Senin, 19 April 2010

Renungan Hari Kamis, 8 April 2010

Hidup bagi Kristus
2 Korintus 5 : 15
Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka
Dari Alkitab, kita mendapatkan keterangan lengkap bahwa Tuhan Yesus bangkit pada hari ketiga (Mat. 28:5-7), ketika Maria Magdalena dan Maria yang lain menjenguk kubur Tuhan Yesus. Perkataan Tuhan Yesus bangkit diucapkan oleh seorang malaikat Tuhan. Kristus yang bangkit juga menampakkan diri kepada beberapa orang, yaitu Maria Magdalena (Yoh. 20:11-19), kepada para murid-Nya (Yoh. 20:19-23), kepada Tomas (Yoh. 20:24-29), dan para murid-Nya di pantai danau Tiberias (Yoh. 21:1-14). Penampakan diri-Nya kepada banyak orang ini jelas membuktikan bahwa para murid tidak sedang berhalusinasi. Tidaklah benar jika ada anggapan bahwa kebangkitan Kristus adalah suatu rekaan oleh para murid Kristus dan itu tidak pernah terjadi. Kalau itu benar rekaan oleh para murid, mengapa seorang Tomas yang sempat tidak percaya akan kebangkitan Kristus, lalu tiba-tiba percaya kepada-Nya sambil mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Allah ketika Ia menyuruh Tomas mencucukkan jarinya di tangan dan lambung-Nya (Yoh. 20:28)? Sebuah halusinasi dan rekaan jelas tidak mengakibatkan seorang yang tidak percaya seperti Tomas lalu berubah menjadi percaya! Jangan pernah ditipu oleh tipuan iblis di zaman postmodern ini dengan menggunakan sarana media elektronik dan massa. Penampakan Tuhan Yesus ini diberitakan ulang oleh Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 15:5-8 dan Paulus menambahkan bahwa Kristus yang bangkit menampakkan diri-Nya juga kepada Paulus sendiri. Inilah inti iman Kristen dan Injil (baca: ayat 4-5). Dari sini, kita belajar bahwa Kristus benar-benar bangkit dan kebangkitan-Nya bukan hanya sekadar peristiwa historis, tetapi peristiwa yang begitu signifikan yaitu memberikan pengharapan.
Hari ini kita diingatkan akan karya Kristus yang telah mati dan bangkit bagi kita. Apa yang kita harus lakukan bagi Kristus yang telah rela menanggung segala dosa dan menyelamatkan kita dari maut? Kita harus membalas kasih-Nya dengan hidup berfokus Kristus dan melayani Dia tanpa akhir.
Ini mengingatkan saya pada Sinar, gadis cilik berusia 6 tahun, warga Polewali Mandar, Sulawesi Selatan yang merawat ibunya, Murni, yang lumpuh sejak tiga tahun lalu. Setiap hari Sinar memasak, mencuci pakaian dan melakukan hal lain untuk menolong ibunya karena ayah Sinar dan juga semua saudaranya tidak ada yang tinggal di rumah itu. Sinar terpaksa tidak bisa menikmati keceriaan masa kecil untuk bermain, termasuk belajar di sekolah demi merawat ibunya.
Jika seorang anak kecil yang mengasihi ibunya bisa melakukan hal tersebut, maka kita yang menyebut diri anak-Nya yang mengasihi Dia, tentu harus melayani dan menyenangkan Yesus sampai selamanya.
Hari ini, bertobatlah, biarkanlah Roh Kudus bekerja di hati Anda dan membuka hati dan pikiran Anda untuk menerima Kristus yang telah mati dan bangkit sebagai satu-satunya Tuhan, Juruselamat, Raja dan Pemilik hidup Anda secara pribadi. Ingatlah, jika Kristus tidak bangkit, maka kita akan terus hidup dalam dosa dan tidak dapat diselamatkan. Tetapi puji Tuhan, Kristus bangkit, itu membuktikan iman dan pengharapan kita tidak lah sia-sia. Kebangkitan-Nya memberikan kuasa kepada kita melalui Roh Kudus bahwa kita sanggup mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut, karena Ia telah mengalahkan segala kuasa bagi umat pilihan-Nya (1 Kor. 15:25-27), supaya kita menjadi hamba-Nya yang setia. Sudahkah kita menjadi hamba-Nya yang setia yang memberitakan kebenaran Injil Kristus bahwa Kristus telah mati dan bangkit demi dosa-dosa kita??


Renungan Hari Rabu, 7 April 2010

Kebangkitan Orang Percaya
1 Tessalonika 4: 14
Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia
Kata Yesus: “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak [=Yesus] dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, …” (Yohanes 6:40) Percaya kepada Yesus berarti mempercayakan segenap hidup kepada Tuhan Yesus. Percayakan saja, maka “hidup kekal” = “hidup bersama Tuhan Yesus” akan kita alami sekarang dan sampai selamanya. Yesus naik ke sorga bukan sebagai tamu Allah tetapi sebagai Allah sendiri. “duduk di sebelah kanan Allah” adalah istilah yang menjelaskan kedudukan Yesus yang mulia di sorga sebagai Allah Penguasa seluruh alam semesta. Dalam kedudukanNya sebagai Penguasa alam semesta, Yesus meneguhkan pemberitaan Injil (kabar baik) dengan mujizat-mujizat. Pada waktu Yesus lahir di Betlehem lebih dari 2000 tahun yang lalu, Allah menjadi manusia. Sehingga Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia pada saat yang sama. Kenaikan Yesus ke sorga membuktikan bahwa manusia memang bisa masuk sorga. Percayakan nasibmu di dunia dan di akherat kepada Tuhan Yesus Kristus! Kau akan menghabiskan kekekalan bersama Dia di sorga. Sorga itu indah karena ada Allah disana.
'Meninggal dalam Yesus' berarti memusnahkan atau menguburkan dosa-dosa kita dan dimana perlu serta berani juga memusnahkan dosa-dosa orang lain meskipun untuk itu kita harus 'meninggal sungguh' alias dibunuh. Sedangkan 'dikumpulan Allah bersama-sama dengan Dia' berarti senantiasa bersatu dan bersama Yesus, dan hal itu sudah kita mulai hayati selama kita hidup di dunia yang penuh tantangan serta cobaan masa kini, sehingga pada 'saat' kita, saat kita dipanggil Tuhan kita sungguh-sungguh bersama dengan Dia. Bersatu dan bersama dengan Yesus di dunia ini juga dapat diartikan meneladan Dia yang bersabda :"Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.", kehadiran kita di manapun dan kapanpun, cara bicara dan bertindak kita membuat orang menjadi baik, yang miskin disejahterakan, yang tertawan dibebaskan, yang buta melihat, yang tertindas menjadi bebas (tidak hanya dalam hal phisik atau tubuh, tetapi juga dalam hal hati, budi dan jiwa; tidak hanya secara jasmani tetapi juga secara emosional maupun spiritual). Kita semua telah dibaptis berarti diharapkan memiliki rahmat/kemampuan untuk 'meninggal dalam Yesus' dan 'dikumpulkan bersama-sama dengan Dia' sejak hidup di dunia ini sampai di akhirat nanti.

Minggu, 18 April 2010

Renungan Selasa, 6 April 2010

Keselamatan Hanya Dalam Kristus
Kisah Para Rasul 4 : 12
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.
Orang itu lumpuh sejak lahir dan sudah berumur 40 tahun. Setelah disembuhkan, akhirnya dia mampu masuk ke dalam Bait Allah, sambil melompat-lompat serta memuji-muji Allah (lihat Kis 3:8). Karena mukjizat itu orang-orang berkumpul, dan Petrus pun mulai berkhotbah. Dia berbicara kepada orang-orang itu tentang keselamatan yang dari Yesus dan memberi kesaksian yang berani perihal kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Kita dapat membayangkan betapa hati para pendengar yang menjadi percaya begitu dipenuhi oleh sukacita dan pengharapan.
Namun demikian, para pemuka agama Yahudi tidak mau menerima Kabar Baik tersebut, mereka malah menolaknya mentah-mentah. Kendati pun ada bukti jelas perihal kesembuhan orang lumpuh yang sekarang jelas-jelas sehat berdiri di depan mereka dan mereka pun menerima terlibatnya kuat-kuasa tertentu di luar kekuatan yang bersifat alamiah dalam ‘keajaiban’ tersebut, para pemuka agama Yahudi itu tetap saja menolaknya.
Kita harus menyadari, bahwa kita pun dapat ‘jatuh’ ke dalam kekerasan-hati (sikap kepala-batu) yang serupa, meskipun kita dihadapkan dengan karya Tuhan yang sudah jelas-nyata. Sikap seperti ini dapat timbul dari konsep kita yang keliru tentang Allah. Kita cenderung untuk menolak Dia apabila kita melihat-Nya sebagai seorang hakim kejam dan pembuat peraturan, bukannya sebagai seorang Bapa yang murah-hati dan penuh kasih. Hal lain yang dapat menyebabkan pengerasan hati kita adalah apabila kita tidak mau mengampuni seseorang yang pernah menyakiti hati kita, atau kalau kita begitu melekat dengan rencana-rencana kita sendiri dalam kehidupan ini, bukannya rencana Allah.
Allah ingin menyembuhkan sakit-penyakit kita dan melembutkan hati kita masing-masing. Ia bergerak pada saat ini, bahkan ketika anda membaca renungan ini, untuk menyembuhkan anda. Oleh karena itu marilah kita berdoa agar Dia menyentuh hati kita masing-masing. Carilah Tuhan dan mohonlah agar Dia menyatakan diri-Nya. Mohonlah kepada-Nya rahmat untuk beriman-kepercayaan secara lebih dalam, melaluinya kita menerima janji-janji-Nya.
Allah akan mendengar kita dan memberikan kepada kita rahmat untuk menerima perubahan apa saja yang diperlukan. Yang dikehendaki-Nya adalah hati yang merendah di hadapan-Nya.
Iman Kristen adalah iman yang berdiri atas Kebangkitan Kristus. Inilah yang membedakan Kekristenan dengan agama lain yang ada di dunia. Semua agama yang lain berdiri di atas ajaran-ajaran moral yang tak lebih hanyalah berupa aturan-aturan hukum agama, yakni aturan bagaimana hidup baik dan benar supaya bisa masuk sorga. Itulah kegagalan total dari agama sekuler, agama tidak lebih hanyalah religiusitas semu belaka. Kalau Kristus tidak dibangkitkan dari kematian maka sia-sialah seluruh kepercayaan kita dan Kekristenan tidak ada sampai detik ini. Esensi iman Kristen adalah kebangkitan Kristus. Kristus yang bangkit inilah yang memberikan kekuatan dan keberanian pada Yohanes dan Petrus untuk bersaksi di hadapan Mahkamah Agama tentang Yesus Kristus yang disalibkan itu ada batu penjuru dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.




Renungan Senin Paskah II, 5 April 2010

Percaya Walau Tak Melihat
Yohanes 20: 24 – 29
Tidak melihat namun percaya” kiranya telah menjadi pengalaman hidup banyak orang sejak lahir di dunia ini. Anak-anak diberi ceritera oleh orangtuaya pasti percaya akan apa yang diceriterakan, para murid/peserta didik di sekolah diberi aneka informasi atau pengajaran atau peristiwa oleh para guru langsung pecaya meskipun tidak atau belum melihat apa yang diajarkan atau diinformasikan,dst.. Dengan percaya terhadap apa yang belum pernah mereka lihat tersebut, mereka tumbuh berkembang menjadi bahagia, selamat dan damai sejahtera. Dalam Warta Gembira hari ini Tomas ditegor atau diperingatkan oleh Yesus karena berkata kepada teman-temannya: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya”. Kita semua adalah orang beriman, yang antara lain berarti percaya pada sesuatu ‘yang tak kelihatan’ atau ‘yang belum atau tak mungkin kita lihat’. Maka baiklah kebenaran ini kita hayati di dalam hidup sehari-hari antara lain dengan saling percaya satu sama lain. Memang untuk itu masing-masing dari kita juga harus menjadi orang yang dapat dipercaya, antara lain menyampaikan atau memberitakan apa-apa yang benar dan baik, pengalaman perjumpaan dengan Tuhan di dalam hidup sehari-hari. Karya Tuhan atau Penyelenggaraan Ilahi.senantiasa ada di dalam diri sesama kita yang berkehendak baik, dan rasanya kita semua berkehendak baik. Marilah kita saling mempercayai satu sama lain agar kita semua di dalam keadaan bahagia, damai sejahtera.

Yang ingin disampaikan disini adalah kita ternyata sering tidak konsisten dalam hal ‘percaya’. Kalau bicara gossip kok mudah percaya ya? tapi kalau dikatakan bahwa Tuhan itu hadir dalam keseharian kita kok pada tidak percaya ya? Padahal dua-duanya kan tidak ‘melihat ‘ juga. Memang sulit untuk bisa percaya akan kehadiran Tuhan, tanpa pengalaman akan sentuhan kasih Tuhan. Maka berbahagialah kita yang selalu menyadari bahwa kita ada dalam perlindungan kasih Tuhan senantiasa; kita ada dalam penyelenggaraan Ilahi – Providentia Devina. Kita tidak pernah merasa sendirian dan ditinggalkan sesuai janji Sang Imanuel. Untuk yang belum merasakan kasih Tuhan, gampang kok, Dia hanya sejauh doa. Hati-hati juga, sekali kita ‘kesetrum’ bisa-bisa berakibat seperti Rasul Tomas yang melejit menjadi pemberita Injil luar biasa di India .
Kalau kita bisa percaya pada Tuhan yang tidak terlihat maka mulai saat ini, janganlah juga terlibat penyampaian pesan-pesan yang belum dan tidak terbukti kebenarannya seperti isu, gossip bahkan hoax. Sehingga yang dikabarkan hanyalah kebenaran dan berita sukacita. Bicarakanlah kebaikan dan kelebihan orang lain, bukan kekurangan dan kelemahannya. Kenapa? Percayakah anda bahwa manusia sulit berubah karakternya setelah berusia 19 tahun, maka fokuslah pada kelebihannya, maka ia akan berkembang searah dengan kekuatan yang dimilikinya. Bukan memperbesar kekurangannya. Dengan demikian kita justru menjadi pembawa kabar sukacita, bukan bigos – biang gosip dan akhirnya yang ada hanyalah “damai sejahtera’ diantara kita semua.


RENUNGAN PASKAH I, 4 april 2010

Iman Yang Dibangkitkan Kristus
YOHANES 20 : 1-10

Satu atau dua hari setelah upacara pemakaman salah satu anggota keluarga, pada umumnya pagi-pagi benar masih terasa lesu dan lelah. Suasana murung atau sedih kiranya masih menyelimuti seluruh anggota keluarga atau sanak kerabat dekat dari yang dipanggil Tuhan, meninggal dunia. Suasana macam itulah kiranya yang sedang terjadi dalam atau dialami oleh para rasul/murid Yesus, tetapi “Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. (Yoh20:1). Saksi kebangkitan yang pertama adalah Maria Magdalena, seorang perempuan, yang dalam tata sosial hidup bersama sehari-hari, yang biasa, sering dinilai sebagai yang lemah. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan. (Yoh20:2). Dari pengalaman peristiwa hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, kebangkitan Yesus dari mati, kiranya kita dapat mawas diri perihal kebenaran ini: kelemahan sekaligus dapat menjadi kekuatan dan kekuatan sekaligus dapat menjadi kelemahan. Di dalam hidup sehari-hari, suasana aman dan damai pada umumnya yang nampak berperan dan berpengaruh adalah mereka yang dinilai kuat dalam kedudukan atau jabatan. Sebagai contoh konkret: ketika ada undangan pesta dengan perwakilan alias tidak semuanya diundang, pada umumnya yang datang ke pesta adalah sang pemimpin atau ketua. Di dalam suasana genting dan mencemaskan atau kurang enak, pada umumnya mereka yang dinilai lemah yang tampil dan berperan, Sebagai contoh konkret: ketika ada undangan untuk kerja bakti kiranya yang datang adalah pekerja kasar atau pembantu rumah tangga, demikian juga ketika ada tempat yang kotor atau amburadul kiranya yang diminta mengerjakan atau membereskan adalah para pembantu atau buruh, dst.. Marilah kita mawas diri perihal kekuatan dan kelemahan kita masing-masing. Mungkin perihal kekuatan dengan mudah orang berani melihat dan mengakuinya, tetapi dalam hal kelemahan sering malu atau tidak berani mengakuinya. Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku (1Kor11:30), demikian kesaksian Paulus, yang kiranya dapat menjadi inspirasi kita.

Kesaksian ini menunjukkan bahwa yang bekerja dalam diri manusia yang lemah.dan rapuh adalah Tuhan, dimana orang lebih terpesona atau terpengaruhi oleh Tuhan, sebagaimana dialami oleh Maria Magdalena, sehingga ia tak takut dan gentar dalam suasana genting yang mencekam. Dengan gairah ia memberitahu atau mengabarkan kebangkitan Tuhan kepada mereka yang takut, seperti para rasul, dan akhirnya para rasul yang ketakutan pun bangkit juga. Yang dipandang lemah telah membangkitkan dan menggairahkan; kebenaran ini rasanya dapat dialami oleh para orangtua atau bapak-ibu terhadap anak-anak atau bayinya yang lemah, yang mungkin baru saja dilahirkan. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua untuk tidak takut atau cemas melihat dan mengakui kelemahan kita masing-masing. Ingatlah bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang dipanggil Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya, dalam mewartakan kebangkitan, kegairahan dan kegembiraan. Dalam kisah Warta Gembira hari ini juga diceriterakan bahwa murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. murid yang lain ini adalah Yohanes, murid terkasih Yesus. Selayaknya orang menjadi lebih bergairah ketika yang terkasih menghadapi masalah, itulah yang terjadi, sebagaimana dialami banyak orang ketika sahabat atau kenalannya menderita sakit atau bahkan meninggal dunia. Maka dalam kegembiraan Paskah, kebangkitan Yesus dari mati, hari ini, marilah kita ingat saudara-saudari kita yang mungkin sedang dalam kesulitan; kita bangkit berdiri dan mendatanginya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Percaya dan imanilah dengan melihat apa yang terjadi pasti atau terjadi sesuatu yang tak terduga, mujizat atau karya Tuhan. Marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran(1Kor5:8). Berpesta atau bergembira dalam kemurnian dan kebenaran itulah panggilan kita semua. Seseorang yang memilih hidup murni akan menghayati satu sikap hormat yang terarah semata kepada Sang Pencipta, sebagai satu-satunya Pribadi, akan tetapi ia akan tetap menghormati semua ciptaan lain termasuk dirinya sendiri (Sr.Joyce Ridick SSC, Ph.D: Kaul , harta melimpah dalam bejana tanah, liat, , , Penerbit Kanisius Yogyakarta 1987, hal 93). Yang disebut sebagai Pribadi di sini adalah Tuhan, dan kita beriman bahwa Tuhan senantiasa hidup dan berkarya dalam diri manusia, ciptaan terluhur di dunia ini. Maka sebagai perwujudan hidup dalam kemurnian dan kebenaran kiranya dapat kita wujudkan dengan saling menghormati satu sama lain, dalam keadaan atau kondisi macam apapun.
Kita juga dipanggil untuk menghormati diri sendiri dan ciptaan lain dalam kemurnian dan kebenaran. Menghormati diri sendiri dalam kemurnian dan kebenaran antara lain berusaha seoptimal mungkin agar kita tetap dalam keadaaan sehat walafiat, segar bugar baik lahir maupun batin, jasmani maupun rohani. Orang sehat dan segar bugar akan lebih mudah untuk bergembira ria serta mewartakan kegairahan, kegembiraan dan kebangkitan kepada sesamanya. Mengusahakan kesehatan dan kebugaran tubuh atau phisik antara lain dengan makan dan minum sesuai dengan pedoman empat sehat lima sempurna, olahraga teratur, istirahat dan bekerja teratur, dst.. Sedangkan untuk mengusahakan kesehatan dan kebugaran batin atau rohani antara lain tidak melupakan hidup doa, matiraga maupun tindakan atau perilaku yang baik dalam hidup sehari-hari.
Iman kita kepada kebangkitan juga dapat kita wujudkan dengan saling mengasihi tanpa membeda-bedakan orang sebagaimana dikatakan oleh Petrus: Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.(Kis10:34-35). Yesus yang telah bangkit dari mati tidak terikat oleh ruang dan waktu dalam berkarya untuk menyelamatkan dunia melalui RohNya., maka kita yang beriman kepadaNya juga dipanggil untuk tidak terikat dalam ruang dan waktu dalam berpartisipasi menyelamatkan dunia. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya, demikian kata Petrus. Kebenaran dianugerahkan kepada semua orang dan dapat dihayati oleh semua orang tanpa pandang bulu, SARA atau usia dan pengalaman. Apa yang benar selalu berlaku secara universal atau umum, bukan milik pribadi atau golongan tertentu. Tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!"Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita (Mzm118:16-1722-23)


Renungan Hari Sabtu, 3 April 2010

Menyerahkan Nyawa
1 Yohanes 3 : 16
Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita
Pekerjaan Yesus adalah pekerjaan cinta kasih yang mendatangkan keselamatan sejati. Tuhan Yesus tidak pernah melakukan pekerjaan tanpa cinta kasih, semuanya bisa dipertanggung jawabkan, selalu beralasan dan hanya demi kebaikan sorga dan dunia. Yesus melakukan pekerjaanNya bukan sekedar mengejar target, sekedar memenuhi rencana atau program, tapi disertai penghayatan sebab kasihNya yang tak kunjung kering. Kita amati bahwa pekerjaanNya itu , yang sudah dimulai, berlangsung terus, berhasil dengan baik, dan berkelanjutan. PekerjaanNya itu berbobot dan sempurna. Efektif dan nyata. Jika sudah seperti itu masih juga ada yang menolak, seperti halnya orang-orang Yahudi saat itu maka tentunya mereka itu tidak termasuk sebagai domba-domba Kristus ( Yohanes 10:26).Di sekitar kita juga selalu ada orang-orang yang sinis dan yang menolak segala sesuatu mengenai Kristus. Kita tidak boleh membenci dan memusuhi mereka, tetapi mengasihi dan mendoakan, seperti yang diajarkan oleh Gembala kita. Hal ini sulit untuk dilakukan dengan tulus hati, sebab mengasihi dan mendoakan mereka berarti kita sungguh-sungguh menghendaki mereka bisa bernasib baik seperti kita, yaitu memperoleh hidup yang kekal dan tidak akan binasa (Yohanes 10:28). Padahal terhadap pengendara motor yang ugal-ugalan sampai membuat kita hampir terjatuh saja, kita sudah naik pitam dan mengharapkan hal-hal yang buruk menimpa dirinya. Baiklah kita terus belajar dan melatih diri menjadi seperti Yesus. Dunia membutuhkan anak-anak Tuhan yang hidup bersaksi, supaya Tuhan tidak menumpas habis dunia, dan kita bisa memberi pengaruh yang baik.

Pada saat Kristus diserang dan rela berkorban justeru sering merupakan rahmad Allah bagi orang-orang berdosa atau yang memusuhi Nya untuk bertobat. Bukankah di sekitar salib Kristus yang kelabu itu , telah berhembus “angin yang sejuk”? Yang menyukakan hati, pertama-tama tentu saja penjahat di samping Kristus yang dibukai pintu firdaus,kemudian kita juga membaca Matius 27:54 Kepala pasukan dan prajurit-prajurit yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata : “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” Pertobatan yang terjadi selalu merupakan keuntungan bagi Kerajaan Allah! Sebab itu setelah melancarkan tegurannya yang keras, maka Petrus juga memunculkan sebuah pintu-masuk bagi para pendengarnya yang terhormat itu untuk bertobat! Perkataan Petrus menjadi ayat emas yang sangat terkenal di seluruh dunia: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12).

Renungan Jumat Agung 2 April 2010

Kematian Yesus Jadi Teladan
Lukas 23: 26 – 32
Kematian Yesus 2000 tahun yang lalu bukan hanya untuk menebus dosa orang yang hidup pada jaman itu saja, tetapi darahNya yang tercurah 2000 tahun yang lalu masih mampu dan Dia sanggup menyelamatkan kita. Percayalah pada Yesus, sebab hanya melalui Dialah kita dapat diselamatkan. Dan bagi kita yang sudah percaya pada Yesus, janganlah kita menjual kematian Yesus dengan hal-hal yang bersifat duniawi; terlalu mahal harga sebuah nyawa itu, Sobat! Sediakanlah waktu bagi Tuhan untuk bersaksi tentang pengorbananNya ini kepada teman-temanmu yang belum mengenal Yesus secara pribadi. Jika Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini selalu menyediakan waktuNya untuk mengawasi teman-teman sekalian,kenapa teman-teman tidak membalas kebaikanNya dengan menjadi saksi bagiNya untuk mewartakan renungan ini kepada orang-orang yang masih menanti uluran tangan kita ?
Mengapa kita takut menghadapi kesusahan hidup jika Dia sendiri telah memberikan teladanNya? Di lain pihak, tak dapat disangkal, bahwa kita sering merasa senang dan tertawa melihat kesusahan orang lain. Selama kesusahan itu bukan menimpa kita atau orang-orang yang kita kenal, kita tidak merasa ikatan apa-apa. Kita tidak hanya tidak peduli pada kesusahan dan kesulitan orang lain tetapi sering malah menertawainya. Kita menikmati kesusahan orang lain tanpa mau memberi bantuan maupun menghibur mereka. “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” Seru Yesus kepada orang-orang yang menangisiNya. Wanita-wanita yang mengenalNya dengan baik. Sementara itu orang banyak hanya berseru-seru dengan suara gaduh: “Salibkan Dia. Salibkan Dia” Dimana pun posisi kita, bukan kita sendiri yang menghadapi penderitaanNya. Maka kita hanya dapat bersedih. Atau mendakwa. Atau sekedar menjadi penonton saja. Apakah itu yang diinginkanNya kepada kita?

"Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (Luk23:28), demikian sikap dan sabdaNya kepada para perempuan yang menangisi penderitaan Yesus, Guru dan Tuhan mereka, yang harus memikul salib berat. Di dalam penderitaan dan berberan berat Ia justru menghibur orang lain yang menangisiNya, itulah yang terjadi. Mungkin kita juga sering memikul beban berat, entah itu tugas, sapaan/kritikan/ejekan dst.., marilah kita belajar dan meneladan Yesus: tidak mengeluh atau menggerutu melainkan tetap tabah dan gembira sehingga dapat menghibur siapapun yang melihat atau bersama dengan kita. Percayalah bahwa dalam ketabahan dan kegembiraan beban berat apapun dapat kita pikul dan ringan adanya. “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat11:29), demikian sabdaNya kepada kita semua agar kita belajar meneladani Yesus didalam kehidupan kita; rela berkorban danmampu dipakai sebagai alatNya untuk melakukan pekerjaan baik buat berkat bagi setiap orang. (EM).

Selasa, 06 April 2010

RENUNGAN EPISTEL MINGGU QUASIMODOGENITI, 11 APRIL 2010

ALLAH PEMILIK ALAM SEMESTA
(Kita Patut Tetap Bersyukur)
MAZMUR 8 : 2 - 7
Perhatikan Mazmur 8:3 dan bandingkan dengan Matius 21:16, Yesus memakai ayat ini untuk 'membungkam' musuhNya ketika di bait Allah, dan sebutan "Anak Daud" adalah gelar khas Sang Mesias. Kemudian, pertanyaan-pertanyaan dari Mazmur 8 ini (ayat 5-6) memang dikutip dalam Ibrani 2:5-9 untuk melukiskan penghinaan dan peninggian Kristus dalam inkarnasi-Nya sebagai manusia. Namun syair dalam Mazmur 8 ini juga secara tersendiri/'terbatas' bisa diterapkan juga kepada manusia biasa yang sedang memuji Allah didepan takhtaNya, karena Mazmur 8 ini memang sebuah nyanyian. Perlu dicatat bahwa Perjanjian Baru mengukuhkan Mazmur ini dan juga menafsirkannya dengan menunjuk kepada Kristus. Penulis Ibrani ini mungkin mengutip dari Septuaginta (LXX) dimana kata Ibrani ELOHIM disini diterjemahkan dengan ”aggelous” (malaikat-malaikat), bandingkan dengan terjemahan KJV. Lalu mendasarkan dalihnya pada tafsiran lengkap dan harfiah dari Mazmur 8 ayat 7b. Pernyataan "segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya”, ini merupakan nubuat tentang Yesus Kristus (Allah yang kenosis menjadi manusia). Dengan cara yang sama Rasul Paulus juga merujuk ayat 7b ini tentang Kristus :
1 Korintus 15:27 Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa "segala sesuatu telah ditaklukkan", maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya. Didalam Yesus Kristus nampaklah sepenuhnya pemerintahan yang dikehendaki Allah untuk manusia itu. Dalam Kristus semua yang diselamatkan akhirnya akan menerima bagian dari kuasa tersebut.

Mazmur pujian ini menfokuskan diri pada kemuliaan nama Yahweh (ayat 2, 10). Kemuliaan Yahweh nyata lewat karya-karya ciptaan-Nya yang begitu ajaib. Di dalam Perjanjian Lama, nama menyatakan karakter. Melalui nas ini pemazmur hendak menegaskan bahwa Yahweh bukan hanya Allah Israel, tetapi Pencipta dan Pemilik seisi dunia dan bangsa-bangsa di dalamnya. Kemuliaan Yahweh semakin nyata justru lewat karya-Nya yang mulia, yaitu manusia (ayat 5). Apa kemuliaan manusia? Manusia diciptakan sebagai gambar Allah (ayat 6a, "hampir sama seperti Allah"; band. Kej. 1:26). Manusia satu-satunya makhluk ciptaan di dunia ini yang dapat berkomunikasi dengan Allah sebagai satu pribadi kepada Sang Pribadi sempurna. Manusia dikaruniai potensi Ilahi untuk mengembangkan diri agar hidupnya dapat dipakai oleh Allah. Lebih daripada itu, manusia dilengkapi dengan otoritas Ilahi untuk mengelola dunia ini atas nama Allah (dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat; 6b). Itu sebabnya, segenap makhluk ciptaan lain di alam semesta ini tunduk pada penguasaan manusia (ayat 7-9).
Bagaimana kita memuliakan Allah? Pertama, lewat ibadah dan penyembahan, baik pribadi maupun bersama umat Tuhan. Nyatakan hormat dan sembah Anda lewat puji-pujian yang agung dan megah. Kedua, lewat menghargai sesama manusia sebagai gambar Allah, termasuk menghargai segala potensi Ilahi yang ada di dalam diri manusia tersebut. Dengan mengembangkan hidup ini menjadi berkat untuk sesama, kita sedang menyaksikan kemuliaan Allah lewat kemuliaan ciptaan-Nya. Ketiga, dengan berperan sebagai jurukunci yang baik bagi semua ciptaan Allah. Tugas kita adalah mengelola alam ini supaya menjadi wadah yang asri dan harmonis, seperti Taman Eden dulu. Mari bangkit dan bangun kembali lingkungan kita dengan memelihara kebersihannya, keseimbangan ekosistemnya, dan mengisinya dengan perilaku hidup yang mulia. Kita terlalu kecil untuk dapat dipandang layak diperhatikan Allah.
Akan tetapi, oleh anugerah-Nya, justru Allah menjadikan kita puncak dan pemimpin ciptaan. Fakta ini seharusnya menghadirkan perasaan takjub dan syukur kepada-Nya. Sayangnya, kadang kala kita lupa akan hal tersebut. Kadang kita merasa bahwa kita layak untuk diberkati Allah, mungkin karena merasa sudah aktif melayani, memberi banyak persembahan, bekerja keras dalam hidup, dan sebagainya. Akibatnya, kita jadi merasa tidak perlu lagi bersyukur. Hari ini kita diingatkan bahwa kita semua terlalu kecil bagi Allah, tetapi anugerah-Nya sangatlah besar bagi kita. Karena itu, kita harus selalu bersyukur pada-Nya .
Dalam sebuah pidato sambutan yang ditujukan kepada para wisudawan di Miami University, seorang kolumnis bernama George Will menunjukkan statistik yang membuat kita merasa tidak berarti. Ia menunjukkan bahwa matahari yang dikitari Bumi adalah salah satu dari kemungkinan 400 miliar bintang di galaksi Bima Sakti, yang merupakan galaksi kecil jika dibandingkan dengan galaksi lainnya. Ia menambahkan, Kemungkinan terdapat 40 miliar galaksi di alam semesta yang masih belum terungkap. Jika semua bintang di alam semesta hanya sebesar kepala peniti, maka semua bintang itu baru bisa ditampung di suatu tempat yang ukurannya 3 miliar kali lebih besar dari ukuran stadion football Orange Bowl di Miami.
Ada sisi positif dari semua data yang sedemikian hebat itu. Allah, yang menciptakan dan menopang alam semesta yang dipenuhi bintang dan luasnya tak bisa dipahami itu, mengasihi kita. Dan, Dia tidak hanya mengasihi umat manusia sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari miliaran orang. Namun, Dia mengasihi kita secara pribadi. Apa yang dikatakan Rasul Paulus mengenai dirinya juga berlaku bagi kita masing-masing dalam keadaan kita yang tidak berarti apa-apa: Kristus mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20). Secara astronomi, kita ini tidak penting. Akan tetapi, kita ini adalah objek kesayangan dari kepedulian Allah. Meskipun kita tidak memiliki alasan untuk berbangga, kita bersyukur kepada Allah karena cinta-Nya secara pribadi kepada kita dinyatakan melalui salib Kalvari. Kita tidak memiliki apapun untuk dibanggakan namun kita sangat dikasihi Allah. Amen.



SERMON PARHALADO, MINGGU QUASIMODOGENITI, 11 APRIL 2010

POLIN MANGARADOTI PATIK NI DEBATA

Ev. : 1 Johannes 2 : 1-6 Ep. : Psalm 8: 2-7
I. Patujolo
Surat 1 Johannes digurithon marpardomuan ma i tu tujuan laho pahothon hatorangan, panandaion dohot panindangion na tontu paboa Jesus, Anak ni Debata. Sipalua jolma manisia. Ibana do pangondian ni angka jolma tu Debata (2:1). Tumangkas
didok panurat do sangkap dohot tujuan nu suratna i ma: “Naeng botoonmuna, naung di hamu do hangoluan na salelengnilelengna” (5:13). Asa angka tonatona na tinonahon ni angka parpoda gnostik taringot hangoluan (bhs.Gorik, bios) i ndang jadi sipeopon. Ndang ngolu na di portibi on na gabe pamusatan unjung ni hadirionta, alai ngolu/hangoluan (bhs. Gorik: Zoe) na sian Tuhan i do. Disi do tutu jumpang hita hangoluan na manongtong, saleleng ni lelengna (Zoe aionos). Dibahen i, ingkon do tangkas siranghonon ni angka na porsea di Tuhan i sian ngoluna hisaphisap ni ngolu ni portibi on. Di bagian na asing, naeng do muse pamanaton ni angka na porsea taringot pamodaion dohot pangajaran na hinatahon ni angka golongan Doketisme. Ai dipodahon nasida do na so tutu ia Jesus, Anak ni Debata. Holan khayalan (halinu) sambing do i, hira na paotootohon do. Angka poda sisongon on nunga jelas i maralo tu hasintongan ni Parsintong i. I do umbahen na tangkas dilumbahon panurat buku 1 Johannes (ndang baru pola dipabotohon ise goarna di buku on) asa unang gabe mimbar manang munggilmunggil haporseaonnasida hinorhon ni i. Didok ibana do: Ia Jesus Kristus, Sipalua i, na adong sian mulana, na hubege hami, na niida ni matanami, na hupanotnoti hami, jala na jinama ni tangannami.....lapatanna, situtu do adong Jesus i, ndang songon na nidok ni siparlilu i (doketisme). Asa na mansoadahon Kristus i do Jesus, angka i ma Antikristus, na mansoadahon Ama i dohot Anak i (2:22). Jala ganup tondi na so marhatopothon Jesus i, i ma na so sian Debata. Ima pangalaho ni anti Kristus (4:3). Antong, on do na niigil ni panurat on asa naeng hatindanghonon ni angka halak Kristen na di sekitar Epesus paboa Jesus so parsintong i, Tuhanta i (5:20).

II. Hatorangan

1. Ay. 1-2. Kristus Advokat ni pardosa. Molo tung adong na mardosa (Jika seseorang kedapatan berbuat dosa) dipaingot si Johannes na boi mulak nasida tu Debata Ama siala ni Kristus. Jala unang be nasida mardosa laho pataridahon hadirion nasida anak ni Debata na unduk jala na mangoloi Hata ni Debata. Kata “pengantara” (Yunani: parakletos) yang digunakan di sini mengandung arti seperti seorang pengacara (advokat) dalam pengadilan. Dipatangkas si Johannes do hadirion ni Kristus na hehe i gabe pardengganan ni jolma pardosa tu Debata. Na mandok ndang tarpatupa jolma i sandiri mardame dohot Debata molo holan sian gogona sambing, alai adong do parhitean na mangondingi hita. Songon sahalak pengacara na membela hak-hak ni na terdakwa, laos lobi songon i do Peranan ni Kristus laho mangondingi hita diadopan ni Debata. Ai nunga terdakwa hita siala ni hadosaonta dohot pangalaosionta tu Debata, alai tuani ma ro Kristus laho membela hita, marhite panobusionna tu hita jolma pardosa. Ala ni holong ni Kristus i na umbalga na mambahen hita gabe partohap di harajaonNa. Hata pardengganan (Bhs.Indonesia “pendamaian” ; Bhs.Yunani: hilasmos) na marlapatan manesa dosa. Ia rimas ni Debata tu halak pardosa, alai nunga diporsan Kristus i rimas ni Debata di hau pinarsilang i. Rimas ni Debata ala ni dosa i nunga diusehon tu Kristus, marhite i ma pardengganan na mamboan dame tu hita dohot Debata, jala nunga taruli hita di hagogoon dohot dihabaranion laho pasolhothon diri tu Debata. Ndada holan hita na hinonghopNa alai dohot do dosa ni sandok portibi on. Joh. 4: 42 : “......Ai nunga hubege jala hutanda hami sandiri, Ibana do tutu Sipalua portibi on”.
2. Ay. 3-5. Na Mananda Kristus ima mangulahon patikNa. Dipatangkas si Johannes ma muse boha do pangalaho ni angka jolma na mananda Kristus. Di angka na mananda Kristus diulahon do patik dohot parsuruonNa, ndang holan dijaha, ndang holan diida, ndang holan dibege, alai dohot do diipatuduhon jala dipataridahon dibagasan ngoluna na tanda ibana siihuthon Kristus. Johannes 9: 31 “Taboto do, na so ditangihon Debata angka pardosa, alai halak na mangkabiari Debata jala mangulahon pinangido ni rohana, i do ditangihon.” Pargabus do halak na manangihon patik ni Kristus alai ndang diulahon, laos dos do i di na holan tumangihon patik alai ndang diulahon ndang adong panghorhonna tu dongan jolma. Mateus 7:21 Ndada saluhut halak, na mandok Ahu Tuhanna, bongot sogot tu harajaon banua ginjang i, holan angka na mangulahon lomo ni roha ni Damang na di banua ginjang i do! Alai molo diulahon do i gabe manghorhon na denggan doi laos patuduhonon ma haporseaonna di Kristus i. Songon i do nang haporseaon di Jesus, ndang sae holan na marimangrimangi alai dohot do nang diulahon dibagasan ngoluna. Didok di Yakobus 2: 17 “ Haporseaon i pe songon i do: “Anggo so adong pangulaonna, naung mate do hadirionna.”
3. Ay. 6. Na gok Holongna i do na mangulahon patik. Angka na mangulahon patik sai nanionjar holong na do tu Debata marhite Kristus. ( Mateus 12:50 Ai na mangulahon lomo ni roha ni Damang na di banua ginjang, i do anggingku, i do ibotongku, i do dainang) . Alai molo so balga holongna, gabe ndang hibul rohana mangulahon patik i. Ingkon na nionjar holong ni roha do asa boi niulahon dohot denggan patik i. Jala ingkon benget do roha laho mangulahon i saluhutna, siala na boi do godang angka na mangambati ulaon na denggan, sae ro do sangkapsangkap na roa sian si bolis manang angka parjehe songon sisean ni Jesus na manjehehon Ibana. Sai pangkeon ni si bolis do angka na jumonok sian tongatonganta laho mambahen humasusa hita. Tarlumobi di na laho mangulahon patik i, sai godang do na paliluhon haporseaonta laho manghaporseai. Heber 13:21 “Ibana ma patauhon hamu di nasa ulaon na denggan, mangulahon lomo ni rohana, ai dipatupa do di bagasan hamu na tau lomo ni rohana marhitehite Jesus Kristus! Di Ibana ma hasangapon i ro di salelenglelengna! Amen”

III. Aplikasi
 Sahat tu ombas na parpudi on, sai godang do ro mangelaela haporseaon ni ruas ni huria i. Ndada holan tu angka na baru porsea, alai dohot do tu angka naung leleng gabe Kristen. Mansai godang nuaeng poda (ajaran) na maralo tu Hata ni Debata na boi begeon ima marhitehite mass media isarana majalah, surat kabar, radio, televisi nang pe marhitehite buku cetakan na mura dapot di toko buku. Molo ndang bagas pangantusionta di hata ni Debata olo do gabe ganggu rohanta jala adong do deba sian ruas ni huria i naung manadingkon Tuhan i (beralih ke agama lain). Ndada gabe ukuran lelengna gabe Kristen sasahalak alai bagas ni pangantusion dohot panghaporseaon di Hata ni Tuhan i do. Godang do nang halak naung leleng ibana gabe Kristen alai ndang bagas dope parbinotoanna di Hata ni Tuhan i ai so hea diguruhon, tu parpunguan ni halak Kristen na mangguruhon Hata ni Tuhan i pe so ringgas ro suang songon i nang manjahai buku na badia i.
 Godang nuaeng ajaran na marbagabagahon haluaon di ngolu ni jolma i. Di ugamo Jahudi, disosohon do na holan na marhite Patik do dapotan haluaon jolma manisia. Haluaon na ringkot di ngolu ni hajolmaon, jumpang do i holan di Kristus Jesus. Pangajarion, panogunoguon naeng gabe sada ulaon na prioritas di tongatonga ni huria. Ndang mansohot dope sibolis mangelaela huria i. Mansai ringkot kerjasama na denggan antar parhalado marhitehite na masiurupurupan laho mamodai ruas ni huria i, pabotohon angka na masa di huria i asa boi dipatupa langkah-langkah na hombar tu pergumulan i ruas ni huria i. Di ombas na parpudi on, sasaran na empuk di pangelaelaon ni parpoda haliluon ima angka generasi muda (naposo bulung), angka parsikola, angka na pogos, masyarakat na tertindas. Dipertentangkon ma tu nasida ma Hata ni Tuhan i hombar tu angka pergumulan ni ngolu nasida. Situasi ni ngolu nasida, ima dibahen mamparsoada Hata ni Tuhan. Dison ma naeng hatop hurianta manogunogu ruas ni huria i jala porlu mambahen langkah-langkah mangurupi dohot langkah-langkah antisipasi unang sanga masuk parpoda haliluon tu ruas ni huria i, asa dohot nang nasida mamparsaulihon haluaon na sian Tuhan i, ima haluaon ni tondi dohot daging.
 Goar ni Minggunta I ma Mingu QUASIMODOGENITI na marlapatan “ Songon Posoposo na imbaru tubu” (1 Petrus 2:2). Asa di na laho mangaradoti patik ni Debata ingkon ma songon posoposo na imbaru tubu na porsea i manjalosa dohot mangauhon dibagasan haporseaonna. Unang ma tapangasahon utokutok alai haporseaon do. Siala na mangasahon utokutok do godangan jolma gabe lilu jala marpoda haliluon (taingot ma na masa parpudi di hurianta: na paimahon bangke ni jolma mulak mangolu di ari patoluhon). Asa tarida ma di na taulahon patik i gabe hatiuron dibagasan ngolunta nang di humaliangta. Amin. (EM)


Kamis, 01 April 2010

Renungan Hari Kamis, 1 April 2010

Perjamuan Bersama Yesus
Lukas 22 : 19
Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.
Kedua murid-murid yang berjalan ke Emaus dapat mengenali YESUS dengan Tubuh Kebangkitan-NYA pada saat mereka duduk makan. Mereka belum mengenali YESUS saat berjalan beriringan bersama-NYA ke Emaus, padahal terjalin dialog di antara mereka dengan YESUS dalam perjalanan itu. Namun pada saat YESUS mengambil roti dan memecah-mecahkannya, barulah mereka mengenali bahwa yang ada di hadapan mereka adalah YESUS KRISTUS.
Roti yang dipecahkan oleh TUHAN YESUS adalah gambaran Firman TUHAN. Jika kita ingin memahami seperti apakah tubuh kebangkitan itu, marilah mempelajari Firman TUHAN dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian kita akan memahami Firman yang membukakan mata rohani kita untuk mampu memandang tubuh kebangkitan.
Jemaat mula-mula selain bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan persekutuan juga selalu melakukan Perjamuan Kudus (memecahkan roti). Ingat, gereja pada masa itu sedang dalam “kekuatan optimumnya” setelah Hari Pentakosta. Itu sebabnya sebagai gereja yang ingin bertumbuh juga dalam kuat kuasa Tuhan, kita perlu selalu memelihara kebiasaan baik ini dan memahami maknanya.
Perjamuan Kudus juga merupakan sesuatu hal yang dilembagakan atau diadakan oleh Yesus Kristus sendiri. Kalau sesuatu hal diadakan oleh Yesus Kristus sendiri kita tahu bahwa hal itu pasti merupakan sesuatu yang istimewa di pemandangan Tuhan. Itu sebabnya kita perlu sangat menghargai waktu-waktu di mana kita ambil bagian dalam Perjamuan Kudus.

Perjamuan Kudus juga merupakan sesuatu hal yang dilembagakan atau diadakan oleh Yesus Kristus sendiri. Kalau sesuatu hal diadakan oleh Yesus Kristus sendiri kita tahu bahwa hal itu pasti merupakan sesuatu yang istimewa di pemandangan Tuhan. Itu sebabnya kita perlu sangat menghargai waktu-waktu di mana kita ambil bagian dalam Perjamuan Kudus.
Perjamuan Kudus memiliki arti yang teramat penting bagi kita. YESUS sendiri mengatakan pada saat perjamuan malam bersama murid-murid-NYA, bahwa Tubuh-NYA diserahkan bagi kita. Kita menanggalkan tubuh kita yang penuh dengan dosa dan kita mengenakan Tubuh YESUS yang penuh dengan kemuliaan.
TUHAN YESUS berpesan agar Perjamuan Kudus ini menjadi peringatan akan DIA. Peringatan bahwa YESUS telah menyerahkan Tubuh-NYA bagi kita yang akan membawa kita masuk kerajaan Sorga. Hendaknya kita memeriksa hidup kita, apakah kita selalu bersekutu dengan Tubuh dan Darah KRISTUS dalam Perjamuan Kudus. Dengan senantiasa menjaga persekutuan dengan KRISTUS, pada saatnya kelak kita akan berkumpul bersama ALLAH, bersama Abraham, Lazarus dan semua orang beriman lainnya untuk menerima kemuliaan kekal


Rabu, 31 Maret 2010

Renungan Hari Rabu, 31 Maret 2010

Kita Dibenarkan Dalam Kristus
2 Korintus 5: 21
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah
Yesus yang telah mengetahui bahwa waktuNya telah tiba mengajak murid-muridNya pergi ke taman Getsemani untuk berdoa kepada BapaNya. Firman Tuhan mengatakan dengan sangat jelas, bahwa di Getsemani Ia bergumul dalam doaNya sampai peluhNya yang keluar menjadi seperti titik-titik darah yang menetes ketanah Luk 22:43, 44. Dalam pergumulan yang begitu berat, Ia sampai 3 kali meminta kepada BapaNya supaya kalau boleh cawan yang merupakan lambang dari murka Allah atas dosa manusia yang harus diminumNya dilalukan dari padaNya, tetapi itupun bukan kehendakNya yang jadi, murid-muridNya yang di ajak bersama-sama malah tertidur. Padahal mereka Yesus menyebut sebagai sahabatNya,Yoh 15:14. Karena itu ketika masih di perjamuan malam, waktu Yesus mengatakan tentang semua yang akan terjadi terhadap diriNya, Petrus berkata : "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" Luk 22:33. Tapi apa yang terjadi, sementara Yesus dalam pergumulan yang demikian berat murid-murid yang dibangunkan untuk berdoa bersama-sama malah tetap tidur, dengan kata lain mereka bukanlah sahabat2 sejati. Hal ini terbukti ketika Yesus sudah ditangkap, semua murid-murid melarikan diri meninggalkan Dia bahkan kemudian kita tahu bahwa akhirnya Petrus sampai menyangkal Yesus 3 kali, Mat 26:56, 70-74. Akhirnya Firman Tuhan mengatakan Yesus diadili seperti penjahat, dihina, diludahi ditinju, dijadikan olok-olokan bahkan dianiaya dengan begitu kejam sampai akhirnya ketika di atas kayu salib Ia berkata dengan suara nyaring : "Eli, Eli, lama sabakhtani ?" Artinya : AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku ? Setelah semua itu Ia berkata "Sudah selesai". Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya. PengorbananNya untuk menyelamatkan manusia yang berdosa baru beakhir ketika Dia sampai dikayu salib. Itulah harga yang harus Dia bayar dan telah lunas, I Kor 6:20. Karena itu kita yang dulunya bersalah dihadapan Tuhan telah dibenarkan oleh Darah Yesus.

Betapa penghayatan diri sebagai hamba itu sungguh sangat nyata dalam pelayanan bagi umat manusia berdosa. Yesus dengan rela mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba. Keagungan-Nya dilepaskan untuk menjadi manusia yang terendah. Yesus sungguh menampakkan bentuk ketaatan diri yang radikal sebagai seorang hamba. Maka kitapun senantiasa belajar meneladani apa yang telah dinampakan-Nya dalam segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup ini sebagai apa saja, di mana dan kapan saja ketika hidup dalam kebersamaan dengan sesama.
Akan tetapi kematianNya di kayu salib bukanlah akhir dari rencana Allah, melainkan sesuai dengan yang dikatakan oleh kitab suci bahwa pada hari yang ketiga Dia bangkit dari antara orang mati, I Kor 15:3-4, dan kebangkitanNya inilah yang menjadi pengharapan dan kekuatan bagi kita yang percaya padaNya. Sebab Firman Tuhan mengatakan Yesus yang mati kemudian bangkit dari antara orang mati telah masuk dalam kemuliaan Kekal, karena itu kita yang percaya kepadaNya akan masuk dalam kemuliaan yang sama apabila Ia datang kelak untuk menjemput kita sebagai pengantin Sorga.
Bagaimana dengan kita, Jemaat yang terkasih ? Apakah dalam hidup yang Allah anugerahkan kepada kita sampai saat ini, kita terus berada dalam proses pembentukan diri menjadi serupa dengan Kristus. Keserupaan yang ditentukan dengan kerelaan diri dalam ketaatan penuh untuk menjadi seorang pelayan.


Renungan Hari Selasa, 30 Maret 2010

Yang Diajarkan Oleh Allah
Yohanes 8 : 28
Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku.
Kita tidak pernah membayangkan apalagi merencanakan akan mengkhianati orang yang kita cintai, kagumi, dan hormati. Tidak ada orang yang ingin menikah dengan pikiran bahwa pasangannya akan berkhianat. Tidak ada orang yang bersiap-siap menerima panggilan imamat berpikir akan meninggalkan jabatannya pada suatu saat. Tidak terelakkan kita bisa saja me¬ngalami kesulitan. Orang mengecewakan kita dan sebaliknya. Rencana kita pernah atau bahkan sering berantakan. Kekecewaan semakin menyakitkan manakala hal buruk yang kita alami justru berasal dari orang yang kita pandang dekat dan kita cintai termasuk anggota keluarga atau kolega kita.

Berhadapan dengan keadaan seperti itu, Yesus memberikan contoh yang inspiratif. Menyadari apa yang dihadapi-Nya, Yesus melihat bahwa tujuan hidup dan pelayanan-Nya bukan dalam ukuran dunia ini. Yesus memberi teladan bahwa dalam keadaan seburuk apa p Percayalah bahwa malaikat-malaikat Allah senantiasa menyertai dan mendampingi kita, dan bersama dengan malaikat kita akan mampu mengatasi aneka godaan roh jahat atau setan untuk ‘berbakti pada berhala-berhala modern’ seperti harta benda/uang, jabatan/ kedudukan/pangkat atau kehormatan duniawi. Marilah dengan semangat iman kita makan-minum, tidur, bergaul, bekerja atau melakukan apapun di dalam hidup sehari-hari. Kita terima dan nikmati apa-apa yang disediakan atau diberikan kepada kita asal bukan racun atau ajakan untuk berbuat jahat. Secara konkret dan sederhana marilah kita terima dan nikmati makanan, minuman maupun aneka macam sarana-prasarana kerja yang disediakan bagi kita.
"Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamanya. terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus, yang patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau dalam Bait-Mu yang mulia dan kudus, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya. Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu, Engkau patut dinyanyikan dan ditinggikan selama-lamanya.”untuk itu perlu diperjuangkan kasih yang tulus dan sempurna, demi keselamatan semua orang.



Renungan Hari Senin, 29 Maret 2010

Meninggikan Nama Tuhan
Yohanes 3 : 14-15
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal
Setiap orang sebetulnya merindukan bisa hidup bahagia dan terlepas dari segala kesusahan. Rupanya ada begitu banyak cara yang dipikirkan dan dihayati oleh banyak orang untuk bisa terlepas dari segala kesusahan hidup. Ada yang memikirkan dengan cara bercerai dari pasangannya bila hubungan sebagai suami istri sudah dirasa tak memberi kebahagiaan. Ada yang berpikir bikin usaha ini dan itu dan bahkan ada yang memakai cara-cara yang tak baik seperti merampok milik orang lain.
Di harian Kompas yang terbit pada hari Sabtu 21 Maret 2009 dikisahkan dua orang perampok yang membawa lari uang Rp 130 juta di Palembang lalu keduanya tewas ditabrak oleh korbannya sendiri. Dua orang perampok itu pun sebetulnya juga bermimpi ingin hidup bahagia. Mereka berangan-angan bisa mendapatkan uang Rp 130 juta. Hanya sayang cara mereka ingin merasakan kebahagiaan itu tak bisa dibenarkan karena dengan cara merampok.
Sebagai orang Kristiani kita memiliki cara untuk bisa masuk ke dalam kebahagiaan. Cara itu diajarkan oleh Yesus dalam percakapannya dengan Nikodemus. “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:14-15). Yesus memberikan cara supaya kita bisa beroleh hidup yang kekal yakni dengan cara percaya pada Anak Manusia yang ditinggikan.
Mengapa Anak Manusia yang ditinggikan (Yesus yang tersalib) itu yang harus kita ikuti dan percayai supaya kita beroleh hidup yang kekal? Karena melalui salib Yesus itu, kita mengalami secara paling jelas bahwa Allah sungguh mengasihi kita. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3: 16).
Memang sebenarnya bukan menjadi suatu keharusan mutlak bagi Kristus untuk menderita di salib bagi kita, namun memang itulah yang dipilih-Nya, dan ini sudah direncanakan-Nya sejak awal mula dunia. Sebab Allah sudah mengetahui segala sesuatunya, bahwa manusia pertama akan jatuh dalam dosa, dosa asal inilah yang akan diturunkan kepada semua umat manusia, dan karena manusia tak dapat menebus dosanya sendiri, maka Allah memutuskan untuk mengutus Putera-Nya sendiri untuk menebus dosa manusia dengan sengsara-Nya di kayu salib. Penderitaan yang tak terlukiskan di kayu salib tersebut adalah bukti kasih Allah yang tiada terbatas, dan juga bukti keadilan yang sempurna, yang menunjukkan kejamnya akibat dosa, yang harus dipikul oleh Kristus, untuk membebaskan kita manusia dari belenggu dosa. Maka walaupun setetes darah-Nya sebenarnya cukup untuk menebus seluruh dosa manusia, namun Yesus justru mau menyatakan yang lebih sempurna dan “superabundant” daripada itu. Sebab Ia mau menunjukkan kasih yang melebihi dari apa yang disyaratkan, kasih yang mengatasi segalanya. Kerendahan hati Yesus yang ditunjukkan-Nya dengan kerelaan-Nya menjadi manusia dan menderita di kayu salib merupakan “obat penawar”/ antidote bagi dosa asal Adam, yaitu kesombongan ingin menjadi/ menyamai Allah. Ketaatan Kristus terhadap kehendak Allah Bapa menawarkan ketidak-taatan Adam kepada Allah (lih. Rom 5:19).


Renungan Hari Sabtu, 27 Maret 2010

Kristus Didalam Diri Kita
Galatia 2: 20
Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku
Perjalanan menuju transformasi terbuka bagi seluruh umat kristiani, tanpa kecuali. Semuanya tergantung kepada keterbukaan dan penyerahan diri manusia yang mempunyai kehendak bebas. Karena sesunggunya, melalui pembaptisan semua orang menjadi tempat tinggal Allah. Itu berarti, semua orang dapat pula bersatu dengan Dia yang bersemayam di dalam hatinya. Dan kita semua juga diciptakan serupa dengan-Nya, menurut gambaran-Nya. Dengan demikian, kita dapat mengembangkan hidup rohani kita, dengan menjalani kehidupan yang sama dengan yang dijalani Kristus, sesuai dengan panggilan kita masing-masing, hingga akhirnya jiwa mencapai persatuan yang sempurnya dengan-Nya.
Paulus telah menginspirasikan tentang perubahan hidup total kepada kita. Karena itu mari kita lihat bersama apa rahasianya. Sebelum menjadi rasul, Saulus adalah seorang penganiaya jemaat dan tekun melaksanakan hukum Taurat, “tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Flp. 3:6). Tetapi ia berubah menjadi Paulus, yang urusan sehari-harinya adalah memelihara semua jemaat (2Kor. 11:28) dan mengajarkan pada kita tentang Taurat yang sebenarnya adalah sunat hati (Rm. 2:29).
Yesus mengajak kita untuk mati bersama-nya, dan kemudian bangkit pula bersama-Nya. Kemuliaan Paskah terjadi sepanjang tahun, ditawarkan bagi semua jiwa yang mau mati bersama-Nya untuk bangkit kembali sebagai manusia baru. Demikianlah pada saat genap waktunya, bagaikan kupu-kupu jelita, jiwa menjadi indah memancarkan kemilau Sang Mempelai dalam persatuan cintakasih yang abadi dengan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Paulus lewati beberapa pergumulan dengan menyerahkan diri pada Tuhan Yesus sehingga ia bisa berubah dari yang dulunya seorang penganiaya jemaat menjadi seorang yang memelihara jemaat. Dari yang dulunya seorang yang secara lahiriah melaksanakan hukum Taurat, menjadi seorang yang mengajarkan tentang sunat hati. Rahasia perubahan seseorang adalah Kristus yang hidup di dalam dirinya. Ternyata bukan hasil usaha Paulus semata-mata atau kekuatan niatnya yang membuat ia berubah. Ini semua karena Kristus yang berkarya di dalam hidupnya.
Hidup yang sementara ini adalah persiapan untuk hidup yang kekal, yang akan sampai selama-lamanya. Itu sebabnya, Paulus mengatakan bahwa mati jauh lebih baik, karena diam bersama-sama dengan Kristus di dalam kekekalan. Mati adalah gerbang untuk masuk ke dalam kesempurnaan, serupa dengan Kristus, diam dengan Kristus, menjadi raja sampai selama-lamanya, tidak berdosa lagi, tidak ada sakit-penyakit, dan bahkan bisa menikmati Allah Tritunggal dalam segala kelimpahan. Jadi, hidup sesudah mati pasti lebih menyenangkan dari hidup yang sekarang ini. Seharusnya orang-orang yang sungguh percaya kepada Kristus, sangat menanti-nantikan akan kematian dan hidup yang kekal. Mata kita seharusnya memandang kepada kekekalan. Bersukacita dengan segala hal yang dibukakan kepada kita dan mempersiapkannya dalam kesementaraan ini.
Apakah ini berarti bahwa kesementaraan ini menjadi tidak berharga dibandingkan dengan hidup kekal? YA! Tetapi, bukan berarti hidup yang sementara ini tidak perlu. Justru kita harus melihat hidup yang sementara ini sebagai kesempatan yang akan berlalu. Kalau kita melihat dengan cara pandang bahwa ini hanya sementara dan akan berlalu tetapi berdampak untuk kekekalan, maka kita akan memanfaatkan dan mempergunakannya sebagai mungkin demi untuk Kristus dan untuk mempersembahkan semuanya kepada Kristus.

Renungan Hari Jumat, 26 Maret 2010

Allah Menolong Orang Yang DikasihiNya
Lukas 18: 7

Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka
Orang dunia menggantungkan harapannya pada saldo tabungan, meraih pendidikan setinggi mungkin dengan harapan memiliki masa depan cemerlang, atau berharap kepada orang lain yang seringkali membuat kecewa. Tetapi Pemazmur memberikan resep bagi anak TUHAN yang merasa tertekan jiwanya: berharap kepada ALLAH. Harapan kepada ALLAH yang berlaku eksklusif bagi anak TUHAN ini tentu bukan sekedar harapan kosong, bahkan melebihi harapan yang dimiliki orang dunia. Sebuah ilustrasi untuk menyatakan perbedaan antara harapan yang nyata dengan harapan semu yang hanya untuk mengulur waktu:
Seorang patih (pembantu raja) divonis hukuman mati oleh rajanya akibat kesalahannya. Dengan kecerdikannya, patih ini memohon agar diberi kesempatan hidup satu tahun lagi, karena memiliki misi mengajar kuda milik raja untuk dapat berbicara. Penasaran ingin membuktikan kecanggihan ilmu patihnya itu, raja mengubah vonis mati. Sebagai gantinya, si patih diberi kesempatan satu tahun untuk mengajar kuda raja berbicara. Patih pun pulang ke rumahnya dengan membawa kuda raja sebagai muridnya.
Ternyata yang ingin tahu ilmu si patih itu bukan hanya sang raja; teman patih inipun bertanya, apakah benar dia dapat mengajar kuda berbicara? Dengan entengnya patih ini menjawab, bahwa sesungguhnya dia tidak dapat mengajar kuda berbicara. Tapi ada yang diperolehnya dari membohongi raja: mengulur waktu kematian menjadi satu tahun kemudian.

Harapan di dalam ilustrasi di atas hanyalah harapan sementara, harapan semu. Sangat berbeda dengan harapan kepada ALLAH. Kuasa TUHAN sudah jelas tidak ada taranya. Kendati ALLAH Mahakuasa, namun seandainya saja DIA tidak mengasihi kita, maka kita tidak dapat berharap kepada DIA untuk mengulurkan Tangan-NYA menolong kita. Atau seandainya TUHAN tidak memiliki kesetiaan dalam menolong, DIA hanya akan menolong sekali dua kali saja lalu akhirnya bosan menolong kita. Namun karena kasih dan kesetiaan TUHAN yang terus kita rasakan, kasih dan kesetiaan TUHAN itu menjamin jiwa kita tidak tertekan.
Setiap hari manusia memiliki kebutuhan. Setiap hari pula TUHAN selalu menyediakan berkat yang baru bagi anak-anak-NYA. Itulah sebabnya TUHAN YESUS mengajarkan agar kita berdoa kepada BAPA, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Artinya, setiap hari ini kita memiliki kebutuhan yang berbeda, dan DIA selalu memberikan berkat sesuai dengan kebutuhan kita. Berkat-NYA selalu baru setiap pagi juga mengandung arti kesetiaan TUHAN yang tidak bosan-bosannya untuk memberikan berkat-NYA setiap hari.



Selasa, 30 Maret 2010

MINGGU PASSION

MANDALANI MINGGU-MINGGU PASSION
Pangaradeon tu Minggu na Songkal

Somalna sai didok angka ruas do mar-Passion di tinki na ro tu partangiangan di Gareja mulai ari Senen sahat tu Kamis, i ma di holangholang ni ari Minggu Palmarum dohot ari hamamate ni Tuhan Jesus. Hape nunga salpu Passion di tingki i. Porlu sunghunonhon dua sungkunsungkun na di toru on:
 Sadihari do mamungka Minggu-minggu Passion jala sadihari do marujung ?
 Aha do tinembak ni Minggu-minggu Passion ?

1. Mula Ni Minggu Passion
Mangihuthon arina, mamungka ma Passion i sian ari Rebo dung Estomihi (songon na itaboto, adong do tolu ari Minggu na songon peralihan ni Epifania tu Passion, i ma minggu Septuagesima, Sexagesima dohot Estomihi). DI deba huria sai adong do partangiangan di borngin ni ari Rebo i, jala disi ma ruas ni huria pasesahon dosa. Ari Minggu na mangihut tusi i ma Minggu Invocavit. Sian Minggu on ma ditorushon marningot panaonon ni Tuhan Jesus, na mardalan nangetnanget manjonok tu Jerusalem jala marujung ma di dolok Golgata. Adong ma 5 Minggu disi jala ganup minggu dijahahon ma unurunur barita sitaonon ni Tuhan Jesus. Nunga adong diparade Hurianta sijahaon di tingki Passioni, ima na sinurat ni Ompu i Dr. J.Sihombing. Adong ma 5 ari Minggu laho manjahahon 5 bagian ni barita parsitaonon ni Jesus. Marujung ma i di Minggu palimahon i ma Minggu Judika.

2. Ujung ni Minggu Passion
Dung sidung Minggu Judika, masuk ma muse tu Minggu Palmarum. Disi ma taringot parmasuk ni Jesus tu Jerusalem, na tinomutomu ni natorop huhut manjouhon Hosianna! Sada parmingguon na balga do on, ai disi ma disurakhon huria muse Hosianna! Unang hita dohotdohot tu angka ende-ende na mangarimpu Hosianna i ma suraksurak las ni roha na dos tu Haleluya. Ai torop do angka punguan na martopapi huhut mirjakhirjak mangendehonsa. Ia Hosianna na marharoroan do i sian hata Aram (ima bahasa na dipangke di tingki ni Tuhan Jesus) na marlapatan “Palua Ma Hami Nuaeng” ! Dison i ma inganan ni sitaonon ni portibi on disurakhon Huria. I do alana saleleng Minggu Passion pe, ndang pola diendehon “Haleluya”, alai diganti ma gabe “Hosianna”! Nian ndang pola somalk dope i di HKBP, alai anggo taihuthon angka huriahuria Lutheran, nunga peam i di nasida; gariada tahe Huria Calvinis di Indonesia, isara ni GPIB, nunga tung tangkas diulahon i, na so mangendehon Haleluya saleleng Minggu Passion. Laos on ma parmulaan ni sada Minggu na mansai ronsot siala godang ni barita ni haporseaonta na ingoton di na saminggu i. I ma na digoari Minggu na songkal (Mingu Kudus).
3. Tinembak Ni Minggu Passion
Panolsolion ni dosa do anggo ondolan ni Minggu-minggu Passion. I do alana sai dijaha jala diulahon Huria barita taringot tu sitaonon ni Jesus, gabe hira na rap mardalan ma Huria i nangetnanget rap dohot Jesus laho tu Golgata. Sada Minggu-minggu perenungan do Minggu Passion on. Anggo di mulana i, minggu parpuasaon do i, somalna ndang pola sandok sipanganon (ndang dijama), alai marpantang juhut ma hataridaanna. Nuaeng on torop dope na mandalanhon i, alai ditambai na deba ma i marhite perkembangan modern, i ma mangorui angka hasomalanna, umpamana, na sai laho hian marlibur manang tu bioskop manang godang marisap, saleleng Passion diorom ma dirina tusi, jala hepeng na aturan dipalao ibana tusi, gabe dilehon ma songon pelean khusus. Gabe tarida ma Minggu-minggu Passion songon Minggu Solidaritas Sosial.
4. Minggu na songkal (minggu na hohom)
Ia Minggu na hohom on i ma mulai ari Minggu Palmarum i, sahat ro di ari Sabtu dung hamamate ni Jesus. Tarbagi dua ma minggu on, i ma mulai ari Senen sahat tu ari Rebo, dung i mulai ari Kamis sahat tu ari Sabtu na digoari Triduum.
5. Triduum
Bagian paduahon ni Minggu na Hohom ima tolu ari, sian ari Kamis sahat tu ari Sabtu, tar songon on ma partondingna:
a) Ari kamis, “Parningotan di Hasasahat ni Ulaon na Badia”:
Di ari on mansai hohom ma roha ni halak Kristen sudena. Hira na rap dohot Jesus ma hita mardalan, nangetnanget manjonoki ari hamamteNa. Mansai bonsa do roha ni Tuhan Jesus ala ni dosa ni portibi on. Ala ni ido dipatupa parningotan na mansai porlu dison, i ma:
 Jesus Mamuri Pat ni Sisean: DI Huria na metmet manang punguan na metmet ro ma anggka na porsea, laho marningot pambahenan ni Tuhan Jesus na mamuri pat ni sisean i. Gabe ari na denggan ma on laho patoguhon roha na masihaholongan dohot masitungkolan di angka na porsea. Mansai maol do on anggo torop do halak, boi do punguanpunguan na metmet patupaon i di inganan na binuhul
 Ari Hasasahat ni Ulaon Na Badia: Ro ma Huria marpungu di Gareja, jala disi dijahahon ma barita taringot tiu Jesus, mamungka sian na mamuri pat ni sisean, sahat tu na patupa parmanganon Paska nasida di bilut parginjang. Di tingki on, di Huria na adong Pandita, dipatupa ma Ulaon Na Badia. Di angka huria na so mungkin patupahon Ulaon Na Badia, diihuthon nasida ma Acara na mamuji Debata siala ni hasasahat ni Ulaon Na Badia. Acara kebaktian tuson diparade Panitia ni Paskah Raya do. Sosohon hita ma Hurianta asa dipatupa ulao i.
 Ari Tangiang Pangondianon di Getsemane: DUNG sidung Ulaon Na Badia, manang Kebaktian manghamauliatehon Ulaon Na Badia, dipamate ma sandok lampu gareja, diganti ma dohot lilin manang lampu samporong. Dijahahon ma barita taringot tu haboborhat ni si Judas manjehehon Jesus, dung i partangiangon ni Jesus di Getsemane. Dipangulakulakhon ma manjahahon hata ni Tuhan Jesus: “Dunggo ma hamu tongtong mardongan tanggiang”. Sidung i, martangiang ma sandok ruas ni huria i marsorinsorin, sahat ro na salpu tonga borngin. Boi do marsorinsorin ruas i ro, deba mulak jolo tu jabu, ro muse dung pukul 23.00 manang dung pukul 00.00, alai sai adong ma disi torus martangiang. Sude natatangianghon saleleng on taringot tu “Hatiha Mangalo Gosagosa” taulahon ma deba disi. Laos disi ma tatangianghon angka sidangolon ni ruas marsadasada, dung jolo dipapungu parhalado “Pokok Doa”. Ditutup ma punguan i dung salpu tonga borngin marhite na manjahahon haroro ni Judas dohot soldadu na laho manangkup Jesus, sahat tu na pinatupa ni si Malthus.
 Ari Jumat, “Parningotan ni Hamamate ni Tuhan Jesus”: Songon na somal ma hita mandalanhon, i ma parmingguon di gareja hombar tu tingki naung dihasomalhon. Tamba ni i tong do marpungu Huria tu Ulaon n Hohom di pukul 2 songon na somal. Alai di botarina inotonta ma marhite partangiangan na jempek i ma “Bangke ni Jesus di patuat sian silang dohot panaonon ni Jesus”. Ia partangiangan on boi do dipatupa di Gareja manang asa gumodang boi dohot, ba di lingkungan-lingkungan.
 Ari Sabtu, “Ari Sabbat na Sumongkal (termulia)”
On ma ari na mansai hohom. DI bagasan tanoman do Jesus, “na tuat tu banuatoru dung ditanom” Hohom ma sude portibi on, marningot Jesus na modom asa dipahehe di ari patoluhon. Marpungu ma Huria di bornginna i. Jahahononhon ma disi barita taringot tu si Jona di butuha ni dengke. Dung i muse taringot tu hatutuat ni Jesus tu angka halak na mate andorang so ro dope Kristus di = 1 Petrus.
Dung i dipamasa ma partangiangon Hasesaanni Dosa. Begeonta ma disi angka ende ni par-koor ni Hurianta taringot tu hasesaan ni dosa, angka ayat-ayat taringot tusi. Huhut ma martangiang disi ruas manangianghon dosana be. Alai dohot ma ditangianghon dosa ni bangsonta, dosa ni Hurianta, dosa ni pamarenta, nang angka pemimpin-pemimpin dunia. Tajalo ma disi bagabaga taringot tu hasesaan ni dosanta. Dipatubegehon ma nian disi koor na uli taringot tu hasesaan ni dosa.
Tarpatupa hita i sude molo boi do adong pangaradeon na tangkas, nang parhalado nang angka punguan koor pe. Sian i ma hita borhat muse tu Partangiangan Buhabuha Ijuk di Gareja.
Hombar tu saluhutna, di son pinaandar ma angka usul na metmet songon on:
1) Hubungan dengan pelaksanaan agenda dalam kebaktian Minggu: Diusulkan agar selama keenam Minggu ini, sesudah ayat Introitus dibacakan, jemaat menyambut dengan menyanyikan “Hosianna” (Hosianna) tidak lagi dengan “Haleluya”, hingga tiba masa paskah nanti.
2) Hubungan dengan warna liturgis: Diusulkan juga agar setiap jemaat yang selama ini kurang memperhatikan warna liturgis, benar-benar melaksanakannya, sebagaimana sudah dituliskan dalam Almanak HKBP.
3) Simbol lilin selama Minggu Passion: Salah satu alat peraga yang dapat berfungsi sebagai penampakan liturgis adalah penggunaan 6 buah lilin, yang menyala sejak awal kebaktian Minggu pada Minggu Invocavit. Minggu berikutnya satu lilin tidak menyala, dan hanya 5 lilin yang lain tetap dibiarkan menyala. Pada minggu berikutnya satu lilin lain lagi dimatikan, hingga Minggu Palmarum, dimana seluruh lilin akan mati. Tetapi ke enam lilin itu harus tetap di biarkan di sana.
4) Bunga untuk altar: Bunga sebaiknya lebih berwarna ungu (violet) atau yang mendekati warna itu. Warna kuning, putih dan merah kiranya dihindarkan.
(Pdt.Bonar Lumbantobing,MTh)



Rabu, 24 Maret 2010

Renungan Hari Kamis, 25 Maret 2010

Merendahkan Diri
1 Petrus 5: 6
Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya
Banyak orang berfikir, jika merendahkan diri, mereka takut dikira rendah diri. Padahal merendahkan diri berarti tidak ada kesombongan, tidak tinggi hati, tidak menganggap dirinya lebih dari orang lain. Karena kita sadar, bahwa kita tidak memiliki kekuatan dan tidak mempunyai kesanggupan tanpa penyertaan Tuhan. Jadi keberadaan kami dan apapun yang kami punyai saat ini, semuanya semata-mata karena karunia Tuhan saja. Tuhan Yesus dengan jelas berkata: “Barang siapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Matius 23:11, 12). Dan Tuhan Yesus telah membuktikan ucapan-Nya sendiri, kata-Nya: “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28).
Amsal 16:18 berkata,”Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” Berapa sering kita melihat keadaan itu! Berapa sering kita melihat orang-orang percaya terjerumus dalam masalah karena pendapat yang berlebihan tentang diri mereka. Mereka mulai berpikir mereka begitu pintar sehingga mereka perlu menunjukkan semua itu.

Kemudian, hal berikutnya Anda tahu, mereka berpikir mereka perlu meluruskan orang lain. Bukannya menempatkan Yesus sebagai Kepala dari Gereja, mereka merasa perlu untuk mengambil alih pekerjaan itu. Sekali hal itu terjadi, hanya masalah waktu mereka akan jatuh terjerembab. Mengapa? Karena Firman berkata Tuhan menentang kesombongan! (1 Pet 5:5)
Jangan menempatkan dirimu dalam posisi yang ditentang Tuhan. Takarkan kemampuanmu dengan tepat. Kenakan sikap rendah hati. Jagalah dirimu, dan jika Anda menemukan dirimu sedang dibedaki dengan keagungan dirimu sendiri, bertobatlah dan ingatlah bahwa setiap kesuksesan Anda hanya ada oleh kasih karunia Tuhan. Lihatlah hidupmu sebelumnya dan temukan betapa sering Anda melupakan karunia yang telah diberikan Tuhan padamu. Lihatlah berapa kali, saat Anda goyah dan membuat banyak kesalahan, kasih dan pengampunanNya yang ajaib menarikmu dari segala masalah itu.
Dalam hal ini, Daud telah memberi teladan yang baik bagi kita semua. Walaupun dia seorang raja yang terkenal dan berkuasa, tetapi dia tidak pernah mengakui bahwa dia sanggup mempertahankan nyawanya dari musuhnya dan maut. Daud memiliki kerendahan hati dan dia selalu merendahkan diri di hadapan Tuhan. Daud tidak pernah mengeraskan hati terhadap Tuhan dan tidak pernah menyalahkan orang lain. Sebaliknya, di dalam menghadapi apa pun, dia selalu membuka hati kepada Tuhan dan mengijikan Roh Kudus menyelidiki hatinya. Sekalipun dia melawan dan membenci orang-orang yang melawan Tuhan, tetapi dia selalu memeriksa diri, apakah perbuatannya itu benar di hadapan Tuhan, sebab dia kuatir kalau-kalau tindakannya itu bukan benar-benar membela Tuhan, tetapi untuk kepentingannya sendiri. (baca Mazmur 139:23,24).
Masih adakah kesempatan untuk bersombong diri? Hidup ini tiada yang pasti
Engkau bisa tertawa, menghina, tak peduli Tegakkan kepala berbangga diri Dan berbuat dosa hari ini Tapi apakah engkau sadari ? Sungguh kamu tiada berarti Apabila petaka dan bencana menghampiri Masihkah ada kesempatan untuk menyesali? Apakah engkau mengerti setiap waktu kematian menanti? Duduk diam introspeksi Berpalinglah kepada Allah Bertanyalah kepada nurani Bangkitkan dirimu yang sejati Jadilah pribadi yang peduli Berbangga dalam mengasihi Tegak dalam kerendahan hati Sungguh keindahan akan menanti Engkau akan mendapat tempat yang tinggi dari Allah Bapa. Amin


Renungan Minggu Palmarum, 28 Maret 2010

SEMERBAK WANGI PENGORBANAN CINTA
Markus 14: 3-9

Adegan terakhir menuju Golgota juga dikisahkan Markus melalui ekspresi cinta yang semerbak mewangi. Pada waktu itu YESUS berada di Betania, sedang menikmati makan di rumah Simon, si kusta. Orang Yahudi memiliki kebiasaan makan dengan berbaring di tas dipan rendah dengan bersandar pada siku tangan kiri dan menggunakan tangan kanan untuk mengambil makanan. Siapapun yang datang kepada orang yang sedang makan sambil berbaring ini akan berdiri persis di atasnya. Dalam gambaran situasi seperti itulah datang seorang perempuan yang membawa minyak narwastu murni untuk mengurapi kepala YESUS. Kebiasaan pada waktu itu adalah menuangkan beberapa tetes minyak wangi kepada tamu ketika ia masuk ke rumah atau ketika ia sedang makan. Yang dilakukan perempuan itu bukan menuang beberapa tetes tapi memecahkan penutup botol dan seluruh isinya dicurahkan kepada YESUS.
1. Ayat 3: Dorongan apakah yang membuat perempuan itu memecahkan penutup botol minyak narwastu dan mencurahkan ke atas kepala YESUS ?
2. Ayat 4-5: Wajarkah jika orang menilai tindakan perempuan itu sebagai pemborosan? Setujukah Anda dengan pendapat ”lebih baik menyumbangkan uang kepada orang miskin daripada melakukan pemborosan dengan memakai minyak mahal untuk mengurapi YESUS?”
3. Ayat 6-9: Mengapa Anda pelajari dari sikap perempuan yang mengurapi YESUS?

Perjalanan menuju Golgota ternyata tidak selalu kelabu. Ada saat indah yang dialami YESUS melalui pengorbanan seorang perempuan. Peristiwa ini terjadi kurang lebih seminggu sebelum penderitaan salib. Ketika dunia mendesahkan nafas benci ternyata masih ada sahabat yang tetap mencintai. Lihatlah tindakan seorang perempuan yang mempersembahkan cinta dan penghargaannya yang besar kepada YESUS, Sang Guru melalui pencurahan minyak narwastu yang mahal. Bagi orang lain ini merupakan pemborosan namun bagi KRISTUS ini adalah simbolisasi kematian dan penguburannya. Hal ini bisa dipahami bila mengingat kebiasaan orang Timur yang memandikan dan meminyaki orang mati. Setelah tubuh mayat diminyaki, botol minyak wangi yang isinya sudah dipergunakan itu dipecahkan, lalu pecahan-pecahannya ditaruh bersama dengan mayat di dalam kubur. Perempuan itu melakukan tindakan kasih yang tepat. Mencintai dan menolong orang miskin bisa kapan saja namun mengekspresikan cinta kepada sang Guru terbatas waktunya sebab salib sudah semakin dekat. Dorongan hati penuh cinta perempuan itu telah melahirkan pengorbanan yang besar tanpa berpikir bahwa itu adalah sebuah pemborosan. Hati yang penuh cinta selalu memberi yang terbaik bukan sisa-sisa; sisa tenaga, sisa pikiran, sisa waktu atau sisa uang. Dorongan cinta tidak permah melahirkan ekspresi asal memberi.
Cinta sejati selalu berarti: kesadaran menyiapkan secara khusus pemberian yang terindah, terbaik dan paling berharga; mempersembahkan yang maksimal bukan yang minimal.
Menjelang masa sengsara yang akan segera dijalani oleh Tuhan Yesus, ternyata bahwa penghargaan kedua belas murid terhadap Tuhan Yesus masih kurang dibandingkan dengan perempuan yang mencurahkan min¬yak Narwastu ke atas kepala Tuhan Yesus.
Nama perempuan yang mencurahkan minyak Narwastu ke kepala Tuhan Yesus itu tidak disebut di sini. Ada yang be¬ranggapan bahwa wanita tersebut adalah Maria Magdalena, tetapi pendapat seperti itu bersifat spekulatif (tebakan). Ada yang menyamakan perempuan ini dengan Maria dalam Yo¬hanes 12:3, tetapi kedua peristiwa tersebut jelas berbeda. Dalam Matius 26:7 dan Markus 14:3, minyak Narwastu itu dicurahkan ke atas kepala Tuhan Yesus dan peristiwa tersebut terjadi di rumah Simon si kusta. Dalam Yohanes 12:3, minyak Narwastu tersebut dicurahkan ke kaki Tuhan Yesus dan peristiwa tersebut terjadi di rumah Lazarus, saudara Maria, yang dibangkitkan Tuhan Yesus dari antara orang mati. Murid-murid Tuhan Yesus (yang kemungkinan dimotori oleh Yudas Is¬kariot) menjadi gusar melihat peristiwa tersebut dan menganggap peristiwa tersebut sebagai pemborosan. Menurut Markus 14:5, minyak Narwastu itu nilainya lebih dari tiga ratus dinar. Bila dijadikan rupiah, nilai minyak nar¬wastu itu lebih dari lima belas juta rupiah. Dengan dipecahkannya buli-buli tempat menyimpan minyak Narwastu, maka minyak tersebut hanya bisa dipakai sekali saja, sehingga tidak mengherankan bila tindakan wanita terse¬but dianggap sebagai suatu pemborosan.
Kesimpulan:
a. Motivasi Memberi. Bila kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus, kita akan rela mem¬beri tenaga, waktu, dan uang secara berlebihan kepada Tuhan Yesus. Bila kasih kita kurang, kita akan memperhitungkan untung-rugi! Berikanlah yang terwangi dan terharum bagi Tuhan, sehingga namamu tetap wangi dan harum.
b. Persembahkanlah dengan segenap hatimu (bnd. Roma 12 : 1 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. Seluruh tubuh dan hidup kita berikan bagi Tuhan dengan mmepergunakannya dengan sebaik mungkin.
c. Sebagaimana wanita itu memberikan minyak Narwastu yang terbaik dari tutup botol yang dipecahkan menandakan yang terbaru. Demikian halnya kita diajak untuk memberikan yang terbaru bagi Tuhan sebagaimana setiap saat kita tetap dibaharui dalam RohNya.
d. Menjaga Nama Baik Tuhan dengan melakukan firmanNya. Minggu ini minggu Palmarum (maremare)= Kita mau menyambut kedatangan Yesus dengan hati yang suci dan siap menerimaNya. Sebagaimana perempuan tersebut dengan perilakunya yang baik terhadap Yesus akan selalu diingat dan dikenang orang banyak. Bagaimana kita bisa dikenang oleh karena perbuatan baik kita bagi orang lain. Yesus tetap dikenang dan dipercaya karena dalam hidupNya selalu membuahkan ajaran yang luar biasa dan melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah terlebih pengorbananNya menjadi keselamatan dunia. Sebagaimana peribahasa yang mengatakan: Gajah meninggalkan gading, harimau meninggalkan belang, Manusia meninggalkan nama. Nama baik akan tetap wangi dan dikenang sebagaimana wanginya minyak Narwastu, semerbak wangi perngorbanan cinta kita kepada Yesus. Amin


Jamita Evangelium XV Dung Trinitatis, 13 September 2026

DEBATA PATUPA HALONGANGAN TU BANGSONA (Tuhan Melakukan Perbuatan Besar Bagi Umat-Nya) 2 Musa 14 : 19 - 31   1. Huria ni Tuhanta na ...