Sabtu, 13 November 2010

RENUNGAN EPISTEL MINGGU, 14 NOPEMBER 2010


Kesetiaan Terhadap Tuhan
Lukas 16 : 10 – 13
Kesetiaan merupakan tuntutan dan kewajiban setiap orang. Tetap setia berarti setia memegang janji, setia terhadap apa yang dikatakan, dan setia dalam tangung jawab dan peri laku yang baik. Meskipun tuntutan ini berat tetapi harus dilakukan, meskipun sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu ingin bebas, memiliki kebebasan menentukan pilihan, kebebasan yang sering justru menjurus kepada ketidaksetiaan.
Adam dan Hawa diciptakan untuk memiliki hubungan yang akrab dengan Allah. Dalam hubungan yang seperti ini mereka hidup dalam suasana yang damai, penuh kebahagiaan dan berkecukupan. Semua begitu indah, sampai suatu saat mereka tergoda untuk keluar dari kesetiaan mereka kepada Allah. Mereka tergoda untuk tidak setia terhadap janji dan larangan Allah, dan ingin memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang disediakan bagi mereka. Akibatnya mereka terjerumus dalam ketidaksetiaan, dalam kebohongan dan saling melempar tanggung jawab.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah menghasilkan aneka alat atau instrument yang sangat kecil dan penting, antara lain yang terkait dengan serat optic. Apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari juga perkara kecil dan sederhana, misalnya: makan, minum, tidur, istirahat, omong-omong, duduk bersama dengan mesra, dst.. Dalam hal makan, minum dan tidur misalnya, jika orang mengalami kesulitan dalam hal ini kiranya ia juga akan mengalami kesulitan yang lebih besar terhadap hal-hal besar, sulit dan berbelit-belit. Maka marilah kita dengan rendah hati dan bekerja keras untuk setia dalam perkara-perkara kecil, pekerjaan dan tugas yang kecil dan sederhana. Dengan kata lain marilah kita sungguh hidup mendunia, terlibat dan berparsipasi dalam seluk-beluk dunia mulai dari yang kecil dan sederhana; mencari dan mengusahakan kesucian hidup dengan mendunia.
Kesetiaan merupakan salah satu karakter penting yang harus dimiliki setiap anak-anakNya. Paulus menggolongkan kesetiaan sebagai salah satu dari buah Roh. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22). Dalam ayat bacaan hari ini kita bisa melihat pandangan Yesus mengenai kesetiaan itu. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10). Ini benar adanya. Kita tidak akan bisa setia terhadap perkara besar apabila dalam perkara kecil saja kita sudah gagal untuk setia. Kita harus bisa mulai belajar untuk setia terhadap hal-hal kecil.
 Belajar menghormati kepercayaan yang sudah diberikan kepada kita, menjaganya dengan baik, walau kecil sekalipun. Jika terhadap suami atau istri, sahabat, keluarga saja kita tidak bisa setia, jika terhadap tempat kerja saja kita tidak setia, bagaimana kita bisa setia kepada Tuhan? Perselingkuhan itu adalah perbuatan keji di mata Tuhan. Bahkan orang yang menceraikan suami atau istrinya dan kemudian kawin lagi dengan suami atau istri lain digolongkan sebagai perzinahan. (ay 18). Jika hal ini saja sudah merupakan pelanggaran besar, apalagi jika kita berkhianat atau "berselingkuh" dengan mempercayai allah-allah lain (huruf kecil) atau roh-roh, arwah-arwah dan sebagainya sementara kita mengaku masih terus berdoa dan rajin beribadah? Tidak bisa tidak, kesetiaan harus dimulai dari hal-hal kecil dalam hidup kita terlebih dahulu.

Jumat, 12 November 2010

Renungan Hari Sabtu, 13 Nopember 2010


Didikan Tuhan
Amsal 3 : 11 – 12
Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi
Sebuah penelitian terhadap 5.000 remaja berusia antara 12-19 mencoba menguak kebiasaan minum alkohol dan hubungan remaja dengan orangtua. Hasilnya, para remaja yang paling rentan kecanduan minuman beralkohol memiliki orangtua yang penuh kasih sayang, namun orangtua tak mengetahui hal ini. Kelompok remaja ini tiga kali lipat berisiko menjadi peminum berat. Remaja dengan orang tua yang menerapkan disiplin ketat dan kehangatan dalam keluarga serta mengetahui keberadaan anak-anak mereka memiliki risiko dua kali lipat lebih rendah. Studi para pakar dari Brigham Young University di Utah ini diterbitkan dalam Jurnal Studi Alkohol dan Obat Terlarang. Profesor Stephen Bahr, Brigham Young University mengungkap peran orangtua sangat penting menghindarkan anak dari perilaku berbahaya.
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti mempunyai barbagai masalah, termasuk orang tua kita. Anak-anak seyogyanya berusaha membebaskan orang tuanya dari berbagai masalah dan kekhawatiran. Anak-anak seyogyanya menanyakan masalah-masalah yang dihadapi oleh orang tuanya dengan lemah lembut. Kemudian, anak-anak berusaha menghibur orang tuanya dengan mengatakan bahwa semua masalah pasti dapat terpecahkan. Tidak ada problem yang tidak terselesaikan. Tidak ada kesulitan yang tidak ada akhirnya. Selanjutnya, anak-anak berusaha membantu memecahkan masalah-masalah orang tuanya tersebut.
Mungkinkah ada kesalahan dalam cara didik orang tua pada anak-anaknya? Adakah pendidikan bertanggung jawab atas peristiwa lempar-melempar tanggung jawab ini? Benarkah generasi kita kurang dididik untuk bertanggungjawab? Atau apakah mendidik remaja adalah perkara tersulit saat ini sehingga wajar jika banyak yang gagal? Sikap orangtua yang cenderung melindungi anak karena kasih sayang, secara tidak disadari justru membunuh sense of responsibility pada anak. Kalau anak itu masih bayi memang perlu perlindungan ekstra. Tapi apakah perlindungan ini akan diteruskan sampai anak menjelang remaja? Perlukah dilindungi sampai dewasa? Jika anak terlalu dilindingi maka anak akan selalu merasa benar, aman dan terlindungi, bersalah namun termaafkan dan kesalahan akan dilupakan. Gaya hidup serba enak, nyaman dan berkecukupan juga makin mengurangi daya juang dan ketegaran anak. Jadilah yang muncul adalah generasi yang lembek dalam menghadapi kesulitan, sementara justru keras hati dalam menuntut semua harus sesuai dengan apa yang ia inginkan. Generasi instan yang cenderung enggan bersusah payah dan mudah mengeluh. Tuntutan mereka selalu bersifat right here right now. Generasi instan MTV.
Bagi para orangtua, membiasakan hidup saling mendoakan ini dan mendidik anak-anak sedini mungkin untuk saling mendoakan; hal itu kiranya dapat dilaksanakan dalam kesempatan kumpul bersama, misalnya makan malam bersama: bergantian berdoa sebelum maupun setelah makan dan selesai makan dapat dilangsungkan saling mendoakan satu sama lain.

Renungan Hari Jumat, 12 Nopember 2010


Mendidik Kaum Muda
Amsal 22 : 6
Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu
Banyak orang tua saat berhadapan dengan anaknya, memposisikan bahwa dia adalah orang TUA dan anaknya masih MUDA. Sehingga timbul 2 kutub posisi yang jauh berbeda. Yang tua merasa banyak pengalaman, banyak mengerti/tahu, dan selalu benar. Yang muda selalu dinilai oleh yang tua, sebagai orang muda yang kurang pengalaman, tidak banyak tau dan sering membuat kesalahan. Sehingga yang muda selalu merasa terhakimi manakala berada di hadapan yang tua. Yang muda berpikir, orangtuanya tidak bisa mengerti apa yang dipikirkannya, apa yang di-mau-i, apa mimpinya; yang boleh jadi kesemuanya itu sangat tidak menarik dari pandangan yang tua.
Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang selalu menuntut agar orang tuanya dapat menjadi manusia yang sempurna dalam berbagai hal, seperti Ariya Puggala (makhluk suci). Anak-anak selalu menuntut agar orang tuanya berkelakuan baik dan bertutur kata ramah, tanpa pernah mengoreksi dirinya sendiri. Anak-anak selalu melihat sifat-sifat buruk yang dimilikinya oleh orang tuanya, tanpa pernah menyadari bahwa orang tuanya yang belum mencapai kesucian itu masih dapat berbuat salah. Anak-anak selalu mencela dan membenci orang tuanya jika orang tuanya berbuat salah. Tanpa pernah berusaha memberitahu kesalahan orang tuanya dengan cara yang bijaksana. Anak-anak tidak pernah menyadari bahwa orang tuanya dapat berwatak keras itu sesungguhnya karena pengalaman masa lalunya. Anak-anak tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya tidak mudah untuk merubah sifat dan watak orang tuanya yang keras itu. Anak-anak tidak pernah menyadari bahwa jika mereka tidak dapat merubah sifat dan watak orang tuanya yang keras itu, maka seharusnyalah mereka merubah pikiranya sendiri.
Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang tidak menghormati dan tidak patuh kepada orang tuanya. Mereka sering mendelik, menentang, dan membangkang orang tuanya. Mereka datang dan pergi dari rumah tanpa memberitahukan kepada orang tuanya. Mereka pergi meninggalkan rumah pagi-pagi sekali dan kembali sampai jauh malam. Mereka tidak mengacuhkan teguran-teguran dan peringatan-peringatan yang diberikan orang tuanya.
Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang sukar dididik dan diatur. Mereka keras kepala, malas, dan dungu. Mereka tidak mempunyai keinginan untuk belajar. Mereka berteman dengan orang-orang jahat dan segera meniru kebiasaan-kebiasaan jahat tersebut. Mereka menjadi nakal, suka berkelahi, gemar berjudi, tidak perduli lagi pada moral, terjerumus dalam kehidupan seks yang salah, masuk dalam kenikmatan narkotika, ganja, dan sejenisnya. Kemudian, mereka menarik saudara-saudaranya untuk ikut berbuat jahat, sehingga menambah kesedihan ornag tuanya.
  Fase usia remaja sering dianggap sebagai fase yang sangat tidak stabil dalam tahap perkembangan manusia. G.S. Hall menyebutnya sebagai strum und drang ‘masa topan badai,’ sementara James E. Gardner menyebutnya sebagai masa turbulence (masa penuh gejolak). Penilaian ini tentu berangkat dari realitas psikologis dan sosial remaja.
                Sebenarnya, sejauh manakah gejolak yang dialami oleh remaja pada hari ini? Jika persoalan-persoalan remaja di dalam dan di luar negeri dihimpun sebanyak-banyaknya, tentu data-data itu akan mengejutkan orang yang mengamatinya. Sementara, secara kualitatif dan kuantitatif, persoalan-persoalan remaja tadi tampaknya terus meningkat dari hari ke hari.
                  Remaja-remaja sekarang ini semakin akrab dengan persoalan seks, kekerasan, obat-obatan, dan problem psikologis. Perilaku seks remaja modern semakin bebas dan permisif. Riset Majalah Gatra beberapa tahun lalu memperlihatkan bahwa 22 % remaja menganggap wajar cium bibir, dan 1,3 % menganggap wajar hubungan senggama. Angka ini memang relatif kecil, tetapi penelitian-penelitian lain menunjukkan angka yang lebih tinggi. Sebagai contoh, 10 % dari 600 pelajar SMU yang disurvey di Jawa Tengah mengaku sudah pernah melakukan hubungan intim. Malah penelitian-penelitian sebelumnya juga memperlihatkan angka yang sudah cukup tinggi.
Orang tua yang memiliki keberanian berkata “tidak” telah mempelajari bagaimana mengubah pola perilaku negatif seorang remaja menjadi perilaku yang positif, yang pada gilirannya membangkitkan kembali pengalaman seluruh keluarga. Oleh karena itu, mampu berkata “tidak” sebenarnya berarti memiliki keberanian untuk mengatakan “iya”; terhadap sistem nilai positif yang telah anda rangkul dan Anda harapkan akan dirangkul oleh kelurga Anda.

Renungan Hari Kamis, 11 Nopember 2010


Anak Hidup Dalam Kebenaran
3 Yohanes 1 : 4
Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran
Setiap orang umumnya akan menikah dan memiliki anak. Anak adalah titipan Tuhan yang harus kita jaga dan kita didik sedemikian rupa agar setelah mereka besar dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara serta dapar membahagiakan dan membanggakan orang tua yang telah susah payah membesarkannya dengan cina dan kasih sayang.
Sebagai orangtua, sukacita terbesar kita adalah ketika melihat anak yang kita lahirkan tumbuh dewasa dengan baik, mendapat pasangan hidup, memiliki penghasilan yang baik, dan memiliki anak-anak yang lucu dan manis. Siapakah orangtua yang tidak ingin anaknya mendapatkan kebaikan-kebaikan tersebut? Tapi, bagi Rasul Yohanes, sukacita terbesar adalah ketika melihat anak-anaknya (jemaat) hidup di dalam kebenaran. Tidak ada sukacita yang bisa menandingi hal ini.
Surat 3 Yohanes ditulis oleh Rasul Yohanes kepada seseorang bernama, Gayus-anak rohani Rasul Yohanes. Di dalam suratnya yang singkat ini, Rasul Yohanes menyampaikan terima kasihnya kepada Gayus atas pertolongan yang telah diberikannya kepada beberapa saudara yang datang berkunjung. Rasul Yohanes memuji Gayus yang hidup di dalam kebenaran-kehidupan yang membawa sukacita besar bagi Rasul Yohanes. Dari surat yang pendek ini ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dan terapkan untuk keluarga.  Yohanes menganggap Gayus sebagai anak dan sebagai orangtua ia memandang Gayus bukan saja sebagai anak biasa melainkan sebagai anak rohani. Tuhan mengharapkan agar kita bukan saja menjadi orangtua jasmaniah tetapi juga orangtua rohaniah bagi anak-anak kita. Kadang kita beranggapan bahwa tugas hamba Tuhanlah untuk menjadi orangtua rohani bagi anak-anak kita. Pandangan ini keliru. Orangtualah yang bertanggung jawab atas kerohanian anak-anaknya. Jika ada di antara anak kita yang meninggalkan iman atau tidak pernah memeluk iman kristiani, besar kemungkinan kita memiliki andil dalam keputusannya itu.
Kedisiplinan tetap harus diutamakan dalam membimbing anak sejak mulai kecil hingga dewasa agar anak dapat mandiri dan dihormati serta diharga masyarakat. Hal-hal kecil seperti bangun tidur tepat waktu, membantu pekerjaan rumah tangga orangtua, belajar dengan rajin, merupakan salah satu bentuk pengajaran kedisiplinan dan tanggungjawab pada anak. Kedepankan dan tanamkan sejak dini agama dan moral yang baik pada anak agar kedepannya dapat menjadi orang yang saleh dan memiliki sikap dan perilaku yang baik dan agamis. Kita perlu merenungkan hal itu, sebagai orangtua Kristen. Konsep Tuhan seperti apa yang dibentuk anak kita melalui hubungannya dengan kita? Apakah dia belajar bahwa Tuhan itu pengasih, baik, sabar, dan pengampun ? atau kita tidak sengaja membangun pengertian Tuhan yang salah dalam hidupnya, menunjukan melalui tindakan kita bahwa Tuhan itu kasar, cepat marah, dan tidak puas, bahwa dia akan berteriak, memarahi atau menendang kita saat kita salah? Seluruh kehidupan kerohanian anak kita dipertaruhkan disini. Disini sangat penting bagi kita mempelajari orangtua seperti apa Tuhan itu, kemudian mengikuti teladannya agar anak kita bisa melihat pelajaran hidup tentang Tuhan yang kita miliki.

Renungan Hari Rabu, 10 Nopember 2010


Alasan Allah Memilih
Kejadian 18 : 19
Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.
Mengapa Tuhan memilih Anda dan saya untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya? Karena Dia adalah Tuhan yang hakekatnya adalah kasih. Dia adalah Tuhan yang penuh kasih karunia. Semakin Anda menyelami kasih-Nya, Anda akan semakin terkagum-kagum kepada-Nya. Apakah Anda layak untuk diselamatkan? Tidak sama sekali. Apakah Anda layak masuk sorga? Tidak mungkin. Apakah Anda cukup baik untuk menjadi bagian dari keluarga Allah? Tidak. Namun sekalipun demikian, Dia tetap memilih Anda. Dan hal itu adalah sebuah kabar baik bagi kita. Atas dasar apakah Tuhan memilih kita? 1 Petrus 1:3 berkata, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” Tuhan memilih kita berdasarkan kasih dan rahmat-Nya yang besar, bukan berdasarkan apa yang kita lakukan.
Bila anda masih belum menentukan pilihan, Tuhan berkata kepada kalian, "Pilihlah pada hari ini kepada siapa anda akan beribadah." Inilah hari keselamatan. Bila anda sudah menentukan pilihan, yaitu pilihan terpenting dalam hidup, anda dapat memastikan bahwa Yesus senantiasa menyertai hidup anda. Dalam hidup ini ada banyak sekali pilihan yang harus kalian pilih. Memilih pekerjaan merupakan pilihan yang penting dan mungkin seringkali kita akan mengubahnya sebelum kita beranjak dewasa dan menjadi seperti apa yang Allah kehendaki. Selain itu, ada banyak sekali keputusan kecil yang harus diambil setiap hari. Tetapi, oleh karena Yesus telah memilih kita dan kita juga telah memilih Yesus, maka Yesus akan menolong kita dalam setiap keputusan yang kita hadapi.

Jamita Evangelium XV Dung Trinitatis, 13 September 2026

DEBATA PATUPA HALONGANGAN TU BANGSONA (Tuhan Melakukan Perbuatan Besar Bagi Umat-Nya) 2 Musa 14 : 19 - 31   1. Huria ni Tuhanta na ...