Tuhan Membangkitkan Orang Mati
Jesaya
26: 17 – 19
a.
Huria ni Tuhanta na hinaholongan dibagasan Jesus Kristus.Ia
Jesaya bindu 26 on ima angka ende na paboahon hamonangan. Berengon do Jesaya on
paboahon hamonangan ni Debata. Dibayanghon do dison Tuhan na diusung songon
Raja na naung monang sian parporangan. Diusung do mamongoti Huta Jerusalem jala
diolopolophon songon Raja na marhuaso di Sion. Bangso Israel ima bangso na
marsada ditoru ni huaso ni Debata songon Raja di nasida. Pangaramotion ni
Debata na sai hilalahon nasida dibagasan ngolu nasida siganup ari. Dihhilalahon
nasida do pangaramotion ni Debata di pardalanan di halongonan. Debata do partogi di nasida jala na gabe
parlinggoman. Uju di roro musu bangso sileban nasida, Debata do mangalinggomi
nasida. Dihaposi nasida do ngolunasida tu Debata, asa dame na sumurung i do na
asai hilalaon nasida. Na masa on ma na boolas mambahen nasida bangso Israel na
marhagogoan dibagasan Tuhan. Molo margogo hita marhaporseaon jala
marpangkirimon tu Tuhan i, tung aha pe na masa dibagasan ngolunta, sai hot do
hilalaonta dame na sumurung i na sian Tuhan i.
b.
Ada tiga hal yang tidak diketahui oleh manusia tentang
kematian, yaitu kapan kita mati, bagaimana kita mati, dan di mana kita mati.
Seringkali kita menghindar ketika mempercakapkan tentang kematian kita atau
kematian orang-orang yang kita kasihi. Tetapi satu hal yang kita ketahui dalam
iman adalah bahwa kematian bukanlah akhir dari dari
segala-galanya. Kematian justru adalah awal dari kehidupan yang baru. Sebuah
biji yang jatuh ke tanah, ia akan bertumbuh dan memberi buah. Yesus disalib dan
mati, sehingga berbuah untuk keselamatan manusia.
c.
Sebagai orang percaya, kita beriman bahwa ketika kita hidup dalam Tuhan, maka hidup
kita tidak akan berakhir dalam kesia-siaan. Karena ada jaminan kebangkitan dari
antara orang mati. Inilah yang ditegaskan melalui nubuatan nabi Yesaya yang
menjadi renungan buat kita hari ini. Firman Tuhan ini menegaskan bahwa hidup
kita tidak berakhir pada kebinasaan atau kematian tetapi hidup kita akan
beralih karena Tuhan akan membangkitkan kita dari antara orang mati. Orang-orang
mati akan hidup oleh kuasa Tuhan, bahkan dikatakan: “Orang-orang dikubur akan
hidup untuk bersorak-sorai bagi Tuhan.” Artinya, hidup orang-orang percaya
tidak akan berakhir pada kematian tetapi akan dibangkitkan dan mengalami
kemuliaan Tuhan.
d.
Susana Pusan Hayward adalah bintang film top pada tahun
60-an. Pernah ia berperan sebagai wanita yang kena kanker otak dan bergumul
dengan maut sambil merintih, "Aku ingin hidup!" Pernah pula ia
berperan sebagai seorang napi yang kena vonis hukuman mati, lalu meronta dan
berteriak-teriak, "Aku ingin hidup!" Mengharukan bahwa ternyata
akhirnya ia sendiri kena penyakit kanker otak dan di akhir hidupnya ia pun
berteriak, "Aku ingin hidup!" Buku biografinya mengabadikan teriakan
itu sebagai judul, yaitu: I want to live! Bukan hanya Susan Hayward, melainkan
kita semua pun ingin hidup. Buktinya kita segera meloncat ke pinggir kalau
melihat sebuah bis akan menyeruduk. Sebenarnya bukan hanya ingin hidup, tetapi
kita pun ingin mempertahankan hidup. Korban-korban kapal yang tenggelam sela-ma
empat hari empat malam berpegang kepada papan melawan gelombang laut. Untuk
apa? Untuk mempertahankan hidup. Orang masuk rumah sakit, dibedah, disinar,
diinfus, dan sebagainya. Untuk apa? Untuk memperpanjang hidup.
e.
Kita ingin hidup. Tiap hari Minggu kita pun mengucapkan
pengakuan iman: "... dan hidup yang kekal". Apa artinya? Banyak orang
mengira bahwa hidup yang kekal adalah hidup sesudah meninggal dunia yang
sifatnya baka. Tetapi menurut Tuhan Yesus, "Inilah hidup yang kekal itu,
yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal
Yesus Kristus yang telah Engkau utus" (Yoh. 17:3). Apa artinya
"mengenal Engkau" dan "mengenal Yesus Kristus"? Dalam
Alkitab kata "mengenal" bukan digunakan dalam arti menge-tahui,
seperti kita mengenal Pak RT. Di Alkitab "mengenal" berarti mempunyai
hubungan yang khusus dan akrab. Jadi, hidup kekal adalah hidup dalam
persekutuan yang benar dengan Tuhan. Sebagai konsekwensi logisnya, itu pun
harus berarti hidup dalam persekutuan yang benar dengan orang lain.
f.
Karena itu, hidup kekal bukan pertama-tama menekankan
pan-jangnya waktu, melainkan mutu dan isinya hidup. Hidup yang kekal berarti
hidup yang sejati atau hidup yang bermutu. Dari keempat ki-tab Injil, yang
paling menekankan hal itu adalah Injil Yohanes. Lamar Williamson dalam buku
Preaching the Gospel of John menulis, "The life John is interested in
is not primarily biological, nor is eternal life only chronological. For John
life (zoe) is relational and qualitative. It signifies an intimate knowledge of
God, available only through knowing Jesus Christ, God's only son, and it issues
in abundant living." Bilamana hidup yang sejati itu bisa terlaksana?
Bukan nanti ka-lau sudah mati. Melainkan mulai dari sekarang ini, selagi kita
berada di dunia ini. Di dalam Yohanes 14:7, Yesus berkata, "Sekarang ini
ka-mu mengenal Dia."
g.
Mengapa sejak sekarang ini hidup yang bermutu itu sudah
dapat dimulai? Karena hidup yang seperti itu terdapat dalam Yesus Kristus.
Kristuslah yang memberi hidup itu. la berkata, "Akulah hidup." Oleh
peristiwa Paskah, pemberian-Nya itu menjadi berlaku. Dengan demikian, hidup
kita mempunyai tujuan yang sangat berharga: Hidup untuk Tuhan dan hidup untuk
orang lain, sebagai-mana juga Tuhan hidup untuk kita dan orang lain hidup untuk
kita. Itulah tujuan hidup: Untuk saling hidup! Kalau itu tujuan hidup, bukankah
kita jadi bersemangat, dan hidup ini menjadi patut dihidupi atau worth living?
Bukankah kita pun jadi ingin berteriak, "Aku ingin hidup!" Bahkan,
kalau hidup begitu berharga - walaupun banyak luka dan bisanya - bukankah kita
juga ingin hidup penuh semangat juang seperti Chairil Anwar: Luka dan
bisa kubawa berlari – Berlari- Hingga hilang pedih perih Dan aku akan lebih
tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi!! Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi!
|
h.
Untuk itu, marilah kita hidup dalam kesetiaan melayani
Tuhan. Kita tidak tahu sampai kapan kita memperoleh kesempatan untuk menghirup
udara di dunia ini. Kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan
dan bagaimana akhir hidup kita. Yang kita tahu dari renungan hari ini adalah,
kita harus mengupayakan agar hidup kita senantiasa memberi buah bagi sesama.
Amin.