Jumat, 05 November 2010

Renungan Hari Kamis, 4 Nopember 2010


Memperhatikan Orang Lain
Galatia 6 : 1
Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.
Tingkat kasih kita diukur dengan bagaimana kita memandang orang yang jatuh ke dalam dosa. Contohilah Yesus sewaktu ia menghadapi kasus perempuan berzinah yang diceritakan dalam Yoh 8 di mana Yesus membenci dosanya tetapi mengasihi orangnya.  Ini sama dengan kita harus membenci kanker, tapi tetap menyayangi penderitanya.
Orang yang menghakimi dengan keras adalah mereka-mereka yang tidak kenal betul arti kata kasih karunia atau belas kasih. Banyak kali pelayanan Yesus timbul karena belas kasih. Orang-orang yang belum dapat menunjukkan belas kasih belum dapat mewakili Tuhan untuk melakukan jawatan pelayanan kasih secara maksimal. Sebab pelayanan bukanlah penonjolan karunia, bukan pelampiasan kemampuan, atau atraksi membongkar dosa, tetapi pelayanan adalah pernyataan kemurahan hati, kasih. Kasih terbesar yang pernah dilakukan dan sebagai contoh terbesar adalah pelayanan Yesus yang mati bagi kita orang berdosa.
Dengan demikian “perbuatan baik” yang dibicarakan dalam ayat-ayat selanjutnya adalah perbuatan baik dalam hal bantuan materi. Di sinilah dibutuhkan kepekaan kita untuk melihat saudara-saudara kita yang kekurangan.
Marilah belajar memberi kepada mereka yang kekurangan. Mungkin Rp. 10.000 tidak berarti bagi kita tetapi sangat berarti bagi mereka. Dengan melakukan itu kita bukan saja telah hidup dalam pola “Satu sakit semua sakit” tetapi juga kita akan diberkati.

Renungan Hari Rabu, 3 Nopember 2010


Berdiri Teguh
1 Korint 15 : 58
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.            
Tidak bisa dipungkiri bahwa harga beras secara umum yang dikendalikan oleh Pemerintah masih tidak sepadan dengan jerih payah yang sudah dilakukan oleh para petani. Untuk meringankan beban petani dan mencapai target swasembada pangan, Pemerintah menggulirkan berbagai macam program seperti pupuk bersubsidi, bantuan benih gratis dan sebagainya yang pada kenyataannya sampai sekarang pun tidak mampu memberikan kesejahteraan kepada umumnya para petani.
Sesungguhnya solusi yang paling tepat untuk mengembalikan harkat martabat petani dan meningkatkan kesejahteraannya adalah melalui penerapan sistem pertanian yang berkelanjutan secara terintegrasi (integrated sustainable farming system) dengan pola pertanian organik sebagai intinya. Melalui sistem pertanian ini petani harus bisa mandiri dalam menyelenggarakan pertaniannya dan bersinergi dengan lingkungan hidup disekitarnya. Untuk mencapai kondisi ini tentu saja diperlukan usaha keras untuk kembali 'menyadarkan' para petani agar kembali kepada 'jalan yang lurus' dengan menumbuhkan kembali etos kerja yang tinggi.
Saat ini seolah-olah sebagian besar rakyat bangsa ini menghisap keringat petani dengan mendapatkan harga beras yang tidak sepadan dengan jerih payah dan pengorbanan petani yang umumnya secara bisnis mereka tidak untung dalam mengelola sawahnya karena selama ini lebih banyak 'menggratiskan' cucuran keringatnya, sehingga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka sering meninggalkan sawahnya saat padi mulai tumbuh besar, untuk menjadi tukang beca, kuli bangunan dan lain sebagainya. Di beberapa daerah banyak dari mereka menggarap sawah karena hanya sekedar mewarisi aset dari keluarganya atau merupakan pilihan terakhir untuk dapat hidup karena tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sektor lain.
Saudara-saudari yang terkasih dalam nama Yesus Kristus, banyak orang yang terlalu cepat bersungut-sungut jika tidak mendapatkan sesuatu sesuai dengan jerih payahnya. Dalam melayani Tuhan pun seperti itu. Tidak hanya suka,tapi duka pun bisa menjadi bagian hidup dari pelayanan. Kita tidak bisa mengharapkan segala sesuatunya selalu lancar berjalan sesuai harapan kita. Ada kalanya kita merasa kecewa, merasa tidak dihargai, merasa usaha keras, tenaga dan waktu yang kita berikan seolah berujung sia-sia. Itu wajar, dan itulah warna-warni pelayanan, dan secara lebih luas lagi merupakan warna-warni kehidupan. Ada masa-masa senang, ada masa-masa sukar. Ada masa bahagia, ada masa sedih. Ada masa puas, ada masa kecewa. That's how life works. Sangatlah wajar, namun yang penting bagi kita adalah jangan sampai kita goyah, patah semangat dan menyerah karena kekecewaan ini. Mengapa? Karena kita harus ingat, bahwa di hadapan Tuhan jerih payah yang kita lakukan dengan tulus dalam nama Tuhan tidak akan pernah sia-sia!

Senin, 01 November 2010

Renungan Hari Selasa, 2 Nopember 2010

Situs Kristiani
Matius 28 : 19 – 20
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.
Zaman sekarang adalah zaman yang tidak dibatasi oleh daerah dan negara, zaman yang semakin maju yang populer kita sebut dengan era globalisasi. Kecanggihan alat-alat sekarang diperhitungkan bagi kemudahan kerja manusia untuk masa-masa yang akan datang. Misalnya: adanya alat telekomunikasi Handphone, Internet, teleconfrence, Fax dan kecangihan industri-industri mesin penerbangan, perkapalan, otomotif  dan pertelivisian saat ini, memungkinkan kita bisa mengerjakan hal-hal yang lebih praktis dan terjangkau.
Fenomena yang menarik saya lihat sekarang adalah kecanggihan internet; dimana pemakainya semakin bertambah. Bahkan sudah banyak yang menuliskan berbagai bahan khotbah dan renungan Kristiani di berbagai blog atau situs internet. Ada sebahagian para pendeta ataupun pelayan dan yang terpanggil dalam Yesus untuk berbagi sedikit tentang firman Tuhan. Kalau saya memandang fenomena ini sungguh baik, dalam arti seperti yang disebutkan oleh Firman hari ini. Ketika para Rasul berjalan memberitakan injil, para missionaris berkunjung dari satu daerah ke daerah lain untuk mengabarkan Injil. Sekarang sudah begitu maju yaitu para pelayan dapat mempergunakan kemajuan  tekhnologi untuk memberitakan Firman Tuhan bahkan untuk menjangkau dunia ini. Saya yakin dan percaya Tuhan tetap memakai kita agar lebih bijaksana untuk menyikapi perkembangan zaman sekarang; agar kita tidak tergilas zaman dan dikuasai oleh zaman; namun bagaimana kita bisa memakai perkembangan zaman untuk memuliakan nama Tuhan.
Salah satu diantaranya dalah mengabarkan Firman Tuhan.  Dengan memakai tehknologi Internet kita bisa mengetahui berbagai informasi; asal kita tidak menyalahgunakannya. Namun kita bisa menggali manfaat yang lebih baik; termasuk didalamnya dalam memahami dan mendengar Firman Tuhan. Tuhan memakai kita sebagai alatNya menjadi  duta-duta Kristus yang bisa membawa nama baik Kristus ditengah-tengah dunia ini. Semua itu kita lihat dalam praktek hidup kita juga; agar apa yang kita imani dari FirmanNya patutlah kita perlihatkan bagi semua orang didalam setiap langkah kehidupan kita.

Renungan Hari Senin, 1 Nopember 2010

Pengajaran Yang Bertumbuh
Ulangan 32 : 2 – 3
Mudah-mudahan pengajaranku menitik laksana hujan, perkataanku menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan. Sebab nama TUHAN akan kuserukan: Berilah hormat kepada Allah kita
Akhir-akhir ini cuaca begitu berbeda dari musim-musim sebelumnya. Badan Meteorologi Geofisika Indonesia memperediksikan cuaca saat ini adalah cuaca yang ekstrim.Curah hujan hampir disepanjang tahun ini begitu mendera. Mengakibatkan siklus flu yang tidak pada waktunya menjangkiti setiap orang dinegara kita. Dilain pihak musim hujan membawa berkah, namun tidak diipungkiri banyak efek negatif dari cuaca ekstrim tersebut. Antara lain mengakibatkan longsor di berbagai daerah di negara kita Indonesia. Namun dirus hujan yang membasahi tanah Indonesia adalah suatu berkat tersendiri dibandingkan suatu negara yang begitu lama tidak mendapatlan hujan.
Demikian halnya dalam nas ini, dengan turunnya hujan merupakan suatu pertanda berkat dari Tuhan yang membasahi perkebunan dan pertanian dari bangsa Israel, yang menyuburkan tanah sehingga menghasilkan panen yang baik pula bagi bangsa itu untuk kelanjutan atau kelangsungan hidup segala mahkluk terlebih manusia ciptaan Tuhan.
Pengajaran yang diturunkan bagi Bangsa Israel duibaratkan seperti hujan yang membasahi bumi yang menyegarkan jiwa dan menumbuhkan semangat baru dan kebaharuan hidup. Oleh sebab itu kita orang percaya mengimani penyertaan Tuhan yang menganugerahkan pengajaran dari FirmanNya untuk menguatkan iman kita tetap bertumbuh. Patutlah kita bersyukur dan memberi hormat bagi Dia. Orang percaya akan berseru ke pada Tuhan dalam sukacita yang tak terkira bagi Tuhan. Kita terpanggil berbuat seperti yang dititahkan oleh Tuhan dengan mengajarkan FirmanNya bagi setiap orang dalam hidup kita. Kita diajari dari FirmanNya untuk  membenci dosa dan tetap mencintai segala perbuatan baik. Sehingga menjadi pengajaran yang bermanfaat membangun manusia yang takut akan Tuhan serta hormat. Perilaku kitalah yang menjadi khotbah yang mengajarkan buat orang banyak sehingga kita yang percaya pada penebusan Yesus Kristus mendapat amanat tugas mulia ini, bahkan menjadi berkat bagi orang banyak. Amin

Jamita Epistel XV Dung Trinitatis, 13 September 2026

DEBATA PATUPA HALONGANGAN TU BANGSONA (Tuhan Melakukan Perbuatan Besar Bagi Umat-Nya) 1 Petrus 2: 1 - 10   1. Huria ni Tuhanta na h...