tidak membangun  image  kepada Gilang bahwa dia  beda dengan teman-teman lainnya. Gilang tetap anak lucu, manis, dengan keingin tahuan besar, sama   seperti anak-anak lain seusianya."
Berbeda dengan Gilang yang diduga hiperaktif, Melina punya pengalaman  lain   tentang putranya Rizky   (4 tahun). "Sejak kecil, Rizky cenderung diam, tidak rewel dan menjadi bayi yang menyenangkan.   Bedanya seperti bumi dan langit saat merawat anak pertama saya dengan   adiknya Rizky. Ini anak   pokoknya gampang banget," tutur Meilina seraya mengelus rambut buah  hatinya, yang tengah asyik   bermain dengan ponsel sang mama.   Bocah berkacamata silindris ini menurut Melina sangat dewasa, untuk  ukuran   anak seusiariya. "Dia relatif pendiam, dan sangat suka keteraturan. Misalnya saja setiap  habis  bermain; dia sejak kecil  dia terbiasa merapikan kembali mainannya ke tempat semula. Dia juga  suka  meletakkan sandal dengan rapi. Untuk ukuran anak sebayanya, Rizky tergolong bijaksana."
Selama ini Melina menganggap anaknya hanya sebatas anak baik yang  tidak   menyusahkan, sampai suatu   hari ia berjumpa dengan Lianny Hendranata, seorang, pelatih reiki yang  juga pengamat aura. Lianny    melihat ada yang unik dari Rizky  dan benar ketika dilakukan foto aura, dari atas ubun-ubun kepalanya  tampak  sinar putih memancar.  Menurut Lianny, itu merupakan salah satu ciri anak yang memiliki bakat  indigo.
Dari dua contoh kasus di atas jelas bahwa karakteristik anak indigo  bisa  san beragam. Lee Carroll      dan Jan Tober dalam bukunya The Indigo Child mengemukakan  karakteristik  anak indigo. Antara lain;    anak indigo datang dunia dengan perasaan serta perilaku yang  menyiratkan  kebesaran, mereka ke   melihat sesuatu atau mengerjakan sesuatu lebih baik-baik di rumah mau di sekolah. Mungkin ciri  ini yang diperlihatkan oleh Rizky.  Sementara menurut Doreen Virtue, PhD, anak indigo punya sifat sangat  sensitif, energi berlebih,  mudah bosan, belajar lewat cara eksplorasi, cenderung tidak bisa diam,  dan  anak indigo memerlukan orang dengan kondisi lebih stabil di sekelilingnya. Mungkin gambaran  yang  dikemukakan oleh Virtue  inilah yang dimiliki oleh Gilang.
Diakui oleh Lianny Hendranata, bahwa dirinya cukup prihatin deng  perkembangan yang ada tentang      fenomena anak indigo. Banyak orang tua ya memiliki anak-anak dengan  perilaku 'tidak biasa',      frustrasi menghadapi anak-anak mereka, dan memandang ada keanehan  dengan  buah hati mereka.      "Banyak orang tua yang datang memeriksa aura anak-anaknya, sejak anak  indigo menjadi berita heboh   di media cetak maupun elektronik. Dalam pemberita itu anak indigo  lebih banyak digambarkan   sebagai anak yang memiliki banyak kelebihan, kegaiban dan keanehan  serta   banyak ditafsirkan  sebagai anak khusus dengan misi khusus. Bahkan ada media yang memberi  judul anak indigo sebagai   penyelamat dunia," papar Lianny.
Lianny membagi tiga kelompok orang tua yang memeriksakan aura anaknya: Orang tua yang berharap-harap cemas, anaknya betul sebagai anak indigo  yang dapat melihat hal-hal gaib dan memiliki hubungan dengan roh-roh gentayangan, dan sebagainya.
Orang tua yang sangat mengharapkan anaknya memiliki aura berwarna  indigo karena mereka membaca   dan menonton tayangan di televisi, bahwa anak indigo adalah anak khusus, calon pemimpin, dan  sebagainya.   Orang tua yang sangat khawatir apakah anaknya indigo atau sakit,  karena   banyak perilakunya yang mirip dengan menderita kelainan jiwa. Orang tua seperti ini khawatir  setelah mendapati aura anak   mereka ternyata bukan berwarna indigo.
 Siapa yang Disebut Anak Indigo ?  Dalam istilah ilmu.jiwa tidak ada kata normal, yang ada adalah optimal,   yakni nilai yang dipakai di atas rata-rata orang umum, di atas rata-rata tergolong luar biasa di  bidang masing-masing.  Misalnya anak yang tergolong jenius, luar biasa dalam perkembangan    nalarnya yang berkaitan dengan   IQ.
Sedangkan anak indigo, luar biasa dalam intuisi dan kepekaan batinnya  yang   berkaitan dengan SQ     (spiritual quotient) dan EQ (emotional quotient).  "Bisa disimpulkan bahwa anak indigo adalah anak normal yang memiliki  karakter khusus, dan luar  biasa dalam bidang SQ, EQ, maupun IQ. Anak indigo yang berada dalam  keadaan sehat secara lahir  batin memiliki tingkat kecerdasan universalitas yang kuat, yakni  gabungan  antara SQ, EQ, dan IQ,"  jelas Lianny.
Sementara penelitian tentang anak indigo terus dilakukan, mesin aura merupakan salah satu cara      untuk melihat apakah seorang anak tergolong indigo atau tidak. Yakni  melalui pemeriksaan mesin      foto aura, dan warna medan elektromagnetiknya (aura) harus berwarna  indigo (dominan biru sampai  ungu) dan memiliki pusat energi (cakra) yang etraktif adalah 'cakra mata ketiga' yang terletak di   tengah dahi, di antara dua alis. Karena di sinilah letaknya pusat  indera ke-6 atau extra sensor  perception.   Selain itu, untuk lebih memahami anak indigo, mungkin orang tua perlu    berkonsultasi dengan    psikiater anak. "Sangat terlalu dini menyatakai seorang anak sebagai  anak    indigo, hanya karena  anak tersebut bisa melihat hal-hal gaib, seperti makhluk halus. Banyak    pengalaman membuktikan   bahwa secara umum anak-anak balita dapat merasakan energi mahluk
  halus,  namun anak indigo bisa  memilah penglihatannya dan memiliki kebijaksanaan yang kuat dalam   menanggapi apa yang mereka  lihat disertai perilakunya," jelas Lianny.
Contoh, seorang anak berusia lima tahun berkata bahwa pada satu sudu  rumahnya ada sesuatu, dan      dia sedang menasihati seseorang yang gemar mengganggu karena dalam penglihatannya dia melihat     makhluk yang siap mengganggu seisi rumah.
Aura, apa itu?  Aura berasal dari bahasa Yunani yang berarti energi yang riang  gembira,  disebut juga badan  bioplasmik mengandung energi sinar (elektromagnetik) disebut Biogetic  Ray,  Prana, Chi atau tenaga  dalam. Energi elektromagnetik yang dikenal dengan nama aura berbentuk  energi sinar berada di  bawah empat oktaf dari kemampuan mata kasat melihat. Teknologi yang membuktikan adanya aura dimulai tahun 1935 yang dikenal  dengan Foto Kirlian, asil riset seorang Rusia bernama S. Kirlian, yang mengukur dan membuktikan  energi sinar elektromagnetik tubuh manusia hanya sebatas jari tangan dan kaki saja.  Ilmuwan Perancis Guy  Coggins berhasil mengembangkan mesin yang lebih maju pada tahun 1987 yang  disebut sebagai pengukur sinar elektromagnetik tubuh (aura), dengan teknik  memadukannya  dengan foto Polaroid. Penemuan ini terus diperbaharui dengan memadukannya dengan perangkat  komputer oleh slinger dari Jerman, pada tahun 1998. Maka lahirlah mesin aura generasi terbaru  yang dinamakan Aura Video  Station. Saat ini di Indonesia ada dua mesin yang dimiliki oleh Lianny  dan  kawan-kawan.

Minggu, 19 September 2010

Renungan Hari Senin, tgl. 20 September 2010


Allah Maha Adil
Ulangan 24 : 16
Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri.
Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka merasa sangat malu, juga merasa segan untuk bertemu dengan Allah. Mereka menyadari akan kesalahan mereka. Karena kesalahan mereka, Allah menyembelih seekor binatang dan memakai kulit binatang itu untuk menutupi tubuh mereka. Arti "korban" yang sebenarnya ialah "pihak yang menerima akibat atas kesalahan pihak lain." Kalau ia menerima akibat kesalahannya sendiri, itu bukan korban, melainkan upah perbuatannya. Binatang korban adalah binatang yang dibunuh untuk kesalahan seseorang. Ia dinamakan binatang korban, karena tujuan kematiannya itu sebagai korban.
Allah telah menetapkan untuk memakai domba sebagai gambaran tentang Sang Penyelamat yang akan dijadikan korban penghapus dosa. Allah tidak memilih babi, anjing maupun ayam, apa lagi sayur-sayuran. Apa makna dibalik ketetapan untuk memakai domba sebagai binatang korban? Tentu karena domba memiliki sifat-sifat khusus yang cocok untuk melambangkan Sang Penyelamat yang akan diutus. Dan, keadaan domba yang tak bercacat melambangkan kesucian. Kalau tidak melambangkan sesuatu, berarti binatang apa saja bisa dijadikan korban, sesuai dengan apa yang dimiliki oleh seseorang. Domba yang tak bercacat itu melambangkan bahwa Penyelamat yang akan datang untuk menyelamatkan manusia dari penghukuman itu adalah pribadi yang tidak berdosa.
Kita bersyukur sekali karena Allah telah merencanakan dan bahkan telah bertindak untuk menyelamatkan manusia yang jatuh ke dalam dosa. Tindakan yang Allah lakukan adalah yang tidak akan bertentangan dengan sifat-sifat-Nya. Ia tidak bisa menolong orang miskin dengan barang curian dari orang kaya. Karena tindakan mencuri bertentangan dengan sifat kesucianNya. Allah dapat melakukan segala sesuatu dengan satu syarat, yaitu yang tidak bertentangan dengan sifat-sifatNya. Dia adalah Allah yang maha kasih. Tetapi Dia juga Allah yang maha suci dan maha adil.
Untuk menyelamatkan manusia berdosa dengan cara yang tidak bertentangan dengan sifat-sifatNya, Allah menjelma menjadi manusia. Manusia jelmaan Allah itu diberi nama Yesus, yang artinya Juruselamat. Ketika Allah mempersiapkan Sang Penyelamat itu, Ia memerintahkan manusia berdosa untuk percaya kepada janjiNya.
Tetapi hukum Tuhan menyatakan bahwa manusia harus menanggung dosanya sendiri. Sehinga pertobatan harus ada tanda kematian manusia lama bersama Kristus Yoh3.
Sehingga kematian Kristus tidak sia sia, tapi biji itu mati supaya ia tidak tetap satu biji, melainkan menjadi banyak biji. Kita harus berubah ke arah Kristus, ini syarat sah nya penebusan Kristus. Indahnya kalau kita semua boleh diubahkan menjadi seperti Dia.
Tidak ada satu orang pun dapat masuk ke Surga tanpa percaya kepada Juruselamat yang telah ditentukan Allah, yaitu diriNya sendiri yang menjelma menjadi manusia. Yesus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yoh 14:6).

Sabtu, 18 September 2010

RENUNGAN MINGGU XVI SETELAH TRINITATIS, 19 September 2010

                                                                                Mencintai Jalan Tuhan
       Amsal 23 : 22 – 26
Memberikan ASI merupakan faktor penting lainnya yang berperan dalam pertumbuhan anak. Pemberian ASI sangat dianjurkan karena saat-saat menyusui merupakan kesempatan yang baik bagi seorang ibu untuk mengekspresikan kasih sayang kepada bayinya. Melalui kehangatan dekapan ibunya ketika disusui, seorang anak merasakan cinta kasih sang ibu kepadanya. Seorang bayi memang belum dapat memahami tutur kata ibunya yang menimang-nimangnya, tetapi memiliki kepekaan dalam menangkap getaran perasaan ibunya. Bahasa kasih seorang ibu dapat sepenuhnya dirasakan dan dimengerti oleh sang anak.
Dalam sebuah konsultasi, seorang ibu mengeluhkan anak laki-lakinya yang tidak kunjung sembuh dari penyakit asma yang dideritanya sejak kecil hingga remaja. Setelah ditelusuri, maka terungkaplah penyebab penderitaan anak ini. Kurangnya kasih sayang karena si ibu memiliki sifat pemarah yang menjadi penyebab si anak menjadi penderita asma kronis. Sebab ada penyakit asma yang ditimbulkan karena penderitanya mengalami masalah psikologis. Ini adalah salah satu contoh, begitu besarnya pengaruh kejiwaan yang diperoleh dari sang ibu.
Begitu besarnya peranan orang tua, jauh lebih besar dan tidak dapat tergantikan dengan peranan guru dan pendidikan di luar rumah. Seberapapun tingginya pendidikan seseorang, bila tidak mendapatkan kasih sayang serta pendidikan rohani dari orang tuanya, maka hal itu akan berpengaruh secara kejiwaan terhadap si anak. Anak tersebut akan bertumbuh dewasa menjadi seseorang yang terpelajar, tetapi besar kemungkinan menjadi seseorang yang memiliki penyimpangan kepribadian.
Tanpa disadari oleh orang tua, mereka berbuat hal-hal yang kurang baik pengaruhnya bagi anak-anak mereka. Banyak kasus yang terjadi adalah seorang suami yang suka membentak istrinya karena mencontoh perbuatan ayahnya yang bersikap demikian terhadap ibunya.
 Anak-anak haruslah mau mendengar dan menurut nasehat orang tuanya sebab nasehat itu sangat berarti. Sebegitu pentingnya hingga diumpamakan sebagai cahaya dan pelita yang memimpin jalan sang anak. Memberikan nasehat itu mudah, tetapi nasehat juga harus disertai dengan teladan dari orang tua -suatu hal yang tidak mudah dilakukan. Begitu pula menuruti nasehat orang tua tidaklah semudah mendengarkannya. Tetapi kalau orang tua mendidik anaknya disertai dengan teladan, maka yang menerima pengajaran akan mendapat kekuatan untuk dapat melakukan ajaran yang diterima dari orang tuanya.
Orang tua harus bertanggung jawab dalam mendidik dan memberi teladan bagi anak-anaknya karena hal itu sudah menjadi tugas orang tua. Seorang anak tidak lahir atas kehendaknya sendiri; orang tua berperan atas hadirnya anak-anak dalam keluarga. Karena itu sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk membesarkan dan mendidik mereka. Dan hal ini harus dilakukan bukan sebagai beban, tetapi dilakukan dengan kesungguhan hati dan penuh tanggung jawab.
Bila orang tua hanya dapat memberi nasehat tapi tidak dapat memberi teladan di dalam rumah tangganya, maka pada masa tuanya tidak akan dihargai oleh anak-anaknya. Sebagai orang tua, janganlah hanya memikirkan kesenangan bagi diri sendiri saja. Banyak ayah yang tidak mau mengingat tugasnya sebagai kepala keluarga. Mereka bersenang-senang dengan wanita lain tanpa mempedulikan anak dan istri yang memerlukan kasih sayangnya. Pada saatnya nanti, dia akan menuai benih yang telah ditaburnya. Karena anak-anaknya kurang menerima siraman kasih sayang dan perhatian dari orang tua, maka ketika dewasa sang anak juga tidak terlalu memperhatikan orang tuanya.
Ada pernah berita konseling tentang pengaduan dari seorang suami: sering dipukul oleh istrinya sendiri! Dalam konseling akhirnya terungkap akar permasalahannya. Si istri merasa kuatir kalau-kalau suaminya akan memukulinya seperti yang dialami oleh ibunya yang sering dianiaya oleh ayahnya. Kekuatiran mendapat perlakuan kasar dari suami yang mendorongnya mendahului memukul suaminya. Kekerasan dalam rumah tangga yang sering disaksikannya pada masa kanak-kanak sangat membekas dalam benaknya dan akhirnya mempengaruhi perilakunya.
Melalui nasehat yang diberikannya, seorang ibu tentu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya dan tidak menginginkan anaknya mengalami penderitaan. Tetapi tanpa disadari, ada kalanya seorang ibu salah dalam memberikan nasehat kepada anaknya sehingga akan mendorong anaknya untuk berpikir negatif.
Orangtua yang bijaksana harus berani menghentikan langkah anaknya dari permainan yang tidak menguntungkan bagi masa depan. Kaum muda harus mampu menentukan pilihan pilihan yang tepat dalam memilih tempat dan teman bermain yang tidak merugikan (berpengaruh buruk) bagi diri sendiri. Mis: janjian untuk bermain gitar/memandu lagu pujian kepada Tuhan di lingkungan gereja, sudah pasti lebih bermanfaat daripada nonkrong ditempat orang yang berjudi sambil merokok. Sekalipun tidak ikut melakukan yang tidak baik tetapi dengan sering bersama dengan orang serupa itu, bisa berpengaruh buruk dalam kehidupan seorang remaja.
Untuk menyelamatkan setiap pribadi yang mempunyai permasalahan karena ketidak pedulian orangtua tidak baik melarikan diri dari rumah. Sebaiknya tetaplah berdoa dan meminta petunjuk Tuhan mengingat Sang Pencipta dalam usia muda dan memohon campur tangan Tuhan dalam setiap persoalan yang kita hadapi adalah cara mudah untuk bebas dari ketakutan dan ancaman keputusasaan. Masa muda tidak melulu gemar makanan dan minuman serta hura-hura, namun mengundang kehadiran Tuhan dalam pergumulan hidupnya dan selalu dengar-dengaran kepada firman Allah selalu merupakan jalan keluar terbaik.
Orangtua menebar cinta mereka dalam setiap desah nafas, gerak bibir, dan ayunan langkah mereka. Tak ada yang mereka pikirkan begitu penting selain keluarga mereka, anak cucu mereka, penerus keberlangsungan karya mereka di dunia ini. Bahkan dalam amarah, kekecewaan dan kesedihan mereka selimuti dengan kasih sayang.
Bagi kita, ini mungkin nasehat tua yang sudah terlalu sering terdengar. Namun, tak pernah usang, karena orangtua selalu dilahirkan jaman. Mengenang orangtua sebenarnya mengenang keberadaan diri kita sendiri. Kita terlahir dari buah kasih sayang, kita tumbuh dalam naungan kasih sayang, kita pun ditinggalkan dengan lambaian kasih sayang.
Memang tak ada yang terlambat, namun sebelum hati terdalam anda menyesal, kasihilah orangtua anda. Bagi mereka, balasan ini jauh lebih berharga dari apa pun yang pernah diperolehnya. Bagi mereka, itulah bekal sebaik-baiknya untuk menikmati usia senja mereka.



Jamita Epistel Minggu XI Dung Trinitatis - 31 Agustus 2025

Jesus Kristus Manguluhon Hita Ro Di Salelenglelengna (Yesus Kristus Pemimpin Yang Kekal) Poda 25: 2 – 6     1.      Huria ni Tuhan...