Jumat, 13 Agustus 2010

Renungan Hari Jumat, 6 Agustus 2010

Berlaku Adil
Kolose 4 : 1
Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.
Pelanggaran terhadap Hak Azasi Manusia seringkali terjadi dari atasan kepada bawahan. Hal yang melatarbelakangi mengapa atasan bersikap demikian sedikit banyak ditentukan bagaimana cara memandang bawahannya. Seringkali atasan menempatkan bawahan hanya sebagai 'barang/milik' yang bisa diperlakukan semaunya, dan bukan sebagai sesama manusia. Atasan merasa dengan uang dan kekuasaan yang dimilikinya, ia bebas memperlakukan bawahannya sekehendak hatinya.
Semua orang pasti berusaha memperoleh penghargaan dari orang lain; apa pun caranya pasti akan ditempuh. Namun dalam hal memberikan penghargaan kepada orang lain, tidak semua orang mau melakukannya. Contoh nyata adalah hubungan antara tuan dengan hamba, atasan terhadap bawahan. Seorang tuan/atasan selalu ingin dihargai dan dihormati, tetapi belum tentu mau memberikan penghargaan kepada bawahan atau hambanya meskipun mereka sudah bekerja keras dan melakukan yang terbaik. Bukankah ini seringkali terjadi di sekitar kita? Seorang tuan/atasan bertindak semena-mena terhadap bawahannya, bahkan cenderung memandang rendah. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita, ”Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu;” (ayat 1a), jangan hanya menuntut penghargaan dari bawahan.

Berlakulah jujur dan adil terhadap orang- orang yang di bawah kita, karena kita juga punya Tuan yang di surga yang selalu bermurah hati kepada kita, yaitu Tuhan, Allah kita. Adakah kita selalu berlaku adil dan jujur terhadap karyawan kita? Pastikan, bahwa kita selalu bertindak adil dan jujur terhadap mereka. Ingat, ketika kita menganggap apa yang sesungguhnya tidak adil bagi karyawan kita adalah hal yang adil, maka ukuran tersebut juga yang akan diukurkan kepada kita, bahkan lebih berat lagi. Alkitab menulis, “Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan disamping itu akan ditambah lagi kepadamu.” (Markus 4:24 / Mk 4:24). Karena itu, marilah kita selalu berlaku adil dan jujur terhadap bawahan atau karyawan kita.

Renungan Hari Kamis , 5 Agustus 2010

Penebusan Tuhan
Zefanya 2 : 2 -3
Sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN. Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN
Semua orang telah berdosa. Tidak ada satu orang pun yang dapat memenuhi persyaratan Tuhanyang sempurna. Manusia harus menemukan penggantinya. Pengganti kita adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus pergi ke Kalvari untuk memenuhi tuntutan kebenaran Tuhandan untuk menarik murka-Nya atas kita. Yesus Kristus sangat cocok untuk melakukan penebusan ini karena Dia adalah Manusia yang sempurna, Manusia tak berdosa. Pada saat Yesus Kristus menawarkan diri-Nya sebagai Penebus kita, Dia melakukannya sebagai Seseorang yang menanggung dosa-dosa kita. Jadi, Yesus menggantikan kita menanggung maut. Selain itu, saat Dia memberikan diri-Nya sendiri kepada Tuhan sebagai Penebus dosa-dosa kita, Dia menampilkan diri-Nya sendiri sebagai Seseorang yang telah memenuhi tuntutan kebenaran Tuhan demi kita.
“Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya.Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi” (Ul 4:5-6).

Kita, bangsa Indonesia, kiranya termasuk bangsa besar, namun apakah seluruh bangsa bijaksana dan berakal budi rasanya perlu dipertanyakan. Jika memperhatikan dan mencermati masih maraknya pertentangan, tawuran, korupsi, dst.. nampaknya secara keseluruhan boleh dikatakan bahwa kita masih harus mengupayakan dan memperdalam hal ‘bijaksana dan berakal budi’.
Di sepanjang hidup-Nya, Yesus menaati mandat Bapa untuk menderita bagi umat-Nya dan menaati hukum atas nama mereka. Dia tidak menyerah terhadap tekanan yang mendesak-Nya untuk meninggalkan tugas-Nya. Dia memenuhi misi-Nya, bahkan saat Dia mengetahui bahwa misi tersebut mengharuskan-Nya untuk menanggung murka Bapa. Yesus berhasil menuntaskan misi tersebut. Di kayu salib, Dia berteriak, "Sudah selesai." Penebusan telah terpenuhi. Arti sesungguhnya dari hal ini adalah bahwa Yesus sungguh dan secara efektif menghapuskan murka Tuhandan membawa perdamaian antara Tuhandan manusia. Di kematian-Nya, Dia telah mencurahkan darah-Nya untuk menutupi dosa-dosa kita sehingga Tuhantidak lagi menghukum kita dengan maut. Dalam kematian Kristus, kita sungguh-sungguh dibebaskan. Kita dapat mengatakan bahwa penebusan-Nya efektif; yakni, penebusan ini sungguh menyelamatkan kita dari murka Tuhan, karena kalau tidak, kita pasti sudah masuk neraka.


Renungan Hari Rabu, 4 Agustus 2010

Menaati Hukum Tuhan
Yesaya 56 : 1b -2a
Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan. Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya
Hukum tetap adalah hukum. Hukum tetap menjadi standar penghakiman bagi orang tidak percaya. Bagaimana mungkin Allah menghukum orang berdosa tanpa adanya satu standar keadilan? Karena dosa adalah pelanggaran hukum Allah. Hukum akan menuntun kepada kasih. Kasih akan terwujud melalui hukum. Apakah kita bisa menghukum tanpa mengasihi? Bisa. Apakah kita bisa mengasihi tanpa menghukum? Bisa. Apakah kita bisa mengasihi tanpa hukum? Tidak bisa. ALLAH adalah KASIH. Itulah hakekat dari Allah. Tetapi Allah juga adalah kebenaran. Sifat Benar dan Kasih tidak bertentangan satu dengan yang lain, juga tidak saling meniadakan. Bagaimana mungkin kasih Allah mengingkari hukum Allah dan sebaliknya? Jadi mana yang lebih tinggi, Kasih atau hukum? Di dalam sifat Allah, apakah kasih lebih tinggi dari keadilan Allah? Apakah kasih Allah lebih tinggi dari murka Allah? Adakah Allah menetapkan standar jenjang pada sifatNya sendiri? Mengasihi tanpa ada aturan itu adalah kasih yang semu. Kasih yang tak terarah. Allah mengasihi kita, karena itu Allah memberikan LARANGAN kepada Adam dan Hawa. Allah mengasihi kita, karena itu Allah memberikan Hukum Taurat. Allah mengasihi kita, karena itu Allah memperingati kita dan memberikan ajaranNya. Allah mengasihi kita, karena itu Allah menyesah dan menghajar kita.

“Veni, vedi, vici” (= “Aku datang, aku melihat, aku menang”), demikian motto Jendral Cicero, zaman Romawi Kuno, dalam menghayati jabatan dan melaksanakan tugas pengutusannya sebagai komandan tempur/perang. Motto ini kiranya baik kita jadikan motto kita selaras dengan sabda Yesus “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Di dalam hidup dan kerja bersama senantiasa ada aturan atau tatanan yang harus kita taati dan laksanakan, maka marilah kita laksanakan aturan atau tatanan tersebut dengan sepenuh hati dan kesetiaan.

Renungan Hari Selasa, 3 Agustus 2010

Hakimi Dengan Adil
Yohanes 7 : 24
Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.
Yesus hanya mau kita berlaku adil bila kita memang mau menghakimi. Kita boleh menghakimi sesama bila ada bukti kuat yang memberatkan mereka dan kita punya maksud baik demi kebaikan mereka. Kita tidak boleh mencari-cari alasan hanya untuk memberi gambaran negatif terhadap sesama. Keseharian kita menunjukkan bahwa sering kita begitu mudah menghakimi sesamanya tanpa alasan yang jelas dan kuat. Selain itu kita lebih mudah melihat kesalahan, kekurangan sesama, lebih mudah mengeritik mereka ketimbang mengakui kesalahan diri sendiri; serbuk di mata sesama lebih besar dari balok yang mem-bendung penglihatan kita. Dalam banyak hal kita berlaku tidak adil terhadap sesama.
Jangan menghakimi, kata-kata ini tidak dimaksud agar kita membiarkan orang lain berbuat sesuka mereka. Kita hanya diminta untuk berlaku adil dalam membuat penghakiman. Kalau kita begitu gampang menghakimi sesama, kita juga harus lebih mudah memohon pengampunan atas salah dan dosa yang kita lakukan kepada mereka. Selain itu, kita mesti punya alasan yang kuat untuk melakukan hal ini terhadap sesama. Di samping itu kita sendiri diminta untuk bersikap adil terhadap diri sendiri; di hadapan hukum semua sama. Kita perlu berhati-hati karena kita punya potensi untuk melanggar hukum dan aturan yang ada jangan sampai tindakan kita kepada sesama jadi bumerang bagi diri kita. Mungkin baik sebelum mengeluarkan serbuk dalam mata sesama kita keluarkan terlebih dahulu balok yang ada di mata kita.

Setiap manusia pasti akan mendapatkan hukuman karena dosanya. Tapi Tuhan tidak tega melihat seluruh manusia binasa, sehingga Tuhan mengorbankan diriNya menanggung dosa manusia. Manusia yang mau menerima penggantian hukuman ini menerima keselamatan.
Saudaraku, Janganlah membiarkan dosa turun-temurun yang selalu mendarah daging pada diri kita manusia dari nenk moyang kita yang terus menghantui dan memutuskan hubungan dan kasih Allah kepada kita. Namun, Milikilah Kasih yang dikaruniakan turun-temurun dari Allah Bapa yang maha adil dalam segala hal dan diturunkan Kepada Tuhan Yesus Anak-Nya yang tunggal dan sekarang diturunkan kepada kita manusia yang percaya kepada-Nya.


Renungan Hari Senin, 2 Agustus 2010

Menghargai Milik Orang Lain
Ulangan 19 : 14
"Janganlah menggeser batas tanah sesamamu yang telah ditetapkan oleh orang-orang dahulu di dalam milik pusaka yang akan kaumiliki di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milikmu.
Menurut teori, orang Israel sudah melangkah di jalan yang benar. Mereka sudah masuk Kanaan dan sudah mendirikan Kemah Pertemuan di Silo. Faktanya, dari dua belas suku Israel, masih ada tujuh suku yang belum mendapat tanah pusaka. Berarti mayoritas belum benar-benar menikmati kelimpahan berkat di tanah Kanaan yang seharusnya menjadi hak mereka. Padahal untuk mencapai Kanaan, mereka sudah menyeberangi sungai Yordan, artinya dibaptis ROH KUDUS. Memiliki tanah pusaka di Kanaan merupakan janji TUHAN bagi semua orang Israel, bukan hanya bagi segelintir orang saja. Suku-suku Israel yang belum memiliki tanah pusaka di Kanaan ini adalah wakil orang Kristen yang baru mendengar kesaksian orang lain menerima berkat TUHAN, tapi belum mengalaminya secara pribadi. Suku Dan (salah satu suku Israel) masih mencari milik pusaka, ini gambaran orang Kristen yang baru mendengar orang lain menerima berkat, tetapi dirinya sendiri belum menerima berkat TUHAN. Apa yang harus dilakukan suku Dan? Bersiaplah. Itulah yang harus dilakukan orang Kristen dalam beribadah.

ALLAH sudah menyerahkan tanah Kanaan bagi orang Israel. Bodoh bila mereka -juga kita- tidak segera mendudukinya. Tanah Kanaan adalah tempat di mana tidak ada kekurangan apapun. Berarti kekurangan yang kita alami akan dicukupi oleh TUHAN kalau kita telah menduduki tanah Kanaan.
Marilah kita tugaskan iman, pengharapan dan kasih yang ada di dalam hati kita “menjelajahi negeri Kanaan” untuk menentukan daerah mana yang kita pilih menjadi milik pusaka. Iman, pengharapan dan kasih tidak timbul begitu saja. Ketiga unsur penting itu timbul dan bertumbuh kalau kita mendengar Firman TUHAN yang bersumber dari hamba TUHAN yang diurapi.
“Sekadar milik pusaka masing-masing” lebih tepat jika dilihat dari terjemahan NIV “according to the inheritance of each” atau sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kebutuhan dan selera tiap anak TUHAN berbeda. Karena itu TUHAN memberi hak penuh bagi anak-anak-NYA untuk memilih, “mencatat” dan mengajukannya kepada TUHAN. Itu berarti setelah kita memutuskan memilih yang ini atau yang itu, barulah kita mendoakan pilihan itu agar dikabulkan oleh TUHAN.
Yosua kemudian membuang undi untuk menentukan bagian masing-masing suku. Padahal, mereka sebelumnya diminta mencatat tanah mana yang mereka pilih. Sepertinya pekerjaan mereka mencatat dan mengitari seluruh wilayah Kanaan hanya membuang energi saja, karena toh akan ditentukan melalui undian. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan seperti itu.
Orang Kristen diberi kebebasan TUHAN untuk memilih. Dan kita jangan takut memilih. Sebab seandainya saja pilihan kita salah, keputusan terakhir tetap berada di tangan TUHAN, dan DIA pasti akan memberikan keputusan yang terbaik bagi kita.
Hasilnya, setelah diundi, Yosua membagi-bagikan wilayah Kanaan sebagai milik pusaka sesuai dengan pembagian mereka. Artinya wilayah yang tadinya mereka diajukan sebagai milik pusaka mereka dikabulkan. Namun jika di antara ketujuh suku Israel yang belum mendapat bagian tanah Kanaan tidak mau berkeliling dan tidak mau mencatat, tentu mereka tidak akan mendapat bagian. Tugas kita adalah “mencatat” dengan detail dan mengajukannya kepada TUHAN.
Allah tidak menghendaki ketidakadilan, termasuk dalam kepemilikan tanah. Allah menghendaki agar umat-Nya menghargai hak milik orang lain tanpa memandang bulu. Sebagai umat Allah, kita perlu belajar menghargai hak milik orang lain. Perintah Allah sangat jelas, yaitu agar kita tidak berambisi untuk memiliki hak milik orang lain. Perlu dipahami bahwa uraian ini tidak berkaitan dengan masalah jual beli, tetapi berkaitan dengan masalah pelanggaran hak milik. Kita tidak boleh dengan sengaja memperdaya orang yang lemah agar hak miliknya dapat kita kuasai. Kita harus ingat bahwa Allah selalu menuntut keadilan.


Renungan Hari Minggu IX Setelah Trinitatis, 1 Agustus 2010

Yesus Gembala Yang Baik
Yohanes 10 : 11 -18
Pada umumnya sebutan gembala dimengerti sebagai orang yang memberi perhatian kepada hewan yang digembalakannya. Gembala mencarikan tempat berumput sehingga hewan gembalaannya bisa merumput, atau mencarikan air sehingga hewannya bisa minum. Waktu saya menjadi gembala, terkandung maksud aku mendapatkan uang dari hewan penggembalaanku. Kalau Yesus menyebut diriNya sebagai Gembala yang baik, saya bisa menangkap isi kehidupan Yesus dibelakang kata-kata itu: yaitu memberikan roti kepada orang yang lapar, orang buta dibuat bisa melihat, orang lumpuh dibuat bisa berjalan, orang kusta disembuhkan, orang mati dihidupkan. Hidup Yesus hanya untuk kesejahteraan orang-orang disekitarnya.
Hendaknya kita ingat bahwa Yesus tidak mengalamatkan kata-kataNya di atas kepada para pengikutNya, tetapi kepada kaum farisi. Jadi ketika mendengar kata-kata Yesus bahwa Ia adalah gembala yang baik, kaum farisi langsung menangkap suatu arti di balik itu yakni bahwa Yesus kini menyamakan diriNya dengan Allah, bahwa Yesus menyebut diriNya sebagai Tuhan. Lebih dari itu, Yesus menempatkan diri dalam posisi yang bertolak belakang dengan kenyataan hidup kaum farisi yang menguras kawanan domba. Di sini Yesus mau menekankan bahwa tugas essensial seorang gembala adalah melayani para domba, bahkan meletakan nyawanya bagi domba-dombanya. "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (Yoh 10; 11).
Bagi Yesus tujuan penggembalaanNya adalah agar umatNya hidup dalam kebenaran, keadilan dan kesejahteraan. Bahkan Dia sebagai gembala yang sangat baik mau mengorbankan nyawaNya bagi domba-dombaNya, agar kita domba-dombaNya berhak atas kehidupan kekal itu bersamaNya.

Yang paling menonjol dari sifat seorang gembala adalah memberi perlindungan kepada domba-dombanya dari serangan binatang buas seperti serigala atau beruang. Hal yang kedua adalah membimbing atau menggiring dombanya ke tempat di mana ada rumput yang banyak. Kemudian gembala memberi minum kepada domba-dombanya. Dan yang terakhir gembala menggiring domba-dombanya kembali masuk ke dalam kandang untuk beristirahat.
Kita bukanlah domba yang tidak ada gembalanya, melainkan kita mempunyai Gembala yang baik yaitu Yesus. Ia yang melindungi, yang memiliki, yang memberi hidup, yang membawa kita ke tempat peristirahatan abadi yaitu di sorga, di Rumah Bapa yang kekal. Meskipun kita menghadapi bahaya apapun, kita tidak perlu takut sebab ada Yesus Gembala kita.
Yesus adalah gembala yang baik, di mana sekaligus juga sebagai pemilik domba-domba. Betapa besarnya kasih-Nya kepada kita, di mana Ia rela dihina, diolok-olok dan disiksa, namun tidak melawan atau membalas. Tapi Ia sebaliknya memohon kepada Bapak-Nya, ampunilah mereka. Apakah kita mampu untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain. Artinya mau atau rela menderita untuk menangung resiko karena membela sesama kita dari gangguan yang jahat? Jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing.
Kalau kita mengandalkan kekuatan kita untuk melakukan apa yang Tuhan Yesus telah memberi teladan kepada kita, maka kita akan gagal. Kita hanya berhasil apabila kita menyandarkan kekuatan kita pada Tuhan.Seperti Daud mengatakan dalam kitab Mazmur, bahwa kekuatannya adalah dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Sehingga kita tidak dapat mengatakan bahwa kita berhasil karena kehebatan kita, melainkan karena Tuhan yang memberi kita keberhasilan.
Dalam Epistel Kitab Yeremia 23 : 1-8 memperlihatkan kepada kita bagaimana Allah kecewa terhadap pemimpin Israel yang hanya memikirkan ambisi pribadi, mengutamakan keselamatan sendiri dan membiarkan umat menjadi korban keganasan, kebuasan dan keserakahan diri mereka sendiri. Mereka bermegah dalam kemampuannya dan kedudukanya sebagai pemimpin, menjanjikan segala perlindungan dan kesejahteraan. Tetapi bila sampai pada waktunya mereka lupa pada orang-orang yang dipimpinnya dan menikmati sendiri hasilnya. Sehingga umat Israel tercerai-berai dalam arti tidak terlindungi, terpelihara dan tercukupi kebutuhannya. Oleh sebab itu, Allah berjanji bahwa suatu saat nanti Ia akan mencari dan mengumpulkan kembali umat Allah yang tercerai-berai akibat perbuatan para pemimpin Israel yang tidak dapat dipercaya itu. Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Dalam yohanes 10:7-16 dinyatakan bahwa gambaran tentang Allah sebagai gembala/pemimpin hidup yang baik bagi manusia itu telah nampak dalam diri Yesus. Yohanes dalam injilnya ini menyatakan bahwa Yesus adalah gembala yang baik. Sebagai gembala yang baik Yesus tidak sama dengan para pemimpin umat Israel saat itu. Dan sebagai gembala yang baik, Yesus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Yesus mengenal domba-dombaNya (Yoh.10: 14) Yesus mengenal kita satu persatu. Ia tahu siapa kita. Ia tahu kelemahan dan kelebisan kita. Ia mengenal kita jauh melebihi pengenalan kita sendiri akan diri sendiri. Ia mengenal kita karena kita berharga dimataNya. Ia mengenal kita karena Ia sungguh-sungguh mengasihi kita. Saudara, bukankah ini sesuatu yang sangat luar biasa buat kita. Bayangkan apa pengaruhnya bagi doa-doa kita. Karena Allah mengenal kita maka kita tidak perlu ragu dalam berdoa. Sebab Ia mengenal kita dan mengetahui dengan pasti apa yang menjadi kebutuhan kita. Dalam pekerjaan kita juga termotivasi sebab kita tahu bahwa Allah memberi potensi khusus bagi kita untuk kita kembangkan. Dalam kehidupan berumah tangga kita juga akan lebih rukun dan sejahtera. Sebab kita tahu ada Allah yang juga mengenal keluarga kita dengan segala suka dan dukanya.
2. Yesus memelihara kita Salah satu ucapan Yesus yang memberikan janji pemeliharaan bagi kita dapat kita baca dalam Lukas 12: 22-24, “…janganlah kamu kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak makan dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu akan apa yang hendak kamu pakai…betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu.” Bahkan dalam kitab Ratapan 3:22-23 dikatakan, “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya selalu baru setiap pagi…” Setiap kita bangun pagi, berkat Allah sudah berlaku dan tersedia bagi kita. Oleh sebab itu, keliru kalau ada orang yang berkata bahwa ia tidak pernah diberkati Tuhan.
3. Memberikan teladan (Yoh.10: 4) Gambaran gembala di Palestina tidak sama dengan gambaran gembala di negeri kita. Seorang gembala di Palestina berjalan di depan dan domba-domba mengikuti kemanapun gembala itu pergi. Seorang gembala benar-benar dijadikan panutan, teladan oleh domba-dombanya. Demikian juga halnya dengan Yesus. Yesus memberikan teladan kepada para murid, dan kepada kita juga, bagaimana bersikap dan bertindak yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.
4. Yesus adalah seorang gembala yang bersikap terbuka terhadap kepelbagaian (Yoh.10: 16) Sebagai Gembala, Yesus mempunyai wawasan yang luas. Ia bukanlah pemimpin yang berpola pikir sempit dan picik. Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,Yohanes lebih lanjut mengatakan bahwa setiap orang yang menerima Yesus sebagai gembala hidupnya akan memperoleh hidup yang berkelimpahan (Yoh.10:10). Apa yang dimaksudkan dengan hidup dalam berkelimpahan dalam ayat ini? Banyak kesalahpahaman terjadi dalam memahami ucapan Yesus ini. Hidup berkelimpahan dalam ini sering dipahami berkelimpahan dalam materi, harta benda, kesuksesan, bebas dari sakit-penyakit dan lain sebagainya. Saudara, hidup berkelimpahan yang dimaksudkan oleh Yesus dalam ayat ini adalah suatu kehidupan yang didalamnya seseorang sungguh-sungguh menyadari siapa dirinya dihadapan Allah serta tahu bagaimana mengisi kehidupannya agar berarti bagi dirinya sendiri, keluarganya dan juga bagi sesamanya manusia. Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Apa yang harus kita lakukan agar kita dapat merasakan pimpinan Allah dan kita mempunyai hidup yang berkelimpahan? Mendengar dan mengenal suara Allah.
Seperti Allah mengenal kita maka kita pun harus mengenal suara Allah agar kita dapat merasakan pimpinanNya (Yoh.10:14). Dengan cara apa kita dapat mendengar dan mengenal suara Allah? Ya, tentu saja dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan. Apakah kita menyediakan waktu khusus pada setiap harinya untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Mengapa kita harus menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan? Mazmur 19: 8 – 9 memberikan jawabnya, yaitu karena “Taurat Tuhan itu sempurna menyegarkan jiwa, peraturan Tuhan itu teguh memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah Tuhan itu tepat menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni membuat mata bercahaya.” Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Yesus adalah gembala yang baik. Siapa yang mau mengikutiNya akan mempunyai hidup yang berkelimpahan. Dalam hidup kita setiap hari, sudahkah kita menunjukkan bahwa kita menjadikan Yesus sebagai gembala kita, Yesus adalah teladan kita. Apabila kita memang menjadikan Yesus sebagai gembala kita maka kita harus mengenal suara Allah, bertindak benar dan bersikap terbuka terhadap kepelbagaian. Bagaimana dengan kita! jadi saudara ku kita ini semua adalah domba domba Tuhan, mari kita turut kepada gembala kita yang baik. gembala kita tau kemana tempat yang aman, tau memelihara kita , tau menjaga kita, tau membawa kita ketujuan yang pasti terbaik bagi kita.

Rabu, 11 Agustus 2010

Renungan Hari Sabtu, 31 Juli 2010

Prinsip Kerja Keras
2 Timotius 2 : 5 - 6

Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya
Seorang olahragawan harus bertanding sesuai dengan aturan yang berlaku, jika tidak ia akan kena diskualifikasi. Di dalam pelayanan, hal ini juga berlaku. Apakah kita mengikuti aturan-aturan rohani yang ada? Apakah kita mengerti jalan-jalanNya? Bangsa Israel tidak masuk ke Tanah Perjanjian karena mereka tidak mengenal jalan-jalanNya (ways of God atau cara kerjaNya). Mereka punya janji Tuhan untuk masuk ke Tanah Perjanjian, tetapi mereka tidak mengerti cara kerjaNya sehingga mereka tidak masuk ke tanah tersebut.
seorang olahragawan adalah mereka bertanding dengan sasaran untuk menang. Mereka tidak bertanding karena partisipasi, tetapi mereka bertanding untuk menjadi juara. Karena itu mereka berlatih dengan segenap hati selama bertahun-tahun untuk bisa merebut mahkota dalam suatu pertandingan yang mengkin cuma diadakan beberapa tahun sekali. Paulus mengatakan hal ini dalam I Korintus 9:24, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” Bagaimana dengan kita? Apakah kita pelayanan hanya sekedarnya? Hanya partisipasi? Kita tidak harus full time, tetapi apakah setiap tugas yang dipercayakan sudah kita kerjakan dengan sungguh-sungguh? Bukankah dari Tuhan kita akan menerima bagian yang ditentukan sebagai upah? “Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (Kolose 3:24).

kita pelajari dari petani adalah prinsip menabur. Petani mengerti prinsip ini sehingga ia rela menunggu untuk waktu yang cukup lama agar benih yang ia tabur bisa bertumbuh dan menghasilkan tuaian. Ini prinsip iman. Apa yang kita kerjakan selama beberapa waktu mungkin tidak terlihat hasilnya. Tetapi jika kita tahu bahwa hal itu kita kerjakan dalam ketaatan kepada Dia, maka pada waktunya kita akan menuai.
Seorang petani mengerti bahwa untuk memperoleh tuaian, ia harus menabur dulu. Ia harus punya modal, kemudian ia harus menyirami terus benih yang telah ditaburnya dan menjaganya siang malam dari serangan hama atau hewan-hewan tertentu yang bisa mengancam panennya. Seorang petani mengerti prinsip ketekunan. Seorang petani mengeri prinsip kerja keras. Apakah anda cukup tekun? Apakah anda seorang pekerja keras? Paulus berkata, seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasilnya. Petani harus menjadi dasar bagi apapun yang kita kerjakan untuk bisa menyenangkan Dia, Tuhan di atas segala tuan, Raja di atas segala raja. Amin


Renungan Hari Jumat, 30 Juli 2010

Harta Abadi
Amsal 27 : 24 a
Karena harta benda tidaklah abadi
Kesenangan yang kita nikmati tidak dapat memuaskan hati kita. Tetapi jika kita memiliki TUHAN, maka kita akan merasakan sesuatu yang sangat berarti, yaitu berkat damai sejahtera dan kebahagiaan yang datang dari TUHAN. Berkat ini tidak dapat dibeli oleh uang ataupun kekayaan yang kita miliki di dunia ini, sebab tidak ternilai harganya. Di samping itu damai sejahtera dan kebahagiaan itu berasal dari TUHAN dan hanya dimiliki oleh TUHAN. Sekalipun demikian, berkat yang luar biasa itu akan diberikan kepada orang-orang yang percaya kepadaNYA dengan cuma-cuma. Karena itu jangan pernah kita kecewa ataupun goyah jika dalam hidup ini kita mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan.

Harta benda yang diperoleh dengan jalan yang tidak halal tidak akan pernah berguna karena hasilnya tidak dapat kita nikmati. Tetapi kebenaran, yaitu Firman ALLAH, akan menyelamatkan manusia dari maut. Dalam Amsal 21 : 20 dituliskan "Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya." Firman itu adalah harta yang sangat indah yang tinggal di dalam hati orang yang percaya kepadaNYA. Namun demikian, tidak semua orang mau memilikinya, bahkan orang yang bebal tidak menghargai harta itu, tetapi menyia-nyiakannya. Kita dihadapkan pada dua pilihan: menggunakan cara yang mudah tetapi tidak berkenan kepada ALLAH dan mendatangkan kebinasaan; atau hidup dalam kebenaran Firman yang memang lebih sukar untuk dilakukan. Tetapi orang yang menghargai kebenaran Firman akan mendapatkan kebahagiaan kekal, yang menyelamatkannya dari kematian kekal. Sebab itulah harta yang abadi bagi orang percaya.



Renungan Hari Kamis, 29 Juli 2010

Tuhan Sumber Kekayaan
1 Tawarik 29 : 12
Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya
Dalam bukunya ”Leadership; Breaking to The Next Level”, Zig Ziglar mengatakan seperti ini: “Kurang dari 1 persen dari seluruh jutawan di Amerika yang merupakan atlet atau penghibur professional. Mayoritas dari mereka yang menjadi kaya raya ini meraih kekayaannya dengan cara kuno. Mereka mendapat pendidikan, memulai dari anak tangga paling bawah, dan perlahan-lahan melewati jangka waktu tertentu, berhasil mencapai puncaknya... Cara terbaik untuk memperoleh kekayaan adalah dengan cara yang kuno, Anda harus mengusahakannya” . Cara ini terbukti sangat manjur dan sudah digunakan dari zaman dahulu kala. Penulis kitab Amsal ribuan tahun yang lalu menulis, ”tangan orang yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya”.
Kalau kita membuka hati kita kepada TUHAN dan menengadahkan tangan kepadaNYA, maka segala beban kita akan dilepaskan oleh TUHAN. Seperti yang difirmankan TUHAN dalam Matius 11 : 28 bahwa IA akan memberikan kelegaan bagi setiap orang yang letih lesu dan berbeban berat yang datang kepadaNYA.

Namun seringkali kita tidak menyambut uluran tangan TUHAN dengan menyimpan beban dan ketidak-puasan di dalam hati kita. Karena itu kita harus membuka hati kita untuk jujur kepada diri sendiri, kepada TUHAN dan kepada orang yang ada di sekeliling kita. Jujur terhadap diri sendiri maksudnya adalah kita hidup sebagaimana adanya diri kita saat ini. Contohnya: ketika di dalam keadaan kekurangan, kita tidak malu menampilkan diri kita apa adanya, bukan bertingkah laku layaknya orang kaya. Kalau kita berani jujur maka kita tidak akan pernah merasa malu, akan berdiri teguh dan tidak takut.
Kekayaan secara kasat mata tidak pernah turun dari langit, ia harus didapatkan atau dalam hal ini diusahakan. Namun, perlu diingat, bawa serta Tuhan ketika Anda sedang mengerjakannya. Jangan andalkan kekuatan sendiri. Dengan begitu, Allah tidak akan segan-segan terus memberkati kehidupan Anda.

Renungan Hari Rabu, 28 Juli 2010

Perlindungan Tuhan Atas Kekayaan Kita
Amsal 11 : 24
Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan
Ada orang yang banyak mendapat berkat namun tidak menjadi kaya raya. Kenapa? Itu karena berkat itu tidak dilindungi oleh pagar perlindungan Tuhan. Setiap berkat yang diterimanya hilang begitu saja. Ia seperti menyimpan uang pada pundi-pundi yang berlubang.
Di desa Arjasari, Bandung Selatan, terdapat sebuah gedung berlantai dua bergaya minimalis. Gedung megah menurut ukuran desa itu adalah perpustakaan. Bermula dari keinginan sederhana seorang tukang gorden keliling bernama Ayi Rohman untuk mendirikan perpustakaan bagi anak-anak di desanya. Mang Ayi, begitu ia biasa disapa, percaya bahwa sumber kemiskinan adalah kebodohan. Dan kebodohan bisa dientaskan dengan meningkatkan budaya baca masyarakat sekitar.
Berawal dari tujuh puluh buah buku hasil cari sana-sini, berdirilah perpustakaan seadanya di ruang tamu rumahnya. Untuk menambah koleksi bukunya, Mang Ayi biasa menyisihkan hasil jualan gordennya. Sekarang, bantuan donatur telah mengalir; gedung permanen, koleksi buku yang terbilang lengkap, dan terutama minat baca anak-anak di desanya meningkat pesat. Mang Ayi tidak lagi berjualan gorden, ia total mengurus perpustakaannya. Dan yang tidak pernah ia bayangkan adalah kesejahteraannya justru meningkat. “Dulu waktu jadi tukang gorden, melihat uang satu juta saja sudah sebuah keajaiban. Kini, setelah saya memikirkan orang lain, saya malah mendapatkan hidup yang lebih baik,” tuturnya.

Mengapa bisa demikian? Itu karena berkat yang diterima dari Tuhan selalu lebih banyak dari harta yang di sebar dan berkat itu di lindungi oleh pagar perlindungan dari Tuhan sehingga aman dari belalang-belalang pelahap. Sementara ada yang menghemat secara luar biasa namun tetap berkekurangan karena hartanya tidak mendapat pagar perlindungan dari Tuhan. Jadi inti untuk meraih kesuksesan pada kasus ini adalah mendapat pagar perlindungan dan berkat dari Tuhan. Berkat tanpa pagar perlindungan adalah berkat yang kosong. Oleh sebab itu bagi orang Kristen janganlah hanya mengarahkan diri untuk mengejar berkat saja terlebih dari itu orang Kristen harus juga meminta pagar perlindungan dari Tuhan.

Renungan Hari Selasa, 27 Juli 2010

Takut Akan Tuhan
Yesaya 33 : 6b
Takut akan TUHAN, itulah harta benda Sion.
Pasal ini menyangkut harapan eskatalogis (= hal-hal terakhir), yaitu bagaimana Allah akan mengakhiri zaman ini dengan mengintervensi dalam dunia untuk menghukum dan menyelamatkan. Dalam konteks itu, ekonomi dan keamanan, dua fungsi politik yang terutama, berjalan beda dari yang biasa. Dalam a.6, “kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan”, dan “harta benda Sion”, yaitu kota umat Tuhan, ialah “takut akan Tuhan”. Setelah Tuhan bangkit untuk bertindak (aa.7-13), “orang-orang yang berdosa terkejut” (a.14). Harta benda mereka tidak berguna menghadapi hukuman Allah. Jadi, dalam aa.15-16 orang yang aman adalah “orang yang hidup dalam kebenaran dsb”. Dia aman seperti orang yang tinggal di benteng di tempat yang tinggi (a.16). Setelah hukuman itu, Tuhan sendiri akan puas karena tidak lagi menghadapi bangsa yang biadab (a.19).Ada banyak orang Kristen bereaksi negatif terhadap kata takut akan Tuhan ini.Menurut mereka, Tuhan itu penuh kasih, baik dan lembut. Dan itu tentu benar. Ada juga yang mengatakan, sebagai murid Yesus, dosa yang mengikat mereka telah dipatahkan. Itu sangat benar.

Mari kita kembali kepada dasar iman kita, yang menyatakan bahwa Dia adalah penguasa dan pemegang segala kendali dalam hidup kita. Dia yang sangat besar dan berkuasa itu dapat melihat sampai ke kedalaman hati itu, tentu juga bisa melihat sampai ke titik yang jauh dibandingkan dengan jarak pandang kita yang sempit. Begitu banyak pembatas di hadapan kita, sehingga sekalipun kita melihat segalanya tampak baik hari ini, sebenarnya belum tentu demikian di ujungnya yang tidak bisa kita lihat sekarang.

Takut akan Tuhan bukanlah seperti bentuk ketakutan duniawi. Takut akan Tuhan menjadi jelas maksudnya ketika kita mengerti siapa Tuhan itu. Takut akan Tuhan menjelaskan tentang kekuatan, kebesaran, otoritas dan kekudusan Tuhan. Takut akan Tuhan adalah bentuk rasa takut yang sehat. Artinya kita patuh pada perintahNya, menghormati Dia, berpegang padaNya, mengenal Dia sebagai Tuhan yang absolut, dan memuliakanNya. Rasa takut akan Tuhan membawa kita lebih dekat padaNya, bukan menjauhkan. Takut akan Tuhan menunjukkan kita tahu siapa Tuhan sebenarnya, dan menggambarkan hubungan serasi antara Sang Pencipta dan yang diciptakanNya. Kita menanggapi dengan sungguh2, dan punya hasrat untuk menyenangkanNya dengan apapun yang kita punyai, lakukan atau katakan, mendasarkan segalanya pada Tuhan kapanpun dan dimanapun.
Mengapa kita tidak terus belajar mempercayai apa yang Tuhan rencanakan dalam hidup kita? Bahkan ketika satu peristiwa yang tidak menyenangkan saat itu terjadi, tetaplah percaya bahwa itu diijinkan untuk membawa kebaikan bagi kita.


Renungan Hari Senin, 26 Juli 2010

Yang Terbaik Buat Tuhan
Amsal 3 : 9
Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, Nas ini mengajak kita agar mempersembahkan buah sulung untuk Tuhan. Buah sulung itu artinya, persembahan dari apa yang kita dapatkan dari awal tahun ini. Maka, muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu. Memang ayat ini sering diterjemahkan sebagai persepuluhan, tetapi adalah minimalnya. Karena kadang-kadang ada orang yang menyerahkan 100%, 30%, 20%, dan seterusnya. Yang penting saudara memuliakan Tuhan dengan harta saudara dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu. Tuhan berjanji, maka lumbung-lumbungmu akan diisi melimpah dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.
Dengan memiliki iman yang murni, kita akan dapat berkata seperti Paulus: kita akan memiliki keyakinan bahwa tidak ada apapun yang mampu memisahkan kita dari kasih TUHAN, tidak ada satu perkarapun yang mampu membuat kita ragu terhadap penebusan KRISTUS. Namun bukan berarti TUHAN menghendaki agar setiap orang percaya harus hidup di dalam kemelaratan ataupun penderitaan terus menerus. Justru segala kebutuhan jasmani yang kita butuhkan akan diberikan TUHAN bagi kita, asalkan kita sudah siap untuk menerimanya.

Maksud dari kata “siap” di sini adalah posisi iman yang tidak akan goyah sekalipun TUHAN sudah menambahkan segala berkat jasmani di dalam hidup kita. Sebab banyak orang yang imannya menyimpang justru setelah diberkati dengan harta dunia. Untuk itulah TUHAN membentuk atau memproses kita terlebih dahulu sebelum IA mencurahkan berkat-NYA lebih banyak lagi. Dengan demikian kita akan siap untuk memuliakan TUHAN melalui harta yang diberikan-NYA.
Semua kemampuan, talenta, karunia, atau kelebihan apa saja yang kita miliki itu semua adalah harta titipan dari Yang Maha-Kuasa. Seringkali kita mencoba mencuri kemuliaan yang menjadi hak Tuhan. Manakala orang-orang bertepuk tangan -¬ memberikan pujian kepada kita, maka tampaklah kepala kita mendongak ke atas sembari mengantongi setiap pujian yang disodorkan. Yesus berkata, “Tetapi Aku tidak mencari hormat bagi-Ku: ada Satu yang mencarinya dan Dia juga yang menghakimi” (Yoh. 8:50). Segala perbuatan Yesus adalah untuk hormat bagi yang mengutus-Nya, Allah Bapa. Bagaimana dengan Anda? Perbuatlah yang terbaik buat Tuhan saja. Amin


Renungan Hari Minggu, 25 Juli 2010

Orang Kaya Yang Baik
1 Timotius 6 : 17 – 19
Ada orang sudah dapat banyak masih kurang dan hatinya gelisah, makan tak enak tidur tak nyenyak, dimusuhi orang banyak. Sementara yang lain dapatnya sedikit, tetapi ia merasa cukup bahkan masih bisa memberi. Dengan tenang ia menikmati hasil jerih payahnya, damai, harmoni dengan lingkungan dan bahkan dihormati orang lain.
Menurut hitungan matematis, orang yang punya uang sepuluh juta rupiah kemudian diambil lima juta untuk membantu biaya sekolah anak-anak yatim maka uangnya yang tersisa hanya tinggal lima juta rupiah. Jika orang itu kemudian mempunyai pola perilaku tetap yaitu selalu memberikan separoh hasil usahanya untuk membantu orang lain yang kesulitan, maka menurut hitungan matematis ia pasti lambat kayanya dibanding jika ia tidak suka memberi. Jika ia menjadi kaya 10 tahun kemudian, maka logikanya jika ia tidak suka memberi, ia sudah bisa menjadi orang kaya lima tahun lebih cepat.
Tetapi realitas kehidupan sering berbicara lain. Orang yang suka memberi justru lebih cepat kaya sementara orang yang kikir usahanya sering tersendat-sendat. Sama halnya orang dagang yang selalu mengambil keuntungan dengan margin tertinggi justru kalah bersaing dengan pedagang yang mengambil keuntungan dengan margin rendah. Kenapa ?, karena hidup itu bukan hanya matematis, ada matematika bumi dan ada matematika Allah. Lukas 6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan Orang yang keukeuh dengan hitungan matematis dalam interaksi sosial tanpa disadari ia justru kehilangan peluang non teknis yang nilainya tak terukur secara matematis, yaitu berkah.

Melalui ayat ini Tuhan mengajarkan kita untuk saling memperhatikan terutama memperhatikan orang-orang miskin. Tuhan tidak ingin kita egois, hanya memikirkan kepentingan sendiri. Tuhan ingin kita berbagi karena itulah wujut nyata dari kasih. Kasih mempunyai arti memberi atau berkorban. Tuhan Yesus mengasihi kita, salah satu wujut kasih Tuhan adalah Dia memberikan nyawanya bagi kita di kayu salib untuk menggantikan kita yang seharusnya mati karena dosa.
Dalam kitab Kisah Para Rasul kita dapat melihat bagaimana wujut kasih itu benar-benar di praktekkan pada gereja mula-mula. Semua jemaat merasa senasib dan sepenanggungan. Mereka benar-benar satu di dalam Kristus. Tidak ada yang merasa lebih hebat, tidak ada yang merasa lebih kaya. Mereka saling berbagi, yang mempunyai membagikan apa yang dipunyainya kepada mereka yang tidak punya. Dari sekian ribu orang jemaat mula-mula hanya satu keluarga saja yang memiliki roh ketamakan yaitu Ananias dan istrinya dimana akhirnya mereka mati oleh karena ketamakannya.
Menjadi berkat tidak harus menunggu kita mendapat kelimpahan berkat materi seperti yang diinginkan. Hal menjadi berkat sumbernya ada di hati. Bila hati kita tidak terikat dengan kekayaan, tidaklah berat untuk memberkati orang lain meski kekuatan kita tidak seberapa. Sebaliknya, sebesarapapun kita diberi kelimpahan berkat, bila hati terikat kekayaan, berat untuk memberkati orang lain. Bila kita perlu didorong-dorong untuk menjadi berkat, waspadalah dengan keterikatan akan kekayaan. Jangan hanya berjuang memperkaya diri sendiri, berjuang jugalah untuk menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi, yang dengan demikian mengumpulkan harta yang kekal (2 Timotius 6:18-19).


Renungan Hari Sabtu, 24 Juli 2010

Tuhan Memuaskan Kita
Yesaya 58 : 11
TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan
Anda semua pasti mengenal Elvis Presley, sang legenda musik Rock n Roll. Elvis datang dari latar belakang kehidupan yang sederhana, lalu tiba-tiba menjadi terkenal dan kaya raya sampai mobilnya dilapisi oleh emas. Namun popularitas dan kekayaan itu justru menghancurkan hidupnya sehingga dia ditemukan meninggal akibat over dosis. Hal ini membuktikan bahwa harta dan popularitas tidaklah dapat memberikan kepuasan kepada manusia. Tidak ada orang kaya yang puas dengan kekayaannya, tidak ada orang terkenal yang puas dengan popularitas, tidak ada pejabat yang puas dengan jabatannya. Inilah yang dimaksud oleh pengkotbah dengan penderitaan yang paling pahit yaitu orang yang diberi kuasa untuk memiliki harta namun tidak diberi kuasa untuk menikmatinya. Hanya Tuhanlah yang dapat memberikan kepuasan dan rasa bermakna yang sejati kepada manusia. Orang yang hidup dalam segala kelimpahan menemukan kepuasan yang tertinggi lewat hubungan dengan intim dengan Tuhan sehingga kesukaan mereka yang utama adalah bersekutu dengan Allah.

Hidup dalam Allah berarti pergi ke suatu tempat menurut rancanganNya yang lebih besar daripada rancangan yang dapat kita minta, pikirkan atau bayangkan. Orang yang hidup dalam segala kelimpahan tidak lagi mengusahakan sesuatu dengan kekuatanNya sendiri melainkan ia akan sepenuhNya bergantung kepada Roh Kudus. Dalam ketergantungannya kepadaNya, ia telah mematikan pekerjaan-pekerjaannya sendiri; semua agenda, ambisi, kebutuhan dan keakuannya telah mati. Ia benar-benar dipimpin oleh Roh sehingga memikili kepekaaan dan kesabaran untuk
melangkah bersama Tuhan. Ia mengetahui sebelum tiba di satu tempat maka Roh Kudus telah tiba di sana terlebih dahulu. Ia menjadi orang yang sukses di mata Tuhan karena ia menjadi orang yang tepat, pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat dan bersama orang yang tepat.
Hikmat ilahi merupakan salah satu ciri dari orang yang hidup berkelimpahan sehingga dia dapat menjadi berkat kemanapun ia pergi. Ia memiliki hikmat dan pengertian sehingga dapat memahami jalan-jalan Tuhan. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia ( Ams 3:18). Orang ini membawa pengaruh yang positif terhadap lingkungannya sehingga orang di sekelilingnya bisa mengetahui bahwa Roh Allah
memenuhi dia seperti apa yang dilihat raja Firaun pada diri Yusuf. Yusuf merupakan salah satu orang yang mengalami hidup dalam segala kelimpahan sehingga ia bisa menjadi berkat, bahkan nasib dua bangsa besar bisa diselamatkan. Kita semua pasti akan menjadi berkat bagi bangsa ini bila memang benar-benar hidup dalam segala kelimpahan.
Bagi kita semua marilah kita perhatikan mereka yang miskin dan berkurangan dalam bentuk apapun. Mungkin banyak orang mengalami kemiskinan atau kekurangan akan kasih dari sesama atau orangtuanya, mengingat dan memperhatikan banyak orang masa kini cenderung sibuk sendiri-sendiri.

Renungan Hari Jumat, 23 Juli 2010

Tidak Bawa Apa-apa
1 Timotius 6 : 17
Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar
Bagaimana seseorang dapat mengetahui apa yang menjadi bagiannya? Dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sebab hanya orang-orang yang mau bertumbuh dan menjadi dewasa rohanilah yang dapat merasa cukup menurut ukuran atau porsi yang TUHAN tetapkan kepada masing-masing kita.
Di balik kata “cukup” atau “secukupnya” ini, TUHAN mengajar orang percaya untuk tidak menuntut apa yang bukan menjadi bagiannya atau yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Bila seseorang menginginkan apa yang bukan menjadi bagiannya, sebenarnya itu hanya untuk memuaskan hawa nafsunya; dengan demikian ia telah menjadikan dirinya musuh TUHAN (Yak. 4:1–4). Ternyata kata “cukup” merupakan kata penyelamat kehidupan, selama kita mau mengerti, menerima dan mematuhinya. Karena itu untuk dapat menghayati ini, belajarlah untuk memercayai kebenaran ini dan kecaplah damai sejahtera surgawi. Kita sangat digoda oleh dunia ini untuk memiliki filosofi hidup “tidak pernah mau puas”. Ini bukan berarti, kita menjadi orang yang malas dan tidak mau maju dalam kehidupan ini. Tapi, kita diingatkan untuk tidak menjadi orang yang serakah dan tahu kapan untuk berkata “cukup” dalam kehidupan ini. Mengapa kita diminta untuk tidak menjadi orang yang tamak dalam menjalani kehidupan ini?

Pertama, Tuhan tahu memberi rejeki yang cukup kepada anak-anakNya. Rejeki yang dianugerahkanNya kepada kita tidak akan pernah terlalu berlebih dan juga tidak sampai kekurangan. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan bahkan sebelum kita menyadarinya. Jika Tuhan sudah berikan rejeki sekian dalam kehidupan kita, terimalah dengan ucapan syukur. Tidak perlu banding-bandingkan dengan ‘rumput tetangga’ yang terkesan lebih hijau. Nanti kita menjadi iri hati dan itu tidak baik. Setiap orang ada memiliki bagian berkatnya masing-masing. Dia tidak pernah salah memberi. Dia tahu memberi yang terbaik, sesuai dengan kebutuhan hidup kita masing-masing. Jika kita butuh, Dia pasti sediakan. Jika Dia belum berikan, mungkin kita belum butuh sekarang. Atau jika Dia tidak berikan, mungkin hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan bagi hidup kita. Tetaplah beriman bahwa Tuhan itu baik (Mat.7:9-11).
Kedua, Tuhan mau kita ingat bahwa “kekayaan itu adalah sesuatu yang tidak tentu”. Kita mungkin bisa mendapat apa yang kita kejar saat ini, lalu kita menjadi kaya raya. Tapi, apa jaminannya kekayaan itu tidak hilang atau pindah tangan dalam waktu semalam? Segala sesuatu mungkin saja terjadi secara tiba-tiba. Ditipu rekan bisnis sendiri, jatuhnya harga minyak/saham, terjadi musibah alam, dan lain sebagainya. Tidak ada seorang pun yang tahu akan hari esok. Siapa yang bisa menjamin kapan angin tofan itu akan dating melanda dan menyapu bersih seluruh harta benda milik kita? Paulus telah mengingatkan kita agar kita “tidak berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, tapi pada Allah yang dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati” (I Tim 6:17). Bila kita sudah mengecap sukacita surgawi, kita dapat belajar memahami apa yang dimaksud Rasul Paulus dengan tulisannya, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” (1Tim. 6:8).



Renungan Hari Kamis, 22 Juli 2010

Menikmati Berkat Allah
Pengkhotbah 3 : 13

Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.
Sebetulnya dalam melakukan kehendak TUHAN itu sendiri kita menikmati kesenangan hidup. Misalnya, TUHAN memerintahkan manusia untuk memenuhi bumi (mandat prokreasi) melalui pernikahan. Di sini ada kenikmatan melakukan rekreasi dalam rangka mencari dan menempati bagian bumi. Kenikmatan hidup itu juga termasuk tidur nyenyak, menikmati makanan yang tersedia, dan segala kebahagiaan bersama dengan orang-orang yang mengasihi TUHAN. Orang yang mau melakukan kehendak TUHAN akan dikenyangkan TUHAN dengan sukacita dan kesenangan, tanpa berbuat salah memberhalakan kesenangan-kesenangan tersebut.

Di Amerika Serikat ada seorang kaya-raya yang hidup sendirian. Mungkin ia telah ditinggalkan oleh isterinya dan tidak mempunyai anak. Ia hidup hanya ditemani oleh seekor anjing Helder yang setiap hari dengan setia menemaninya. Pada suatu hari orang itu kedapatan telah meninggal dunia di kamarnya, karena serangan jantung. Ketika surat wasiatnya dibuka, ternyata seluruh harta kekayaannya diwariskan kepada anjing Heldernya yang setia itu. Sejak itu Helder itu menjadi binatang terkaya di dunia. Tetapi apakah ia tahu saudara-saudara, bahwa ia menjadi binatang yang kaya raya? Lihat saja, ketika yang bertugas memelihara memberikan makanan yang mahal-mahal dari restoran, ia malah nggak mau makan, tetapi lebih suka mengejar tulang yang dilemparkan pemeliharanya. Demikian juga setelah dibelikan tempat tidur yang bagus, ia malah lebih suka tidur di kolong. Jadi kesimpulannya, warisan uang yang banyak itu tak ada gunanya bagi anjing itu. Mengapa Helder itu tidak bisa menikmati warisan dari tuannya? Karena memang kodrat tuannya yang manusia itu berbeda dengan kodrat anjingnya. Itulah sebabnya anjing itu tak mampu menikmati sesuatu pemberian dari tuannya yang berbeda kodrat, lebih dari kemampuan kodrat anjingnya.
Saudara-saudara yang terkasih, antara Tuhan dan manusia itu juga berbeda kodratnya. Oleh karena itu segala pemberian Allah itu, pastilah tidak mampu dinikmati manusia lebih dari kemampuan kodrat manusiawinya. Jadi jika Allah mewariskan harta surgawinya atau hal-hal ilahi kepada manusia itu, pada hakikatnya sama seperti orang kaya yang mewariskan harta kekayaannya kepada anjingnya. Percuma, karena perbedaan kodrat itu manusia tidak mampu menikmatinya. Tetapi saudara-saudara, Tuhan ternyata tidak sebodoh orang kaya itu. Karena Ia tahu akan ketidakmampuan manusia, jika Ia memberikan sesuatu yang ilahi kepadanya. Maka sebelum memberikan warisanNya, Tuhan akan lebih dahulu membuat manusia itu menjadi mampu menikmati harta ilahiNya.


Renungan Hari Rabu, 21 Juli 2010

Mensyukuri Segala Sesuatu
Amsal 30 : 8 - 9
Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.
Ini adalah potongan dari doa seorang yang bernama Agur bin Yake dari Masa. Agur berdoa agar ia tidak diberikan kemiskinan atau kekayaan. Setiap orang pasti setuju dengan Agur agar tidak di berikan kemiskinan oleh Tuhan karena semua orang tidak mau miskin dan sengsara. Setiap orang pasti ingin menikmati hidup yang berkecukupan. Tetapi bagaimana dengan doa supaya Tuhan tidak memberikan kekayaan??? Wow, tidak! Jangan deh!. Mungkin kata ini banyak di ucapkan karena pada umumnya setiap orang ingin kaya. Demi mengejar kekayaan banyak orang rela berjerih lelah dan bekerja keras bahkan banyak juga demi memperoleh kekayaan menghalalkan berbagai cara. Ada yang melakukan “pesugihan” ada pula yang melakukannya dengan Korupsi, karena dalam anggapan mereka dalam kekayaan ada kekuasaan dan kemuliaan, itulah sebabnya mereka rela mati-matian memperolehnya.
Saudara, permohonan doa ini menunjukkan bahwa Agur adalah seorang yang ingin hidup jujur dan benar. Ia tidak ingin memiliki sesuatu yang bukan menjadi haknya. Sungguh luar biasa doa ini! Doa yang patut di teladani dan dimintakan oleh setiap orang. Jika setiap orang berdoa seperti ini maka tidak akan terjadi korupsi di negeri ini.

Lihatlah bagaimana doa yang diajarkan Tuhan Yesus juga berisikan pesan yang sama. "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya." (Matius 6:11). Secukupnya. Lalu kita mungkin bertanya, seberapa cukupkah secukupnya itu? Masing-masing orang mungkin memiliki standar yang berbeda mengenai kata cukup. Cukup untuk jalan-jalan? Cukup untuk beli mobil mewah, rumah gedung? Tetapi Alkitab kemudian menuliskan seperti ini: "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:8). Makanan dan pakaian, itulah kebutuhan paling mendasar dalam hidup manusia, sehingga seharusnya jika keduanya sudah terpenuhi, itu sudah cukup untuk mendatangkan rasa syukur. Jika tidak menyadari hal ini maka kita pun akan lupa bersyukur dan akan terus hidup penuh dengan rasa tidak puas. Lalu yang terjadi kemudian: "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan." (ay 9). Kebinasaan, itu bisa menjadi ujung akhir ketika kita berorientasi kepada kekayaan.
Belajarlah untuk bersyukur dalam segala keadaan. Rasa terus kekurangan akan membuat kita melupakan segalanya kecuali terus mengejar harta. Kita akan lupa membangun hubungan dengan Tuhan, kita tidak akan ingat lagi untuk bersyukur. Jika Alkitab sudah mengatakan bahwa makanan dan pakaian itu sudah cukup, bukankah itu seharusnya sudah mampu membuat kita bersyukur?



Renungan Hari Selasa, 20 Juli 2010

Mendengarkan Tuhan
Yesaya 55 : 2
Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat
Semua orang butuh makanan agar dapat meneruskan hidupnya, baik yang kecil, atau dewasa, baik kaya ataupun miskin, makanan biasa atau makanan mahal, semuanya butuh makanan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dan dengan makan, orang mendapatkan kepuasan, bukan? Jika tidak, maka tidak akan ada restoran mewah dengan taman terbuka, minum kopi di mall walaupun sangat mahal, semuanya menawarkan kepuasan yang mengiringi makanan yang dijual.
Ketika Allah bertanya kepada umat-Nya melalui Nabi Yesaya, Dia menanyakan mengapa mereka membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat atau memuaskan mereka. Tuhan mengundang mereka yang tidak mempunyai penghasilan untuk menerima "anggur dan susu tanpa
bayaran … dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. Sendengkanlah telingamu, dan datanglah kepada-Ku" (Yesaya 55:1-3). Allah menawarkan diri untuk memberi sesuatu yang tidak bisa kita beli—belas kasihan, pengampunan, dan perubahan hidup yang terjadi saat Dia hadir. Dia mengundang kita: "Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui" (ayat 6). Berkat anugerah Allah, kita dapat dengan bebas memperoleh sesuatu dari-Nya, tanpa pembayaran apa pun.

Kita perhatikan bahwa kebutuhan hidup manusia dewasa ini begitu tinggi. Dahulu yang menjadi kebutuhan primer adalah sembako namun sekarang banyak yang dahulu di kategorikan kebutuhan sekunder sekarang menjadi kebutuhan primer. Arus perubahan model begitu cepat mengakibatkan mereka yang terjebak didalamnya memiliki pengeluaran yang begitu tinggi. Oleh sebab itu berhati-hatilah jangan sampai masuk dan terjebak dalam arus itu, sebab itu bisa berbahaya bagi iman kita.
Firman Tuhan pada Yesaya 55:2a diatas dapat menjadi acuan bagi kita untuk dapat mengelola keuangan dengan benar. Kalau kita perhatikan, pengeluaran yang terbesar saat ini bukan lagi untuk membeli makanan tetapi untuk kebutuhan “lifestyle” misalnya pakaian yang senantiasa ikut model terbaru dan lain sebagainya. Saudaraku, untuk menghindari hal itu agar tidak terjadi maka di butuhkan penguasaan diri. Pergunakanlah uang sebagaimana mestinya. Jangan membeli sesuatu yang sebenarnya tidak kita dibutuhkan. Pergunakanlah uang untuk sesuatu yang benar-benar dibutuhkan. Sehingga kita tidak terjebak dalam arus kehidupan dunia yang begitu menghanyutkan.
Yesuslah roti hidup itu, yang akan memuaskan dan memberikan kenikmatan sejati dalam hidup kita, kita akan menerima hidup kekal dan tidak akan lapar haus lagi. Yesus menghendaki kita “menghabiskan” hidup kita untuk hal-hal yang kekal, bekerja untuk upah yang kekal, menikmati kepuasan kekal, bukan kepuasan yang sesaat, walaupun itupun pemberian dari Tuhan untuk manusia yang fana. Ya, Dia memberikan kita kepuasan, akan makanan yang kita makan tiap hari, akan sahabat, kekasih, keluarga, cinta, perhatian, Dia sanggup memberikan semuanya, tetapi Dia mau ingatkan kita lewat Firman ini, mari kejar kepuasan Rohani.

Renungan Hari Senin, 19 Juli 2010

Mengerti Kehendak Tuhan
Efesus 5 : 17 – 18
Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh
Manusia cenderung mempercayai ramalan dan perubahan takdir melalui usaha-usaha yang dilakukan manusia atau kuasa gelap. Misalnya dengan memberikan sesaji atau tumbal, hidup manusia akan lebih beruntung atau lebih maju dalam usahanya. Hal ini sebenarnya kebohongan saja, karena tidak ada satu kuasa di dunia ini yang dapat mengubah apapun, termasuk takdir manusia, menjadi seperti yang diinginkan manusia. Hanya ALLAH yang berkuasa mengadakan takdir, maka hanya DIA sajalah yang memiliki kuasa untuk mengubahnya. Segala sesuatu sudah ditetapkan dan ditulis dalam kitab ALLAH, sehingga kuasa gelap atau menusia tidak akan berkuasa untuk mengubahnya.
Persekutuan Doa Air Hidup "Datanglah, kata mereka, aku akan mengambil anggur, baiklah kita minum arak (bahasa inggrisnya adalah "liquor = minuman keras yaitu minuman berkadar alkohol tinggi spt whisky,rum,gin,cognac" dll) banyak-banyak ; besok akan sama seperti hari ini, dan lebih hebat lagi !" (Yesaya 56 : 12) Demikianlah dikatakan oleh orang-orang pemabuk : Mereka menipu diri sendiri tentang masa depannya, bahwa hari esok akan sama seperti hari ini, bahkan lebih baik dari hari ini. Padahal dalam kitab Yesaya 56:10-11, TUHAN samakan orang-orang pemabuk dengan anjing bisu yang tidak tahu menyalak, mereka hanya bisanya berbaring melamun dan suka tidur saja.

TUHAN juga samakan orang-orang pemabuk itu dengan anjing-anjing pelahap yang nafsunya besar dan tidak tahu merasa kenyang, mengambil jalannya sendiri atau mementingkan dirinya sendiri, masing-masing mengejar laba, tiada memikirkan masa depannya. Bahkan Kitab Pengkhotbah 3: 17-21 mengatakan bahwa manusia yang tidak takut akan TUHAN, nasibnya adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka ; sebagaimana yang satu mati demikian juga yang lain. Padahal sebenarnya TUHAN ciptakan manusia tidak sama dengan binatang, apalagi anjing. Kita punya kesadaran dan kemampuan untuk percaya kepada Allah Pencipta, kita punya kemampuan untuk mengendalikan diri, kita punya kemampuan untuk merencanakan masa depan dan sebagainya.
Ini berarti bahwa dalam batas tertentu ada persamaan antara kepenuhan Roh Kudus dan mabuk anggur (karena itu murid-murid yang mengalami kepenuhan Roh Kudus disamakan dengan orang yang mabuk anggur) tetapi juga ada perbedaan antara kepenuhan Roh Kudus dan mabuk anggur (karena itu Paulus mengkontraskannya di dalam Efs 5:18). Nah, apa persamaan antara penuh Roh Kudus dan mabuk anggur? Persamaannya adalah sama-sama dipengaruhi (under the influence). Orang yang dipenuhi Roh Kudus dipengaruhi/dikuasai oleh Roh Kudus. Orang yang mabuk anggur dipengaruhi/dikuasai oleh anggur. Lalu apa perbedaannya? Perbedaannya adalah kalau penuh Roh Kudus ada ‘self-control’ (penguasaan diri) sedangkan kalau mabuk justru kehilangan penguasaan diri. Efs 5:18 : Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh. Bukankah ada banyak gadis yang kehilangan kegadisannya karena pengaruh minuman keras. Bukankah ada banyak orang yang dalam keadaan mabuk melakukan hal-hal, yang dalam keadaan waras pasti tidak dilakukannya seperti si John teman saya yang sewaktu mabuk memeluk dan membelai serta mencium tiang listrik seolah itu adalah seorang wanita cantik. Tentu ia tidak akan melakukan hal gila seperti itu sementara tidak mabuk bukan? Jadi orang kehilangan penguasaan dirinya kalau sedang mabuk. Tetapi orang yang penuh dengan Roh Kudus pasti justru menunjukkan buah Roh Kudus, dan buah Roh Kudus ini antara lain adalah penguasaan diri. Gal 5:22-23 : (22) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (23) kelemahlembutan, penguasaan diri. …”. Dalam Kis 2 orang-orang penuh Roh Kudus dan berbahasa Roh lalu ada orang yang menyindir mereka bahwa mereka mabuk anggur. Kis 2:13 : “Tetapi orang lain menyindir: ‘Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.’ Dikatakan “orang lain menyindir”. Jadi mereka tidak sungguh-sungguh mabuk anggur. Ini hanyalah suatu sindiran/ejekan saja. Alkitab NIV memakai kata ‘made fun of them’ (mempermainkan mereka) sedangkan NASB memakai kata ‘mocking’ (mengejek). Terhadap sindiran/ejekan ini Petrus lalu memberikan bantahan sebagaimana tercatat dalam Kis 2:14-15 : (14) “Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: ‘Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. (15) Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan”.
Jadi jelas bahwa ‘mabuk’ berbeda dengan ‘penuh Roh Kudus’. Anehnya sekarang ini ada banyak orang mengaku dipenuhi Roh Kudus tetapi bertingkah laku seperti orang mabuk misalnya tumbang, berguling-guling di lantai, histeris, tertawa terbahak-bahak, mengoceh tidak karuan, berlari-lari sambil berteriak, dll. seperti yang terlihat dalam acara KKR maupun kebaktian-kebaktian banyak gereja. Sama sekali tidak terlihat adanya kontrol diri di sana malah sebaliknya mereka kehilangan kesadaran dan akal sehatnya. Saya katakan, ini bukan dipenuhi Roh Kudus tetapi ini benar-benar mabuk. Kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata : “Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?” (1 Kor 14:23). Mengapa Paulus mengatakan seperti ini? Apakah memang kalau orang-orang Kristen berbahasa roh mereka terlihat seperti orang gila? Saya berpendapat kalau bahasa rohnya benar, seperti dalam Kis 2, maka tidak demikian. Tetapi bahasa roh dari orang-orang Kristen di Korintus sama seperti bahasa roh yang populer jaman sekarang di banyak gereja dan gerakan Kristen yang ini memang terlihat seperti orang gila / mabuk! Camkan ini! Pekerjaan Roh Kudus tidak pernah mematikan/menonaktifkan nalar kita.

Renungan Hari Minggu, 18 Juli 2010

Menikmati Berkat Tuhan
Pengkhotbah 6 : 1 – 12
Kebahagiaan adalah sesuatu yang harus diupayakan. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh lingkungan, pekerjaan, keluarga ataupun kekayaan. Allah adalah sumber kebahagiaan tetapi bukan penentu kebahagiaan. Karena kebahagiaan seseorang sangat ditentukan oleh orang itu sendiri. Lingkungan dan kondisi yang tidak kondusif bukanlah penentu utama kebahagiaan seseorang karena kedua hal tersebut hanyalah sekedar mempengaruhi. Sebab kebahagiaan yang sesungguhnya adalah sebuah kenyataan yang murni hasil dari pilihan kita. Bagaimana warna kehidupan kita adalah proyeksi dari pilihan-pilihan yang kita lakukan. Allah menetapkan bahwa umat-Nya akan berbahagia tetapi ketentuan itu sangat bergantung dari respon kita terhadap ketetapan Allah. Kalau kita mau berjalan dalam ketetapan-ketetapan Allah maka kebahagiaan itu akan menjadi milik kita.
Dalam ayat 1 dikatakan:”Berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan”. Pilihan yang harus kita ambil dari ayat tersebut adalah ”Takut akan Tuhan”. Apa arti takut akan Tuhan? Takut akan Tuhan berarti menghormati Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai penentu seluruh kehidupan serta ketaatan kepada Allah menjadi fokus utamanya. Takut akan Allah adalah pikiran dan tindakan yang mempercayakan diri seutuhnya kepada Allah sebagai yang MahaKuasa, MahaAdil, Sang Penuh Hikmat dan Maha Segalanya. Takut akan Tuhan bukanlah tindakan mempertanyakan kekuasaan dan kasih Tuhan atas semua yang terjadi dalam realitas kehidupan tetapi menerima dengan ikhlas dan penuh kesadaran bahwa ada rencana Allah dibalik semua peristiwa. Kebahagiaan yang sejati sangat bergantung seberapa dekat hubungan kita dengan Tuhan. Dan pilihan untuk tunduk dan taat kepada Allah adalah salah satu hal yang akan membuat kita merasa bahagia.

Berkat yang sudah ada di tangan dapat berubah menjadi kesia-siaan jika kita salah menyikapi atau menggunakan berkat dari TUHAN itu. Langkah yang diambil Simon sudah sesuai dengan petunjuk TUHAN, sehingga dia mendapat banyak sekali ikan, tetapi mengapa jalanya mulai koyak? Demikian pula yang kita alami: kita sudah menurut Firman TUHAN, tetapi kita belum dapat menikmati berkat itu. Apakah yang harus kita perbuat agar “jala” kita tidak koyak?
Hasil yang akan kita dapatkan ketika kita memiliki hubungan yang dekat dengan Allah adalah ketika kita dapat menikmati berkat-berkat-Nya dan ketika hidup kita dalam keadaan yang baik (ayat 2). Selain itu kita akan menikmati berkat-berkat Tuhan melalui keluarga kita dimana istri dan anak kita membuat kita bersukacita dan menjadi berkat dalam rumah tangga kita. Bukan hanya itu saja tetapi juga seluruh anak cucu kita akan menikmati kebahagiaan yang luar biasa.


Renungan Hari Sabtu, 17 Juli 2010

Menjauhi Murka Allah
Kolose 3 : 5 – 6
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka]
Kita yang tadinya berlumur lumpur dosa kini diberikan sebuah kondisi baru yang bersih lewat pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Tapi bisakah kita menghidupi keberadaan kita sebagai ciptaan baru, sebagai manusia baru dengan sempurna jika kita masih enggan melepas sisa-sisa kekotoran manusia lama kita? Bisakah kita memakai baju baru dan berkata bahwa kita bersih apabila kita tidak terlebih dahulu membuka baju kotor kita dan mandi terlebih dahulu?

Keberadaan kita sebagai manusia baru memungkinkan kita untuk berbuah secara rohani. Kita diubahkan untuk menjadi anak-anak Tuhan, menjadi "orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya", dan di dalam bentuk manusia baru itu seharusnya terdapat hal-hal seperti "belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran" (ay 12), penuh pengampunan (ay 13), dan di atas semuanya itu mengenakan "kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." (ay 14), serta dipenuhi damai sejahtera Kristus. (ay 15) Inilah yang seharusnya terdapat di dalam manusia baru yang telah diubahkan dan bukan sebaliknya, seperti kesombongan, kikir, sulit memaafkan, dendam, dan sejenisnya. Lewat Kristus sesungguhnya apa yang ditawarkan Tuhan itu begitu baik. Kita dianugerahkan kesempatan untuk menjadi lahir kembali menjadi manusia yang baru, tetapi kita harus terlebih dahulu membuang segala lumpur dosa lama yang mengotori kita. Setelah mengenakannya pun kita hendaknya jangan kembali mengotori dengan berbagai kebiasaan jelek atau hal-hal buruk yang dahulu kerap kita lakukan.

Tidak ada cara yang lebih tepat untuk membuktikan karakter dari seseorang dari melihat tindakannya sehari- hari. Tindakan kita mengungkapkan siapa kita sebenarnya. Saat kita menjalani hidup, kita akan bertemu dengan banyak orang yang sepertinya sejalan. Tetapi, saat mereka sendirian, mereka menjadi sangat berbeda. Kita harus mengerti bahwa karakter kita sebenarnya adalah saat tidak ada yang melihat kita.
Jangan pernah lupa?..Tuhan selalu memperhatikan kita. Saat kita pulang ke rumah, saat kita di dalam mobil, Ia memperhatikan kita saat kita benar- benar sendiri. Ia melihat dari semua tindakan kita. Kita tidak dapat membodohi Tuhan! Walaupunn penampilan luar kita dapat membohongi orang lain, Tuhan tahu apa yang tersimpan di dalam hati kita. Setan selalu mencoba untuk membawa keinginan daging kita keluar. Ia akan selalu mencoba untuk mencoba kita, membawa kita ke arah dosa kita.
Saat kita menyerahkan hidup kita kepada Roh kudus, kita akan diberi kuasa untuk berkata tidak kepada apa yang daging kita inginkan. Lalu kita akan memilki hidup yang menyenangkan Tuhan.


Renungan Hari Jumat, 16 Juli 2010

Bebas Dari Roh Cinta Uang
Ibrani 13 : 5
Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.
Darimana sikap cinta uang ini bisa muncul? Walau sikap cinta uang itu adalah kecenderungan yang umum, tapi ada dua situasi yang paling berpotensi melahirkan sikap cinta uang. Kedua situasi ini sama-sama bermula dari keluarga. Pertama, kita dibesarkan dalam rumah tangga di mana uang terlalu berlimpah, sehingga kita bisa menikmati hidup dengan mudah. Oleh karena itu kita menjadi biasa dengan keberadaan uang di kantong kita, dan tanpa disadari terbentuklah hubungan cinta antara kita dan uang. Kedua, kita menjalani hidup yang sulit. Di mana susah sekali untuk mendapatkan kenikmatan hidup, karena tidak tersedianya uang. Maka terbentuklah rasa cinta uang yang luar biasa sebagai upaya untuk mendapatkan kenikmatan tersebut.
Di tengah-tengah hidup bersama yang masih sarat dengan kebejatan moral ini, memang orang yang bertindak benar sering dijauhi serta dianggap najis, kotor. Orang-orang berduit/kaya dan berkedudukan sering memperkuat dan mendukung gerakan untuk menutup atau memberangus para pejuang kebenaran, demi kedudukan dan jabatan mereka. Para pengambil keputusan dipengaruhi dengan diberi uang untuk memberangus para pejuang kebenaran.

Nas ini mengajarkan agar kita jangan jadi hamba uang. Yesus sendiri mengatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kita tak bisa mengabdi kepada Allah dan sekaligus mengabdi kepada mamon alias uang. (Matius 6:24). Kita harus pilih salah satu, atau menjadi hamba Allah, atau menjadi hamba uang. Roh cinta uang adalah salah satu hal yang terbukti menghancurkan kehidupan banyak orang percaya, terlebih di zaman yang semakin tidak mudah sekarang ini. Oleh sebab itu, kita harus mengerti bagaimana caranya supaya terluput dari serangan roh ini.
Seorang yang bebas dari roh cinta uang dapat mengatasi kekurangan (belajar mencukupkan diri dengan apa yang ada) dan dapat mengendalikan kelimpahan. Rasul Paulus pernah berkata, “... sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan...” (Flp. 4:11-12). Belajarlah untuk beradaptasi dengan keadaan kekurangan maupun kelimpahan. Utang adalah jerat, apalagi meminjam dengan bunga tertentu. Oleh sebab itu, Amsal 6:1-3 menasihatkan untuk berusaha melepaskan diri dari hutang dan sedapat mungkin menolak berhutang.


Selasa, 03 Agustus 2010

Renungan Hari Kamis, 15 Juli 2010

Tidak Korupsi
Yeremia 17 : 11
Seperti ayam hutan yang mengerami yang tidak ditelurkannya, demikianlah orang yang menggaruk kekayaan secara tidak halal, pada pertengahan usianya ia akan kehilangan semuanya, dan pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal.
Korupsi adalah merupakan masalah yang kompleks. Ia berakar dan bercabang di seluruh masyarakat. Entah di organisasi yang berorientasi keagamaan maupun sekuler. Dalam arti luas, korupsi mencakup praktek penyalahgunaan kekuasaan dan pengaruh. Bentuk korupsi yang paling umum adalah “nilep dana”. Mencuri (menilep) uang kas, mark-up dana proyek dsb. Hal tersebut sudah biasa dilakukan di negara kita ini. Dan dimata internasional negara ini tidak bisa mengelak bahwa Indonesia termasuk negara yang terkorup nomor sekian. Tidak ada bidang kehidupan di negara ini yang belum tercemar virus korupsi jenis ini, baik yang kecil maupun yang besar.
Belum lagi model korupsi yang sifatnya “suap” atau “sogok” yaitu memberi sesuatu kepada pejabat agar ia melakukan sesuatu yang sebenarnya wajib dilakukannya secara cuma-cuma. Pemberian itu tidak terbatas pada uang, tetapi bisa berbentuk mobil, tanah, perhiasan, rumah, seks, makanan dan minuman, emas, batu mulia, saham, dll. umumnya yang dihargai oleh si pejabat. Suap semacam ini lazim oleh orang Jepang disebut “peanut”, artinya peanut (kacang) itu kecil nilainya, yang sebenarnya tidak layak jika dibanding dengan dampak yang diderita negara/rakyat secara keseluruhan.

Berapapun besarnya kekuasaan/wewenang atau seberapa terbatasnya kekuasaan, korupsi adalah salah satu penyalahgunaan kekuasaan. Yudas diberi wewenang untuk mengelola uang kas, dan ia menyalahgunakan wewenang yang diberikan kepadanya. Yudas dipanggil Yesus untuk menjadi muridNya, tetapi kedekatannya dengan Yesus tidak juga membawanya menjadi baik, karena memang ia sengaja menjauhkan dirinya daripada mengikuti teladan-teladan yang diajarkan Yesus. Yudas membawa-bawa uang kas, itu sama dengan anda dan saya, bukan?. Kita diberi berkat dari Allah secara materi, namun apakah kita lebih mencintai harta daripada Tuhan sendiri, sehingga kita mungkin punya kecenderungan menjadi pencuri seperti Yudas.
Salib ialah Yesus yang menderita untuk keselamatan ciptaan-Nya. Orang yang bersedia menderita dengan tidak mengikut cara duniawi untuk memperoleh kehidupan “layak, mewah, serba wah” itulah hidup dalam Salib. Salib berarti menderita. Untuk mencapai kepuasan di dunia, kita tidak mengikuti arus duniawi. Korupsi, jelas merupakan tindakan yang menanggalkan dan membuang jauh penghayatan kita tentang Salib. Sebab kebahagiaan/ kepuasan tidak dapat terpenuhi hanya dari segi materi saja. Tuhan Yesus sudah memberi teladan bagi kita bagaimana hidup yang berarti bagi orang lain yaitu melalui jalan salib untuk mana kitapun diundang mengikutinya. Yesus Kristus dalam pengajaranNya yang sangat terkenal Kotbah di Bukit menyatakan "Berbahagialah orang yang menderita oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." (Matius 5:10).

Jamita Epistel XV Dung Trinitatis, 13 September 2026

DEBATA PATUPA HALONGANGAN TU BANGSONA (Tuhan Melakukan Perbuatan Besar Bagi Umat-Nya) 1 Petrus 2: 1 - 10   1. Huria ni Tuhanta na h...