Jumat, 20 Agustus 2010

RENUNGAN MINGGU XII SETELAH TRINITATIS, 22 AGUSTUS 2010

Menjadi Bait Allah
1 Korintus 3 : 1 – 11
Apolos bukanlah orang asing bagi Paulus, dia adalah mitra kerja. Apolos berasal dari Aleksandria, fasih bicara dan sangat mahir dalam hal Kitab Suci. Dengan penuh semangat Apolos melayani Tuhan. Dia mengajar dan memberitakan tentang Yesus kepada banyak orang, meskipun yang ia ketahui hanya tentang baptisan Yohanes sampai akhirnya ia bertemu dengan Priskila dan Akwila yang mengajarinya tentang kebenaran firman lebih dalam lagi, sehingga Apolos memiliki pengenalan yang benar akan jalan Tuhan. Bahkan “…dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.” (Kisah 18:28). Akhirnya pelayanan Apolos pun semakin berkembang. Dikatakan oleh Paulus bahwa Apolos berperan sebagai ‘penyiram’ yang baik bagi jemaat Korintus, artinya ia melanjutkan pengajaran yang ditanam Paulus sebelumnya. Lambat laun Apolos semakin dikenal oleh jemaat Korintus, sampai-sampai di antara jemaat mulai timbul perselisihan karena mereka membanding-bandingkan pelayanan Paulus dan Apolos. Ada yang memihak Paulus, ada pula yang lebih memilih Apolos. Paulus pun berkata, “…aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos.” (1 Korintus 1:11-12). Walaupun lebih senior, Paulus tidak pernah merasa tersaingi apalagi terganggu dengan kehadiran Apolos yang menyita perhatian jemaat, justru sebaliknya dia terus mendukung dan memotivasi Apolos (baca 1 Korintus 16:12).
Banyak orang merasa terancam ketika melihat ada orang lain yang lebih menonjol, lebih populer dan punya kemampuan lebih dari dirinya, sehingga berbagai upaya dilakukan untuk menekan orang tersebut agar tidak bisa maju/berkembang. Ini bukanlah karakter pelayanan Tuhan atau pemimpin yang baik. Hamba Tuhan atau pemimpin yang baik memberi peluang sebesar-besarnya bagi orang lain menunjukkan potensinya, bukan malah menghancurkan karena mereka adalah mitra kerja.
Burung hantu bintik-bintik telah menghilang dari AS. Pada awalnya, diyakini bahwa penebangan pohon-pohon tua merupakan ancaman terbesar yang dihadapi burung hantu bintik-bintik ini. Namun, penelitian menunjukkan bahwa salah satu kerabat burung hantu inilah yang kemungkinan merupakan penyebab masalah. Selama 15 tahun terakhir, burung hantu polos telah bermigrasi secara besar-besaran ke barat. Burung hantu polos, yang biasanya hanya hidup secara eksklusif di sebelah timur Mississippi, bersaing untuk mendapatkan makanan yang sama dengan burung hantu bintik-bintik, dan burung hantu polos ini lebih agresif dan lebih cepat beradaptasi. Paulus mengatakan bahwa hal terpenting yang seharusnya mempersatukan gereja adalah memberitakan kabar baik. Hal ini seharusnya juga menjadi tujuan kita bersama.
Sama halnya, konflik rohani terbesar yang kita alami seringkali tidak berasal dari luar gereja, tetapi dari sesama orang Kristen. Hal ini dialami oleh gereja Korintus. Paulus membutuhkan waktu untuk menegur roh perpecahan yang telah tumbuh di jemaat ini. Roh perpecahan ini mengancam keutuhan gereja. Paulus, dengan dorongan penggembalaan, menguatkan jemaat Korintus untuk dapat sepakat tentang hal-hal yang terpenting dan tidak berselisih karena hal-hal sepele. Orang-orang berselisih karena mereka mengelompokkan diri dengan para pemimpin Kristen yang berbeda—Paulus, Apolos, Petrus, dan bahkan Kristus. Perpecahan ini terjadi karena mereka lebih menghargai pemimpin favorit mereka daripada kesatuan di dalam Kristus.

Dalam perjalanan sejarah gereja, ternyata gereja-gereja Tuhan sering tidak menjadikan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya. Gereja-gereja Tuhan justru sering menjadikan pemimpinnya sebagai yang diidolakan, bahkan pemimpin umat dikultuskan sedemikian rupa. Kita dapat melihat banyak contoh para pelayan Tuhan yang secara sadar atau tidak sadar sering mencoba mengkondisikan anggota jemaatnya untuk bergantung kepada dirinya. Dalam hal ini mereka menyatakan dirinya sebagai “hamba Tuhan” yang telah memperoleh karunia dan akses khusus untuk berbicara dengan Kristus. Mereka sering membuat berbagai kesaksian bagaimana mereka telah dipilih secara khusus oleh Tuhan sehingga perkataan mereka memiliki kuasa untuk bernubuat dan mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kemungkinan yang lain dari sikap kultus individu tersebut adalah karena beberapa anggota jemaat memiliki kelompok yang gemar mendewa-dewakan pemimpinnya. Tampaknya keadaan inilah yang meracuni kehidupan jemaat di Korintus. Di I Kor. 1:12 rasul Paulus menegur sikap dan kecenderungan jemaat Korintus, demikian: “Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakan Kristus terbagi-bagi-bagi?” (I Kor. 1:12). Mereka memiliki kecenderungan yang sangat kuat untuk membentuk kelompok atau golongannya masing-masing dengan pemimpin yang mereka anggap paling unggul. Itu sebabnya di antara mereka ada yang mengklaim sebagai pengikut dari Paulus, sebagian mengklaim sebagai pengikut dari Apolos, dan sebagian mengklaim sebagai pengikut dari Petrus. Itu sebabnya kehidupan jemaat di Korintus ditandai oleh perpecahan dan di antara mereka akhirnya terpecah-pecah menjadi berbagai golongan yang saling meniadakan pihak lain. Dalam kondisi perpecahan itu rasul Paulus berkata: “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia-sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” (I Kor. 1:10). Jadi manakala Kristus tidak dijadikan sebagai pusat hidup dan pegangan satu-satunya, maka kehidupan jemaat yang telah dibentuk oleh Kristus dapat terpecah-belah menjadi berbagai kelompok atau golongan. Jemaat yang dibentuk oleh Kristus pada hakikatnya telah dipanggil oleh Allah untuk keluar dari situasi kesuraman, kegelapan dan terhimpit oleh kuasa dosa. Kehidupan mereka diubah dan dipulihkan oleh Tuhan untuk menjadi umat yang dilimpahi rahmat keselamatan Allah. Tetapi sebaliknya jemaat juga dapat berubah kembali (set back) menjadi sekumpulan orang-orang yang hidup menurut cara duniawi manakala mereka mengabaikan Kristus dengan mengkultus-individukan pemimpin umat. Akibatnya mereka tidak lagi berperan sebagai kawan sekerja Allah, tetapi justru mereka dapat berubah menjadi para lawan Allah. Mereka tidak lagi menyediakan diri sebagai alat dalam karya keselamatan Allah; tetapi mereka justru telah memperalat karya keselamatan Allah untuk kepentingan diri dan kelompoknya.

Syukurlah dalam situasi perpecahan itu, rasul Paulus tidak tergoda untuk memperkuat golongan atau orang-orang yang mendukung atau memujanya. Sebaliknya justru rasul Paulus kemudian menegur setiap golongan agar mereka semua hanya tertuju kepada Kristus sebagai kepala jemaat. Bukankah dalam situasi perpecahan jemaat yang mana seorang pemimpin didukung oleh golongannya sering memiliki kecenderungan untuk memanfaatkan situasi agar dia makin dikultus-individukan? Pemimpin umat yang demikian pada hakikatnya tidak layak lagi melayani Tuhan di tengah-tengah jemaat, sebab telah terlihat dengan jelas motivasi dia; yaitu sebenarnya dia tidak dipanggil untuk melayani Tuhan dan mewujudkan karya keselamatan Allah, tetapi dia melayani jemaat untuk mencari kepentingannya sendiri. Dalam hidup berjemaat, pemimpin umat dapat berarti seorang yang berjabatan pendeta, tetapi juga seorang penatua atau pengurus komisi-komisi. Apabila kita menempatkan Kristus sebagai kepala jemaat, maka kita wajib menolak para pemimpin yang secara sengaja telah memanfaatkan dukungan anggota jemaat untuk kepentingan dirinya. Sebab prinsip pemilihan Kristus kepada orang-orang yang menjadi muridNya pada hakikatnya adalah bersedia meninggalkan segala sesuatu barulah mereka mengikut Dia. Di Mat. 4:22 disaksikan sikap murid-murid dari Galilea dalam menjawab panggilan Tuhan Yesus, yaitu: “Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia”. Manakala kita mau meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Kristus, maka pastilah kita akan mengutamakan kepentingan Kristus dan karya keselamatan Allah. Sehingga segala ambisi, kepentingan diri dan penonjolan diri telah kita tinggalkan agar kita dapat makin mempermuliakan Kristus.

Jadi manakala dalam kehidupan kita masih diwarnai oleh berbagai macam perpecahan dan pertengkaran; apakah perpecahan dan pertengkaran dalam kehidupan keluarga, pergaulan dengan anggota masyarakat, pekerjaan dan berjemaat sesungguhnya kita belum berhasil mempraktekkan makna “meninggalkan segala sesuatu” dan mengikut Kristus. Sebab dari situasi perpecahan dan pertengkaran tersebut, sebenarnya kita telah memberi andil dan memanfaatkan situasi tersebut untuk kepentingan diri kita sendiri. Akibatnya kita kemudian menuai hidup berupa kesuraman, kegelapan dan terhimpit sebagaimana pernah dialami oleh umat Israel yang tinggal di Galilea. Dalam kondisi yang demikian, sebenarnya Allah telah menghukum kita dengan merendahkan dan membuat kita malu. Tetapi rahmat dan belas kasihan Allah akan dinyatakan apabila kita mau segera bertobat dengan meninggalkan segala egoisme diri. Pada saat kita mau bertobat, maka kita akan diperkenankan oleh Allah untuk kembali melihat Terang besar yaitu keselamatan yang telah dinyatakan di dalam Kristus. Bahkan Kristus berkenan akan memakai kita kembali untuk menjadi kawan sekerjaNya. Sebab tidak selama-lamanya Allah menghukum, tetapi Dia juga berkenan memulihkan kita dan mempercayai kita untuk melakukan karya kasihNya yang mulia. Jika demikian, bagaimanakah kehidupan saudara saat ini? Apakah kehidupan saudara masih ditandai oleh perpecahan dan pertengkaran? Jadikanlah Kristus sebagai pusat dan tujuan hidup kita satu-satunya, maka kita akan bersedia untuk meninggalkan segala sesuatu bagi kemuliaan namaNya sehingga kita dapat hidup dalam damai-sejahtera Allah dengan setiap orang dan lawan. Biarlah hidupmu menjadi kemuliaan nama Tuhan dengan menyadari tubuh kita itu adalah Bait Allah yang diperkenankan dalam setiap perbuatan baik. Dengan menjadi Biat Allah, kita diberikan kepercayaan dalam perpanjangan tangan Tuhan memberikan pelayanan bagi semua orang.

Selasa, 17 Agustus 2010

Renungan Epistel Minggu XII Setelah Trinitatis, 22 Agustus 2010

Menciptakan Kerukunan
Kejadian 33 : 1 – 11
Esau dan Yakub lahir dari keluarga Ishak dan Ribka. Esau sendiri tumbuh dan berkembang sebagai seorang pemburu dan Yakub tumbuh dan berkembang sebagai seorang penggembala domba dan lebih banyak tinggal di rumah bersama dengan ibundanya. Akhir kisah anak kembar ini, si Esau sebagai anak sulung gagal memperoleh berkat dari bapanya sebab telah terlebih dahulu diberikan kepada adiknya Yakub.
Dalam kisah Esau dan Yakub yang mempunyai karakter yang berbeda. Bukan tidak mungkin dalam keluarga Ishak terdapat perbedaan penyampaian pendidikan. Esau kurang mendapat pendidikan yang ditujukan kepada cinta kasih dan kepedulian. Ia hanya cukup mempunyai kecakapan mencari dan membidik/membunuh buruannya. Dalam perkembangannya tumbuh sifat-sifat egois, memaksakan kehendak dan kurang peka terhadap perasaan orang lain. (Bandingkan: Esau rela menjual hak kesulungannya hanya untuk mendapatkan semangkok bubur kacang merah). Lain halnya dengan Yakub, Dia memperoleh pendidikan yang lebih di tujukan pencapaian emosional dan sosial yang sehat. Bagi seorang gembala dibutuhkan cinta kasih dan kepedulian, ia harus sabar, peka terhadap keadaan domba-dombanya. Wajarlah Tuhan memilih dia menjadi pemimpin dan memperoleh berkat melalui Bapanya Ishak.

Sebagai kakak beradik, tentu mereka diharapkan hidup rukun. Tetapi, dalam kenyataan tidaklah demikian. Mereka lama terpisah akibat pertengkaran. Esau merasa dirinya telah ditipu oleh Yakub. Hak kesulungan yang semestinya dimiliki Esau ternyata diambil oleh Yakub dengan tipu daya. Karena itulah, Esau marah dan mendendam terhadap Yakub. Nada kemarahan terlihat jelas dalam Kejadian 27.41: "Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: "Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh." Situasi benar-benar meruncing. Hal itu membuat Yakub pergi meninggalkan rumahnya menuju Mesopotamia.
Tenangkah Yakub dalam pelarian? Awalnya, mungkin ya. Namun, kegelisahan agaknya tidak mudah terhapus dari kalbunya. Kegelisahan itu terjawab. Pada suatu hari, Tuhan berfirman kepada Yakub: "Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu dan Aku akan menyertai engkau" (Kejadian 31:3). Apakah rencana Tuhan di balik perintahNya ini? Jika dikaitkan dengan permasalahan sebelumnya, nampaknya Tuhan menginginkan Yakub menyelesaikan permasalahannya dengan Esau. Tuhan menginginkan keributan yang terjadi di antara mereka diubah menjadi kerukunan. Rencana Tuhan amat baik. Sekalipun menjadi jawaban atas pergumulan Yakub, perintah Tuhan bukanlah hal yang mudah untuk ditaati. Yakub berpikir panjang. Bukankah hal ini sama dengan bunuh diri? Bukankah jika ia pulang, mudahlah bagi Esau untuk menangkapnya dan melampiaskan dendamnya? Dalam pergumulan itu akhirnya Yakub memutuskan bertemu dengan Esau. Tidak mudah mengambil keputusan itu. Ia berjuang, setidaknya melawan dirinya sendiri.
Yakub lalu merancang strategi. Ia tidak mau mati konyol. Ia menyuruh utusannya berjalan terlebih dahulu menjumpai Esau (Kejadian 32:3-5). Dengan strategi ini akan terlihat kemarahan Esau. Strategi ini tidak menghasilkan apa-apa. Yakub justru mendengar dari utusannya bahwa Esau sedang dalam perjalanan untuk menjumpai dirinya dengan diiring empat ratus orang, takutlah Yakub dan merasa sesak hati. Strategi kedua pun dijalankan. Yaitu menempatkan keluarganya di depannya (Kejadian 33:2). Lewat itu, Yakub juga mau melihat seberapa besar kemarahan Esau. Sampai akhirnya, ia pun mau berjalan ke depan dan bersujud tujuh kali (ay. 3). Melihat hal itu, berlarilah Esau mendapati Yakub dan mendekapnya serta mencium Yakub serta mereka bertangis-tangisan dalam perjumpaan itu. Permusuhan yang telah lama terjadi hingga memisahkan mereka berubah menjadi kerukunan antara kakak dengan adik. Yakub dan Esau berkasih-kasihan, keributan yang pernah terjadi diubah menjadi kerukunan, kemarahan diubah menjadi pengampunan, penolakan diubah menjadi penerimaan. Itu semua bisa terjadi karena adanya kerendahan hati dan perjuangan. Yakub rela menyongsong Esau dengan resiko apapun. Ia bersujud menyatakan permohonan maafnya. Sebuah keributan, separah apapun, akan dengan mudahnya selesai ketika semua pihak merendahkan diri.
Mengapa kita ribut? Andar Ismail menyebutkan: "Di sinilah terdapat paradoks (=dua hal yang bertentangan) dan kausalitas (=dua hal yang saling menyebabkan)." Artinya, yang menyebabkan kita ribut seringkali karena kita mencintai keluarga kita. Kita tidak ingin mereka terjatuh atau tersesat. Dan justru karena kita ribut. Paradoks bukan? Dalam cerita Alkitab, banyak kita jumpai keluarga yang berkonflik. Keluarga Ishak, di mana anak mereka Yakub dan Esau bertengkar, bermusuhan (selanjutnya jelaskan berdasarkan Penjelasan Teks di atas). Yang penting bukanlah pada ributnya mereka, tetapi bagaimana mereka mengakhiri keributan itu menjadi kerukunan. Yang dibutuhkan adalah kerendahan hati. Jangan mencari jawaban siapa yang benar. Sebab rukun adalah sebuah hal yang indah. Pikirkankan keindahannya, jangan pikirkan gengsinya. Berikanlah contoh praktis.

Renungan Hari Sabtu, 21 Agustus 2010

Pembawa Damai Kasih
Roma 14 : 19
Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.
Semua orang merindukan hidup damai sejahtera. Untuk itu semua orang berlomba untuk membuat hidupnya aman dan damai. Dan oleh karenanya muncullah kebutuhan baru bagi hidup manusia. Misalnya: pagar rumah, satpam, bank, asuransi dll sehingga orang sungguh merasa aman dan damai. Namun damai yang diberikan Yesus lebih dari itu. Persaingan yang tidak sehat dapat mengarah pada permusuhan dan saling menjatuhkan satu dengan lainnya. Saat saling menjatuhkan sebenarnya semua pihak telah menjadi pihak yang kalah. Dengan mengejar damai dengan semua pihak, kita mengusahakan kemenangan bagi setiap orang. Damai sejahtera yang diberikan Yesus bagi kita adalah damai sejahtera yang lahir dari dalam bukan dari luar diri. Damai sejahtera dari dalam itu adalah damai sejahtera karena percaya akan perlindungan yang diberikan oleh Tuhan yang Maha berkuasa atas hidup kita manusia.
Tuhan tidak menyempurnakan gereja dalam satu musim dalam satu hari. Saudara tidak dijadikan orang Kristen yang baik hanya dalam satu kebaktian, tetapi melalui proses. Sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit saudara dijadikan serupa dengan Dia. Dengan adanya damai itu tentu sudah memakai kuasa Roh Kudus untuk memenangkan pergumulan. Dalam damai Kristus ada kasih setia dan yang berguna untuk orang-orang disekitar kita.

Janganlah seperti orang lain sebab kita bukanlah sama dengan dunia ini dengan kebiasaannya. Kita sudah saksikan kebiasaan orang-orang dan sekelompok ormas disekitar kita yang banyak mengandalkan kekerasan, menimbulkan keonaran dan perpecahan sehingga meresahkan orang banyak. Namun kita adalah anak-anak Tuhan yang membawa perdamaian dan solusi dalam sukacita. Buah-buah dari kasih itu adalah damai sejahtera, kemurahan, kesetiaan dan kerukunan. Sementara syarat kerukunan adalah hidup dalam kasih, memelihara perdamaian dengan sesama dengan mengedepankan sikap pola pikir yang positif thinking sehingga akan tercapai perdamaian sejati.


Renungan Hari Jumat, 20 Agustus 2010

Tuhan Menguji Hati Kita
Mazmur 11 : 5
TUHAN menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan
TUHAN menguji hati setiap orang dan TUHAN akan memberkati setiap orang yang mau melakukan pekerjaanNYA dengan motivasi yang benar. Kita harus tahu tentang motivasi kita dalam melakukan sesuatu, sebab manusia kadang-kadang tidak mengetahui motivasinya dalam mengerjakan sesuatu. Tetapi TUHAN mengetahui semuanya itu. Sebab jika kita tetap melakukan sesuatu dengan motivasi yang salah, maka kita akan diminta pertanggung jawaban oleh TUHAN.
Walaupun ALLAH mentakdirkan segala sesuatu di dalam kehidupan manusia, tetapi kita memiliki suatu kesempatan untuk berjuang dalam nasib. Janganlah kita mudah menyerah kepada nasib, sebab jika kita menyerah, maka hal yang terjadi selanjutnya adalah karena kesalahan kita sendiri. Apalagi sebagai anak-anak TUHAN, kita diberikan kesempatan untuk berdoa dan memohon kepada DIA. ALLAH kita adalah ALLAH yang penuh kasih, sehingga IA tidak akan segan-segan untuk mengubah hal yang telah ditentukanNYA sendiri. Memang tidak semua yang kita perjuangkan dikabulkan oleh ALLAH, tetapi setidak-tidaknya kita sudah mencoba untuk memperjuangkan nasib kita di dalam doa kepada ALLAH. Sebagai manusia yang memiliki pengetahuan yang terbatas, kita tidak mengetahui hal yang telah ditakdirkan TUHAN atas hidup kita. Tetapi karena perjuangan kita di dalam doa, maka tanpa kita sadari takdir tersebut diubah oleh TUHAN.
Jika anda menanggapi masalah dengan cara dan pandangan yang benar, masalah tersebut bisa membentuk anda. Tuhan lebih memperhatikan karakter anda daripada kenyamanan anda. Hanya hubungan anda dengan Tuhan dan karakter anda yang akan dibawa dengan anda sampai kekal.
Anda malah bermegah dalam kesengsaraan anda, karena anda tahu, bahwa… kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan (Rom 5 : 3-4).

Yang harus kita ketahui dan pahami supaya kita jangan mudah menyerah pada nasib, tetapi harus mau memperjuangkannya. Dengan kuasa TUHAN, kita sanggup mengubah segala sesuatu yang kurang baik di dalam hidup kita, asalkan kita memiliki kemauan, tidak bersikap masa bodoh. Semua manusia ditakdirkan mati karena dosa, tetapi tidak semua orang masuk ke dalam neraka. Kalau dia berjuang dengan mau mempercayai Firman ALLAH, maka dia akan diubahkan menjadi anak-anak ALLAH yang layak memasuki Kerajaan Sorga. Tanpa perjuangan, tidak akan ada mahkota yang akan kita terima dan tanpa perjuangan jangan pernah kita berharap menerima hidup kekal sekalipun YESUS sudah mati menebus dosa kita. Perjuangan penting yang harus kita lakukan adalah beribadah dengan sungguh-sungguh dan mengutamakan TUHAN. Tetapi memang tidak mudah untuk seseorang mau percaya kepada Firman, sebab manusia cenderung lebih mudah mempercayai berita yang jahat, tetapi sulit untuk mencerna berita yang baik. Karena itu kita harus mau berjuang dan berusaha dengan sungguh-sungguh.


Renungan Hari Kamis, 19 Agustus 2010

Menantikan Keadilan Tuhan
Amsal 20 : 22
Janganlah engkau berkata: "Aku akan membalas kejahatan," nantikanlah TUHAN, Ia akan menyelamatkan engkau
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan – adalah pesan jelas bagi semua orang Kristen. Dan Yesus sendiri yang mengajarkan supaya kita selalu berbuat baik, bahkan kepada orang-orang jahat. Saya yakin bahwa tidak ada di antara kita yang tidak pernah disakiti. Hanya saja tiap-tiap orang bereaksi berbeda-beda.
Saat ini kita berada dalam dunia yang penuh dengan berbagai kekerasan, kebencian, keserakahan dan dendam. Lingkaran dosa tersebut sangat sulit diputuskan, sebab para pelaku kejahatan dan dosa tersebut menganggap bahwa apa yang dilakukannya “benar”. Anehnya mereka yang melakukan berbagai kejahatan tersebut umumnya juga sangat khidmat saat beribadah.
Tampaknya perubahan atau pembaharuan dalam kehidupan ini tidak akan terjadi hanya karena umat bersikap khidmat dan didorong antusiasme religius untuk melaksanakan ibadah dalam agama mereka. Agama-agama dengan sistem dan ajarannya pada masa kini semakin terlihat tidak memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan umat manusia yang terbelenggu oleh kuasa. Kejahatan hanya dapat dikalahkan dengan kasih. Mulai sekarang berdoalah buat temanmu itu dan berkatilah dia.” Selama Anda merancangkan pembalasan dendam Anda tidak akan pernah menang. Kejahatan hanya dapat dikalahkan dengan kasih. Kalau Anda mau “membalas dendam” dengan kasih, Tuhan akan berpihak kepada Anda. Hanya kuasa Kristus saja yang mampu membawa pembaharuan hidup dalam kehidupan umat manusia. Untuk itu pada akhir zaman, Kristus akan datang untuk melakukan pembaharuan total dalam kehidupan kosmis ini. Kita hendaknya menyerahkan persoalan kita pada keadilan Tuhan dengan menantikan-Nya.

Apabila dalam kedatanganNya yang pertama, Kristus datang dengan berinkarnasi dan perendahan diri sebagai seorang manusia; maka dalam kedatanganNya yang kedua, Kristus akan datang dengan kemuliaanNya sebagai seorang Raja dan Hakim. Sehingga dengan kedatanganNya yang kedua, Kristus akan datang dengan kuasaNya untuk membaharui seluruh kosmis. Dia akan datang dengan menghancurkan tatanan dan kuasa-kuasa alam. Di Luk. 21:25, Tuhan Yesus berkata: “Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut”. Saat terjadi kehancuran kosmis yang begitu mengerikan, maka pada saat itu juga Kristus selaku Hakim akan datang dengan kemuliaanNya untuk mengadili umat manusia (Luk. 21:27).

Renungan Hari Rabu, 18 Agustus 2010

Kristus Membawa Keadilan
Yesaya 2 : 4
Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang
Berita kekerasan hampir setiap hari disuguhkan media massa di negeri ini. Bahkan, banyak yang menilai sudah kebablasan. Sebab, tayangan beberapa media massa dinilai mengajari cara-cara orang untuk berbuat jahat. Sehingga, tak jarang tayangan media sering menjadi aspirasi bagi mereka yang ingin berbuat tidak baik.
Demikian pula tayangan kekerasan akibat perang juga tak henti-hentinya menjadi suguhan televisi. Bahkan, tidak jarang pula, momen kekerasan terhadap anak akibat perang, serlng dijadikan daya tank. Tujuannya untuk menarik simpati dan memunculkan kemarahan kepada negara-negara yang dianggap membuat keonaran. Dan tayangan itu juga akan memicu kemarahan bahkan tidak jarang akan memunculkan anarkis untuk melampiaskan amarahnya setelah melihat tayangan di televisi. Jadi kekerasan demi kekerasan akan terus berlangsung dan setiap hari.

Apakah mungkin kita mencapai dunia yang damai jika kita yang hidup di dalamnya tidak pernah bisa belajar untuk berdamai? Apakah sekat-sekat pembatas yang kita ciptakan akan membantu membuat dunia semakin baik? Apakah Tuhan menginginkan kita untuk saling bermusuhan berdasarkan segala perbedaan itu? Apakah memang tujuan Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda karakter, sifat dan sebagainya agar kita hidup bermusuhan? Tentu tidak. Tuhan tidak hanya penuh kasih, tapi Dia adalah kasih itu sendiri. (1 Yohanes 4:16). Konsep damai membawa konotasi yang positif dan hampir tidak ada orang yang menentang perdamaian. Perdamaian menupakan tujuan utama dan kemanusiaan. Beberapa kelompok berpandangan benbeda tentang apakah damai itu, bagaimana mencapai kedamaian, dan apakah perdamaian benar-benar mungkin terjadi.
Kedatangan Kristus yang kedua merupakan wujud kedatangan Kristus yang adalah Firman Allah untuk menghakimi umat manusia di hadapan takhtaNya. Melalui kedatangan Kristus yang pertama, Kristus datang untuk membawa keselamatan dan penebusan dosa melalui kurban pendamaian di atas kayu salib. Sehingga melalui kedatangan Kristus yang pertama umat manusia dipanggil untuk hidup kudus sebagai anak-anak Allah. Yang mana tujuan kedatangan Kristus yang pertama pada hakikatnya membawa transformasi hidup sehingga umat manusia dipanggil untuk menerapkan pola dan nilai-nilai Kerajaan Allah yang telah dinyatakan dalam karya keselamatan Kristus. Jika demikian, melalui kedatangan Kristus yang kedua umat manusia akan mempertanggungjawabkan setiap perbuatan dan tindakannya di hadapan takhta Allah. Jadi inti dari kedatangan Kristus yang pertama dan kedua adalah bagaimana melalui karya keselamatan Kristus, Allah menghadirkan kualitas hidup dan keselamatan yang wajib dipertanggungjawabkan umat manusia dalam kehidupan riel masa kini dan kehidupan di masa mendatang.

Senin, 16 Agustus 2010

Renungan Hari Selasa, 17 Agustus 2010

Menghentikan Peperangan
Mazmur 46 : 9 – 10
Pergilah, pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi, yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api.
Banyak orang salah mengerti, mengira dengan peperangan akan menghentikan peperangan. Sejarah telah membuktikan, masa berperang hanya sepanjang kesedihan anda untuk berperang. Telah terbukti, perang Vietnam itu berhenti, karena salah satu pihak memutuskan untuk tidak berperang lagi. Satu saja dari kedua belah pihak memutuskan untuk berperang, yang satu harus membela diri. Orang yang mengalahkan musuhnya dengan kekerasan, yang melukai anak dan wanita, akan menumbuhkan musuh yang memeranginya dengan serius dimasa depan. Maka cara terbaik untuk menghentikan berperang adalah berhenti berperang, lalu menemukan cara-cara yang lebih beriman dalam menyelesaikan konflik. Memang bagi kita berhak membalas, tetapi akan lebih bijak lagi bagi kita, kalau memafkan. Anda tidak akan bisa hidup damai dengan mengalahkan orang, yang dengan kesungguhannya ingin membalas atas kematian bayinya, ibunya atau anak-anak yang dikasihinya.
Perang itu keliahatannya akan menyelesaikan perang, tetapi sebenarnya hanya akan melahirkan laskar-laskar baru yang lebih dendam. Damai, hanya bisa dicapai melalui perdamaian.
Telah terbukti, negara2 besar hanya bisa menghentikan peperangan kalau dia pergi. Apapun yang dikatakan oleh orang-orang besar yang mencegah terhentinya perang telah ikut berperang. Sehingga kalau ada bayi yang terbunuh, karena lambatnya perdamaian, maka yang melambatkan perdamaian ,telah ikut membunuh bayi itu. Jadi kalau begitu, yakinlah pada kebaikan, berpihaklah pada kebaikan, jangan ragukan kebaikan, sebab itu adalah jalan yang menyebabkan kita mudah untuk mencapai kebaikan.

Hari ini tanggal 17 Agustus 2010 tepat pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Selama 65 tahun Bangsa Indonesia telah terbebas dari penjajahan Bangsa Belanda dan Jepang. Namun sangat disayangkan realitasnya belum mencapai kebaikan yang dicita-citakan sebuah negara yang telah merdeka. Kemerdekaan bangsa kita disusupi dengan kekerasan, penjajahan bentukan baru dan ketidak-adilan.Bangsa kita telah keluar dari zona peperangan dengan bangsa lain, namun peperanga itu masih berlangsung; baik memerangi kebodohan dan memerangi kemiskinan sert a memerangi koruptor, serta memerangi narkoba yang mengerayangi generasi muda Indonesia.
Kemerdekaan telah diberikan Kristus bagi kita dari penjajahan si Iblis dan dosa, tentunya kita selayaknya memakai dan mempergunakan kemerdekaan itu untuk memperjuangkkanya bagi orang-orang yang masih dijajah kebodohan dan keberdosaannya. Biarlah Tuhan yang kita andalkan untuk berperang menghadapi musuh-musuh kita dalam menghentikan peperangan kita (Kel. 14:14 TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.) Merdeka !!!!

BAHAN SERMON PARHALADO MINGGU XII DUNG TRINITATIS 22 AGUSTUS 2010

GABE JORO NI DEBATA
Ev. : 1 Korint 3 : 1 – 11 Ep. : 1 Musa 33 : 1 – 11


I. Patujolo
Hirahira taon 54 dung Kristus ditongos apostel Paulus ma surat on tu huria Korint. Jala mangihuthon pamaritahonon ni buku ulaon ni angka apostel na sinurat ni si Lukas (bindu 18), leleng ni 18 bulan apostel Paulus manaburhon boni ni barita nauli di luat on. On ma pardalana na paduahon di ibana mamaritahon hata ni Debata. Udut tusi tarbarita do luat on kota na ribur, pelabuhan internasional jala parpunguan ni sandok halak na ro sian ganup luat, isarani : Spanyol, Italia, Perancis dohot angka bangso na ro tu luat on sada luat tontu godang do angka namasa di luat i, israni angka hagaoron, parsiguluton dohot angka na asing. Angka na uli na denggan pe tong ma jumpang disi. Ala ni i tung marsitutu do Apostel Paulus pasahathon hata ni Debata asa unang madabu angka jolma i tu ulaon na so hinalomohon ni Debata. II. Hatorangan Diturpuk on ditulak si Paulus do angka halak Kristen ujui naolo dipabolabola, nang suang songon i na pabadiahon angka apostel (bnd. 1 Kor. 1 : 12-13). Apostel Paulus ndang mamereng sasahalak sian horong manang aha pe nasida, alai holoan Kristus do na ingkon pamusatan ni sude angka na porsea. Di 1 Korint 3 : 23 Paulus mandok “Ai di Kristus do hamu”, ndada holan hatahata alai hasintongan do, huhut paboahon panghatindanghonon ni jolma, na loyal tu angka apostel, na mambahen nasida gabe marhoronghorong na asing hombar tu horong nasasing, alai ndada na ringkot i dibagasan pamatang n i Kristus. Ai ia angka apostel ima angka sisean ni Debata na mangalehon barita nauli asa lam tang marhaporseaon na umbegesa. Ia huria ima porlak ni Debata, napinatuduhon ay.6 on ima Apostel Paulus na manuan boni ni Hata ni Debata (lapatanna Apostel Paulus marjamita taringot tu Hata ni Debata tu huria i), jala si Apolos mangula laho marmahani jala pangajari ro laho pabornokhon boni ni Hata ni Debata na martumbur dibagasan parngoluon ni Huria di Korint. Tangkas do ditulak si Paulus molo dipatama hadirionna songon apostel. Alai sabalikna laho patuduhon donganna saulaon siApolos pasidohot do di ulaon pararathon Barita Nauli tu Huria Korint dibagasan huaso ni Debata. Paulus dohot Apolos rap apostel, jala rap manjalo ulaon sian Debata rup laho marmahani huria di Korint. Di Joh. 5 : 17 Jesus mandok : Na mangula do Damang rasirasa nuaeng; Ahu pe mangula do. Marhite i angka apostel mangihuthon na nidok ni Jesus laho mangula mambaritahon Barita Nauli i. Molo dongan sapangulaon ni Debata ima pangula na tama dibagasan HarajaonNa, Marsitutu do Apostel Paulus dohot Apolos di ulaonna. Ia Paulus dohot Apolos i ma ulaula ni Debata asa disi naeng patumpolhon di angka haputusan ndada sian malomalona, alai ala ni huaso ni Debata di ibana marhite parulaonna, na patauhon ibana laho pararathon hasintongan na palashon roha ni Debata. Ringgas do nasida di ulaon na pinasahat ni Debata tu nasida laho marbarita nauli tu angka na olo manjanghonsa. Marsada do angka apostel i dohot Kristus di angka ulaonna; marhite indada mambuat hasangapon Apostel Paulus, alai dipatutoru do dirina diadopan ni Debata. Ndada boi Apostel Paulus dohot Apolos laho marbarita nauli marhite gogona sambing, nang pe manuan manang manambornambori dos do i ringkotna, alai impolana sian sudena i ima Debata do na patubuhon. Sian i tangkas ma antong ia Debata do mual ni hangoluan i na mangula dibagasan panghobasion ni Apostel Paulus dohot Apolos marhitehite TondiNa. III. Sipahusorhusoron 1. Hasadaon dohot Kristus. Manang didiape hasadaon i mansai ringkot do. Marhite hasadaon do tau angka jolma patulushon sangkap nasida asa saut mardalan dohot denggan; nang di ruma tangga, masyarakat, bangso dohot negara nang diangka organisasi dohot punguan pe. Molo ndang adong hasadon marisuang do ulaonna. Laos suang songon i do tarlumobi di ulaon na pinasahat ni Jesus tu angka siseanna, ingkon rup do nasida marbarita nauli dibagasan hasadaon Luk 10 : 1; (Mat.18:20 Ai anggo pungu dua manang tolu pe marhitehite Goarhu, sai dongananku do nasida). Tapatuduhon ma hasdaon i nang di huria. Ia huria i ima pamatang ni Kristus (1 Korint 12 : 27 “Alai daging ni Kristus do hamu, jala ruas hamu sama hamu”). Jala hita do nanidokna daging ni Kristus i. 2. Pasidinghon Ginjang Ni Roha. Dibagasan hasadaon ni pamatang ni Kristus, ndang marlapatan jolma na manengahon dirina, ai doshon na mardosa do ia jolma i di adopan ni Debata, ndang adong na singkop holan Jesus i do na sintong jala na bonar.Sude do jolma pardosa dos diadopan ni Debata ndnag mardia imbar, na mora,na pogos nang na marpangkat nang na lea pe nang na sangap di portibi on dos do na mardosa, siala ni dibagasan huria i pe dos do diadopan ni Debata. NA rup do huria i marsomba tu Debata dibagasan panobusion ni Kristus Jesus. Ndada marlapatan na marginjang ni roha apalagi diulaon ni huria. Ndada na pasangaphon diri hita diulaon ni huria i alai laho pasangaphon Debata do. Ingkon martoruk ni roha do dibagasan haserepon laho marbarita nauli. 3. Mangasahon Gogo ni Debata dinasa ulaon. Holan Debata do na tuk marbasabasahon hagogoon laho manghatahon hasintongan tarlumobi laho pararathon Barita Nauli i. 1 Ptr. 4:11 Ia adong na marjamita, naeng ma songon angka pandohan ni Debata; ia adong na marhobas, naeng ma sian hagogoon na nilehon ni Debata, asa di saluhutna i marsangap Debata, marhitehite Jesus Kristus. Di Ibana ma hasangapon ro di salelenglelengna i! Amen 4. Gabe Joro ni Debata. Asa gabe joro ni Debata do hita saluhut dijou turpuk on, na tau gabe parmianan ni Debata rohanta nang tondinta. Ala ni i ndada holan hita namarnampunahon dirinta, alai Debata do na mamangke hita gabe ulaulana nang parhiteanna, (2 Korint 5 : 20), gabe singkat ni Kristus do hita di tongani portibi on. Molo gabe singkat ni Kristus dijou do laho pasadahon dibagasan dame nabinoan ni Kristus i di hita. Gabe joroni Debata ma hita na gok dame dohot las ni roha. Amen.

Minggu, 15 Agustus 2010

Renungan Hari Senin, 16 Agustus 2010

Hidup Damai
1 Tessalonika 5 : 13b
Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.
Untuk mencari damai itu sangat mahal harganya, diperhadapkan situasi manusia saat ini yang sering karena perbedaan, kesalah-pahaman mengalami pergolakan, dan perpecahan. Hukum Taurat sudah baik, namun masih harus digenapi oleh Yesus yakni kasih. Kalau semua aturan dijalankan dengan hukum kasih, maka yang ada keadilan dan kedamaian. Jadi, tidaklah salah kalau dikatakan perdamaian adalah salah satu syarat mencintai Tuhan. Berdamailah dengan lawan-lawanmu sebelum kamu diserahkan kepada hakim atau berdamailah dengan mereka sebelum kamu membawa persembahan untuk Allah.
Perdamaian adalah sumber ketenteraman, kedamaian menjauhi kita dari konflik, kedamaian membawa ketenangan hidup. Kedamaian tak muncul begitu saja, namun karya aktif manusia. Tak juga instan. Butuh kerja keras. Suasana damai merupakan proses yang perlu dihadirkan secara serius dan fokus. Damai yang dimaksud tentu bukan sekadar tiada perang. Lebih hakiki, apakah perilaku kita membuat damai orang lain? Atau, malah membuat resah! Paulus juga menasihati umat agar tidak pilih-pilih tebu. Damai yang ditawarkan hendaklah bisa dinikmati semua orang. Jadi, bukan untuk kalangan sendiri.
Kita semua, para pengikut Yesus mempunyai tugas untuk menjadi pembawa damai. Dasar dari tugas ini ialah hidup Yesus sendiri. Yesus datang ke dunia untuk membawa damai. Kedatangan yesus ke dunia ini untuk membawa damai. Kedatangan Yesus ke dunia ini mendamaikan manusia dengan sesamanya dan mendamaikan manusia dengan Allah sendiri.
Perdamaian itu harus diusahakan, diperjuangkan, dihadirkan, bahkan kalau perlu butuh pengorbanan. Perdamaian bagaimana pun terkait erat dengan prinsip cinta kasih. Prinsip cinta kasih mengatakan bahwa pengampunan lebih kuat daripada kebencian serta balas dendam. Mengorbankan diri lebih berharga daripada mengorbankan orang lain.
Perdamaian dalam arti tertentu merupakan sesuatu yang sangat mahal. Itulah sebabnya mengapa hidup yang diwarnai oleh kedamaian terus menerus diusahakan sebab manusia mempunyai tabiat dasar untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Perdamaian tercapai jika orang dengan rela hati mau mengampuni.

Jumat, 13 Agustus 2010

BAHAN SERMON PARHALADO MINGGU XI DUNG TRINITATIS, 15 AGUSTUS 2010

Pandonganion Ni Debata

Ev. : 1 Musa 31 : 36 – 44 Ep. : 1 Petrus 3 : 8 – 12

I. Patujolo
Di Hata Heber, adong 3 ragam lapatan ni goar “Jakob” i ma : a) Marlapatan “na bisuk”, ala mansai na bisuk do si Jakob mangalului hamonangan dohot paruntungan tu dirina. b) “Jakob” na marlapatan “na niondingan ni Debata”, ai diramoti Debata do ibana nang pe godang hasalaanna, ala sai pintor hatop ditopoti ibana hasalaanna, gabe diondingi Debata ibana. c) Jakob, na marlapatan sitangkup tambihul, ai na sorang linduat do ibana dohot hahana Esau. Dung sorang si Esau, sorang ma muse si Jakob, alai pintor ditangkup jala ditiop ibana tambihul ni hahana, ala ni i digoari halak ibana si Jakob, lapatanna sitiop tambihul (1 Musa 25-26). Hombar tu goarna i do hadirionna, ai na bisuk do ibana, huhut marhaposan tu Debata.
Saleleng di jolona, dirajumi jala diperlakukan si Laban do si Jakob songon anak gajianna, ndang songon hela manang anggota ni keluargana. Diparhatopot ibana do na tarpasupasu do ibana ala ni si Jakob i, tamba do sinamotna jala lam mamora ibana. Alai ndang gabe mauliate rohana ala ni i, ala simata hepeng ibana sai naeng do angkalanna helana i, sai naeng doboonna upana. Ndang lomo rohana morot helana i sian lambungna asa gabe sada ruma tangga na mandiri, alai sai hot ma nian di jolona jala torus di toru ni kendalina asa sai martambatamba dope hamoraonna. Alai ndang hombar i tu lomo ni roha ni Debata. Panean di bagabaga ni Debata na tu si Abraham do si Jakob i (1 Mus.12:1-3). Aut sura pe lomo rohana maringan torus di Padan Aram, bahen hasasaut ni bagabaga i ndang na laho loason ni Debata. Songon i ma di jolo ni turpuk on, disuru do ibana mulak tu Kanaan, tano na pinarbagabaga i (1 Mus.31:3). Di na so tarulahonsa i sian na patar, tarpaksa ma ibana lintun (1 Mus.31:21). Alai dung tarbortik i tu si Laban, dieahi do ibana. Anggo tahina hian nian, na roa do (pat.1 Mus.31:29a). Alai ala dipaingot Debata ibana di nipina (1 Mus.31:24, 29b), gabe dilului ma hata dame. Nang pe songon i, ndang tarbolushonsa anggo hamamago ni terafim manang debata idupna na disura rohana ditangko si Jakob (1 Mus.31:30), gabe disungkapi ibana dohot sude na di ibana. Dung so dapotsa tongon, tarrimas ma si Jakob tu ibana songon na martaringot di turpuk on.

II. Hatorangan
Turpukta on, na marisihon pangkataion ni si Jakob dohot si Laban, na marbonsir sian pangaleleon ni si Laban tu si Jakob ala lintun marsibuni ianggo si Jakob sian tulangna i. Angkup ni naung tarbortik tu si Jakob angka hata ni tungganena (angka anak ni si Laban) na mandok: “Nunga diahuti si Jakob sinamot ni amanta sasudena jala marharoroan sian na di amanta i do hamoraonna on sudena”. Bohi ni si Laban pe, ndang songon na sai laon be dompak ibana diida si Jakob. Dung i ninna Jahowa ma mandok si Jakob: “Mulak ma ho tu tano ni angka ompum, tu tano hagodanganmu, hudongani pe ho”. (bindu 31: 1 – 3). Boi dohonon na mangonjar roha ni si Jakob gabe lintun marsibuni manadingkon tulangna si Laban, ima ala asa malua (bebas) manang gabe jolma na merdeka; ndang olo be ibana di jolo ni tulangna i naung 20 taon lelengna diulahon ibana songon parkarejo (naposo) na manjalo upa sian ulaonna i. Songon di hadirion ni halak Batak taringot tu bona pasogitna na tongtong manghaholongi bangsona, mangargahon habatakonna, na tongtong masihol laho mulak tu huta hatubuanna, ido umbahen na sai disosohon asa diargahon halak Batak bona ni pasogitna manang di dia pe ibana, manang naung gabe aha pe ulaonna, na ingkon argahononna do tano hatubuan dohot hagodanganna manang bona ni pinasana i. Songon hata na mandok, “Arga do bona ni pinasa, dipingkir angka na marroha. Nang pe laho marhutasada, sai ingot, ingotma tu huta. Dao pe ho marhutasada, di purba manang di dangsina. Tongtong ingot tona ni ompunta, sai mulak, mulak ma tu huta”. Dohot di hata na mandok, “Walau hujan emas di negeri orang, masih lebih baik hujan batu asal di negeri sendiri”. Doshon songoni ma nang si Jakob na marhuta sada tu huta ni halak habinsaran, tu luat Padang – Aram inganan ni tulangna si Laban songon na tinonahon ni Isak, amana i.
Si Laban ima halak Aram na tarbarita di luatna siala godang arta manang sinamotna jala ngoluna pe marhasonangan do. Disi ma si Jakob mangula marmahani angka biru-biru dohot pahan-pahanan na asing pola lam tu deakna. Jala songon singkat ni upana sian ulaonna saleleng 20 taon i, ima : Parjolo, dipangido si Jakob ma tu si Laban asa dilehon boruna siampudan na margoar si Rahel gabe jolmana dohot padan na dipangulahon ibana marmahan saleleng 7 taon laho mambuat si Rahel. Dioloi si Laban do pangidoan dohot padan naniuarihon berena i. Dung jumpang padan nasida i, dipangido si Jakob ma si Rahel asa gabe jolmana. Hape, ndang songon padan nasida i na ingkon si Rahel do na dipangido si Jakob hian asa gabe ripena, alai boru sihahaan ni tulangna i do na margoar si Lea na gabe ripena. (hombar adat na masa di luat Haran manang di halak Aram, ingkon jumolo pamulihon sihahaan asa sianggian). Atik pe jut roha ni si Jakob di pambahenan ni tulangna i, tarjalo ibana do na masa i siala tongtong marpadan tulangna i na ingkon lehononna si Rahel gabe jolmana dung jumpang 7 borngin dijabuhon rap dohot si Lea dohot pangidoan asa dipangulahon si Jakob ma muse 7 taon lelengna gabe parkarejo ni si Laban. Singkat ni upa ni si Jakkob saleleng 14 taon ima dua boru ni tulangna si Laban na gabe jolmana. Paduahon, dung ditubuhon si Rahel ma si Josep, dipangido si Jakob do tu si Laban asa dipaborhat ibana laho manopot tano hatubuan dohot hagodanganna ima tu Tano Kanaan. Dipangido si Jakob ma asa diloas si Laban ibana mamboan angka jolmana ( Lea, Rahel, Zilpa, Bilha) dohot angka tubuna sudena nang angka naung disamothon ibana marhite pangulahononna marmahani angka pahan-pahanan ni tulangna i. Di pangidoanna napaduahon on, tongtong marpadan nasida taringot tu parbagian ni angka pahan-pahan i, jala diulahon si Jakob ma siulahononna muse saleleng 6 taon. Jadi mamora bulung ma si Jakob ala ni angkalna laho mambalos angkal ni tulangna i, pola torop angka biru-biruna dohot naposona boru-boru dohot baoa, angka unto dohot halode (jaha bindu 30: 25 – 43).
Tolu hali ma nasida marpadan di angka na sinangkapan ni roha nasida nadua. Alai duansa do nasida rap hea mangose padan na pinadanhon nasida. Tutu, molo adong na mangose padan ingkon tubu ma parsalisian, parbadaan, hagunturon di angka na marpadan i. Hape ia parpadanan i tujuanna asa parohon hadameon/hadengganon di angka na marpadan. Molo marpadan angka na parangkal songon si Jakob dohot si Laban on, ndang boi jumpang hadameon/ hadengganon di ujungna. Na ingkon dihangoluhon manang diulahon dohot sasintongna do hape isi ni parpadan i asa jumpang hadameaon/hadengganon (syalom).

III. Sipahusorhusoron
1. Tapuji ma Tuhan Jahowa Pardenggan Basa na sumurung i naung mangalehon Kemerdekaan (Haluaon) tu bangsonta Republik Indonesia jala na sai tongtong mangaramoti hita angka pangisi ni negara Republik Indonesia sahat ro di tingki on. Jala di tanggal 17 Agustus 2010 na naeng ro on, tepatma taolophon ari parningotan Kemerdekaan Republik Indonesia naung marumur 65 taon. Jala gok puji-pujian dohot hasangapon mardongan mauliate ma di Tuhanta Jesus Kristus naung paluahon hita sian gomgoman ni dosa nang hamatean na manongtong i. Songon Hata-Na na mandok, “Songgop do tu Ahu Tondi ni Tuhan i, ai dimiahi do Ahu, mamboan barita na uli tu angka na pogos. Disuru do Ahu, mamaritahon tu angka na tarhurung asa malua, tu angka na mapitung asa marnida, paluahon angka na ginosagosa, mamaritahon taon parasinirohaon ni Tuhan i.” (Lukas 4: 18-19).
2. Hita jolma pardosa nunga manjalo “Taon Parolopolopon (Tahun Yobel)” ima Haluoan (Kemerdekaan) na pinatupa ni Jahowa marhite-hite Tuhan Jesus Kristus sahali ro di salelengna (ex havax). Ibana do na mamintori hita gabe sahat hatigoran hangoluan tu saluhut jolma; gabe mardame (dipadame) hita dohot Tuhan Jahowa hinorhon ni panobusion na dibagasan mudar-Na na badia i. Angka naung dipalua (orang yang merdeka) do hita nuaeng marhite-hite haporseaonta tu Tuhan Jesus, Sipalua i. Tajalo do Padan Hadameon sian Ibana ima, “…, asa unang mago ganup na porsea di Ibana, asa hangoluan na saleleng-lelengna di ibana.” (Joh 3:16). Hot ma antong Padan Hadameon/Haluaon i mian di hita jala unang be olo hita diela-ela jala dipatundukhon ni auga parhatobanon sibolis i. Tahangoluhon ma Padan Hadameon/Haluaon (Kemerdekaan orang Kristen) ima na mangeahi hatigoran, hadaulaton, haporseaon, holong ni roha, habengeton dohot lambok ni roha. Jala tasodahon ma roha na so daulat ro di angka hisap-hisap ni tano on. Ai hadameon do jumpang sian padan naung diparade Jahowa marhite-hite Tuhan Jesus Kristus na manghorhon Haluoan di hita. Ipe, taringkoti ma asa mardame tu saluhut halak. Siala dibagasan dame do disaburhon parbue hatigoran di angka na olo mangulahon dame naung nilehon Tuhanta tu hita.

RENUNGAN EPISTEL , MINGGU XI SETELAH TRINITATIS, 15 AGUSTUS 2010

Persekutuan Dan Persaudaraan
1 Petrus 3 : 8 – 12
Persekutuan dan persaudaraan yang rukun adalah dambaan setiap orang di dunia ini. Bagaimanakah agar impian ini menjadi kenyataan? Persektuan dan persaudaraan ini terwujud jika kita memiliki nilai-nilai hidup seperti:
Pertama, Seia sekata. Harus kita akui bahwa kita memiliki banyak latar belakang yang berbeda-beda menurut suku, bahasa dan adat istiadat, pendidikan, pekerjaan, cara berpikir dan sebagainya, namun kita harus benar-benar sehati, seia-sekata, supaya dapat hidup sebagai persekutuan yang mau mengerti satu dengan yang lain. Situasi yang demikian menggambarkan bahwa jemaat merupakan organ atau badan yang hidup, di mana terdapat berbagai-bagai anggota atau suatu badan yang sangat berlainan bentuknya dan sangat beraneka ragam fungsinya. Di dalam keberanekaragaman itu anggota-anggota dapat saling membantu dan saling mengisi satu sama lain. Tidak ada yang menganggap dirinya lebih berharga dan lebih tinggi. Baik Tuhan Yesus maupun rasul-rasul, sering menekankan kesatuan di dalam persekutuan. Tuhan Yesus dalam doaNya supaya "murid dan pengikutNya, menjadi satu“ (ut omnes unum sint). Rasul Paulus menggarisbawahi dalam surat kirimannya kepada jemaat di Roma, Korintus, dan Efesus, “meskipun anggota-anggota itu berlainan dan mempunyai talenta-talenta yang sangat berlainan, namun mereka tetap satu badan, satu organ yang hidup“.
Kedua, seperasaan (sympathein=sama merasai sakit). Dalam satu organ yang hidup, bila tangan terluka, sesungguhnya tidak hanya tangan saja yang menderita, melainkan seluruh tubuh menderita kesakitan. Begitulah sifat organ yang hidup, di mana semua anggota ikut menderita apabila salah satu anggota mengalami kesakitan dan sama-sama bersukacita apabila salah satu anggota bersukaria (1Kor.12:26).


Ketiga, mengasihi. Pusat atau azas hidup orang Kristen adalah kasih karena hakikat atau kesempurnaan Allah adalah mengasihi dunia. Kasih adalah sumber dari segala kebajikan. Kasih itu panjang sabar, kasih menjauhkan dengki, kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong dan sebagainya. Artinya kita diharapkan memiliki persekutuan dan persaudaraan yang rukun (bd.Mzm.133). Jika pada kita tidak ada kasih sudah barang tentu persaudaraan itu tidak dapat dinikmati.
Keempat, penyayang. Sifat penyayang ini harus didasari atas kepenyayangan Tuhan kepada kita yang rela berkorban menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Kita juga harus mampu menyayangi suami-istri dan anak-anak, serta orang lain tanpa memandang suku, ras dan budaya. Kelima, rendah hati. Dengan rendah hati kita mampu mengalahkan kesombongan dan kecongkakan kita. Karena sifat kesobongan dan kecongkakan inilah yang sering merusak persekutuan dan persaudaraan di antara kita. Sifat rendah hati akan menjadikan persekutuan kita akan semakin indah dan bahagia.
Kenapa manusia BAIK kepada yang BAIK kepada dan menurut dirinya ? karena hal ini adalah daya alamiah manusia yang kodrati, manusia adalah makhluk cinta, pada dasarnya manusia memiliki KEBUTUHAN bukan hanya dicintai tetapi juga untuk mencintai, dengan kata lain; manusia perlu mengexpresikan perasaan cintanya, suatu tindakan harus dilakukan, dengan melakukan kebaikan kepada orang yang baik, maka manusia merasa telah mengekspersikan hasrat kebutuhan untuk mencintainya secara TEPAT, sehingga ia akan merasa puas,nyaman, dan lebih baik.
Melakukan hal yang baik kepada yang berbuat kebaikan kepada kita adalah biasa, melakukan kebaikan kepada mereka yang tidak baik kepada kita itulah yang LUAR BIASA. Mengapa mayoritas orang tidak melakukannya ? karena dibutuhkan keberanian dan jiwa yang besar untuk melakukan hal tersebut. Perlu daya tahan dan harga diri yang tidak tergoyahkan, diperlukan nyali, yang kita harapkan dari berbuat baik kepada yang baik terhadap kita adalah RASA nyaman, puas, dan selaras. Artinya ada beban-beban psikologis yang terangkat saat seseorang membalas hal yang baik dengan kebaikan. Sedangkan membalas kejahatan dengan kebaikan akan memberikan perasaan tidak BERNILAI dan mendegradasi level self esteem (harga diri) bagi kebanyakan orang.
Mungkinkah seseorang bertindak jahat kepada kita tanpa sebab ? Tidak mungkin. Selalu ada faktor-faktor yang mendahuluinya seabstrak apapun faktor-faktor tersebut. Faktanya; asumsi dan apriori menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut. Kebaikan terhadap yang tidak baik adalah KEBENARAN, sekaligus sebagai pembenaran dan koreksi bahwa kita memang BAIK secara TERUJI.
Teruslah berusaha menjadi Sang Pembawa Kebaikan dalam segala sesuatunya, karena hal ini menjadi bagian yang terbaik yang seyogyanya dilakukan oleh seluruh individu, dengan memantapkan diri bahwa saya baik dan memang kebaikan saya itu benar, biarkan orang lain mengujinya. Dia tidak baik, saya tidak baik juga kepadanya, akan melenyapkan kesempatan saya untuk membuktikan KEBENARAN bahwa saya memang orang yang benar-benar baik adanya. Menjahati orang yang jahat kepada Anda namanya balas dendam, dendam akan melahirkan dendam, jika tidak ada kesadaran untuk memutus polanya dan mencoba menghadirkan win-win solution. Kebaikan dimulai dari diri sendiri, perasaan cukup dicintai, dipedulikan, dihargai menjadi faktor dominan seseorang memiliki harga diri dan citra diri yang menawan dan tak tergoyahkan, hal ini adalah proses membina diri dan belajar seumur hidup. Seberapa indah dan mahalnya membalas kejahatan dengan kebaikan ? hal ini adalah kekayaan spiritual, hal ini diukur secara rohani sebagai proses pemurnian diri. Bagaikan menaiki anak tangga menuju kepada suatu pencerahan dan wilayah-wilayah yang belum tersentuh. Demikianlah harga dari melakukan kebaikan terhadap hal-hal yang tidak baik, ada terobosan dan perubahan secara signifikan yang akan mempengaruhi paradigma pemikiran dan pandangan kita akan hidup dinamika sosial.



Renungan Hari Sabtu, 14 Agustus 2010

Membantu Saudara Seiman
Roma 12 : 13
Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan
Kita tahu bersama bahwa saudara-saudara kita tengah menderita dan butuh uluran tangan di sana. Sebagian sekarat, sebagian tengah berdukacita luar biasa, sebagian tengah berjuang untuk tetap hidup. Sebagian dari mereka tidak tahu bagaimana masa depan mereka setelah bencana. Sebagian masih mati-matian mencari anggota keluarganya yang hilang. Pedulikah kita terhadap mereka? Mungkin kita tidak mengenal mereka. Mungkin mereka bukanlah orang yang mengenal Kristus. Tapi apakah itu bisa kita jadikan alasan untuk berpangku tangan? Tidak. Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi siapapun tanpa terkecuali. Mungkin kita menerima cibiran ketika membantu, mungkin kita dicurigai punya agenda lain di balik itu, tapi haruskah itu menghentikan kita untuk berbuat baik? Tidak. Sebab apa yang kita lakukan adalah dengan memandang Tuhan dan bukan manusia. Artinya karena kita mengasihi Tuhanlah maka kita rindu untuk melakukan perintahNya, dan perintahNya berbunyi bahwa kita harus siap menolong siapapun tanpa terkecuali, tanpa pilih kasih atau memandang latar belakang mereka.

Salah satu dari dua perintah utama berkata "kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Mengasihi sesamamu manusia, secara luas, tanpa membeda-bedakan siapa dan dari mana mereka berasal. Mengasihi belumlah lengkap jika kita berhenti hanya kepada memberikan simpati saja tanpa perbuatan nyata. Kita merasa sedih melihat para korban, tapi tidak berbuat apa-apa, itu belumlah menunjukkan buah yang baik. Kita harus pula melakukan tindakan nyata, turun tangan membantu mereka dengan apa yang sanggup kita beri atau lakukan. Mungkin kita tidak kenal, mungkin kita tidak pernah bertemu dengan mereka, namun mereka pun berharga di mata Tuhan sama seperti kita. Untuk itulah kita seharusnya terpanggil, tergerak oleh belas kasih untuk berbuat sesuatu bagi mereka.
Memberi tidak akan membuat kita miskin, namun semakin diperkaya kasih karunia Tuhan didalam hidup kita. Dengan berlaku memberi kita sudah bersikap murah hati serta perduli. Berikanlah dengan sukacita apa yang ada dalam diri anda kepada orang yang membutuhkan. Memberi dalam bentuk materi adalah sesuatu yang sangat baik jika mampu melakukannya. Akan tetapi bila belum mampu memberi secara materi, bukankah nasehat, teguran dan pengajaran Firman Tuhan adalah pemberian yang bisa Anda berikan? Semakin banyak memberi, semakin banyak pula pintu berkat yang dibukakan Tuhan bagi kita.


Renungan Hari Jumat, 13 Agustus 2010

Didengarkan Oleh Bapa
Ibrani 5 : 7
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan
Sebelum Yesus kembali ke bumi, dalam siklus waktu akhir jaman ini, Allah merencanakan untuk memanifestasikan pencurahan RohNya atas umatNya di bumi yang akan menggenapi maksud dan tujuanNya untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus dan membawa kita semua menuju kepada "kegenapan waktu" … untuk dipersatukan di dalam Kristus Yesus.
Sebelum masuk ke masa "kegenapan waktu", kita sekarang ini berada di dalam masa pemulihan, di mana Allah akan membimbing kita untuk bertumbuh ke arah tingkatan kerohanian yang sempurna sebagai anak-anakNya. Allah akan memperbaiki posisi rohani kita sebagai tentara-tentaraNya yang 100% berkemenangan. Allah akan memampukan kita untuk merebut kembali apapun yang telah dicuri setan dari hidup kita. Allah akan mengaruniai kita pikiran jernih, Allah akan memampukan kita membedakan ajaran yang benar dan yang tidak benar.

Sebenarnya kita telah menaikkan suatu doa yang penuh kuasa, doa profetik yang setiap saat kita doakan, dan yang dalam Injil Matius 6:9-13 disebut "Doa Bapa Kami". Doa yang diajarkan Yesus dan telah berabad-abad diucapkan oleh umatNya ini memang sepintas tampaknya sangat sederhana. Tetapi sebenarnya inilah doa yang sempurna yang mencakup seluruh elemen yang dibutuhkan untuk menggenapi seluruh rencana Allah.
Tetapi, Yesus tidak hanya berdoa agar Allah membawa kita keluar dari setiap pencobaan dengan kemenangan. Ia mohon agar Allah menghindarkan kita dari pencobaan dan melepaskan kita dari yang jahat, sepertinya Ia memohonkan suatu "pelarian" bagi kita. Mengapa ? Karena Yesus berdoa bagai penggenapan puncak dari segala sesuatu. Ia melihat jauh ke depan dan berdoa tentang hari Pengangkatan
Yesus ingin kita melakukan hal yang sama denganNya. Kita mampu melakukannya, jika kita memelihara hubungan dengan Dia - menerima dariNya hari ini untuk mempersiapkan hari esok ( Yohanes 15:7). Sehingga kita tidak perlu kuatir akan hari esok - selalu berada di tempat dan waktu yang tepat. Dan setiap hari, kita akan berada satu langkah lebih dekat kepada sasaran kita, yaitu penggenapan rencana Allah Bapa yang abadi bagi kita.

Renungan Hari Kamis, 12 Agustus 2010

Sahabat Yesus
Amsal 17 : 17
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran
Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah. Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
Bersikap sebagai sahabat adalah karunia tersendiri. Seorang sahabat adalah dia yang menerima kita sebagaimana adanya. Ia menyelami kelemahan kita dan rela menolong kelemahan itu; sekaligus ia mengagumi keunggulan kita dan mau memetik pelajaran dari keunggulan itu. Hanya orang yang berjiwa besar bisa bersikap bersahabat. Ia bersih dari iri dan dengki. Ia sama sekali tidak punya pikiran untuk menjegal dan menjatuhkan kita. Ia beritikad baik. Yang diinginkannya terjadi pada kita adalah hal yang terbaik untuk kepentingan kita. Kualitas bersahabat seperti itu tidak terdapat pada tiap teman. Kita bisa mempunyai 100 teman, namun teman yang sejati bisa dihitung dengan jari. Sampai puluhan tahun kemudian sahabat sejati seperti itu kita kenang dengan rasa berterima kasih.

Kita dipanggil menjadi sahabat bagi Kristus. Kita tidak hanya dipanggil untuk percaya kepada Kristus, namun juga untuk memadai dan pantas bagiNya! Di sini ada satu hal yang mengganjal di hati kita, yaitu mengenai sebutan “hamba” dan“sahabat”. Dalam Yohanes 15:15 Tuhan Yesus berkata:”Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu.” Walaupun demikian kita masih sering disebut atau menyebut diri sebagai hambaNya (Lukas 17:10, Galatia 1:10, I Korintus 4:1 dan masih banyak lagi). Mengapa demikian Saudara? Sebab menyebut diri, atau disebut sebagai HambaNya sama sekali tidak memalukan, tapi malah sebaliknya kita merasa bangga sebab menjadi hamba yang terhormat.
Menjadi hamba dari Yesus Kristus Allah Putera, yang telah menjadi Juru Selamat dunia! Kalau begitu, kita adalah hamba yang disebut dan diperlakukan sebagai sahabat olehNya. Hamba yang dihargai dalam kata maupun sikap. Bukankah Ia sudah bersedia mengosongkan diri , dan mengambil rupa seorang hamba juga? Bahkan bersedia menjadi lebih hina dari kita? Bila Kristus telah mau solider dengan kita, dan telah menyebut dan memperlakukan kita sebagai sahabatNya, maka kita harus bisa memadai untuk menerima kehormatan itu! Tidak mengecewakan hati, tetapi mewujudkan harapanNya, yaitu menggemari segala informasi sorgawi yang telah boleh kita dengar secara melimpah.

Renungan Hari Rabu, 11 Agustus 2010

Berkorban Dengan Penuh Kasih
Yohanes 15 : 13

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya
Sikap iman pada satu pihak merupakan respon manusia terhadap panggilan, firman dan janji-janji Allah yang belum kelihatan. Mereka percaya penuh dan menyembah kepada Allah yang esa. Tetapi sikap iman juga pada pihak lain merupakan sikap kasih yang bersedia memberi ruang kepada pihak lain agar mereka juga diberikan kesempatan untuk memperoleh pencerahan dan kesadaran secara alamiah. Sikap iman pada hakikatnya sangat sadar bahwa hal percaya atau beriman kepada Allah sesungguhnya menyangkut hubungan yang sangat personal antara manusia dengan sang Pencipta. Karena itu lembaga agama dan massa dari suatu umat tidak boleh melakukan intervensi ke ruang personal tersebut. Sebab manakala lembaga agama atau massa dari suatu umat memaksakan orang lain untuk pindah agama, maka sesungguhnya mereka telah merampas kehormatan dan kesucian iman. Pengorbanan yang paling menjadi favorit adalah pengorbanan untuk pasangan. motivasinya apalagi kalau bukan cinta yang tidak ada habis-habisnya orang mengagung-agunkannya terkadang mengagungkannya diatas segalanya. Film Titanic bisa dijadikan contoh, di film ini menceritakan jack yang menolak untuk berbagi beban kesakitan yang dialaminya dengan terapung di lautan es yang dingin demi Rose sampai ajal akhirnya menjemput jack. Ia berkorban nyawa demi pasangan yang dicintainya. Tepatnya kerelaan berkorban akan menjadi sia-sia dan tanpa makna jikalau tidak didasarkan oleh kesediaan untuk “dilahirkan kembali”. Sebab tanpa dilahirkan kembali, kita akan menggunakan kerelaan berkorban untuk kepentingan diri sendiri sebagai upaya pengumpulan pahala. Akhirnya saya kembali pada pertanyaan, kenapa harus berkorban untuk sahabat? saya tak tahu tapi mungkin dari sahabatlah kita bisa belajar cinta yang sebenarnya karena darinya kita berkorban tanpa pamrih tanpa mengharapkan balasan seperti kita berkorban untuk pasangan kita yang pasti mengharapkan untuk mendapatkan cintanya. Pengorbanan untuk sahabat Tak ada balasan, ikatan, komitmen ataupun paksaan. Sebuah ungkapan bijak berkata, “Jangan pernah tanyakan apa yang Allah telah perbuat kepadamu, tetapi bertanyalah kepada diri Anda sendiri apa yang telah Anda perbuat bagi Allah.” Perbuatan Allah bagi kita orang percaya sudah jelas dan karya terbesarnya adalah tentunya ada dalam Yoh 3:16! Bila Allah telah berkorban bagi kita semua, apakah kita berani berkorban bagi Allah? Bila Allah telah memberikan yang terbaik/yang paling dikasihiNya bagi kita, beranikah kita memberi yang terbaik/yang paling kita kasihi bagi Allah? Adapun pengorbanan yang dapat kita berikan bagi Kerajaan Allah dapat kita wujudkan dalam kehidupan kita melalui hikmat Tuhan.

Renungan Hari Selasa, 10 Agustus 2010

Doa Dari Iman
Yakobus 5 : 14 – 15a
Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia
Minyak urapan bisa kita pakai untuk menyembuhkan orang yang sakit. Namun, jangan terlalu fanatik pada jenis minyak tertentu,. Ada beberapa dari kita, yang menyatakan bahwa minyak zaitun, sangat ditakuti oleh iblis. Hal itu tidak benar, yang iblis takuti ialah doa yang lahir dari iman (Yakobus 5:15). Dalam 1 Raja-raja 19; 1Raja-raj 4; Keluaran 7 Urapan juga kita gunakan untuk mengurapi orang-orang yang telah dipilih oleh Tuhan. Hal yang kita pelajari ialah : Urapan dari siapa yang kita butuhkan? “Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya.” (1 Yohanes 2:20) Dan di dalam Kisah Para Rasul 10:38, menjelaskan bahwa pengurapan dari Yang Maha Kudus yang terpenting buat kita, bukan urapan perseorangan. Mungkin pernah kita mengalami, saat altar call atau pengurapan, kita tidak mendapatkan tempat. Jika itu terjadi janganlah sedih, kecewa atau berkecil hati. Karena bukan orang atau pendeta yang mengurapi kita, namun pengurapan dari Tuhanlah yang kita perlukan. Kalau ditanya urapan untuk siapa? Dalam Perjanjian Lama, urapan hanya diberikan kepada orang-orang tertentu saja yaitu orang-orang yang dipilih Tuhan. Namun, dalam Perjanjian Baru urapan tersebut diberikan kepada kita semua yang mau. Apakah dampak yang terjadi ketika kita menerima urapan? (Mazmur 92) “Mataku memandangi seteruku, telingaku mendengar perihal orang-orang jahat yang bangkit melawan aku.”(ayat 12) Di ayat ini, Musa setelah menerima urapan, ia melihat perkara-perkara supranatural, ia melihat musuhnya dengan hasrat (King James version), ia melihat dengan penuh ambisi. Doa menjadikan iman sebuah kenyataan. Doa yg dinaikkan dengan iman akan menghapuskan kekuatiran di dalam hati Kita, sehingga DOA itu akan mendatangkan mujizat. Tidak Ada yg mustahil bagi orang yang percaya kepadaNya, karena itu tetaplah berdoa dengan penuh kenyakinan & pengharapan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Iman adalah PERCAYA dan YAKIN. Anda mendengar berita Injil dan mempercayai kebenarannya. Karena percaya maka anda yakin bahwa Yesus adalah Mesias yang telah menebus dosa anda. Anda berdoa mengungkapkan keyakinan itu dan mengakuinya di depan jemaat bahkan mengakuinya kepada siapa saja yang anda temui. Anda tidak boleh memegahkan diri karena Allahlah yang mengaruniakan iman itu kepada anda. Bahkan bila hanya mengandalkan minyak urapan saja tanpa iman. Walaupun tidak membanggakan diri namun anda tahu PASTI bahwa Allah MUSTAHIL menyelamatkan tanpa keyakinan anda!

Renungan Hari Senin, 9 Agustus 2010

Kepedulian
Roma 12 : 15
Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis
Menghargai keunikan setiap kita akan memampukan kita untuk menerima diri kita sendiri dan orang lain apa adanya. Mau berbagi dan merayakan kehidupan bersama dengan orang lain. Berbahagia dalam kebahagiaan orang lain, bersedih dalam kesedihan orang lain. inilah yang disebut empati, yaitu mampu memposisikan diri dalam keberadaan orang lain (dalam kesedihan dan pergumulan). banyak orang suka membandingkan apa yang mereka punya dengan apa yang mereka tidak punya. Boro-boro bersukacita, tetapi kita sering bersungut-sungut di tengah kesukaan orang lain. Jika temen kita naik pangkat, kita bingung mencari tahu mengapa kita tidak. Bila orang lain bisa bekerja mapan, kita sering bertanya-tanya mengapa itu tidak terjadi padaku saja. Bila sedang sakit, kita sering bertanya kenapa kog kita yang sakit.
Ketika ada orang yang mengalami masalah, tertimpa musibah atau kejadian buruk, seharusnya kita memberikan simpati, berempati menolong mereka semampu kita, meringankan beban mereka dan jangan malah berpusat pada keuntungan diri sendiri dan bersyukur di atas penderitaan mereka. Turut sepenanggungan, menangis dengan orang yang menangis, dan mengulurkan tangan. Ini termasuk ketika orang-orang yang jahat kepada kita ditimpa kejadian buruk. Kristus mengajarkan kita untuk tidak membenci musuh, apalagi mendendam, tapi sebaliknya kita harus mengasihi dan berdoa bagi mereka. "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44). Bukannya merasa senang dan bersyukur atas kemalangan seteru kita, tapi justru kita diperintahkan untuk menolong ketika mereka tertimpa masalah. "Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya." (Roma 12:20).
Kita memang patut bersyukur atas penyertaan Tuhan atas diri kita, yang menghindarkan kita dari kejadian-kejadian buruk, namun kita harus menjaga agar jangan sampai kita mengabaikan orang lain yang tertimpa masalah. Jangan sampai mensyukuri keuntungan kita di atas kesusahan atau musibah yang menimpa orang lain. Bentuk kasih yang dianugerahkan Tuhan kepada kita bukanlah bentuk kasih yang hanya terfokus kepada diri sendiri saja, namun juga tertuju kepada sesama kita, lewat berbagai bentuk seperti simpati, empati, rasa sepenanggungan, kepedulian dan sebagainya. Alangkah keterlaluannya jika kita mengaku sebagai anak-anak Allah namun kita mengabaikan orang-orang lain yang tengah tertimpa musibah karena kita terlalu sibuk mensyukuri diri sendiri. Apa yang diajarkan firman Tuhan adalah begini: "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!" (Roma 12:15).

Renungan Minggu X Setelah Trinitatis, 08 Agustus 2010

Yesus Gembala Yang Baik
Yohanes 10 : 11 -18
Pada umumnya sebutan gembala dimengerti sebagai orang yang memberi perhatian kepada hewan yang digembalakannya. Gembala mencarikan tempat berumput sehingga hewan gembalaannya bisa merumput, atau mencarikan air sehingga hewannya bisa minum. Waktu saya menjadi gembala, terkandung maksud aku mendapatkan uang dari hewan penggembalaanku. Kalau Yesus menyebut diriNya sebagai Gembala yang baik, saya bisa menangkap isi kehidupan Yesus dibelakang kata-kata itu: yaitu memberikan roti kepada orang yang lapar, orang buta dibuat bisa melihat, orang lumpuh dibuat bisa berjalan, orang kusta disembuhkan, orang mati dihidupkan. Hidup Yesus hanya untuk kesejahteraan orang-orang disekitarnya.
Hendaknya kita ingat bahwa Yesus tidak mengalamatkan kata-kataNya di atas kepada para pengikutNya, tetapi kepada kaum farisi. Jadi ketika mendengar kata-kata Yesus bahwa Ia adalah gembala yang baik, kaum farisi langsung menangkap suatu arti di balik itu yakni bahwa Yesus kini menyamakan diriNya dengan Allah, bahwa Yesus menyebut diriNya sebagai Tuhan. Lebih dari itu, Yesus menempatkan diri dalam posisi yang bertolak belakang dengan kenyataan hidup kaum farisi yang menguras kawanan domba. Di sini Yesus mau menekankan bahwa tugas essensial seorang gembala adalah melayani para domba, bahkan meletakan nyawanya bagi domba-dombanya. "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (Yoh 10; 11).
Bagi Yesus tujuan penggembalaanNya adalah agar umatNya hidup dalam kebenaran, keadilan dan kesejahteraan. Bahkan Dia sebagai gembala yang sangat baik mau mengorbankan nyawaNya bagi domba-dombaNya, agar kita domba-dombaNya berhak atas kehidupan kekal itu bersamaNya.
Yang paling menonjol dari sifat seorang gembala adalah memberi perlindungan kepada domba-dombanya dari serangan binatang buas seperti serigala atau beruang. Hal yang kedua adalah membimbing atau menggiring dombanya ke tempat di mana ada rumput yang banyak. Kemudian gembala memberi minum kepada domba-dombanya. Dan yang terakhir gembala menggiring domba-dombanya kembali masuk ke dalam kandang untuk beristirahat.
Kita bukanlah domba yang tidak ada gembalanya, melainkan kita mempunyai Gembala yang baik yaitu Yesus. Ia yang melindungi, yang memiliki, yang memberi hidup, yang membawa kita ke tempat peristirahatan abadi yaitu di sorga, di Rumah Bapa yang kekal. Meskipun kita menghadapi bahaya apapun, kita tidak perlu takut sebab ada Yesus Gembala kita.
Yesus adalah gembala yang baik, di mana sekaligus juga sebagai pemilik domba-domba. Betapa besarnya kasih-Nya kepada kita, di mana Ia rela dihina, diolok-olok dan disiksa, namun tidak melawan atau membalas. Tapi Ia sebaliknya memohon kepada Bapak-Nya, ampunilah mereka. Apakah kita mampu untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain. Artinya mau atau rela menderita untuk menangung resiko karena membela sesama kita dari gangguan yang jahat? Jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing.
Kalau kita mengandalkan kekuatan kita untuk melakukan apa yang Tuhan Yesus telah memberi teladan kepada kita, maka kita akan gagal. Kita hanya berhasil apabila kita menyandarkan kekuatan kita pada Tuhan.Seperti Daud mengatakan dalam kitab Mazmur, bahwa kekuatannya adalah dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Sehingga kita tidak dapat mengatakan bahwa kita berhasil karena kehebatan kita, melainkan karena Tuhan yang memberi kita keberhasilan.
Dalam Epistel Kitab Yeremia 23 : 1-8 memperlihatkan kepada kita bagaimana Allah kecewa terhadap pemimpin Israel yang hanya memikirkan ambisi pribadi, mengutamakan keselamatan sendiri dan membiarkan umat menjadi korban keganasan, kebuasan dan keserakahan diri mereka sendiri. Mereka bermegah dalam kemampuannya dan kedudukanya sebagai pemimpin, menjanjikan segala perlindungan dan kesejahteraan. Tetapi bila sampai pada waktunya mereka lupa pada orang-orang yang dipimpinnya dan menikmati sendiri hasilnya. Sehingga umat Israel tercerai-berai dalam arti tidak terlindungi, terpelihara dan tercukupi kebutuhannya. Oleh sebab itu, Allah berjanji bahwa suatu saat nanti Ia akan mencari dan mengumpulkan kembali umat Allah yang tercerai-berai akibat perbuatan para pemimpin Israel yang tidak dapat dipercaya itu. Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Dalam yohanes 10:7-16 dinyatakan bahwa gambaran tentang Allah sebagai gembala/pemimpin hidup yang baik bagi manusia itu telah nampak dalam diri Yesus. Yohanes dalam injilnya ini menyatakan bahwa Yesus adalah gembala yang baik. Sebagai gembala yang baik Yesus tidak sama dengan para pemimpin umat Israel saat itu. Dan sebagai gembala yang baik, Yesus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Yesus mengenal domba-dombaNya (Yoh.10: 14) Yesus mengenal kita satu persatu. Ia tahu siapa kita. Ia tahu kelemahan dan kelebisan kita. Ia mengenal kita jauh melebihi pengenalan kita sendiri akan diri sendiri. Ia mengenal kita karena kita berharga dimataNya. Ia mengenal kita karena Ia sungguh-sungguh mengasihi kita. Saudara, bukankah ini sesuatu yang sangat luar biasa buat kita. Bayangkan apa pengaruhnya bagi doa-doa kita. Karena Allah mengenal kita maka kita tidak perlu ragu dalam berdoa. Sebab Ia mengenal kita dan mengetahui dengan pasti apa yang menjadi kebutuhan kita. Dalam pekerjaan kita juga termotivasi sebab kita tahu bahwa Allah memberi potensi khusus bagi kita untuk kita kembangkan. Dalam kehidupan berumah tangga kita juga akan lebih rukun dan sejahtera. Sebab kita tahu ada Allah yang juga mengenal keluarga kita dengan segala suka dan dukanya.
2. Yesus memelihara kita Salah satu ucapan Yesus yang memberikan janji pemeliharaan bagi kita dapat kita baca dalam Lukas 12: 22-24, “…janganlah kamu kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak makan dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu akan apa yang hendak kamu pakai…betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu.” Bahkan dalam kitab Ratapan 3:22-23 dikatakan, “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya selalu baru setiap pagi…” Setiap kita bangun pagi, berkat Allah sudah berlaku dan tersedia bagi kita. Oleh sebab itu, keliru kalau ada orang yang berkata bahwa ia tidak pernah diberkati Tuhan.
3. Memberikan teladan (Yoh.10: 4) Gambaran gembala di Palestina tidak sama dengan gambaran gembala di negeri kita. Seorang gembala di Palestina berjalan di depan dan domba-domba mengikuti kemanapun gembala itu pergi. Seorang gembala benar-benar dijadikan panutan, teladan oleh domba-dombanya. Demikian juga halnya dengan Yesus. Yesus memberikan teladan kepada para murid, dan kepada kita juga, bagaimana bersikap dan bertindak yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.
4. Yesus adalah seorang gembala yang bersikap terbuka terhadap kepelbagaian (Yoh.10: 16) Sebagai Gembala, Yesus mempunyai wawasan yang luas. Ia bukanlah pemimpin yang berpola pikir sempit dan picik. Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,Yohanes lebih lanjut mengatakan bahwa setiap orang yang menerima Yesus sebagai gembala hidupnya akan memperoleh hidup yang berkelimpahan (Yoh.10:10). Apa yang dimaksudkan dengan hidup dalam berkelimpahan dalam ayat ini? Banyak kesalahpahaman terjadi dalam memahami ucapan Yesus ini. Hidup berkelimpahan dalam ini sering dipahami berkelimpahan dalam materi, harta benda, kesuksesan, bebas dari sakit-penyakit dan lain sebagainya. Saudara, hidup berkelimpahan yang dimaksudkan oleh Yesus dalam ayat ini adalah suatu kehidupan yang didalamnya seseorang sungguh-sungguh menyadari siapa dirinya dihadapan Allah serta tahu bagaimana mengisi kehidupannya agar berarti bagi dirinya sendiri, keluarganya dan juga bagi sesamanya manusia. Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Apa yang harus kita lakukan agar kita dapat merasakan pimpinan Allah dan kita mempunyai hidup yang berkelimpahan? Mendengar dan mengenal suara Allah.
Seperti Allah mengenal kita maka kita pun harus mengenal suara Allah agar kita dapat merasakan pimpinanNya (Yoh.10:14). Dengan cara apa kita dapat mendengar dan mengenal suara Allah? Ya, tentu saja dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan. Apakah kita menyediakan waktu khusus pada setiap harinya untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Mengapa kita harus menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan? Mazmur 19: 8 – 9 memberikan jawabnya, yaitu karena “Taurat Tuhan itu sempurna menyegarkan jiwa, peraturan Tuhan itu teguh memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah Tuhan itu tepat menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni membuat mata bercahaya.” Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Yesus adalah gembala yang baik. Siapa yang mau mengikutiNya akan mempunyai hidup yang berkelimpahan. Dalam hidup kita setiap hari, sudahkah kita menunjukkan bahwa kita menjadikan Yesus sebagai gembala kita, Yesus adalah teladan kita. Apabila kita memang menjadikan Yesus sebagai gembala kita maka kita harus mengenal suara Allah, bertindak benar dan bersikap terbuka terhadap kepelbagaian. Bagaimana dengan kita! jadi saudara ku kita ini semua adalah domba domba Tuhan, mari kita turut kepada gembala kita yang baik. gembala kita tau kemana tempat yang aman, tau memelihara kita , tau menjaga kita, tau membawa kita ketujuan yang pasti terbaik bagi kita.

Renungan Hari Sabtu, 7 Agustus 2010

Keadilan Tuhan
2 Korintus 5 : 10
Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengerti bahwa tujuan hidup kita sebagai org Kristen bukan hanya di dunia ini, Paulus berkata : 1 Kor 15:19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Artinya kita boleh meraih kebahagiaan, kekayaan dan kehormatan di dunia ini, tetapi semua itu jangan menjadi tujuan akhir kita, jika itu kita jadikan tujuan akhir maka mungkin saja kita akan menghalalkan segala cara untuk meraih itu, namun kita harus ingat ada tujuan kita yang lebih besar yaitu kehidupan yang kekal bersama Kristus. Tujuan itu akan kita capai dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik selama kita ada di dunia ini, kesempatan kita berbuat baik hanya ada pada saat kita masih hidup, oleh karena itu jangan sia-siakan kesempatan itu.

Kita Akan Menghadap Tahta Pengadilan Kristus Hal berikutnya dalam kronologi kedatangan Tuhan kita ketika kita diangkat untuk bersama Tuhan kita di Sorga adalah bahwa kita semua akan berdiri di hadapan bema. 2 Korintus 5:10: “Sebab kita semua harus menghadap Tahta Pengadilan Kristus. Tahta Pengadilan Kristus adalah takhta pengadilan Kristus. “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Penghakiman di sini tidak berhubungan dengan apakah kita sudah diselamatkan atau terhilang, karena penghakiman untuk itu terjadi di dunia ini dan sekarang ini. Masalah apakah saya sudah diselamatkan atau masih terhilang, itu adalah masalah sekarang ini. Yohanes 3:18 berkata: “Barangsiapa tidak percaya,” – anda memiliki ini diterjamahkan “telah dihukum”, telah diadili. “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Penghakiman untuk itu di dunia. Sekarang ini. Apakah Anda sudah diselamatkan atau masih terhilang. Penghakiman untuk ini terjadi sekarang di dunia ini.
Tetapi penghakiman Tahta Pengadilan Kristus terjadi ketika kita diangkat untuk bersama dengan Tuhan kita di Sorga. Kita semua akan menghadap tahta pengadilan Kristus, untuk menerima upah dari apa yang telah kita lakukan selagi masih hidup. Dan beberapa dari kita akan memperoleh upah yang besar. Seperti Paulus menulis dalam 1 Korintus pasal ketiga tentang masalah orang yang membangun di atas Kristus. Beberapa orang membangun dengan emas dan perak dan batu permata. Kemudian ada orang-orang yang membangun di atas dasar keselamatan kita, dari kayu, rumput kering dan jerami. Dan Paulus berkata itu akan diuji dengan pembakaran. Pekerjaan kita akan diuji dengan api. Dan ketika seseorang membangun dengan begitu indah dan luar biasa, ia akan memperoleh upah. Tetapi jika pekerjaannya tidak layak, maka pekerjaannya akan terbakar, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api. Betapa tragisnya ketika kita mengakhiri hidup dan dalam kekekalan tidak memiliki sesuatu untuk ditunjukkan yaitu apa yang telah kita lakukan bagi Kristus!

Jamita Epistel XV Dung Trinitatis, 13 September 2026

DEBATA PATUPA HALONGANGAN TU BANGSONA (Tuhan Melakukan Perbuatan Besar Bagi Umat-Nya) 1 Petrus 2: 1 - 10   1. Huria ni Tuhanta na h...