Jumat, 12 November 2010

Renungan Hari Selasa, 9 Nopember 2010


Mendidik Anak
Amsal 29 : 17
Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu
Kegagalan Yakub untuk memberi teladan yang baik membuat ia gagal dalam mendidik anak-anaknya. Dengan mengistimewakan Yusuf (dan kemudian juga Benyamin), Yakub telah membuat anak-anaknya saling berkompetisi, bahkan menjual saudara mereka sendiri sebagai budak.
Sejarah selalu bisa dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi manusia dan dari sisi Allah. Dari sisi manusia, perbuatan anak-anak Yakub yang menjual salah seorang saudaranya sendiri sebagai budak itu merupakan suatu perbuatan biadab. Dari sisi Allah, Allah bisa memakai sisi buruk manusia itu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan-Nya.
Sisi buruk yang terjadi dalam kehidupan keluarga Yakub ini terjadi karena Yakub tidak mendidik anak-anaknya secara semestinya. Yakub tidak mengarahkan anak-anaknya untuk bersatu dan saling membantu, tetapi dia sendiri justru menjadi penyebab yang membuat anak-anaknya yang lain semuanya membenci Yusuf. Yakub hanya memperhatikan perasaannya sendiri, tetapi mengabaikan perasaan anak-anaknya. Dia hanya memperhatikan dirinya sendiri ketika mengistimewakan Yusuf, anak yang dilahirkan oleh Rahel, istri kesayangannya yang telah mati lebih dulu (35:19).
Kisah Yusuf ini merupakan peringatan bagi para orang tua supaya tidak hanya mementingkan perasaannya sendiri saat mendidik anak. Bila suami dan istri tidak siap untuk memikirkan apa yang terbaik bagi kepentingan anak-anak mereka, lebih baik mereka tidak memiliki anak! Bila mereka menginginkan anak, mereka harus sadar bahwa mereka wajib mendidik anak mereka. Kita patut bersyukur bahwa walaupun kadang-kadang orang tua salah dalam mendidik anak, ada anugerah Allah yang membuat anak seperti Yusuf tetap menjadi anak yang baik dan beriman kepada Allah.  Bagi Anda yang sudah menjadi orangtua, camkan firman Tuhan hari ini: “Jangan sesat! … apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7). Hukum ini tak terelakkan, kecuali kita bertobat dan percaya kepada Kristus, sebab di dalam Dia kita menjadi ciptaan baru. Kalau sudah ditangan Tuhan ini mau hebat, atau tidak hebat, selamat tidak selamatnya, Dia yang menentukan.
Anak kita mau kita didik menjadi anak yang baik, atau menjadi orang kuat, atau yang penting mudah-mudahan dalam keadaan kuat maupun tidak kuat, baik atau tidak baik, Yang penting anak kita selamat. Bagi semua orang tua; bangun dan didiklah anak-anak Anda dalam suasana pertobatan setiap hari; agar kejujuran, ketulusan, dan penerimaan seorang akan yang lain menjadi pola asuh dalam kehidupan keluarga Anda

Renungan Hari Senin, 8 Nopember 2010


Belas Kasihan Tuhan
Yudas 1 : 23
Selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa
Kita datang menghadap Tuhan bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan tangan yang sangat kotor, bahkan berdarah. Kita datang dengan kesadaran penuh bahwa sebenarnya kita layak menerima penghakiman, jika kita bicara soal keadilan semata, tanpa berhak untuk protes. Namun itulah besarnya kasih Tuhan pada kita. Dia tidak ingin satupun dari kita binasa. Itulah kehendak Tuhan atas kita semua, seperti yang ditulis Petrus. "...karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." (2 Petrus 3:9). Sungguh besar dan tak terbatas kasihNya pada kita. Setelah Daud ditegur nabi Natan karena berzinah dengan Batsyeba, Daud pun berkata: "Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!" (Mazmur 51:3). Allah siap mengampuni saya dan anda, tidak peduli sebesar apa kesalahan kita di masa lalu. Ketika kita datang padaNya dengan hati yang hancur, tangan yang kotor dan berdarah, belas kasihNya pun akan turun atas kita. Kehendak Tuhan adalah kita semua diselamatkan dan dimenangkan. Belas kasihanNya membebaskan kita. Adalah Tuhan sendiri yang menghapus dosa kita, dan Dia tidak lagi mengingat-ingat dosa kita. (Yesaya 43:25) Ketika manusia penuh dosa dan seharusnya layak binasa, kasih Allah yang besar siap memberi pengampunan dan menyelamatkan manusia sepenuhnya.
Mengapa kita perlu menyeru nama Tuhan? Setiap orang yang ingin diselamatkan, harus menyeru nama Tuhan (Rm. 10:13). Satu alasan lain perlu menyeru nama Tuhan adalah dilepaskan dari kesesakan (Mzm. 18:7; 118:5), kedukaan (116:3-4). Menyeru nama Tuhan menyelamatkan kita dan membebaskan kita. Ketika kita di dalam kesesakan dan kedukaan, kita perlu menyeru nama Tuhan. Apa lagi dalam Mazmur 116:3-4 memberi tahu kita, bahwa menyeru nama Tuhan melepaskan kita dari hal-hal negatif seperti penyakit, penderitaan, kematian, dan alam maut. Jika kita ingin terlepas dari hal-hal seperti itu, Anda perlu menyeru nama Tuhan. Mazmur 86:5 mengatakan bahwa Tuhan itu baik, suka mengampuni dan berlimpah kasih setia (belas kasihan) bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Jalan bagi kita untuk berbagian dalam belas kasihan Tuhan yang berlimpah ialah menyeru kepada Dia. Semakin kita menyeru kepada-Nya, semakin banyak menikmati belas kasihan-Nya.

Renungan Hari Minggu, 7 Nopember 2010


Mengajarkan Firman Tuhan
Ulangan 4 : 1 - 10
Warisan apa yang baik untuk kita berikan pada keturunan kita? Sudah pasti tidak akan ada yang mau meninggalkan warisan dalam bentuk hutang dan reputasi buruk. Banyak orang tua akan selalu berusaha untuk meninggalkan warisan harta sebanyak-banyaknya. Tapi Alkitab mencatat ada sebuah warisan yang jauh lebih berharga dibandingkan harta benda dan bentuk-bentuk kekayaan lainnya, yaitu warisan iman akan Kristus. Mari kita baca dalam kitab Ulangan 6. "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:6-7). Kita diwajibkan untuk memahami firman Tuhan, mengenal pribadi Allah lewat Kristus, dan harus pula mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anak kita. Ketika kekayaan berupa harta benda dan uang pada suatu saat akan habis lenyap, tidak demikian halnya dengan iman akan Kristus. Ini adalah bekal yang sungguh bermanfaat sepanjang kehidupan di dunia, dan menjadi bekal untuk kehidupan kekal kelak.
Banyak orang Kristen menjalani kehidupannya dengan beranggapan bahwa jika sudah melakukan ibadah, persekutuan, doa dan melayani Tuhan semuanya itu sudah cukup. Memang semua itu penting untuk dilakukan tetapi merenungkan, memahami dan hidup dalam kebenaran firman Tuhan juga tidak kalah pentingnya dan tidak boleh diabaikan. Sebab jika tidak demikian, maka semua yang dilakukan itu hanya sekedar seremonial belaka tanpa membawa dampak bagi pertumbuhan kehidupan rohani. Oleh sebab itu adalah penting bagi kita juga seisi keluarga kita untuk selalu belajar mendasarkan dan menjalani hidup dalam terang kebenaran firman Tuhan.
Dengan kuasa dan pertolongan Roh Kudus, kita pasti dapat melakukan kebenaran firman Tuhan. Karena itu, penting bagi kita semua untuk meminta tuntunan dan penyertaan Roh Kudus setiap hari, agar kita tidak sekadar mendengar firman Tuhan atau membaca Alkitab tapi berlalu begitu saja; tetapi lebih penting lagi, kita bertekad untuk melakukannya. Lakukanlah firman Tuhan terlebih dahulu dan ajarkanlah kemudian.

Jumat, 05 November 2010

Renungan Hari Sabtu, 6 Nopember 2010


Ketekunan Dalam Pemberitaan Injil
2 Timotius 4 : 17a
Tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya
Paulus memakai frase ‘Itu (Pekabaran Injil) adalah keharusan bagiku.’ Istilah ‘keharusan’ menekankan suatu kewajiban yang mutlak dan ahrus dilakukan. Jika tidak, hanya ada dua kemungkinan, yaitu kita taat kepada Allah atau melawan Allah. Itu berarti memberitakan Injil bukan suatu pilihan yang keputusannya ditentukan diri sendiri. Artinya Anda suka atau tidak, mau atau tidak, senang atau tidak, itu merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Alkitab mengatakan jika tidak memberitakan Injil, maka celakalah kita. Ada ancaman hukuman Allah yang sangat serius ditujukan kepada setiap orang Kristen jika tidak memberitakan Injil.
Mengapa Paulus berkata,”Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil”? Karena ia menyadari bahwa tugas itu adalah Amanat Agung Yesus Kristus (Mat 28:19-20; Mrk 16:15-16; Luk 24:47-48; Yoh 20:21; Kis 1:8). Amanat tersebut diterimanya pada saat terjadinya perjumpaan pribadinya dengan Kristus (Kis 9:3-6, 15). Sejak saat itu ia selalu setia, taat, dan rela memberitakan Injil dan menderita demi Kristus. Selain itu, ia juga merasa berhutang (Injil) kepada orang Yunani dan non-Yunani, itu sebabnya ia memberitakan Injil di Roma (Rom 1:14). Jadi penginjilan adalah suatu kewajiban yang mesti dilakukan dan ibarat hutang yang harus dibayar. Jika tidak, maka ada ancaman konsekuensi hukuman Allah.
Orang yang sukses dalam pelayanan atau pekerjaan atau tugas pada umumnya mudah lupa diri, kurang memperhatikan tujuan semula atau visi-misi utama. Hal ini juga sering terjadi di antara para pengusaha atau pedagang ketika hasil usaha atau dagangannya laris lalu dengan mudah melupakan kwalitas atau mutu barang yang diproduksi atau dijual. Jika demikian yang terjadi maka pelayanan, usaha atau pekerjaan mereka akan pelan-pelan gulung tikar. Pengalaman yang demikian ini sudah banyak terjadi di negara kita.
Yesus dan para rasul sukses dalam pelayanan, banyak orang disembuhkan, bahkan ketika Ia bersama para rasul mencoba menyepi untuk berdoa mereka pun mencari-cari dan mengejar minta penyembuhan dari berbagai macam penyakit. Di tengah kesuksesan pelayanan Yesus berdoa untuk mawas Diri dan mencari pencerahan tentang langkah-langkah pelayanan berikutnya. Buah dari doaNya antara lain mendorongNya untuk ‘pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan’, karena ada bahaya dalam kesuksesan tersebut terjadi kesalah-pahaman dari para pendengar atau orang kebanyakan tentang siapa Dia sebenarnya. Ia mengajak pergi ke tempat lain agar tugas perutusan untuk mewartakan Kabar Gembira tidak dibelokkan atau dimanipulasi.
Belajar dari pengalaman Yesus bersama dengan para rasul ini marilah kita mawas diri: peka terhadap tugas perutusan kita yang asli atau sejati jangan sampai dimanipulasi oleh kepentingan-kepetingan atau kepuasan-kepuasan diri pribadi. Untuk itu memang dari kesibukan pekerjaan atau pelayanan perlu diusahakan waktu khusus setiap hari untuk berdoa
Renungan Hari Minggu, 7 Nopember 2010

Renungan Hari Jumat, 5 Nopember 2010


Tetap Menginjili
1 Korintus 9 : 16
Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil
Penginjilan adalah misi ke luar. Penginjilan adalah kata yang besar dalam kekristenan. Mengapa saya mengatakan demikian, karena kata ini mengandung makna rohani yang sangat dalam. Kata dasarnya adalah Injil. Apa arti Injil? Injil adalah kabar kesukaan (Kisah Rasul 13:32), kabar baik (Lukas 4:18), kesukaan besar (Lukas 2:10). Ketiga arti harfiah Injil ini mempunyai pengertian yang lebih khusus. Meringkas apa yang dikatakan Paulus dalam 1 Korintus 15:1-4, maka Injil adalah berita tentang kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus. Paulus juga mengatakan bahwa Injil adalah (satu-satunya) kuasa Allah untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya (mentaatinya) (Roma 1:16).
Paulus menulis, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” (1 Korintus 11:1). Paulus menyatakan dengan jelas disini bahwa dia mengikuti teladan Kristus dan juga menghimbau orang-orang Kristen untuk mengikuti teladan itu.
Perlu diingat bahwa kita tidak akan hidup selamanya di bumi ini untuk memberitakan Injil. Itulah sebabnya, perlu teladan bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan pemberitaan Injil (Bdg. 1 Timotius 4:12; 2 Timotius 2:2).
Misi jemaat adalah misi ilahi. Allah telah memberikan hak kepada jemaat-jemaatNya untuk menjalankan misi itu. Oleh karena itu, tidak ada dalih untuk menolak, selain bertanggung-jawab untuk mengerjakan, baik penginjilan, pembinaan terhadap anggota-anggota jemaat, penyembahan, dan kebajikan sebagai misi jemaat.
Paulus memberikan dorongan kepada kita, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Korintus 15: 58).

Jamita Epistel XV Dung Trinitatis, 13 September 2026

DEBATA PATUPA HALONGANGAN TU BANGSONA (Tuhan Melakukan Perbuatan Besar Bagi Umat-Nya) 1 Petrus 2: 1 - 10   1. Huria ni Tuhanta na h...