Selasa, 03 Agustus 2010

Renungan Hari Rabu, 14 Juli 2010

Bertambah Harta
Mazmur 62 : 11
Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya.
Banyak orang yang menjadi sombong karena harta, ia merasa bahwa hartanya adalah hasil dari usahanya, buah dari jerih payahnya, manfaat dari ilmunya seperti yang dikatakan Karun: “Ini adalah hasil dari ilmuku” , karena kaya seseorang merasa tidak membutuhkan kepada Allah, ia tidak pernah berdoa memohon kepada-Nya karunia hidup, ia tidak mau meminta kepada-Nya nikmat kesehatan karena ia mampu membeli kesehatan dan jika ia sakit ia mampu berobat ke rumah sakit termahal, ia tidak pernah memohon kepada-Nya agar hartanya diberkahi dan dijaga, ia sombong karena merasa dengan harta di tangannya ia mampu berbuat apapun yang ia inginkan, ia lupa, ia lalai bahwa Allahlah yang membukakan untuknya kunci dunia dan ia mampu mengambil kembali darinya.
Harta membuat orang sombong sehingga tidak mau beramal saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena baginya untuk apa mendekatkan diri kepada Allah sementara ia bisa melakukan apa saja yang ia sukai tanpa pertolongan Allah. Tuhan tidak selalu memberi harta kekayaan yang berlimpah-limpah, atau kuasa yang bertambah-tambah. atau kesehatan yang selalu prima. Walau semua itu berkat Tuhan juga, ia bukan yang paling utama. Ia malah berpesan, “apabila hartamu makin bertambah janganlah hatimu melekat padanya” (Mazmur 62:11). Sebab “pada waktu mati, semua itu tidak akan Anda bawa serta” (Mazmur 49:21). Yang Tuhan berikan adalah yang paling berharga dari semua: KASIH-NYA. Seluruh diri-Nya! Karenanya, walau mungkin kita tak punya banyak di dunia, kita punya yang jauh lebih berharga, yaitu kasih dari sorga. Kasih Yesus.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Ayub bisa sekaya dan sesukses itu? Jawabannya cukup sederhana. Ayub menjadi kaya karena ada pagar perlindungan dan berkat dari Tuhan. Pertama, Tuhan memagari dia dengan pagar perlindungan-Nya dan kemudian Tuhan mencurahkan berkatnya secara melimpah. Ada orang yang banyak mendapat berkat namun tidak menjadi kaya raya. Kenapa? Itu karena berkat itu tidak dilindungi oleh pagar perlindungan Tuhan. Setiap berkat yang diterimanya hilang begitu saja. Ia seperti menyimpan uang pada pundi-pundi yang berlubang. Maka jangan heran jika ada ayat di Alkitab yang menyatakan “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” (Amsal 11:24).
Mengapa bisa demikian? Itu karena berkat yang diterima dari Tuhan selalu lebih banyak dari harta yang di sebar dan berkat itu di lindungi oleh pagar perlindungan dari Tuhan sehingga aman dari belalang-belalang pelahap. Sementara ada yang menghemat secara luar biasa namun tetap berkekurangan karena hartanya tidak mendapat pagar perlindungan dari Tuhan. Jadi inti untuk meraih kesuksesan pada kasus ini adalah mendapat pagar perlindungan dan berkat dari Tuhan. Berkat tanpa pagar perlindungan adalah berkat yang kosong.

Renungan Hari Selasa, 13 Juli 2010

Jangan Mengingini
Keluaran 20 : 17
Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu
Ketika kita tidak mengingini, kita telah menghapus alasan-alasan kita untuk tidak menaati perintah-perintah lain. Menginginkan milik orang lain menyebabkan kita berbohong, mencuri, berzinah, membunuh, dan menolak untuk menghormati orangtua kita. Kita tidak mau beristirahat karena kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan selama 6 hari kerja. Kita menyalahgunakan nama Allah saat kita menggunakannya untuk membenarkan sesuatu yang ingin kita lakukan. Kita mendewakan kekayaan dan hubungan karena kita tidak bersedia percaya sepenuhnya kepada Allah.
Dalam dunia dagang dan bisnis, "INGIN" atau ketamakan dan keserakahan dianggap sebagai dosa yang baik (dosa putih) karena "INGIN" adalah penyulut atau pemicu untuk para konsumen berbelanja. Perasaan "INGIN" membuat orang semakin mau mengeluarkan uang mereka untuk berbelanja. Itu sebabnya para produsen siap mengeluarkan dana yang cukup besar untuk mengiklankan produk mereka karena mereka tahu pada akhirnya nanti, para konsumen akan berbondong-bondong membeli produk yang mereka buat dan membawa keuntungan yang besar kepada produsen.

"INGIN" atau ketamakan adalah perasaan tidak puas dengan apa yang kita miliki, dan keinginan adalah sebuah tekanan kuat untuk memiliki sesuatu atau seseorang yang lain, yang kita pikir akan membawa kebahagiaan. "INGIN" atau ketamakan bersemi dari sikap mementingkan diri sendiri, dan sikap seperti ini akan menjadi sebuah kejahatan apalagi kalau barang/seseorang yang kita inginkan bukanlah milik kita, misalnya menginginkan istri tetangga kita atau rumah dan hartanya. Contoh klasik dari Alkitab tentang dosa "INGIN" adalah Raja Daud. Ketika ia melihat dari sotoh istananya seorang wanita cantik yang sedang mandi, dia meng"INGIN"kan wanita itu. Ketika diinformasikan bahwa wanita cantik itu adalah Batsyeba, ia meng"INGIN"kan wanita yang sudah bersuami. Selanjutnya Daud mendapati bahwa suami Batsyeba adalah Uriah – salah seorang serdadunya yang setia.
Sebuah keinginan bisa memikat orang untuk menjadi jahat. Yakobus menggambarkan alurnya dengan sangat jelas : "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:14-15). Sebuah keinginan berlebihan untuk memiliki milik orang lain menunjukkan bahwa kita belumlah bisa mensyukuri segala yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Untuk mengendalikan keinginan seperti ini, kita harus bisa belajar untuk bersyukur. Ingatlah bahwa Tuhan telah begitu banyak memberkati dan melengkapi segalanya bagi saya dan anda untuk sukses. Untuk itu, kita haruslah berterima kasih dan memenuhi mulut kita dengan ucapan syukur. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Kita harus mampu mengolah segala talenta yang telah diberikan Tuhan kepada kita, dan yang paling penting, teruslah mencari Kerajaan Allah beserta kebenarannya, maka semua akan ditambahkan Tuhan pada kita. (Matius 6:33). Dan dalam setiap langkah atau proses, tetaplah bersyukur. Apa yang terbaik bagi orang belum tentu terbaik bagi kita. Kita belum tentu tahu apa yang terbaik, Tapi Tuhan tahu pasti apa yang terbaik untuk kita, dan Dia telah menyediakannya. Hindarilah pikiran-pikiran yang mengingini milik orang lain, dan isilah selalu pikiran dan hati kita dengan ucapan syukur. Tuhan mengajak kita untuk merasa puas dengan segala yang telah Tuhan berikan. Berterimakasih dan bersyukurlah.

Renungan Hari Senin, 12 Juli 2010

Menjaga Diri
Lukas 21 : 34
Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat
Kita harus melihat latar belakang orang Yahudi . bahwa orang Yahudi tidak pernah ragu bahwa mereka adalah umat pilihan Allah. suatu hari kelak mereka akan menduduki tempat yang pantas dan akan dimiliki selamanya. Mereka yakin bahwa Akhirnya Allah sendiri yang langsung campur tangan dalam sejarah. Hari dimana Allah campur tangan disebut hari Tuhan . sebelum datangnya hari Tuhan akan terjadi masa sulit. Dunia akan digoncang sampai kedasar-dasarnya. Dan penghakiman akan terjadi. Namun peristiwa itu akan disusul dengan dunia baru, zaman baru, dan kemuliaan baru. Gagasan Dunia baru merupakan produk optimisme karna Allah campur tangan dan Pesimisme yang didasarkan bahwa dunia ini jahat harus dihancurkan dan dunia baru harus diciptakan. Kita lihat dalam PL ( Amos 5 : 16-20 , Yesaya 13 6 : 16 , Yoel 2,3 ) Hari Tuhan akan datang tiba-tiba , mengerikan dan memusnahkan, dunia akan hancur alam akan dijungkir balikan, Sang hakim akan datang. Gagasan hari Tuhan untuk menggambarkan apa yang tidak dapat digambarkan dan untuk mengatakan apa yang tidak dapat dikatakan. Yesus mengambil bahasa gambaran itu. Yesus tahu sebagaimana mereka tahu, bahwa semua itu hanyalah gambaran sebab tidak ada seorangpun yang benar-benar dapat mengatakan apa yang akan terjadi bila Allah sendiri turun tangan.

Mati atau dipanggil Tuhan dapat terjadi sewaktu-waktu atau kapanpun juga, misalnya: ada orang yang sedang bersenang-senang pada malam minggu berolahraga badminton ketika dengan gairah meloncat dengan pukulan keras dan tiba-tiba terjatuh begitu ditolong ternyata telah mati, berduaan sebagai calon suami isteri berkeliling untuk menghantar undangan perkawinan tiba-tiba keduanya tertabrak kereta api langsung mati, dst.. Salah satu penyakit yang diderita banyak penduduk didunia adalah Diabetes, bahkan di Amerika menjadi penyakit no 3 diderita anak-anak disana. Mungkin terlalu banyak minum softdrink ya? Penyakit diabetes antara lain disebabkan oleh gaya hidup yang sarat dengan pesta pora dan kemabukan atau kenikmatan-kenikmat an duniawi, dan dari diabetes muncul aneka penyakit dan kelemahan organ tubuh manusia yang mematikan. Menurut survei yang dilakukan WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk, diperkirakan pada tahun 1995 terdapat 4,5 juta pengidap diabetes dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 12,4 juta penderita.
Siapkah kita untuk mati atau dipanggil Tuhan? Saya rasa kita senantiasa harus siap siaga atau siap sedia. Jika kita mengatakan tidak siap tentu ada alasannya, mengapa? Masih punya hutang atau masalah? Lho kalau mati hutang dan masalah kan tidak mengurus lagi alias beres. Mungkin kita takut mati karena dalam hidup sehari-hari jarang ‘bertemu atau bergaul dengan Tuhan’ alias hidup kurang berkenan di Hati Tuhan, maka ketika akan dipanggil Tuhan memberontak dan melawan (Jawa: mecati). kita senantiasa ‘berjaga-jaga dan berdoa’ agar kita tahan berdiri di hadapan Anak Manusia, tetap sehat dan segar bugar baik secara jasmani maupun rohani. Berjaga-jaga secara jasmani antara lain: mengkomsumsi makanan dan minuman yang sehat dan bergizi, olahraga dan istirahat teratur, dan tentu saja perlu diiringi secara rohani dengan berdoa setiap hari, saat sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan. Maka penting sekali menjaga keseimbangan antara kegiatan jasmani dan rohani. Senantiasa memiliki sangka-baik, atau posititive thinking, melihat bahwa orang lain tidak memiliki kebaikan dan melihat hal posistif menghadapi atau menyikapi segala sesuatu, kita belajar memetik hikmat yang baik dalam segala sesuatu yang kita hadapi. Mari kita memperbaharui diri untuk tidak terjerumus pada kenikmatan dunia, agar pada suatu saat ketika dipanggil Tuhan senantiasa dalam keadaan ‘siap siaga’, tidak perlu gelisah. Orang yang senantiasa siap-siaga atau berjaga-jaga ketika akan mati atau dipanggil Tuhan kiranya akan bersikap seperti ‘penjahat’ yang disalibkan bersama Yesus : "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Dan “Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk23:4243).

Renungan Hari Minggu, VI Setelah Trinitatis, 11 Juli 2010

Memakai Harta Demi Kemuliaan Tuhan
Yakobus 5 : 1 – 6
Apakah Yakobus tidak mengaitkan istilah "kaya" dengan orang Kristen? Tentu saja ia bebas menyebut orang Kristen sebagai "orang miskin" (1 :9; 2:2-3, 5-6). Alasannya barangkali adalah Yakobus mengikuti pengajaran Yesus yang mengatakan, "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, dan, "Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya" (Lukas 6:20, 24). Sesungguhnya Yesus mengatakan bahwa kekayaan merupakan batu sandungan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Orang kaya dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah sernata-mata karena kemampuan Allah untuk melakukan hal-hal yang mustahil . (Markus 10:23-27). Tidaklah benar jika kita mencoba memperlunak masalah ini dengan mengatakan, "Tidak seorang pun dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, miskin atau pun kaya. Mereka semua dapat memasuki Kerajaan Allah karena mujizat," karena Yesus tidak berkata demikian. Dia mengatakan bahwa Dia secara khusus datang untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin (Lukas 4:18), dan kepada orang miskin yang diberkati-Nya Dia mengatakan, "Merekalah yang empunya Kerajaan Allah." Dia tidak pernah mengatakan hal ini kepada orang kaya.

pertobatan orang kaya lebih kecil kemungkinannya daripada pertobatan orang miskin). Akibatnya orang-orang kava tersebut, seperti penduduk Niniwe yang diperingatkan oleh Yunus, tidaklah berada di luar kasih Allah. Meskipun demikian, sebelum kita menggeleng sedih atas nasib orang kaya, kita harus ingat bahwa salah satu dari kelima tuduhan di atas cukup serius dan dapat mengakibatkan hukuman Allah. Tidaklah cukup menghindari untuk melakukan pembunuhan dan penindasan secara hukum jika kita hidup dengan menuruti kehendak hati dan menimbun harta yang seharusnya kita dermakan. Tanggapan orang Kristen terhadap celaan semacam ini seharusnya adalah tidak terus menyalahkan, melainkan "bersikap teguh" dalam ketaatan kepada Kristus (Yakobus 5:8) dan berdoa agar dipenuhi Roh Kudus. Dengan demikian kita dapat bergabung dengan orang-orang yang dalam Kisah Para Rasul menimbun harta di surga dengan cara membagikannya kepada saudara-saudara seiman yang lebih miskin. Hal ini akan menjadi teladan kebajikan yang diinginkan Allah dalam dunia yang masih mempraktikkan dan (bahkan memuja) kejahatan yang dicela-Nya.

Renungan Hari Sabtu, 10 Juli 2010

Berkat Setia Tuhan
Mazmur 65 : 10 -11
Engkau mengindahkan tanah itu, mengaruniainya kelimpahan, dan membuatnya sangat kaya. Batang air Allah penuh air; Engkau menyediakan gandum bagi mereka. Ya, demikianlah Engkau menyediakannya: Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya, dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya; Engkau memberkati tumbuh-tumbuhannya
Sebagai orang percaya yang tekun membaca dan merenungkan Firman Tuhan, kita sering membaca di dalam mazmur-mazmur Daud yang berisi pengaduan kepada Tuhan atas masalah-masalah yang dia hadapi. Daud juga mengajukan permohonan agar dia dilindungi dari musuh-musuh yang menginginkan nyawanya. Namun dalam Mazmur 65 ini kita melihat sesuatu yang berbeda. Mazmur ini merupakan ungkapan syukur dan pujian Daud kepada Tuhan.
Tuhan adalah Tuhan yang bersedia mendengarkan doa-doa umat-Nya ( Mzm 65:3 ). Tuhan juga membuka tangan terhadap mereka yang berdosa, bahkan Ia mau mengampuni kesalahan mereka ( Mzm 65:4). Sebab itu orang akan merespons dengan menepati nazar yang telah mereka ucapkan ( Mzm 65:2 ). Daud juga memuji-muji Allah yang telah menjawab doa umat-Nya dengan karya yang begitu luar biasa ( Mzm 65:6-9 ). Orang-orang dari seluruh penjuru bumi pun mempercayai Dia karena perbuatan-Nya yang ajaib.

Namun Tuhan bukan hanya menjawab doa, kasih dan kebaikan-Nya juga nyata melalui tanah yang subur dan panen yang berlimpah ( Mzm 65:10-14). Bumi diperkaya juga dengan ternak yang berserak di padang rumput dan keemasan gandum yang meyelimuti lembah. Allah memberkati bumi dengan begitu banyak hal yang baik sehingga manusia bersukacita. Maka bukankah wajar kalau sorak sorai pujian dan gegap gempita ucapan syukur dinaikkan kepada Tuhan ?
Kita sadari dan hayati bahwa Tuhan senantiasa hidup dan berkarya dalam ciptaan-ciptaanNya, antara lain menganugerahkan perkembangan dan pertumbuhan, daya hidup dan berkembang. Maka lihatlah daya hidup dan berkembang baik dalam diri kita maupun saudara-saudari kita, dan kemudian saling menghidupkan dan memperkembangkan.

Renungan Hari Jumat, 9 Juli 2010

Mengolah Tanah
Mazmur 104 : 14
Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah
BUMI makin panas. Iklim sulit diperhitungkan. Ketahanan pangan terganggu dan muncul banyak bencana. Itulah kira-kira keluhan manusia saat ini. Keluhan yang harus didengar, diperhatikan dan ditindaklanjuti. Akhir-akhir ini bumi tempat kita berpijak banyak dipenuhi bencana. Longsor, kebakaran hutan, banjir, suhu panas dan sering mudah berubah sehingga mengganggu kesehatan. Namun sepertinya yang paling sering terjadi adalah kekeringan di
musim kemarau dan banjir di musim hujan. Dan ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Sebagaimana biasa. Ketika kekeringan dan banjir terjadi, muncul pemikiran klasik sebagai penyebab yaitu: habis atau gundulnya hutan.
Masalah pengelolaan lingkungan merupakan masalah yang sangat kompleks. Pengelolaan lingkungan berbenturan dengan kebutuhan ekonomi negara ini sendiri, dan kebutuhan ekonomi pejabat-pejabat tercinta kita sendiri. Demokrasi tampaknya semakin tidak terdengar, keluhan dan demonstrasi damai dari rakyat kecil kini tidak terlalu memberi hasil. Jutaan makhluk hidup yang merupakan penyusun keanekaragaman hayati. Apabila kebakaran hutan dan rusaknya lingkungan yang menyertai semakin meluas, maka keanekaragaman hayati juga semakin berkurang. Akhirnya julukan megadiversity country yang justru masih sangat asing bagi masyarakat Indonesia, akan semakin tidak terdengar. Padahal inilah pengakuan dunia bahwa keanekaragaman hayati baik di darat maupun di laut Indonesia, termasuk tertinggi di dunia. Karena itu setelah melakukan renungan di malam Kemerdekaan, ternyata cara berpikir kita sebagai bangsa harus diubah. Banyak aspek yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan, mulai aspek sosial, budaya, ekonomi sampai teknik. Dan semua pihak sesuai aspek tersebut, perlu diajak beralih pola pikir.

Mengapa petani mengharapkan hasil panen ? Karena petani tersebut sudah menanam benih dan percaya bahwa benih itu bisa menghasilkan banyak panen . Demikian pengharapan kita harus memiliki dasar dan bukan berdasarkan ‘untung-untungan’ ! Jika Saudara saat ini di gereja Tuhan ini menaburkan benih yang baik dengan motif yang benar dan hati yang tulus , mengerti benar apa arti tujuan menabur di ladang Tuhan ini – maka pastikan engkau akan menuai sesuatu yang baik kelak – Tuhan tidak mau berhutang pada orang yang setia dan tulus ! Namun , jika engkau saat ini menabur ‘sembarangan’ benih yakni motif yang tidak benar ( mencari popularitas pribadi , kekuasaan , materi untuk sekedar memuaskan ‘daging’ ) Maka pastikan engkau akan menuai ‘sesuatu’ yang pasti akan sangat mengecewakan kelak , karena Tuhan tidak mau ‘dipermainkan’ ! Petani mengharapkan panen yang baik , maka dia mengolah tanahnya dengan benar sesuai dengan pelajaran yang telah dipelajarinya . ia bekerja keras mengolah tanah dengan benar ; tanah di cangkul hingga gembur , di airi dengan benar dan diberi pupuk yang tepat dan disemprot dengan obat anti hama dll. Petani tersebut sungguh mengerti bahwa dia harus bekerja keras dan cerdas terlebih dulu untuk mencapai hasil yang diharapkan – tidak cukup hanya dengan ‘berteori’ atau ‘omong doang’ alias NATO ! itu hanyalah pekerjaan ‘pe-mimpi ‘ ( bukan pemimpin ! ) . – orang demikian hanyalah menipu dirinya sendiri dan juga sekaligus menipu orang lain ! . “ orang malas tidak berhak atas keberhasilan ! “Memang Tuhan bisa melakukan banyak cara yang penuh dengan keajaiban , namun hal tersebut hanya bersifat “insidentil “ . Itu sebabnya seorang petani tidak mungkin mengharapkan bahwa minggu depan ia bisa segera memanen hasil sementara benihnya baru ditanam hari ini ! . Atau mengharapkan hasil 1 ton sementara dia hanya menabur benih yang sangat sedikit ! , dia harus mau bayar harga . Tanpa kewajaran . pengharapan hanyalah akan berujung kepada kekecewaaan , Salomo mengingatkan bahwa kita harus memiliki pengharapan dan sabar mengerjakannya dan menantikan dengan tetap tekun .

Renungan Hari Kamis, 8 Juli 2010

Menjaga Kelestarian Alam
Kejadian 2 : 15
TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu
Kita seringkali lupa bahwa lingkungan harus dilestarikan. Masih banyak orang membuang sampah sembarangan. Timbunan sampah menumpuk di mana-mana, sungai tercemar dengan limbah dan sampah, asap pabrik mencemarkan udara, semua ini bisa berdampak fatal di kemudian hari. Dampak yang disebabkan oleh rusaknya lingkungan hidup pun sebenarnya sudah mulai kita rasakan saat ini. Perubahan suhu permukaan bumi menyebabkan perubahan iklim yang ekstrim yang mengganggu ekosistem di bumi, mencairnya gunung-gunung es di kutub yang pada akhirnya bisa memberi masalah bagi pulau-pulau. Alam yang indah dengan tumbuh-tumbuhan adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa. Dia menyediakan segalanya bagi kita semua. Dan lihatlah, Tuhan berkata bahwa apa yang Dia ciptakan adalah baik. (Kejadian 1:12)

Skala restorasi, juga pencegahan kerusakan lingkungan, yang dibutuhkan Indonesia membawa konsekuensi sumber daya yang besar. Dulu kita pernah sukses memasukkan besaran persentase anggaran pendidikan ke dalam Konstitusi. Tidakkah kita berpikir bahwa, untuk lingkungan, seharusnya kita melakukan hal yang sama? Memang, penyediaan sumber daya tidak seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Perusahaan dan masyarakat, sebagai sumber masalah lingkungan, juga sudah seharusnya memikul tanggung jawab penyediaan sumber daya tersebut. Setidaknya, mereka harus bertanggung jawab untuk meminimalkan dampak negatif yang mereka timbulkan, selain merestorasi apa yang mereka rusak. Untuk itu, pengetatan regulasi dan penegakannya menjadi krusial. Penghargaan terhadap mereka yang melampaui ketentuan regulasi juga harus diberikan. Kisah sukses terkait dengan upaya menghukum para pelaku kejahatan lingkungan, merestorasi kerusakan, serta melakukan pencegahan kerusakan sangatlah penting untuk dipublikasikan. Di luar negeri, buku-buku yang menimbulkan harapan perbaikan kini gencar diterbitkan. Eco Barons karya Edward Humes, Getting Green Done dari Auden Schendler, serta Be the Solution oleh Michael Strong--seluruhnya terbit pada 2009--adalah tiga di antara banyak buku sejenis.
Indonesia memiliki banyak kisah sukses serupa, namun sayangnya tidaklah cukup terdengar. Padahal kisah sukses bisa membangkitkan semangat kerja, memberi inspirasi pemecahan masalah, dan meyakinkan pembacanya bahwa mereka tidak sendirian dalam kerja perbaikan lingkungan. Kutipan atas pernyataan pesimistis Hawken di atas dilanjutkan dengan "Bila Anda bertemu dengan orang-orang yang berusaha memecahkan masalah-masalah ini di berbagai belahan dunia dan tidak merasa optimistis, Anda tak punya hati".
Bumi beserta segala isinya adalah milik Tuhan (Mazmur 24:1), dan kita manusia diberi otoritas untuk menguasainya (Kejadian 1:28). Kelestarian lingkungan atau kerusakan lingkungan, tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Kita diberi otoritas untuk menjaga kelestarian lingkungan, maka kita harus bertanggungjawab atas otoritas yang diberikan Tuhan.

Renungan Hari Rabu, 7 Juli 2010

Menanam Pepohonan
Ulangan 20 : 19a
Apabila dalam memerangi suatu kota, engkau lama mengepungnya untuk direbut, maka tidak boleh engkau merusakkan pohon-pohon sekelilingnya dengan mengayunkan kapak kepadanya
Apakah musuh utama pohon? etika manusia mulai pandai melebur biji besi menjadi batang besi, lalu menempa dan membentuk lempengan, kemudian mengasahnya menjadi sebilah mata kapak yang tajam; ketika itulah pohon-pohon di dunia mulai khawatir akan nasib mereka. Pohon-pohon melihat semakin hari semakin banyak kerusakan yang diperbuat oleh manusia dengan kapak-kapaknya. Berbondong-bondong manusia memanggul kapak memasuki hutan dan menebangi pohon-pohon.

Apa jadinya bila dunia tanpa hutan yang lebat? Apa jadinya bila dunia tanpa pohon. Namun pohon tak bisa berbuat banyak. Pohon hanya bisa menitikkan air mata dan geram saat memandang satu-per-satu pohon lain bertumbangan akibat dikapaki oleh manusia-manusia. Kerusakan pohon sudah sedemikian dashyatnya. Kini hanya tertinggal sebatang pohon di hutan itu yang merintih, “Oh, mengapa manusia menciptakan kapak yang digunakan untuk menebangi pohon-pohon? Sungguh kejam kapak itu.” Rintihan itu terdengar oleh seorang penebang yang menjawabnya sambil tertawa-tawa, “Ha..ha..ha.. wahai pohon lihatlah, sebilah mata kapak ini takkan bisa melukaimu begitu parah bila tak dilengkapi dengan pegangan yang terbuat dari kayu yang kuat. Sadarkah kau bahwa kayu itu berasal dari pohon - yaitu dirimu sendiri!” Pohon, “Haaah..???”
Padahal sudah sangat jelas bahwa kejahatan lingkungan adalah kejahatan luar biasa. Korbannya bukan hanya mereka yang tak bersalah dalam generasi yang sama, tapi juga mereka yang belum terlahir. Bagaimana mungkin kejahatan atas banyak generasi tak juga dihukum berat? Maka, demi keadilan intra dan inter-generasi, sudah seharusnya mereka yang menikmati keuntungan dari kejahatan lingkungan dihukum seberat-beratnya. Kecenderungan permasalahan lingkungan memang memburuk. Karena itu, tak ada alasan apa pun yang membenarkan kita untuk berpangku tangan. Kalau kita mau menggunakan semua sumber daya untuk membalikkan kecenderungan kondisi lingkungan yang memburuk ini, kita pasti bisa melakukannya. Banyak contoh keberhasilan dalam skala kecil telah membuktikan itu.

Renungan Hari Selasa, 6 Juli 2010

Semua Milik Tuhan
Ayub 41: 2b – 3
Apa yang ada di seluruh kolong langit, adalah kepunyaan-Ku. Aku tidak akan berdiam diri tentang anggota-anggota badannya, tentang keperkasaannya dan perawakannya yang tampan
Kehendak bebas (free will ) adalah suatu karunia yang diberikan Tuhan kepada manusia, karunia ini adalah suatu karunia yang besar pengaruhnya dalam diri manusia, suatu karunia yang membuat manusia dapat melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya, manusia sendiri bisa untuk memutuskan apa yang hendak dia lakukan, apakah dia mau untuk mengikuti kehendak Tuhan ataukah kehendaknya sendiri. Tuhan memberikan karunia ini sejak awal penciptaan dimana manusia pertama 'Adam' diciptakan serupa denganNya, Tuhan mengatakannya sempurna, Tuhan membiarkan manusia itu untuk menentukan pilihan, menentukan manusia untuk beritindak, apakah ia mau mengikuti Tuhan ataukah malah ia sendiri menjauhiNya. Mengapa Tuhan memberikan karunia ini ? Tuhan inginkan dari kita manusia suatu tanggapan, suatu kesadaran untuk mengikutiNya, suatu perbuatan yang kita lakukan adalah untukNya, dia tidak mengatur kita seperti boneka/robot dalam kehidupan ini, memang Dia selalu membimbing kita, Dia selalu mengawasi kita, Dia selalu memberikan kita pandangan yang muncul dalam suara hati kita jika kita ingin melakukan suatu perbuatan / pilihan.

Disinilah Tuhan berperan, Dia mau manusia mengikuti kata kecilNya itu, suara hati itu yang mana itu adalah suaraNya, tapi kadang kita terlalu sibuk dan tidak mendengarkannya sehingga kita sering mengambil suatu keputusan dengan tidak penuh pertimbangan, lama-lama suara hati ini akan menjadi lebih kecil suaranya sehingga hampir tidak ada, berbeda dengan orang yang mendengarkannya, semakin didengarkan suara hati itu semakin lama menjadi besar dan setiap melakukan suatu perbuatan yang tidak baik timbulah pelarangan sebelumnya dari hatinya yang mana Tuhan sebenarnya yang berkata. Pada saat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, karena ia melakukan kehendak Iblis, padahal Tuhan sendiri sudah mengatakan kepada Adam untuk tidak memakan buah terlarang itu, disini terlihat bahwa Adam telah dilarang Tuhan, dan Adam adalah manusia yang dekat dengan Tuhan, terlihat bahwa ternyata Adam bisa melakukan kehendaknya sendiri dengan memilih mengikuti ajakan Hawa yang mana adalah sumbernya dari si iblis, padahal disini Adam bisa menolaknya tapi ternyata Adam melakukannya sehingga jatuhlah manusia dalam dosa.
Burung-burung, binatang-binatang di padang, kambing-kambing hutan, singa-singa muda, dan juga manusia, masing-masing menjalankan pekerjaannya; termasuk pula samudera luas dan segala binatang laut besar kecil yang tak terhitung. Kesemuanya sangat membutuhkan makanan atau rejeki dari Tuhan. Ini menunjukkan hubungan antara seluruh makhluk ciptaan Tuhan dengan Penciptanya, dan ketergantungan mereka yang tak kunjung putus di sepanjang masa kepada Tuhan seperti dikatakan, “Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya.” Ini berarti Tuhan tidak pernah berhenti bekerja; sebagaimana Dia menciptakan mereka, demikian pula Dia tetap memelihara mereka. Semua makhluk mutlak bergantung sepenuhnya kepada kemurahan Tuhan untuk mempertahankan hidup. “Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganMu, mereka kenyang oleh kebaikan.” (ayat 23). Paulus menasihati, “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2 Tesalonika 3:10b).

Renungan Hari Senin, 5 Juli 2010

Memelihara Ciptaan Allah
Mika 7 : 13
Tetapi bumi akan menjadi tandus oleh karena penduduknya, sebagai akibat perbuatan mereka
Bagi seorang hamba Allah yang masih memiliki tingkat kepekaan rasa yang tinggi dan kedalaman hati yang jernih, pasti akan tersayat hatinya bila melihat hamparan bumi tanah yang tandus. Di balik bumi tanah yang tandus itu ia melihat jiwa-jiwa manusia bergelimpangan dalam kehinaan dan ketercelaan. Mereka laksana tunggul-tunggul pohon yang kosong atau lapuk, meski raga mereka dihiasi dengan berbagai cara rekayasa agar tampak paling baik dan lebih unggul. Namun, hal itu tetap saja tidak akan mengubah pandangannya. Mereka terpandang tetap hidup dalam kehinaan dan ketercelaan, karena demikian itulah ketetapan yang telah disandangkan kepada mereka. Sang hamba Allah tersayat hatinya, karena sebenarnya bumi khususnya tanah, adalah subur. Menjadi tidak suburnya bumi dan tanah, jelas disebabkan manusia. Tanpa disadari, bumi tanah menjadi korban kebiadaban perilaku manusia.
Jika dijumpai hamparan bumi tanah yang tandus, tidak bisa ditumbuhi tanaman maupun tidak bisa dimanfaatkan kandungan tanahnya, maka itulah pertanda bahwa disitu sedang menghuni masyarakat atau bangsa yang hina lagi tercela. Tidak ada artinya bumi tanah dihamparkan dalam keadaan subur, karena dengan keadaan hina dan sifat tercela itu, mereka senantiasa hanya melakukan kerusakan terhadap bumi tanah. Dari pada bumi tanah yang subur terus-menerus hanya dirusak oleh mereka, bagi mereka lebih pantas hamparan bumi tanah yang tandus.

Hina dan tercelanya keadaan suatu masyarakat atau bangsa bukan diukur menurut pandangan manusia, tetapi diukur menurut pandangan Allah. Namun demikian, tak selamanya bumi tanah yang tidak bisa ditumbuhi tanaman adalah pertanda bahwa masyarakatnya atau bangsanya dalam keadaan hina lagi tercela. Bila kandungan bumi tanahnya sangat subur meliputi berbagai hasil tambang, maka masyarakat atau bangsa itu tidak dapat dikelompokkan ke dalam masyarakat atau bangsa yang hidup terhina lagi tercela. Yang menjadi ukuran adalah tandusnya tanaman dan tandusnya kandungan bumi tanah. Tanah air kita ini mempunyai berbagai ragam keadaan bumi tanah. Ada masyarakat dengan daerah bumi yang tanahnya tidak dapat ditumbuhi tanaman tetapi sangat kaya kandungan tanahnya; ada pula masyarakat dengan daerah yang subur tanamannya, tetapi tandus kandungan bumi tanahnya. Khususnya untuk masyarakat daerah Pulau Jawa, keadaan hamparan bumi tanahnya lebih banyak berkeadaan subur dengan tanaman tetapi sedikit akan kandungan tanahnya. Sebaliknya untuk daerah-daerah di luar Pulau Jawa, subur kandungan tanahnya dari pada tanamannya. Demikian telah Allah lengkapi negeri ini menjadi negeri yang penuh diliputi berkat dari-Nya.
Salah satu bencana yg disebabkan aktifitas manusia terutama akibat aktifitas ekstraksi (penambangan, kata lain dari "eksploitasi") mungkin termasuk didalamnya ekstraksi material maupun ekstraksi energi seperti menyumbat sungai membuat bendungan menghasilkan energi listrik dsb. Disisi lain juga aktifitas kehidupan seperti contoh klasik Jakarta dimana banjir yg terjadi sudah sering dianggap sebagai bencana akibat 'ulah' manusia sendiri. Kegiatan-kegiatan "ekstraksi" diatas pasti akan secara langsung melibatkan ahli geologi. Sehingga 'kerusakan' lingkungan, tapi sebaiknya aku sebut saja "perubahan" lingkungan, pasti akan terjadi dalam setiap aktifitas ini, dan jelas hal ini juga dapat diketahui/diidentifikasi oleh oleh ahli geologi sendiri juga.
Secara langsung, kesalahan manusia seringkali berakibat rusaknya bumi. Dengan kesemberonoannya, manusia merusak alam, mengeduk segala keuntungan, dan tidak peduli kalau keseimbangan alam menjadi rusak. Manusia baru terkaget-kaget ketika bencana alam datang dan mengambil korban jiwa. Sedihnya, kekagetan itu diikuti dengan komentar, "ini sudah kehendak Allah," sambil meneruskan kebiasaan merusak alam. Walaupun para ahli berseru-seru agar orang lebih keras berusaha menjaga lingkungan, lebih banyak orang bersikap tidak peduli dan membuat kerusakan yang lebih parah lagi. Kita perlu melakukan instrospeksi terhadap diri kita sendiri, mungkin musibah yang terjadi selama ini disebabkan dosa-dosa yang kita perbuat. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat, selama nafas belum terhenti dikerongkongan.


Minggu, 01 Agustus 2010

Renungan Hari Minggu V Setelah trinitatis, 4 Juli 2010

Ketaatan
Kejadian 9 : 8 – 17
Nuh mendapat tugas "aneh" dari Tuhan pada suatu hari. Dia diminta untuk membangun sebuah bahtera super besar, yang harus mampu memuat seluruh keluarganya beserta sepasang dari segala jenis hewan. Nuh bukanlah seorang tukang kapal. Dan sepertinya pada masa itu hujan belum pernah turun, sehingga kita bisa membayangkan, bagaimana jika kita menjadi Nuh pada saat itu. Perintah untuk membangun kapal besar, di usia senjanya, padahal sebelumnya mungkin dia belum pernah melihat apa yang digambarkan sebagai sebuah bahtera.
Apa yang dilakukan oleh Nuh? Nuh taat melakukan perintah Tuhan tanpa membantah sedikitpun. Saya membayangkan, mungkin selama masa ia membangun, begitu banyak orang yang menertawakannya, mengapa ia membangun sesuatu yang luar biasa besar di atas daratan. Nuh pada saat itu mendapat hikmat Allah, dimana Allah sendirilah yang secara langsung memberitahukan detail-detail untuk membangun sebuah kapal. "Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya.Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas." (Kejadian 6:15-17).

Ukurannya tidak main-main, sekitar 133 meter panjangnya, 22 meter lebarnya dan 13 meter tingginya. Saat itu rasanya belum pernah ada yang namanya hujan lebat yang begitu lama yang akan membuat seluruh bumi tenggelam. Nuh belum pernah melihat hal tersebut sebelumnya, sehingga saya yakin logikanya tidak akan mampu menggambarkan hal tersebut. Namun Nuh taat, dan mengerjakan seluruhnya sesuai perintah Tuhan. Nuh percaya bahwa sesuatu yang belum pernah terjadi bukan berarti tidak akan terjadi. Dia memilih untuk patuh. "Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya." (ay 22). Setelah selesai, Tuhan pun berkata: "Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini." (7:1). Lalu hujan pun turun selama 40 hari dan 40 malam menenggelamkan segalanya. Pada akhirnya, kita mengetahui bahwa Nuh beserta keluarganya diselamatkan. Karena Nuh orang yang selalu baik? Bukan demikian yang dicatat Alkitab. Allah menyelamatkan Nuh bukan karena Nuh orang baik, melainkan karena Nuh adalah orang benar.
Perhatikan juga ini mau memperlihatkan bagaimana cara Nuh hidup dengan kesungguhan imannya, dalam kesetiaan mendengarkan Allah. Saat ia mempersiapkan bahtera, ia mempersiapkan bahtera dengan iman, karena hanya ada peringatan tentang air bah dari Allah. Nuh mendengarkan Allah dan yang lain tidak.
Dalam setiap langkahnya Nuh berjalan dengan iman dan tidak mengandalkan kemampuan akalnya yang terbatas. Ia telah menyampaikan pesan pertobatan kepada orang-orang yang berbuat jahat pada masa itu, tetapi mereka tidak menanggapinya. Dan pada akhirnya mereka menerima bagian dari kejahatan mereka. Tetapi yang setia seperti Nuh diselamatkan. Ini bukan akhir dari kehidupan di dunia. Melalui Nuh, Allah tetap menginginkan ciptaanNya hidup dan hidup itu adalah hidup yang benar.


Renungan Hari Sabtu, 3 Juli 2010

Mencermati Perbuatan Kegelapan
Efesus 5 : 11
Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu
Di tengah dunia yang dipenuhi keingingan daging dan banyak penyesat (Iblis) yang tidak pernah berhenti melancarkan taktik dan jerat kepada orang-orang percaya, kita akan mudah diperdaya dan masuk perangkapnya kalau tidak waspada dan berjaga-jaga. Banyak orang Kristen merasa dirinya kuat dan berpikir tidak mungkin jatuh, lalu tanpa disasari mulai masuk ke dalam perangkap yang dinamakan sombong rohani. Firman Tuhan mengingatkan, “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12).
Bagaimana kita dapat mencerminkan terang Allah dalam dunia yang tidak sempurna itu? Dengan menjadikan Allah sebagai pusat hidup kita, kita dapat menolak godaan dan berkonsentrasi untuk mengembangkan jiwa yang mulia, penuh kasih dan kebaikan, yang kemudian akan terpancar pada tiap orang yang kita jumpai. Kita mungkin tidak akan pernah mencapai kesempurnaan, tetapi dengan melakukan yang terbaik dalam meneladani Yesus Kristus, kita dapat menjadi contoh terang bagi orang lain di dunia yang kelam.

Kita harus konstan menjaga hidup kita dan ‘memperhatikan diri kita sendiri’ dengan kesadaran penuh. Yang dimaksud ‘memperhatikan diri sendiri’ di sini berarti sikap selalu berjaga-jaga, siap sedia, awas terhadap setiap tanda-tanda jerat atau jebakan, pemikian dan juga tindakan-tindakan salah dalam hidup kita sendiri. Itu semua memerlukan kepekaan kita. Di dalam firmanNya terkandung hikmat, sehingga kita beroleh kemampuan melaksanakan firman itu dan dapat membedakan mana yang benar dan salah, mana yang sesuai kehendak Tuhan da yang tidak. Jadi kita tidak boleh pasif, karen kekuatan yang dapat mengalahkan tipu daya Iblis adalah saat kita aktif berjaga-jaga dalam mengenali, menghadapi dan melawan musuh. Tidak ada istilah bersantai di hari-hari akhir ini! Ingat! “…Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8).
Hidup yang berpadanan dengan panggilan adalah hidup yang taat pada kehendak Tuhan dalam firman-Nya dengan pimpinan Roh Kudus. Hal itu berarti bahwa orang percaya harus memelihara hubungan yang akrab dengan firman Tuhan. Hubungan yang akrab ini terjadi melalui pembacaan firman Tuhan secara teratur dan menyeluruh, perenungan, pemahaman yang mendalam, dan ketaatan yang tulus dalam seluruh aspek hidup. Melalui hubungan yang akrab, orang percaya belajar memahami kehendak Tuhan dan hidup dalam pimpinan Roh Kudus-Nya. Hiduplah sebagai penurut-penurut Allah setiap hari dengan memahami kehendak Tuhan dan taat kepada pimpinan Roh Kudus-Nya.


Renungan Hari Jumat, 2 Juli 2010

Manusia Gambaran Allah
Kejadian 9 : 6
Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri
Nas ini memberikan pernyataan yang jelas tentang hukuman mati. Allah menuntut "perhitungan" baik dari manusia maupun dari binatang yang menumpahkan darah siapapun. Namun karena keduanya harus bertanggung jawab, sekalipun binatang tidak dapat membuat perbedaan moral atau bertindak dengan sengaja, bagaimanakah dapat mengajukan hukuman mati. Apa yang menghubungkan pembunuhan dengan pembantaian manusia adalah keduanya mendatangkan kesalahan penurnpahan darah dan keduanya mencemari tanah. Apa yang membedaan keduanya adalah bahwa tak ada pengganti yang bisa diberikan untuk kematian yang datang dari tangan seorang pembunuh (maksudnya , bagi siapa yang merencanakan tindakannya itu), namun bacaan tersebut menyiratkan bahwa bagi setiap tindak kejahatan yang berhukuman mati berjumlah enam belas hingga dua puluh kasus dalam Perjanjian Lama, diperbolehkan memberikan pengganti (Bilangan 35:31). Jika setiap manusia yang dibunuh, lalu anggota keluarganya berusaha mencari si pembunuh dan berusaha membunuhnya, maka akan terjadi bunuh membunuh yang tidak ada habis-habisnya. Rasul Paulus menjelaskan dalam Roma 13:1-7 tentang fungsi pemerintah. Dikatakan dengan jelas bahwa pemerintah adalah penyandang pedang yang akan menghukum para penjahat (kriminal).

Manusia diciptakan Allah dan diberi tanggung jawab sebagai wakil Allah untuk menaklukkan, menguasai dan mengatur ciptaan-ciptaan Allah yang lain. Inilah yang kita kenal sebagai mandat kebudayaan (Kejadian 1:28). Hal ini berarti bahwa manusia memiliki dua status : (1) Manusia sebagai wakil Allah di bumi (2) Manusia sebagai penguasa/pengatur ciptaan-ciptaan yang lain. Jika kita bandingkan kedua status ini, maka status pertama lebih penting dan dominan dalam diri manusia daripada status kedua. Maksudnya adalah kualitas sebagai wakil Allah lebih besar atau lebih tinggi daripada kualitas sebagai penguasa ciptaan yang lain. Dengan kata lain manusia lebih dekat dengan Allah sebagai Tuhannya, daripada dengan ciptaan lain sebagai “hambanya”.
Oleh sebab itu sebagai wujud dari status pertama ini, manusia perlu dilengkapi dengan “gambar” dan “rupa” Allah. Jadi “mengapa Allah menciptakan manusia menurut “gambar” dan “rupa”-Nya?” Di satu sisi Allah ingin menyatakan bahwa manusia lebih dekat dengan Allah sebagai pencipta dan Tuhannya daripada dengan ciptaan yang lain sebagai “hambanya”, dan di sisi lain Allah ingin membedakan manusia dengan ciptaan lain. Dapat juga dikatakan bahwa “gambar” dan “rupa” Allah dalam diri manusia dimaksudkan untuk “mendekatkan jarak” antara manusia dengan Allah dan “menjauhkan jarak” antara manusia dengan ciptaan yang lain (binatang). Dengan demikian manusia sama seperti Allah (tetapi bukan Allah, dan berbeda dengan binatang). Selain itu dalam hubungan dengan status keduanya sebagai penguasa atau pengatur ciptaan-ciptaan Allah yang lain maka manusia perlu dilengkapi untuk melaksanakan tugasnya itu. Tugas yang berat itu tidak akan mungkin dilakukan tanpa sesuatu dari Allah. Itulah sebabnya manusia diciptakan menurut “gambar” dan “rupa” Allah.
Tujuan lain dari pemberian gambar dan rupa Allah dalam diri manusia adalah sebagai pemberian atau penyediaan sarana persekutuan demi terjalinnya hubungan atau persekutuan secara pribadi antara manusia dengan Allah. Dengan adanya “gambar” dan “rupa” Allah dalam diri manusia, memungkinkan manusia untuk berrelasi dengan Allah. Yang diharapkan Allah bagi kita karena Allah ingin agar melalui kehidupan manusia, kemuliaan-Nya yang telah dinyatakan itu dapat terpancar. Karena Allah ingin menjalin hubungan pribadi yang intim dan mesra dengan manusia. Atau lebih tepat dikatakan bahwa agar manusia dapat berhubungan secara pribadi dengan Allah.
Jadi, kalau Allah pencipta manusia telah menetapkan bahwa kalau seorang manusia dibunuh secara sengaja dan terencana, maka orang itu harus dibunuh oleh pemerintah, maka sebagai orang Kristen yang alkitabiah kita harus mendukung keputusan Allah. Bagi Allah barang siapa dengan sengaja mencabut hak hidup manusia lain, sama dengan ia telah mencabut hak hidup dirinya sendiri. Hukuman mati, atau hukuman jenis lain yang diancamkan kepada pelaku yang lebih berat dari penderitaan korban yang diakibatkannya, adalah demi kepentingan bermasyarakat dan bernegara yang damai. Tidak ada manusia baik dan sehat pikiran yang tidak merindukan ketentraman. Ketentraman, kedamaian, bahkan kemakmuran tidak mungkin bisa dicapai oleh sekelompok masyarakat yang tidak dilengkapi aturan hukum yang mengancam krimilal lebih berat dari kerusakan pada korban yang ditimbulkannya.


Renungan Hari Kamis, 1 Juli 2010

Berbuat Adil
Yeremia 22 : 13
Celakalah dia yang membangun istananya berdasarkan ketidakadilan dan anjungnya berdasarkan kelaliman, yang mempekerjakan sesamanya dengan cuma-cuma dan tidak memberikan upahnya kepadanya
Di radio disiarkan tentang adanya perusahaan2 yang menahan ijasah karyawannya, dan ada diantara mereka yang bahkan meminta sejumlah uang sebagai tebusan atas ijasah mereka ketika mereka keluar dari perusahaan. Bagaimana sebenarnya pandangan Alkitab terhadap sikap ini?
Yang menjadi pertanyaannya adalah: Apakah peraturan perusahaan ini sudah dilaporkan ke Departemen Tenaga kerja? Mengingat bahwa sebenarnya ketika suatu perusahaan membuat peraturan untuk tenaga kerjanya, ia harus memberikan rincian peraturannya ke Departemen Tenaga kerja terlebih dahulu, lalu mereka akan memberikan persetujuan dengan mencapnya sebagai suatu peraturan yang sudah disetujui.
Maka, apa dampaknya ketika praktek ini kita perbuat terus? Yeremia 22: 13 dikatakan “Celakalah dia yang membangun istananya berdasarkan ketidakadilan dan anjungnya berdasarkan kelaliman, yang mempekerjakan sesamanya dengan cuma-cuma dan tidak memberikan upahnya kepadanya; (Mengapa di ayat ini dikatakan “Celaka” ketika tidak memberikan upah kepada pekerja?) Mari kita simak jawabannya di kitab maleakhi.

Maleakhi 3: 5 dikatakan “Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman TUHAN semesta alam.” (Perhatikan!! Allah sendiri yang akan menghakimi kita ketika kita mencurangi orang2 upahan. Apakah kita akan menganggap ini suatu angina lalu?)
Maka, marilah kita renungkan cara2 kita berbisnis, ini bukan hanya yang memiliki perusahaan, akan tetapi bahkan sikap kita kepada orang2 upahan yang ada dalam rumah tangga kita. Mengapa ini penting untuk kita pikirkan? Matius 7: 2 dikatakan “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Rabu, 28 Juli 2010

Renungan Hari Rabu, 30 Juni 2010

Setia Terus-menerus
Wahyu 2 : 10
Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.
Pada waktunya, kita akan mendapatkan sesuatu yang indah sebagai bagian dari rencana Tuhan dalam hidup kita. Tapi kita sulit mengetahuinya sejak awal karena keterbatasan kemampuan kita, yang perbedaannya digambarkan bagai bumi dan langit dengan Tuhan. Karena ketidakmampuan kita itulah maka kita perlu mempercayakan seluruh perjalanan hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Biar rencanaNya yang terjadi, bukan rencana kita, karena itulah pasti yang terindah. Waktunya mungkin lama, kita mungkin harus menderita terlebih dahulu, namun percayalah pada waktunya nanti, pada akhirnya kita akan melihat bahwa semua itu akan bermuara kepada sesuatu yang indah.
Konteks dalam perikop ini adalah surat yang ditujukan kepada jemaat di Smirna. Kota yang paling makmur di Asia Kecil dan mendapat nama Metropolis. Tetapi di sini terdapat orang-orang Yahudi dalam jumlah dan kekuatan yang luar biasa,. Mereka memberikan permusuhan yang pahit terhadap jemaat Kristen. Dalam keadaan seperti itu, jemaat di Smirna menghadapi penderitaan dan dukacita. Karena itu pada ayat 10 menjadi penghiburan dan menguatkan. Ayat ini mengatakan, “Jangan engkau takut terhadap apa yang harus engkau derita ! sebab penderitaan ini hanya berlangsung sepuluh hari.” Ini artinya bahwa penderitaan ini hanya berlangsung singkat, semacam penganiayaan lokal.

Perkataan penghiburan yang menguatkan itu ditegaskan kembali dalam ayat 10c, “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan”. Perkataan ini sungguh hebat dan luar biasa. Kata setia dalam bahasa Yunani adalah ‘pistos‘ yang artinya bisa dipercaya, handal (bahasa Jawa: iso diandelake). Jemaat di Smirna pada saat itu menghadapi penderitaan, tantangan serta hambatan dari luar (orang-orang Yahudi). Maka mereka didorong semangatnya agar tidak menjadi lemah atau nglokro, tetapi tetap setia, bisa dipercaya, bisa diandalkan untuk menghadapi semuanya itu dengan gigih. Bukan hanya untuk sementara saja atau angin-anginan tetapi setia sampai mati.


Renungan Hari Selasa, 29 Juni 2010

Keadilan Allah
Habakuk 2 : 12
Celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan
Nas ini menunjukkan bahwa orang-orang fasik, semua kekuatan, keputusan, dan tindakan mereka berdiri di atas ketidakadilan. Ditengah-tengah dunia berdosa kalau ada benteng yang ditegakkan di atas darah orang benar, itu tidak perlu kaget. Alkitab mengatakan, "Semua itu berasal dari Tuhan." Apa maksud kalimat ini? Apakah semua suku-suku bangsa akan menegakkan semua di atas api dan berdiri di atas kesia-siaan? Dalam hal ini, yang akan berhadapan dengan keadilan Tuhan adalah ketidakadilan manusia. Berbicara ketidakadilan disini merupakan hal yang mengerikan. Hingga hari ini saya sangat super pesimis untuk melihat keadilan terjadi di dunia. Sebab kalau keadilan tidak kembali kepada Tuhan yang merupakan sumbernya keadilan omong kosong ada keadilan.
Keadilan bukan hal yang sederhana, di dalamnya harus ada unsur kebenaran Allah yang menjadi dasar. Banyak orang tidak mengerti esensi keadilan dan menganggap keadilan adalah sesuatu yang bisa secara sederhana dimengerti dan dijalankan. Keadilan bukan sama rata. Lalu keadilan itu apa? Keadilan adalah kembalinya kita pada kebenaran Allah. Keadilan tidak tergantung manusia karena keadilan sejati tidak pernah bisa ditegakkan di atas dasar yang bersifat relatif, selama ditegakkan di atas dasar yang relatif maka dasar yang ditegakkan tidak pernah mutlak. Disini kita melihat keadilan sejati tidak mungkin ditegakkan, yang bisa hanyalah keadilan semu.

Pada jaman Habakuk, keadilan ditegakkan di atas dasar kekuatan. Semua yang ditegakkan bangsa-bangsa berdiri diatas api artinya apa yang mereka tegakkan, di bawahnya ada apinya yang tinggal menghancurkan mereka. Dan semua yang mereka kerjakan akan habis sia-sia total tidak ada hasilnya. Mereka akan hancur dalam ketidakdilan mereka dan keadilan Tuhan akan menghantam ketidakadilan mereka. Disini saya harap kita bisa mengerti mengapa orang benar harus hidup berdasarkan iman. Alkitab mengatakan sampai ay 14, "Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan Tuhan, seperti air yang menutupi dasar laut." Ini gambaran bahwa keadilan Allah tidak bisa dipermainkan oleh manusia. Jangan pikir ketidakadilan bisa ditegakkan, kita bisa berbuat serakah semaunya dan bisa memproteksi kejahatan kita. Ingat, pada akhirnya keadilan Allah akan ditegakkan, pengetahuan tentang kemuliaan Allah akan nyata. Ini menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang hidup.


Renungan Hari Senin, 28 Juni 2010

Harta Yang Menetap
Ibrani 10 : 34
Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya
Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:19-21)
Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:21-22, baca juga Markus 10:21-22, Luk 18:22)
Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Lukas 12:15,21,33-34)

I Timotius 6:19 dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.
II Timotius 1:14 Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.
Ibrani 10:34 Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.
Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir. (Yakobus 5:3).
Sekali peristiwa Yesus mengajar banyak orang. Salah seorang dari mereka berkata kepada Yesus, "Guru, katakanlah kepada saudaraku, supaya ia berbagi warisan dengan daku." Tetapi Yesus menjawab, "Saudara, siapa yang mengangkat Aku menjadi hakim atau penengah bagimu?" Kata Yesus kepada orang banyak itu, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan! Sebab walaupun seseorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya itu." Kemudian Ia menceritakan kepada mereka perumpamaan berikut, "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya, 'Apakah yang harus kuperbuat, sebab aku tidak punya tempat untuk menyimpan segala hasil tanahku.' Lalu katanya, 'Inilah yang akan kuperbuat: Aku akan merombak lumbung-lumbungku, lalu mendirikan yang lebih besar, dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum serta barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya. Beristirahatlah, makanlah, minumlah, dan bersenang-senanglah!' Tetapi Allah bersabda kepadanya, 'Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu. Bagi siapakah nanti apa yang telah kausediakan itu?' Demikianlah jadinya dengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah." Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.


Renungan Hari Minggu, 27 Juni 2010

Melakukan Panggilan Tuhan
1 Petrus 3 : 13 – 17

Siapakah di antara kita yang belum pernah merasakan penderitaan jasmani? Siapakah di antara kita yang tidak lagi berbuat dosa? Sepintas ayat yang terdapat dalam Kitab 1Petrus 4:1 tampaknya tidak sulit. Penderitaan Kristus secara jasmani sudah dikenal dalam iman Kristen, karena bagaimana lagi manusia dapat menggambarkan salib? Demikian pul pernyataan bahwa orang Kristen harus siap mengikut Kristus, termasuk meneladani penderitaan-Nya, merupakan hal yang sangat umum dalam Perjanjian Bam. Kita hanya perlu membaca Filipi 2:5-11 atau 1 Petrus 2:21 untuk mendapatkan contoh. Tetapi dalam bacaan di atas ada hal lain yang ditambahkan, yaitu "barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa." Dalam hal apakah pernyataan tersebut benar? Apakah pernyataan tersebut memiliki arti yang sama dengan ayat yang terdapat dalam Roma 6:7, "Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa"? Ataukah pernyataan tersebut memiliki arti lain, karen a yang digunakan adalah kata "menderita", bukan "mati", serta "telah berhenti berbuat dosa" dan bukan "te lah bebas dari dosa"? Selanjutnya pada inti pembahasan ini timbul pertanyaan yang membutuhkan perhatian: Jika "berhenti berbuat dosa" berarti tidak melakukan dosa lagi, mengapa saya masih melakukan dosa? Apakah ini berarti saya belum cukup menderita?

Dalam perjalanan hidup Kristen kita, sejak bertobat sampai bertumbuh menjadi murid-murid Kristus, saya kira pertanyaan yang paling sering kita tanyakan adalah tentang bagaimana mengetahui "kehendak Allah" bagi hidup kita. Kebanyakan dari kita terjebak pada pemikiran bahwa Allah sejak semula sudah menetapkan rencana-Nya yang terbaik bagi hidup kita, tapi sekarang tugas kita adalah mencari tahu apa rencana terbaik itu supaya kita tidak salah melangkah. Tapi pertanyaannya, bagaimana kalau dalam perjalanan hidup kita, kita sudah mengambil langkah yang salah? Apakah berarti rencana Tuhan yang terbaik itu menjadi tidak mungkin terjadi dalam hidup kita? Apakah Tuhan memiliki rencana cadangan bagi kita?
Sebagai keluarga Kristen, kita dituntut jadi garam dan terang. Ini hanya bisa dilakukan jika kita terus menabur dalam kebaikkan. Seorang bapak yang saya kenal, mangajar anaknya untuk berdoa bagi orang yang kekurangan sebelum makan. Temansaya sejak kecil diajar ayahnya untuk memberi makan pengemis yang datang meminta-minta ke rumah mereka. Kebaikan kecil ini meski sangat sederhana, tapi membuat berkat dialirkan dalam keluarga kita. Menderita karena berbuat baik memang tidak mudah.

Renungan Hari Sabtu, 26 Juni 2010

Tuhan Perteduhanku
Mazmur 90 : 1 -3
Doa Musa, abdi Allah. Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah. Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai anak-anak manusia!"
Doa ini, yang dianggap digubah Musa, mungkin ditulis sementara 40 tahun ketika Allah membuat Israel mengembara di padang gurun sebagai hukuman atas ketidaksetiaan mereka (Ul 8:15). Suatu angkatan orang Israel yang tidak taat mati selama ini (bd. ayat Mazm 90:7-11; lih. Bil 14:22-33). Setelah mengakui semua pelanggaran mereka dan hukuman Allah, Musa mendoakan pemulihan perkenan dan berkat Allah.
Tuhan ingin kita menyadari bahwa Dia sanggup melakukan segala sesuatu, mengetahui bahwa tidak ada satupun rencanaNya yang gagal. (Ayub 42:2). Dia mau kita Tuhan menghendaki kita untuk menjadikanNya sebagai Pribadi yang bisa dipercaya sepenuhnya dan diharapkan untuk mengamankan hidup kita. Dan ketika kita melakukan itu semua, kita akan mengalami sebuah pengertian mendasar bahwa Dia adalah Allah yang tidak pernah mengecewakan. Oleh sebab itulah kita bisa membaca dalam Mazmur, "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku." (Mazmur 62:6), "Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu." (26:3).

Tuhan mampu menangani semua bahaya yang mengelilingi kita. Betapa gawatnya bahaya itu sekalipun. Sadrakh, Mesakh, Abednego dan Daniel sudah membuktikannya. Daud sudah membuktikannya. Bangsa Israel di jaman Musa mengalaminya. Begitu pula banyak tokoh alkitab lainnya. Jika dulu janji Tuhan berlaku dan terbukti, hari ini pun sama, sebab Tuhan kita tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. (Ibrani 13:8). Saya undang anda semua untuk membuktikan dalam hidup anda kebenaran firmanNya yang telah dibuktikanNya dalam hidup Sadrakh, Mesakh, Abednego, Daud dan lain-lain. Hiduplah bersama Tuhan, ijinkan Dia memerintah dalam hidup anda, hiduplah sesuai kebenaran firmanNya dan seturut kehendakNya, maka Tuhan akan hadir tepat di tempat anda untuk membebaskan anda dari masalah, kehancuran, atau malapetaka apapun.

Renungan Hari Jumat, 25 Juni 2010

Tuhan Tempat Pengungsian
Yesaya 25 : 4a
Sebab Engkau menjadi tempat pengungsian bagi orang lemah, tempat pengungsian bagi orang miskin dalam kesesakannya.
Benteng, tempat perlindungan, ataupun tempat pengungsian, merupakan tempat-tempat yang memberikan keamanan secara fisik bagi setiap orang dalam situasi perang. Benteng dan tempat perlindungan adalah tempat yang aman bagi tentara yang sedang berperang. Sedangkan tempat pengungsian adalah tempat yang aman bagi masyarakat sipil yang negaranya sedang berperang.
Dalam setiap peperangan, perkelahian, wabah penyakit dan bencana akan membuat manusia harus mengungsi. Tentu dlam pengungsian akan berbeda halnya dengan tempat mereka sebelumnya. Ditengah pengungsian tidak sebaik yang mereka nikmati sebelumnya. Dalam pengungsian semua harus berbagi dan tenggang rasa, toleransi yang tinggi. Sehingga pada akhirnya diperlukan peningkatan hidup dalam pengungsian itu. Tempat pengungsian akan diharapkan masa depan yang baik dan cerah. Dalam hal ini kita diingatkan dalam nas agar tetap merasakan sukacita bersama Tuhan sebagai tempat pengungsian kita. Ketika kita diperhadapkan dengan penderitaan dan persoalan dunia ini.

Selain terus berpanjang sabar memberi kesempatan bagi kita, Tuhan pun selalu memposisikan diriNya untuk selalu menjadi tempat perlindungan yang utama. "TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya" (Nahum 1:7). Kuasa Tuhan yang besar, yang mampu melebihi akal mengatasi segala kemustahilan akan selalu membuat kita aman ketika berlindung di dalamnya. Dalam hal ini pun Daud menyadarinya dan berkata "Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!" (Mazmur 34:8). Kenapa tidak? Kebaikan Tuhan yang luar biasa itu bukan hanya "pepesan kosong" belaka namun sudah sangat nyata terbukti baik lewat perjalanan hidup tokoh-tokoh Alkitab maupun banyak kesaksian dari masa ke masa. "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:1).

Renungan Hari Kamis, 24 Juni 2010

Tuhan Perlindunganku
Mazmur 91 :4 -6
Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang
Bumi dengan segala isinya diciptakan oleh Allah dalam keadaan yang “sungguh amat baik” (ayat 31). Dan, kepada manusia diberikan tanggung jawab pengelolaannya (ayat 28). Sayangnya, kata “taklukkanlah” dan ”berkuasalah” dalam ayat itu lalu disalah-artikan. Seolah-olah itu adalah “surat izin untuk melakukan apa saja, sesuka-suka dan semau-mau kita” terhadap bumi. Padahal itu adalah sebuah penugasan luhur kepada kita, manusia, agar memelihara dan menjaga bumi. Kita memang boleh mengeksplorasinya, tetapi jangan mengeksploitasinya.
Untuk turut serta menjaga dan memelihara bumi, kita bisa memulainya dari diri kita sendiri dan dari hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan. Recycle, sebisa-bisanya hindari penggunaan benda-benda plastik yang sulit terurai secara alami. Reduce, kita perlu mengurangi penggunaan bahan bakar dan benda-benda yang bisa merusak lapisan ozon. Reuse, menggunakan kembali barang-barang yang ada untuk mengurangi sampah yang tidak perlu. Dan yang paling penting, kita bisa memulainya sekarang! Tidakkah kita rindu melihat bumi kita menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman?

Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian melewati masa-masa yang sulit di
dalam kehidupan kita. Dia menyediakan perlindungan dan damai sejahtera-Nya. Tetapi perlindungan-Nya itu tidak berarti bahwa kesulitan kita akan dengan mudah kita atasi. Tuhan mengizinkan manusia untuk mengalami ketakutan dan kecemasan selama berada di dunia. Tuhan mengizinkan mereka menderita, karena Dia memiliki sesuatu yang jauh lebih penting di dalam pikiran-Nya. Dia ingin mengajar mereka untuk mengenali ketidakberdayaan mereka, penyediaan-Nya dan kebutuhan mereka akan Dia. Kedamaian yang disediakan Tuhan tidak berarti bahwa kita terbebas dari tekanan-tekanan luar atau terbebas dari konflik. Kedamaian yang dijanjikan-Nya
kita terima dengan berbagai cara. Ketika kita berada dalam hubungan yang benar dengan Tuhan, kita diberikan kemampuan untuk hidup dalam damai dengan sesama kita. Dan dengan damai-Nya itu,
kita memiliki kekuatan untuk mengampuni, untuk tidak menyimpan kesalahan, dan untuk menunjukkan kasih bahkan kepada orang yang menentang kita.

Renungan Hari Rabu, 23 Juni 2010

Tempat Yang Kekal
2 Korintus 5 : 1
Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.
Ada sebagian orang yang berpandangan, manusia hidup dunia ini akan berbahagia manakala semua kebutuhan jasmani dan rohaninya terpenuhi. Mulailah orang mendaftar kebutuhan-kebutuhan lahir dan batin tersebut. Kebutuhan jasmani : makan dan minum dengan kenyang, pakaian yang cukup, hidup enak, tidur nyenyak, tempat tinggal yang layak, kebutuhan seksual dan kesehatan. Kebutuhan rohani : kasih sayang, rasa aman, harga diri, kebebasan, keberhasilan, rasa ingin tahu terpuaskan.
Jika pada saatnya Tuhan memanggil ‘pulang’ tak seorang pun dapat mengelak. Apa pun yang kita miliki saat itu (uang, deposito, perhiasan, mobil, rumah mewah dan lainnya) akan kita tinggalkan. Ayub berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil,...” (Ayub 1:21).

Akibatnya banyak orang tidak siap dan mengalami ketakutan luar biasa saat harus menghadapi kematian. Tetapi bagi kita orang percaya, kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kehidupan yang baru. Paulus berkata, “...jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.” (2 Korintus 5:1). Tuhan sendiri juga menegaskan, “Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” (Yohanes 14:2).
Jadi, yang paling penting bukan bagaimana caranya menghindari kematian itu, melainkan bagaimana agar ketika kematian itu menjemput kita, kita dalam kondisi sudah siap. Apa yang harus kita lakukan agar kita siap menghadapi kematian? Pertama, kita harus percaya di dalam hati dan mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan (baca Roma 10:9-10). Kedua, kita harus hidup dalam pertobatan setiap hari, karena “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” (Galatia 5:24).

Renungan Hari Selasa 22 Juni 2010

Tempat Kekal
Ibrani 13 : 14
Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang.
For here we have no continuing city. Jadi bukan tempat tinggal, kota yang kekal. Disini (di dunia) kita tidak punya kota yang terus menerus, yang kekal. Ayat 14 ; Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang. Apakah saudara punya hati, punya pikiran ada di kota yang tidak kekal, seperti sekarang? Apa di kota yang akan datang, hanya Tuhan yang tahu. Bagaimana hati kita terikat dengan kota yang akan datang, atau kota yang di dunia ini, kita sibuk mencari uang memperkaya diri supaya kita punya rumah bagus dan tidak ada sama sekali untuk mencari kota yang kekal itu, hanya Tuhan yang tahu.
Petrus mengingatkan bahwa di dunia ini kita hanyalah pendatang atau perantau. Kita harus berjuang melawan keinginan-keinginan daging agar mampu hidup dalam kekudusan dalam tempat perantauan sementara ini (1 Petrus 2:11). Kalau begitu, dimana kewargaan kita yang sesungguhnya? Bagi orang percaya yang menerima Yesus sebagai juru selamat, kita adalah warga surga. “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat” (Filipi 3:20). Di surga tidak ada pembatasan. Bagi setiap kita yang memegang perintah Kristus dan melakukannya, maka mereka akan dikasihi Tuhan dan juga oleh Kristus sendiri. (Yohanes 14:21), dan untuk kita ada tempat yang disediakan di surga. “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (ay 2-4).

Lihatlah apa yang dikatakan Yesus, bahwa di rumah Bapa ada banyak tempat tinggal yang sudah disediakan bagi orang percaya. Sebuah tempat indah dimana tidak lagi ada air mata. Sebuah tempat penuh damai sukacita. Sebuah tempat nyata dimana Yesus kini berada. “Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga” (Ibrani 8:1). Disana Yesus telah menyediakan tempat bagi siapapun yang percaya padaNya, yang memegang teguh dan melakukan semua yang Dia firmankan. Tidak ada kuota maksimum, tidak ada pembatasan jumlah, siapapun diundang untuk masuk ke dalam rumah Bapa. Bahkan Yesus pun terus mengetuk pintu hati manusia untuk diselamatkan, agar manusia pun bisa diselamatkan dan masuk ke dalam tempat yang telah Dia sediakan. Bukankah hal ini sangat indah?

Renungan Hari Senin, 21 Juni 2010

Allah Pelindung Yang Setia
Mazmur 68 : 7
Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia, tetapi pemberontak-pemberontak tinggal di tanah yang gundul.
Di Mzm. 68:2,8 menyatakan Allah yang bangkit berperang untuk menghancurkan para musuhNya dengan membawa akibat banyak dari anak-anak kehilangan ayahnya, dan para isteri kehilangan suami serta para wanita kehilangan kehormatannya dan menjadi tawanan; maka mengapa di Mzm. 68:6-7 menyatakan bahwa Allah menyatakan diriNya sebagai Bapa bagi anak yatim dan pelindung bagi para janda serta peduli kepada mereka yang sebatang kara dan orang-orang yang menjadi tahanan? Dengan pemahaman tersebut timbul suatu kesan bahwa kesaksian Mzm. 68:6-7 merupakan pada prinsipnya akibat dari tindakan Allah yang berperang menghancurkan para musuhNya sebagaimana telah dinyatakan dalam Mzm. 68:2,8. Atau dengan perkataan lain para anak yatim, para janda dan mereka yang sebatang kara serta menjadi tawanan sebenarnya merupakan akibat dari tindakan Allah memerangi dan membinasakan para musuhNya.

Orang-orang yang telah menjadi anak yatim, para janda dan para tawanan yang sebatang kara di Mzm. 68:6-7 sesungguhnya merupakan para korban dari suatu peperangan; sebab “ayah, suami dan keluarga mereka telah terbunuh akibat perang yang dilancarkan oleh Allah”. Analisis ini sepertinya mau menyimpulkan bahwa Allah sebagai subyek yang menjadi penyebab penderitaan dari para korban perang. Sebab melalui perang yang dilancarkan oleh Allah tersebut telah menimbulkan para anak kehilangan para ayah sehingga mereka menjadi yatim, para isteri kehilangan suami-suami sehingga mereka menjadi para janda, dan orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya karena mereka menjadi tawanan atau menjadi orang-orang yang sebatang kara. Jadi karena Allah dianggap sebagai penyebab penderitaan dari para korban perang, maka kini Dia harus bertanggungjawab untuk menjadi: “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia”. Apakah ini berarti “moralitas Allah” sebagai penanggungjawab bagi anak yatim, para janda dan para tawanan” dihayati sebagai suatu kompensasi karena tindakanNya yang telah menghancurkan dan membinasakan para musuhNya? Jika benar maka moralitas Allah tersebut bukan lahir dari hakikatNya yang kudus dan penuh kasih. Bukankah Allah yang kudus dan penuh kasih tidak akan pernah membangkitkan perang untuk membinasakan manusia yang dianggap sebagai musuhNya? Sebab para penguasa dunia sepanjang sejarah umumnya juga akan melakukan hal yang sama terhadap para keluarga musuh yang menjadi korban perang.
Tampaknya pemazmur ingat peristiwa pada zaman Nuh yang mana Allah menghukum umat manusia dengan air bah dan juga kehadiran Allah di gunung Sinai dengan guntur dan halilintar. Tetapi pada saat yang sama “hukuman alam” seperti gempa dan hujan yang deras tidak senantiasa berakibat destruktif. Gempa bumi dan hujan yang deras juga dipakai untuk memulihkan keadaan tanah padang gurun yang gersang sehingga mahluk hidup dan orang-orang yang tertindas dapat kembali memperoleh makanan.
Mzm. 68:6-7 jelas menyatakan bahwa Allah akan bangkit berperang untuk melawan setiap musuh-musuhNya yaitu orang-orang yang menindas setiap orang yang lemah dan tertindas. Sebab sebagai Allah yang kudus, Dia akan memposisikan diriNya sebagai pembela dan seorang Bapa yang melindungi setiap umat yang tidak berdaya, kaum marginal, dan minoritas (“sebatang kara”).

Jamita Epistel XV Dung Trinitatis, 13 September 2026

DEBATA PATUPA HALONGANGAN TU BANGSONA (Tuhan Melakukan Perbuatan Besar Bagi Umat-Nya) 1 Petrus 2: 1 - 10   1. Huria ni Tuhanta na h...