Rabu, 28 Juli 2010

Renungan Hari Mingggu, 20 Juni 2010

Tempat di Sorga
Yohanes 14 : 1 – 3
Seorang pasien berkata kepada dokternya selagi sang dokter bersiap pergi dari kamarnya, "Dok, saya takut mati. Bisakah Anda menceritakan bagaimana keadaan di seberang sana?" "Saya tidak tahu, Pak," sahut dokter itu dengan lembut. "Lo, Anda tidak tahu? Bukankah Anda seorang kristiani?" tanya sang pasien lagi.
Dokter itu sedang memegang pegangan pintu kamar. Dari luar sekonyong-konyong terdengar suara lenguhan dan pintu digaruk-garuk. Begitu pintu dibuka, seekor anjing menerobos masuk dan melompat ke arah sang dokter dengan antusias dan sangat riang. Dokter itu menoleh kembali pada pasiennya, "Anda lihat anjing saya? Ia belum pernah masuk ke ruangan ini, jadi ia tidak tahu bagaimana keadaan di dalam. Tetapi ia tahu pasti, bahwa tuannya ada di dalam sini. Karena itu ketika pintu dibuka ia langsung masuk tanpa takut atau ragu sedikit pun. Saya juga tidak tahu banyak tentang keadaan di seberang sana, tetapi saya tahu pasti Tuhan Yesus ada di sana menanti kita. Itu sudah cukup buat saya."
Akan ada saatnya kita akan "pergi" dari dunia ini. Cepat atau lambat. Apa dan bagaimana keadaan di seberang sana, mungkin tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan secara jelas, terang benderang. Sebab betapa pun kehidupan sesudah kematian tetaplah merupakan sebuah misteri bagi kita. Akan tetapi di dalam iman kita bisa meyakini satu hal: Tuhan Yesus ada di sana. Seperti yang dijanjikan-Nya, "Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu

Di surga tidak ada pembatasan. Bagi setiap kita yang memegang perintah Kristus dan melakukannya, maka mereka akan dikasihi Tuhan dan juga oleh Kristus sendiri. (Yohanes 14:21), dan untuk kita ada tempat yang disediakan di surga. "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." (ay 2-4). Lihatlah apa yang dikatakan Yesus, bahwa di rumah Bapa ada banyak tempat tinggal yang sudah disediakan bagi orang percaya. Sebuah tempat indah dimana tidak lagi ada air mata. Sebuah tempat penuh damai sukacita. Sebuah tempat nyata dimana Yesus kini berada. "Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga" (Ibrani 8:1). Disana Yesus telah menyediakan tempat bagi siapapun yang percaya padaNya, yang memegang teguh dan melakukan semua yang Dia firmankan. Tidak ada kuota maksimum, tidak ada pembatasan jumlah, siapapun diundang untuk masuk ke dalam rumah Bapa. Bahkan Yesus pun terus mengetuk pintu hati manusia untuk diselamatkan, agar manusia pun bisa diselamatkan dan masuk ke dalam tempat yang telah Dia sediakan. Bukankah hal ini sangat indah?


Renungan Hari Sabtu, 19 Juni 2010

Semuanya Kuasa Tuhan
Mazmur 50 : 10-12
Sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku. Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya.
Allah yang selalu memenuhi keinginan hati kita dengan kebajikan, bukan hanya menyediakan pengampunan dan kesembuhan , tetapi lebih dari itu. Dunia dan segala isinya adalah milik-Nya, dan kita memiliki jaminan untuk memperoleh segala sesuatu yang kita butuhkan.
Alkitab mengatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu. Dia menciptakan alam semesta dan segala isinya. Segala yang ada dalam dunia ini adalah kepunyaan-Nya. Tetapi mengapa banyak hal yang dikuasai oleh iblis?. Allah memberikan kuasa atas karya-Nya kepada Adam dan Hawa, tetapi mereka mengkhianati Allah dengan menjual semuanya kepada Iblis di Taman Eden, sehingga saat ini iblis telah menjadi ?illah zaman? (II Korintus 4:4? yaitu orang-orang yang tidak percaya , yang pikirannya telah dibutakan oleh illah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah?) , Allah tidak menciptakan dunia ini untuk iblis dan pengikutnya, tetapi dunia diciptakan untuk kita sebagai anak-anak-Nya, oleh sebab itu janganlah percaya akan dusta iblis.?
Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah iblis, maka ia akan lari daripadamu!? (Yakobus 4:7), Jadi turutilah Firman Allah dan percayalah apa yang Allah katakan dalam Firman-Nya. Apakah hari ini kita sudah berdiri diatas Firman Allah atau masih percaya kepada perkataan dusta dari iblis? Semuanya terserah kepada kita masing-masing. Allah sudah menyediakan segala berkat dan pertolongan-Nya untuk memenuhi segala kebutuhan kita .? Karena kuasa illahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-nya yang mulia dan ajaib?. (II Petrus 1:3).


Renungan Hari Jumat, 18 Juni 2010

Allah Mengasihi Kita
1 Korintus 8 : 2 – 3
Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu "pengetahuan", maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya. Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah
Allah mempunyai hikmat bijaksana yang sempurna, dan Allah tidak menciptakan alam semesta dan dunia kehidupan tanpa tujuan yang jelas. Alkitab menyatakan bahwa penciptaan bukanlah tindakan eksperimental dari Allah. Segala yang diciptakan Allah adalah baik menurut penilaian-Nya sendiri, kemudian Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, supaya manusia bisa berelasi dengan Dia; mensyukuri hidup yang dikaruniakan'oleh Pencipta, menjalani hidup ini dengan bimbingan-Nya, melayani Dia sesuai dengan ketetapan Allah, dan memuliakan Dia yang Mahabesar dan Mahamulia itu.
Namun kenyataannya, dosa telah merusak relasi yang indah tersebut. Pencemaran dosa kepada seluruh keturunan Adam, telah menyebabkan kerusakan atas natur manusia; semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Tapi Allah telah menetapkan suatu rencana lain, yaitu rencana penebusan.

Setelah menciptakan banyak pohon yang menarik dan bisa dimakan buahnya, Tuhan memberikan sebuah larangan kepada manusia agar tidak memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Mengapa sih Tuhan melarang manusia memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat ? Bukankah mengetahui baik dan jahat itu merupakan sebuah tanda kedewasaan seseorang ?
Perhatikan, Tuhan tidak pernah melarang manusia untuk mengetahui baik dan jahat ( sebaliknya Dia menginginkannya) tetapi Dia melarang kita untuk mengetahuinya melalui jalur pengetahuan. Dia menginginkan kita bertumbuh dewasa dan mengetahui baik dan jahat melalui jalur persekutuan. Tetapi manusia memilih jalan pintas yaitu melalui jalur pengetahuan sehingga mereka terpisah dari persekutuan dengan Allah. Yesus datang ke dunia ini untuk memulihkan persekutuan yang rusak tersebut sehingga manusia kembali bisa bersekutu dengan Allah.
Alkitab mengatakan bukan kita yang telah mengasihi Allah melainkan Allah yang telah lebih dahulu mengasihi kita. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan Allah yang mencari mereka bukan mereka yang mencari Tuhan. Dari sejak semula manusia memang tidak menginginkan Tuhan. Mari mengasihi Tuhan bukan dengan pengetahuan namun dengan iman.


Renungan Hari Kamis, 17 Juni 2010

Semuanya Berkat Tuhan
Habakuk 2 : 13-14

Sesungguhnya, bukankah dari TUHAN semesta alam asalnya, bahwa bangsa-bangsa bersusah-susah untuk api dan suku-suku bangsa berlelah untuk yang sia-sia? Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut.
Sebagai umat Kristiani Tuhan mengajarkan kita untuk tetap mengucap syukur dalam segala keadaaan, entah kita sedang bahagia atau susah, diberkati atau tidak diberkati kita tetap harus mengucap syukur atas segala sesuatu yang Tuhan ijinkan terjadi atas hidup kita. sesungguhnya tanpa sadar setiap hari kita diberkati Tuhan dengan penuh kelimpahan. Kalau hari ini kita bisa menghirup udara dengan bebas, darah kita tidak bermasalah dan kita bisa bekerja dan beraktifitas sesuka kita, itu merupakan berkat dari Tuhan. Hari ini banyak orang dirumah sakit hidupnya tergantung dari tabung oksigen untuk dia bernafas, ada juga orang yang hidupnya tergantung dari transfusi darah orang lain karena ginjalnya sudah rusak dan beberapa orang lain yang kurang beruntung harus melakukan segala sesuatu diatas kursi roda karena kakinya lumpuh. Ada banyak berkat yang luar biasa Tuhan berikan kepada kita setiap hari, namun karena kita sudah terlalu sering menerima itu kadang kita tidak bisa mengucap syukur untuk berkat tersebut.

Segala sesuatu yang berharga baru terasa berarti saat kita kehilangan sesuatu tersebut. Uang atau kekayaan bila hilang kita masih bisa mencarinya, namun waktu dan berkat yang Tuhan berikan kalau kita tidak bisa menggunakan dengan baik, maka berkat dan waktu itu akan hilang dan kita tidak bisa mendapatkannya kembali. Renungan hari ini mengajak kita semua untuk menghitung berkat kita masing-masing. Jangan fokus akan sesuatu yang buruk yang senantiasa terjadi atas hidup kita, namun fokuslah akan segala berkat yang boleh kita miliki hari ini. Kalaupun kita merasa Tuhan tidak memberkati hari ini tetaplah mengucap syukur karena Dia mengajarkan kita untuk senantiasa mengucap syukur dalam segala keadaan.
Memang di luar TUHAN, hidup tidak memiliki arti. Bagi setiap manusia yang berada di luar KRISTUS, kehidupan yang dijalani di dunia ini menuju satu titik, yaitu kematian. Tetapi tidak demikan dengan orang yang mengenal ALLAH. Hidup kita yang tadinya sia-sia sebelum mengenal DIA, diperbaharui dan diisi menjadi hidup yang penuh dengan kebahagiaan yang datang dari KRISTUS. Pengampunan dosa yang diberikan kepada kita membawa damai sejahtera di dalam kehidupan kita. Hidup kita tidak lagi sia-sia, namun kita memiliki tujuan hidup, yakni hidup kekal bersama dengan DIA di dalam Kerajaan Sorga.

Renungan Hari Rabu, 16 Juni 2010

Kuasa Tuhan
Yesaya 24 : 19 – 20a
Bumi remuk redam, bumi hancur luluh bumi goncang-gancing. Bumi terhuyung-huyung sama sekali seperti orang mabuk dan goyang seperti gubuk yang ditiup angin.
Gempa bumi, hanyalah bagian kecil dari gejolak alam karena alam itu memang memiliki nyawa berupa energi bumi. Demi waktu Tuhan telah melapis bumi jutaan tahun dengan tanah dan bebatuan yang kokoh, kemudian Dia mengirim Adam dan Hawa turun ke bumi. Bayangkan jika tidak ada lapisan batu, tamah air, dan lapisan oksigen, serta melindungi panasnya matahari dengan lapisan ozon, kemudian menjauhkan jarak matahari dan bumi pada posisi yang aman. Jika tidak, manusia tidak akan bisa hidupi dimuka bumi. Karena memang Tuhan Mahan Pengasih lagi Maha Penyayang serta Maha Melindungi umatNya. Beberapa pelajaran besar yang harus diambil:
1. Tuhan telah mengirim “isyarat” bahwa manusia harus “berbenah” dengan :

a. Teknologi tahan gempa untuk membangun gedung (perhatikan banyak gedung runtuh karena tidak tahan gempa). Sehingga perlu kontrol ketat dan sertifikasi rumah tahan gempa seperti yang dilakukan oleh Jepang.
b. Tidak menebang hutan secara sembarangan (perhatikan tanah longsor akibat gempa, karena tanah itu labil dan bisa saja gundul)
c. Membuat tata ruang yang baik sehingga tidak sembarang membangun rumah / hunian tidak pada tempatnya (seperti di bukit yang labil).
d. Ternyata kemewahan, kekayaan bisa musnah dalam sekejab mata, tidak lebih dari 5 menit hata kita lenyap, kemewahan hancur, bahkan nyawapun melayang.
e. Ternyata kita tidak bisa hidup sendiri, sekaya apapun, sehebat apapun kita tetap masih butuh orang miskin, butuh orang lain. Tolong menolong dan saling membantu adalah pelajaran penting yang terus kita jaga, tanpa membedakan ras, golongan, agama, dan negara. Kita butuh pengalaman negara lain dalam mengatasi bencana (seperti jepang).
f. Bencana tidak bisa dilawan, bencana tidak bisa dihindari akan tetapi bencana bisa dikurangi dampaknya, daya rusaknya, daya bunuhnya dengan belajar pada kejadian gempa gempa masa lalu. Sama seperti kenapa kita perlu Berobat ke Dokter / Rumah sakit, bukankan hidup dan mati adalah ketentuan Tuhan. Itulah ihtiar manusia, dengan berobat ke dokter / rumah sakit diharapkan Tuhan mengabulkan dengan menyembuhkan kita, dan memanjangkan umur kita.

Renungan Hari Selasa, 15 Juni 2010

Perzinahan
Yeremia 23 : 10
Negeri telah penuh dengan orang-orang berzinah; sungguh, oleh karena kutuk ini gersanglah negeri dan layulah padang-padang rumput di gurun; apa yang dikejar mereka adalah kejahatan, dan kekuatan mereka adalah ketidakadilan.
Apa yang kita saksikan adalah prinsip cara (metode) penyembahan kepada TUHAN Allah. Tuhan Yesus menegaskan bahwa menyembah Allah tidak dibatasi oleh tempat (Yoh 4:20-24). Namun bukan berarti kita sembarangan memberikan penyembahan dengan cara (metode) yang mengikuti budaya dunia ini. Kita sudah melihat contoh yang jelas sekali dari umat Israel. Ketika mereka menganggap remeh cara (metode) penyembahan, disitulah mereka mulai tergelincir dan jatuh dalam dosa perzinahan. Mereka anggap remeh ketaatan kepada TUHAN Allah.

Sebagai orang percaya (gereja), kita tidak bisa mengatakan: ”menyembah Tuhan yang penting hati. Cara (metode) penyembahan tidak penting”. Mentalitas seperti ini bisa menyebabkan kita tergelincir ke dalam dosa perzinahan. Mari kita kritis terhadap budaya jaman ini yang mudah menyeret kita ke dalam dosa perzinahan. Dosa penyembahan ilah lain yang bukan TUHAN Allah. TUHAN Allah memperhatikan hati kita & cara (metode) penyembahan kita sebagai gereja kepadaNya. Untuk itu kita tidak boleh sembrono dalam Ibadah kepada TUHAN Allah.
Pada akhir zaman banyak orang tidak malu-malu lagi melakukan zina. Zina tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang hina dan memalukan. Hal ini dikarenakan banyaknya tontonan zina dan banyaknya orang yang berzina. Sehingga ketika seorang laki-laki ketahuan berzina terasa tidak ada beban asal bertanggungjawab mau menikahi wanita zinanya.
Gambaran semacam ini sudah nampak di negeri kita, sebagaimana yang dilakukan para pelacur yang menjajakan dirinya di pinggir-pinggir jalan, di beberapa tempat keramaian atau taman kota, dan juga yang terjadi di pinggir-pinggir pantai, tempat wisata. Tapi, jika dibandingkan di Barat mungkin belum lah separah di sana. Namun, tidak menutup kemungkinan yang di Barat pun akan terjadi di sini, sebagaimana fenomena akhir-akhir ini terjadi, sebagian orang sudah berani merekam perbuatan bejatnya bersama wanita zinanya, sehingga tersebar di berbagai media. Maka mungkin saja, zina di jalan-jalan dapat terjadi.


Minggu, 11 Juli 2010

Renungan Hari Senin, 14 Juni 2010

Kuat Di Dalam Kasih Kristus
Roma 8 : 35
Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?
Kondisi di Roma adalah jemaat-jemaat di Roma mengalami penganiayaan karena mereka menyebut diri mereka Kristen. Orang-orang dunia jika dianiaya, mereka bakalan lari dan menyerahkan apapun juga yang ada pada mereka, yang penting bagi mereka adalah keselamatan dirinya dari amukan massa yang menganiaya. Tetapi jemaat-jemaat di Roma tidak demikian, mereka tetap beriman kepada Kristus dan tidak sedikitpun mereka menyangkal iman mereka, sehingga tidak heran Paulus menghibur mereka bahwa barangsiapa yang menyeru nama Tuhan akan diselamatkan (Roma 10:13).
Di dalam penderitaan dan penganiayaan berat sekalipun, kalau jemaat-jemaat di Roma tetap memfokuskan imannya kepada Kristus dan bukan pada penganiayaan, maka kita juga perlu belajar dari mereka yaitu belajar memfokuskan iman kita kepada Kristus dan bukan pada sesuatu yang menghimpit kita, sehingga kita mampu menerobos keluar dan menang menghadapi setiap penganiayaan.
Dari banyak pengalaman, sering berhubungan dengan Tuhan melalui doa sangat menolong, menyelamatkan, memberi kekuatan, mendatangkan damai, dan menjauhkan diri ini dari godaan. Mereka yang jarang berdoa akan mendapat bukti bahwa berdoa kepada Tuhan itu tidak sia-sia. “Banyak hal yang menjengkelkan, kekecewaan, dan nasib buruk yang sering terjadi. Sesudah rajin doa, itu semua seakan lenyap begitu saja. Hidup ini jadi lebih indah, tenang, dan terasa dekat dengan Tuhan,” tutur teman RHI. Inilah bukti bahwa ketika berdoa, Roh Kudus akan menyampaikan doa kita kepada Allah (lihat Roma 8:26). Di dalam Yesus Kristus, diri ini tidak sendirian karena Bapa beserta kita (lihat Yohanes 16:32), Yesus tidak akan menelantarkan diri ini (lihat Yohanes 14:18). Selain itu, di dalam kelemahan, kuasa Tuhan menjadi sempurna (lihat 2Korintus 12:9). Yesus memerintahkan kita agar: “Janganlah takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa” (lihat Matius 10:28).

Karena, Yesus adalah Kebangkitan dan Hidup (lihat Yohanes 11:25) sehingga diri ini tidak takut terhadap kematian (lihat Ibrani 2:15). “Maut telah ditelan oleh kemenangan” (lihat 1Korintus 15:54) melalui Yesus Kristus, Tuhan kita. “Jika Allah berpihak dengan kita, siapa yang akan melawan kita?” (lihat Roma 8:31) “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” (lihat Roma 8:35) “Tidak, dalam semuanya ini kita akan menang jaya, oleh kuasa Dia yang mengasihi kita” (lihat Roma 8:37). Itulah sebabnya, di dalam Kristus, diri ini akan bersukacita selalu (lihat Filipi 4:4).
Seorang petinju yang telah berkeluarga memenagkan pertandingan. Dia bukan saja gembira karena mendapatkan money, tetapi dia bangga karena dia bisa menyandang gelar sebagai the winner. Tetapi, siapakah sebenarnya yang lebih merasakan kegembiraan itu? Jawabannya, pasti sang isteri petinju. Bahkan si isteri disebut lebih dari pemenang, karena walaupun dia tidak ikut bertanding untuk merebut kemenangan, ia sudah ikut merasakan kemenangan suaminya dan tentu ikut kecipratan hadiah from her beloved husband. Begitu halnya dengan kita anak-anak Tuhan. Menjadi pengikut Kristus, so pasti kita bangga because we are the son of God, yang lebih dari pemenang. Yesuslah Sang Pemenang yang telah menang diatas kayu salib. Dan kita, walaupun tidak dapat menanggung dosa kita sendiri, tetapi kita mendapatkan keselamatan dari Yesus Kristus, dimenangkan dari dosa.

Renungan Hari Minggu II Setelah Trinitatis, 13 Juni 2010

Berseru Pada Tuhan
Yoel 1 : 8 – 20

Konteks Alkitab pada bagian ini adalah berisi tentang ajakan kepada seluruh rakyat untuk meratap. Bentuk ratapan ini sudah biasa dilakukan di Israel. Rataoan bisanya diadakan jika ada keadaan darurat atau ancaman dari pihak musuh atau penuaian yang tidak berhasil karena bencana yang luar biasa. Semua kejadian tersebut biasanya dihubungkan dengan keberdosaan umat (bd Yes 22:2; Yer 4:8). Khusus tulah belalang di teks kita dipandang sebagai suatu yang luar biasa.
Rupanya bukan hanya manusia yang menderita karena tulah tersebut, tapi juga hewan, binatang-binatang dan alam. Di ayat 18-20 disebutkan bahwa hewan mengeluh karena tidak ada lagi rumput yang bisa mereka makan. Api telah habis memakan habis tanah gembalaan dan menghanguskan pohon di padang. Ini pasti membuat kekacauan dan penderitaan bagi alam. Kambing pun terkejut karena biasanya kambing-kambing dengan sukacitanya bisa memakan rumput sesuka hatinya. Tapi kini semua lahan habis dilalap api, sehingga alangkah sulitnya untuk menemukan makanan. Segala makhluk mengeluh, bahkan hewan oun menjerit karena suhda kehilangan berkat Tuhan.
Karena itu semua rakyat diminta berkumpul untuk berpuasa yang kudus dan berdoa, mereka berteriak kepada Tuhan. Dengan puasa yang kudus dimaksudkan bahw asuatu hari yang dikhususkan untuk melakukan puasa sebagai pengakuan bahwa manusia takluk kepada keadaan darurt yang dialami itu dan kepada Tuhan.

Berseru kepada Tuhan, sama dengan berdoa dengan serius. bukan cuma berbisik saja. apakah saudara termasuk orang yang setia berdoa ? apakah saudara hanya berdoa sekali sekali kalau lagi kepepet. apakah saudara pernah mendoakan suatu pokok doa sampai bertahun tahun ? hanya saudara yg dapat menjawabnya dengan tulus. setiap kali saudara berseru dan berteriak kepada Tuhan. maka wajah saudara muncul pada layar monitor Tuhan di surga. Pernahkah saudara berdoa- saking seriusnya sampai menangis ?
Tuhan tidak mempersoalkan apakah saudara menagis atau tidak ketika berdoa, tetapi yang terpenting adalah apakah saudara benar benar serius dan setia berdoa atau tidak. Ketiak saudara berdoa dengan serius, maka mata saudara tertuju kepada Tuhan yang didalam tanganNya terletak apa saja yang sedang saudara minta dan harapkan. ketika saudara perlu uang, jangan mengarahkan mata saudara kepada lembaran uang, melainkan arahkan mata saudara kepada tangan Yesus yang penuh berisi uang.


Renungan Hari Sabtu, 12 Juni 2010

Melaksanakan Pertolongan
Matius 25 : 35
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan.
TUHAN mengajar murid-murid-NYA, bahwa orang yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga adalah yang memberi makan pada saat DIA lapar, memberi minum pada saat DIA haus, yang memberi tumpangan, yang memberi pakaian, yang melawat pada saat DIA sakit, dan seterusnya. Orang yang mendengar pelajaran YESUS pada saat itu menjadi bingung. Mereka merasa belum pernah memberikan pertolongan seperti yang disebutkan YESUS tadi. Kemudian YESUS menjelaskan bahwa pada saat mereka melakukan perbuatan baik kepada orang lain, sebenarnya mereka juga sedang melakukan hal yang sama kepada DIA.
Jelaslah bagi kita untuk mengerti bahwa pada saat kita berbuat sesuatu kepada orang lain, maka DIA memperhitungkan hal itu dilakukan untuk TUHAN YESUS. Penting bagi kita yang beriman untuk selalu mewujudkan ajaran kasih dari TUHAN kepada orang lain. Salah satunya adalah dengan saling menolong dan berani memberikan apa yang diperlukan orang lain. Dengan berlaku demikian sama halnya kita sedang memuliakan TUHAN ALLAH kita

Iman yang tidak diwujudkan dalam perbuatan yang nyata, sama dengan sebuah pohon yang tidak berbuah. Misalnya pohon durian disebutkan sebagai pohon durian yang baik pada saat menghasilkan buah durian yang dapat dinikmati. Kita yang sudah memiliki iman Kristen, seharusnya dapat menghasilkan buah sebagai orang yang beriman, yang salah satunya adalah berani untuk memberi dan berkorban bagi orang lain yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Maka sekarang kita dapat menilai, orang Kristen yang macam apa jika kita mengaku beriman kepada TUHAN yang Maha Kasih tetapi tidak berani mengambil tindakan untuk mengasihi dan menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan.
Jelas sekali apa yang difirmankan YESUS kepada kita. Bahwa tidak ada gunanya kita membanggakan diri sebagai orang yang beriman kepada TUHAN jika kita tidak melakukan apa yang dikehendaki DIA. Karena dari apa yang kita berbuat itulah, akan dapat dinilai apakah kita benar-benar orang yang beriman kepada TUHAN YESUS atau tidak.


Renungan Hari Jumat, 11 Juni 2010

Allah Mendatangkan Kebaikan
Roma 8 : 28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Peristiwa-peristiwa dalam kehidupan tidaklah terlepas dari satu dengan yang lainnya. Resep yang diberikan oleh seorang Dokter yang ahli dan berpengalaman seringkali terdiri dari campuran beberapa macam obat yang tujuannya adalah semata-mata untuk mendatangkan kebaikan. Seorang Hamba Tuhan yang bernama Barclay mengemukakan isi ayat itu sebagai berikut, “Kita tahu bahwa Allah mencampurkan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.“ Apabila pengalaman-pengalaman hidup diambil secara terpisah-pisah, mungkin kelihatannya tidak ada kebaikan sama sekali di dalamnya, tetapi apabila dicampur menjadi satu, hasilnya tidak lain adalah kebaikan. Dalam keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan, seringkali kita bertanya, “Bagaimana mungkin hal ini mendatangkan kebaikan?“ Jawabannya ialah “Tunggulah sampai Tabib Agung itu selesai menulis resep-Nya.“
Siapakah yang tidak dapat mengenang kembali masa lalu untuk melihat bahwa hal-hal yang dianggap sebagai musibah akhirnya ternyata merupakan berkat terselubung? Seorang Pelukis mencampur berbagai warna yang bagi mata orang biasa atau orang awam nampaknya jauh sekali dari tujuan si Pelukis. Tetapi tunggulah sampai ia selesai memadukan warna-warna itu.

Ayat 28 yang menegaskan bahwa Allah sanggup mendatangkan kebaikan melalui segala sesuatu yang terjadi terhadap kita. Segala sesuatu di sini memang meliputi semua peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Namun, sesuai dengan pokok bahasan ayat-ayat sebelumnya, ”segala sesuatu” di sini secara khusus menunjuk kepada segala macam kesulitan dan penderitaan yang kita alami.
Kebaikan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut tentunya bukan kebaikan menurut ukuran kita sendiri. Ukuran kebaikan itu adalah rencana Allah. Rencana ini berlaku bagi orang-orang yang telah dipanggil-Nya. Paulus menguraikan bagaimana Allah secara teratur dan terencana memilih, menentukan, memanggil, membenarkan, dan memuliakan kita. Dan untuk melaksanakan rencana tersebut Allah mengaruniakan Anak-Nya sendiri bagi kita. Karunia Allah yang terbesar ini memberikan jaminan bahwa kasih Kristus akan senantiasa menjadi milik kita.

Renungan Hari Kamis, 10 Juni 2010

Yang Berbahagia
Lukas 6 : 21
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
Tuhan Yesus memang sering mengajar di tempat-tempat yang jauh dari
keramaian, entah di tepi danau entah di atas bukit. Posisi Yesus yang duduk memang lazimnya seorang rabi atau para guru yang mengajar di sinagoga. Sabda bahagia disampaikan di atas bukit, karena bukit atau gunung sering berperan sebagai tempat pewahyuan Allah. Kiranya penginjil juga mau menyejajarkan dengan Gunung Sinai, tempat Allah menyampaikan hukum-Nya melalui Musa. Dalam perbandingan itu tampaklah kelebihan Yesus. Musa menerima pengajaran dalam loh batu dari Allah, agar disampaikan kepada bangsa Israel yang berada di kaki bukit; Yesus menyampaikan ajaran-Nya dengan Wibawa-Nya sendiri kepada para murid-Nya. Murid-murid itulah yang kemudian diutus untuk meneruskan kepada bangsa Israel dan segala bangsa, yang sudah diwakili oleh orang banyak di kaki bukit.
Sabda ini kiranya mengajak dan memanggil kita untuk senantiasa berjuang dengan pengorbanan diri demi kebenaran dan hidup sejati. Dalam situasi atau iklim kehidupan yang masih marak dengan kebohongan, penipuan, manipulasi, korupsi dan keserakahan pada masa kini rasanya untuk hidup benar merupakan perjuangan berat, apalagi memperjuangkan kebenaran. Meskipun memperjuangkan kebenaran akan menghadapi tantangan dan hambatan serta ada kemungkinan kegagalan atau keterbatasan, marilah kita terus berjuang dan berkorban, percayalah kebenaran pasti akan menang.

Orang miskin menderita, itu sudah biasa. Menjadi luar biasa kalau orang miskin yang terhimpit aneka kesulitan itu tetap bersikap rendah hati dan berusaha hidup seturut kehendak Allah. Sikap seperti itu adalah sikap orang yang berhati murni. Kemurnian itupun menjadi jelas di saat orang itu memperjuangkan kasih dan membawa damai, meski ia sendiri mengalami penganiayaan, celaan dan fitnah.
Tuhan Yesus menegaskan bahwa sikap tetap percaya meski menderita sengsara sudah menjadikannya warga Kerajaan Allah dan menempatkannya di bawah berkat pemerintahan Allah. Karena itu masa depannya menjadi cerah dan itulah yang namanya "sengsara membawa nikmat". Tetapi apa sebenarnya yang menjamin bahwa masa depan yang penuh bahagia itu akan terwujud!

Renungan Hari Rabu, 9 Juni 2010

Menanti Tuhan
Mazmur 145 : 15 – 16
Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Engkau pun memberi mereka makanan pada waktunya; Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup
Tuhan memiliki kedaulatan (kekuasaan tertinggi) untuk memberikan maupun untuk tidak memberikan apa yang kita minta.Walaupun kita terus-menerus berdoa kepada-Nya, Ia tidak akan mengabulkan permintaan kita bila permintaan tersebut tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Ia berhak untuk mencurahkan berkat-Nya dan Ia berhak pula untuk menahan berkat-Nya. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita, sehingga Ia tidak selalu bertindak sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Tuhan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya sendiri. Kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan. Kita akan semakin mudah menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan bila kita semakin dekat mengenal pribadi-Nya. Tuhan berkenan kepada orang yang takut akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang meninggikan Tuhan, menghargai karya Tuhan, dan memashyurkan nama Tuhan karena segala kebaikan-Nya. Tuhan pasti mendengar dan menjawab doa orang yang takut akan Tuhan, karena orang yang takut akan Tuhan tidak akan berdoa semata-mata dengan berlandaskan keegoisan dirinya (145:19).

Tuhan akan melaksanakan kehendak orang yang takut akan Dia. Jangan memaksa Tuhan bila doa kita tidak atau belum dijawab oleh Tuhan. Sebaliknya, evaluasilah motivasi dan kehendak diri kita sendiri, apakah kita sudah berdoa sesuai dengan kehendak Tuhan. Penyesuaian kehendak kita dengan kehendak Tuhan hanya dapat tercapai dengan menjalin hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan!
Gambaran Tuhan tidak akan pernah selesai jika diungkapkan dengan kata-kata manusia. Ia jauh lebih besar/luas dari pada yg dapat kita pikirkan dan gambarkan tentang Dia. Wawasan kita telalu dangkal untuk melukiskan Tuhan di dalam pengungkapan kata-kata. Bagaikan seekor ikan (yang besar sekalipun) di tengah-tengah samudra yg luas, yg tidak mungkin menelan seluruh air laut. Demikian pula dengan kita yg tidak mungkin menguasai pemahaman tentang Tuhan dalam kebesaran-Nya. Kita adalah ciptaan-Nya. Pujian kita kepada-Nya berkumandang berdasarkan kebaikan dan kemurahan kekuasaan-Nya atas kita. Dengan segala keterbatasan, kita akui kedaulatan dan kekuasaan-Nya atas kita. Kita mengagungkan nama-Nya supaya orang lainpun yg mendengarkannya dapat mengakui hal yg sama. ‘Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan, dan biarlah segala mahluk memuji nama-Nya yg kudus untuk seterusnya dan selamanya

Renungan Hari Selasa, 8 Juni 2010

Rancangan Dan rencana Allah
Yeremia 29 : 11
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan
Allah menghendaki kita menjadi kawan sekerja tim denganNya dalam melaksanakan rancangan yang Ia sudah tetapkan. Sebuah tim, jika bekerja sama, akan membawa hasil yang sempurna. Usaha kita sendiri, akan sia-sia karena kita hanyalah manusia fana yang memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan dan setiap saat mudah jatuh dalam jurang pencobaan dan kebinasaan. Kristus berkata, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5b).
Meskipun kita tidak dapat berjalan sendiri, tetapi Allah sendirilah yang menawarkan suatu pekerjaan bagi kita, untuk meraih rancangan damai sejahtera yang Ia sudah buat. Bukankah ini menakjubkan? Kesehatan, kebahagiaan rumah tangga, kedamaian dan kesejahteraan hidup bukanlah hal yang mustahil kita kecapi jika kita sendiri melakukan hal-hal yang menunjang kita untuk mendapatkannya; dan Allah, sumber kekuatan, akan menyertai langkah kita dalam menghidupkan prinsip-prinsip hidup yang sehat, rajin dalam usaha dan penuh kasih pada keluarga dan sesama.
jika saudara mengarahkan iman kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan takut dan gentar maka saudara akan memiliki masa depan yang cerah. Tuhan tidak pernah memberi rancangan kecelakaan kepada umatnya. Tuhan memberi rancangan yang indah dan masa depan yang penuh harapan.
Sungguh indah rencana Allah dan tidak mungkin Ia realisasikan sepihak tanpa bekerjasama dengan penerimanya. Meski rencanaNya terganggu oleh si Penggoda, Iblis, musuh Allah yang jahat, namun Ia tetap memberikan jalan bagi kita untuk mendapatkan kesempatan mengecapi rancanganNya. Tidak ada rejeki yang belebihi rancangan Allah yang sesungguhnya bagi kita, suatu tempat tinggal penuh damai dan sejahtera yang sesungguhnya di tanah yang akan diberikan bagi umat yang setia kepadaNya.

Renungan Hari Senin, 7 Juni 2010

Tuhan Andalanku
Yeremia 17 : 7
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
Daud tahu bahwa mengandalkan manusia itu adalah sia-sia belaka. Ia berkata "Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia. Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita." (Mazmur 60:13-14). Itu bentuk gaya hidup Daud yang ternyata berkenan bagi Tuhan. Dan ketika ia berperang, ia selalu memperoleh kemenangan. Bukan karena kehebatannya, tapi karena "TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang." (2 Samuel 8:6b,14b). Itu kunci kemenangan Daud. Kunci yang sama berlaku pada tokoh-tokoh alkitab lainnya. Daniel dikatakan memiliki kepintaran, kearifan dan segala kelebihan lainnya bukan karena kehebatannya sendiri, namun jelas dikatakan karena "ia mempunyai roh yang luar biasa" di dalam dirinya. (Daniel 6:3).
Ketaatannya bahkan menyelamatkannya dari maut di kandang singa. Yusuf? Setali tiga uang. Meski terus menghadapi pergumulan dan penderitaan, namun di balik itu semua ia mendapatkan berbagai keberhasilan. Bukan karena kebetulan beruntung, bukan karena kehebatannya, tapi dikatakan karena Tuhan menyertai Yusuf. Ini dikatakan berkali-kali seperti misalnya dalam Kejadian 39:2 yang berbunyi "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu." Itu baru sebagian kecil dari banyaknya tokoh yang telah membuktikan bagaimana dahsyatnya jika kita hidup bersama dengan Tuhan. Kita boleh masuk ke dalam pergumulan dan peperangan, namun Tuhan menjanjikan kita bukan untuk kalah melainkan untuk mencapai kemenangan demi kemenangan. Dan kuncinya adalah dengan mengandalkan Tuhan secara penuh.

Ada dua hal yang harus kita lakukan untuk memperoleh berkat Tuhan menurut ayat ini, yaitu mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan hanya kepada Tuhan. Ada banyak orang yang ingin diberkati tetapi tidak mengandalkan Tuhan. Mereka lebih mengandalkan kepintaran dan kehebatannya, akibatnya yang ada adalah kekecewaan demi kekecewaan. Orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri atau dengan kata lain mengandalkan manusia akan senantiasa hidup dalam kutuk.

Renungan Hari Minggu I Setelah Trinitatis, 6 Juni 2010

Selalu Ingat Pada Tuhan
Ulangan 6 : 10 – 15


Apa yang terjadi pada bangsa Israel merupakan peringatan bagi kita hari ini. Seringkali manusia mendekat kepada Tuhan ketika sedang mengalami penderitaan. Tapi setelah berada dalam keadaan baik dan berkecukupan, Tuhan pun begitu gampang dilupakan. Padahal tidakkah semua itu kita dapatkan sebagai berkat dari Tuhan? Bukankah tanpa Tuhan kita bukan apa-apa? Jika demikian mengapa kita tega melupakan Dia yang telah mengasihi kita dengan begitu besar? Mazmur Daud mengingatkan kita untuk selalu mengingat kebaikan Tuhan dalam hidup kita. "Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:1-2). Seperti kasih seorang bapa kepada anaknya, seperti itu pula kasih Tuhan yang tidak berkesudahan selalu menaungi kita. "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia....kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya." (ay 13, 17-18).

Tapi seringkali kita terlena dengan urusan yang ada di bumi dan mengundur-undur untuk mencari Tuhan. Bekerja, melakukan aktivitas sehari-hari memang penting, tapi jangan sampai kita melupakan Tuhan. Jangan sampai kegiatan kita malah menjadi berhala bagi kita sendiri, dan kita melupakan Tuhan yang telah begitu baik memberikan segalanya bagi kita.
Ketika hari ini anda diberkati secara baik dalam kehidupan, keluarga dan pekerjaan, jangan pernah lupakan Tuhan. Tetaplah ingat kepada Tuhan yang telah memberikan itu semua. Puji dan sembah Dia, penuhi diri anda dengan ucapan syukur. Ingatlah selalu bahwa apa yang kita raih bukanlah semata-mata karena kerja keras atau hasil jerih payah kita sendiri, tetapi melalui berkat Tuhan yang turun melalui usaha kita. Tanpa Tuhan semua akan sia-sia. Jangan pernah lupakan kebaikanNya, jangan menjadi kacang yang lupa kulit, mari kita terus memuji dan menyembah Dia dengan segenap diri kita.


Renungan Hari Sabtu, 5 Juni 2010

Besarnya Kasih Allah
Yohanes 3 : 16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Allah hanya memiliki Anak yang Tunggal (only begotten Son), tapi Anak yang satu-satunya itu diutus sebagai misionari ke dalam dunia ini. Bulan ini adalah bulan misi, hati kita sering terharu mendengar banyak hamba-hamba Tuhan yang rela meninggalkan negeri asalnya menjadi misionari antar budaya maupun lintas budaya. Mereka telah mengorbankan segala-galanya untukmenjalankan misi yang mulia ini.Tetapi ingatkah kita bahwa jika Kristus tidak taat kehendak Allah dan menjadi misionari yang pertama, maka kita semua akan tetap tenggelam dalam dosa. Sebelum kita melakukan sesuatu bagi Tuhan, Dia terlebih dahulu menyatakan pengorbanan yang terbesar bagi kita dan yang tidak akan ada bandingannya dari kekal sampai kekal.
Anugerah yang diberikan ini bukan hanya untuk sekelompok orang tertentu saja, tapi berlaku untuk semua orang, seluruh bangsa tanpa terkecuali. Tuhan mengasihi semua manusia ciptaanNya tanpa memandang latar belakang atau keadaan kita. Dia mengasihi dan memberikan kasih karuniaNya bukan karena cantik, gagahnya kita, bukan karena status kita, kekayaan kita, kehebatan kita bahkan bukan pula karena perbuatan-perbuatan baik atau usaha kita. Sebuah kasih karunia bukanlah berbentuk imbalan atau balas jasa. Firman Tuhan berkata: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." (Efesus 2:8-9). Keselamatan itu kita peroleh semata-mata karena anugerah Tuhan, bukan karena jasa atau usaha manusia. Tuhan rela memberikan diriNya sendiri demi keselamatan kita.

Ketika mengharapkan manusia untuk menolong dan memberi tanpa mengharapkan imbalan sangat langka, Tuhan Sang Pencipta kita ternyata rela memberikan itu. Dan itu disebut sebagai anugerah, kasih karunia. Sebuah anugerah bukan lagi anugerah ketika diberikan dengan mengharapkan imbalan. Bukan kasih karunia namanya jika pemberian didasarkan atas jerih payah atau hasil usaha kita. Manusia yang terus berbuat dosa dari masa ke masa sesungguhnya tidak layak untuk memperoleh keselamatan. Tapi ternyata di mata Tuhan manusia begitu berharga. Seperti yang sering saya sebutkan, we are His masterpiece. Kita diciptakan menurut gambar dan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26) dan tetap berada di ruang mataNya (Yesaya 49:16). Begitu besarnya kasih Allah kepada kita semua, hingga AnakNya yang tunggal pun Dia berikan sebagai kasih karunia, semata-mata agar tidak satupun diantara kita yang binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Kamis, 03 Juni 2010

Renungan Hari Jumat, 4 Juni 2010

Melihat Keselamatan
Lukas 3 : 6
Dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.
Kita menjadi benar, karena dibenarkan oleh TUHAN YESUS yang menebus kita dan menghapus segala dosa kita. Setelah kita dibenarkan, bukan berarti perjalanan iman kita sudah selesai. Itu justru baru langkah awal. Pertobatan yang tidak diikuti dengan hidup di dalam tuntunan Firman TUHAN dan ROH KUDUS tidak akan membawa kita ke Sorga. Memiliki hubungan yang erat dengan TUHAN, yaitu selalu dituntun Firman dan ROH KUDUS itu yang disebut saleh. Pada zaman gereja TUHAN yang berdiri setelah hari Pentakosta, ROH KUDUS berdiam di dalam hati orang-orang percaya.
Apa yang seharusnya menjadi fokus kita? Hidup kekal. Bukan berarti kita tidak berhak menikmati berkat jasmani. Mengejar berkat jasmani, kita tidak akan menerima kepuasan. Itu hanya membuat banyak orang bekerja dengan ambisi, sampai-sampai tega sodok sana sodok sini untuk amankan posisi. Akibatnya rekan sekerja dikorbankan demi kepuasan pribadi. Setelah sampai di posisi tinggi, ternyata kepuasan tidak didapat juga. Pilihan yang jauh lebih menguntungkan adalah: bila mata rohani yang terfokus pada hidup kekal, ada bonus hidup kelimpahan.

Sekalipun kita jenuh dan merasa begitu terbiasa dengan segala kebaikan yang sudah kita miliki, saya rasa semua akan setuju kalau saya katakan betapa bodohnya dia yang mau meninggalkan kebaikan itu. Setiap orang pasti akan setuju dengan nasihat untuk tetap teguh dengan apa yang anak tadi miliki, bahkan lakukan lebih lagi untuk mengalami kenaikan tingkat lagi dalam hidupnya.
Itulah yang Tuhan mau ingatkan kepada kita. Mengapa harus melepaskan keselamatan dan tidak menghargainya hanya karena kita merasa jenuh dan merasa terlalu banyak batasan yang Tuhan berikan? Justru sebaliknya, semakin teguhlah dan berakar kuat dalam Tuhan agar batas itu terus naik dan berkembang, sampai satu waktu kita akan melihat betapa besarnya kekayaan yang kita miliki dalam Tuhan itu. Dan betapa beruntungnya kita yang ada dalam pagar keselamatan itu.
Dengan mata hati atau mata rohani yang terang, kita akan mampu melihat keselamatan yang telah disediakan TUHAN bagi orang-orang yang benar dan saleh. Keselamatan yang memimpin kita ke Sorga itu yang membuat hati kita benar-benar puas.

Renungan Hari Kamis, 3 Juni 2010

Bersama Tuhan Tidak Takut
Yesaya 44: 8
Janganlah gentar dan janganlah takut, sebab memang dari dahulu telah Kukabarkan dan Kuberitahukan hal itu kepadamu. Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!
Kita perhatikan bagaimana TUHAN YESUS selalu berkata: "Damai sejahtera..." dalam setiap perjumpaan dengan murid-murid-NYA setelah kebangkitan-NYA. Arti kata "Damai Sejahtera" ini merupakan hal yang sangat penting. Setelah TUHAN bangkit dari kematian-NYA, DIA menunjukkan bahwa barang siapa yang percaya kepada-NYA sudah diperdamaikan kembali dengan ALLAH. Dengan mengerti hal ini TUHAN YESUS mau supaya kita selalu memiliki damai sejahtera dalam hidup ini dalam keadaan apapun. TUHAN YESUS mau supaya kita tidak lagi mengalami ketakutan seperti yang dialami murid-murid-NYA dahulu.
Hal yang paling menakutkan adalah pada saat merasa bahwa kita belum diperdamaikan dengan ALLAH. Tetapi orang yang benar-benar beriman kepada kuasa kebangkitan TUHAN YESUS, pasti tidak akan takut oleh apapun juga, sekalipun harus menghadapi kematian. Yang belum diperdamaikan dengan ALLAH BAPA pasti akan takut karena tanpa sadar manusia memiliki pikiran akan menghadap ALLAH setelah kematiannya nanti.

Manusia yang belum diperdamaikan dengan ALLAH sama dengan masih dilumuri oleh noda dan dosa. Dan orang yang demikian pasti akan mengalami ketakutan karena hukuman-hukuman apa yang akan diterima sebagai akibat dari dosanya akan segera dialaminya. Akan berbeda jika kita sudah menerima pengampunan dosa sehingga kita diperdamaikan kembali dengan ALLAH, sehingga penghukuman tidak lagi berlaku atas kita. Sebaliknya yang berkuasa atas diri kita adalah TUHAN YESUS yang sudah menyediakan pengampunan dan mengubah setiap orang yang beriman kepada-NYA menjadi anak-anak ALLAH.
Anak-anak ALLAH adalah mereka yang sudah diampuni dari dosa dan hidupnya dibenarkan oleh penebusan dosa yang dilakukan TUHAN YESUS di kayu salib. Kita menjadi manusia yang layak untuk menghadap ALLAH, baik selama masih hidup di bumi dalam doa maupun setelah kematian kita di dalam Kerajaan Sorga.
Oleh sebab itu jadilah kuat!. Sebab orang-orang kuatlah yang siap menghadapi pertempuran. Pilihan ada ditangan kita apakah menjadi orang yang lemah atau orang yang kuat, kuat didalam Tuhan tentunya. Orang-orang yang lemah akan menjadi bulan-bulanan Iblis, sementara orang-orang yang kuat akan menjadi pemenang bahkan lebih dari pada pemenang.

Renungan Hari Rabu, 2 Juni 2010

Berharga
Yesaya 43: 4

Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.
Ketika penghargaan menjadi kebutuhan. Dalam sebuah kemitraan, jika tidak ada saling menghargai maka tentu akan sangat sukar untuk dipertahankan. Hubungan antara umat Tuhan dengan Tuhan , adalah seperti hubungan suami-isteri, bahkan lebih dari itu. Ketika berada di Tanah Pembuangan, umat Tuhan seperti sedang dijauhi oleh Tuhan. Tapi, syukurlah bahwa suasana beku itu akan segera menjadi cair, sebab Tuhan bersedia mengembalikan mereka ke tanah airnya sendiri. Tindakan ini menjadi bukti nyata bahwa selama ini Tuhan tidak berubah, tetap menganggap umatnya cukup berharga di mataNya. Hal ini dapat memunculkan percaya diri, semangat baru dan sukacita besar di hati umat Tuhan dalam menyongsong masa depan mereka.
kita itu sangat berharga di mata Yesus Kristus, sekalipun kita jatuh dan tersesat, Yesus Kristus tetap menunggu kita balik dan kita sangat berharga, karena saking berharganya kita, Yesus Kristus sampai rela turun ke dunia untuk menebus segala dosa kita bahkan rela mati di kayu salib. Kadang tanpa kita sadari kita tidak menghargai karya penebusanNya, kita kerap kali sibuk dengan segala urusan kita… kita kerap tidak punya waktu sedikitpun untukNya. kadang kita mempergunakan waktu dan hidup kita dengan sia-sia untuk keinginan daging dan hawa nafsu kita semata, dan (mungkin) Yesus Kristus yang melihat hal tsb akan menangis.. dan Yesus Kristus terus memanggil kita untuk kembali kepadaNya… karena kita sangat berharga dimataNya dan karena kita biji mata kepunyaanNya maka kita jangan mau terintimidasi oleh akal licik Iblis.

Dan pengorbanan Yesus ini bukan hanya ditujukan kepada orang-orang tertentu saja, tetapi kepada semua orang. Semua orang tanpa terkecuali adalah berharga dimata Tuhan. Setiap orang punya kedudukan dan peranannya masing-masing. Apapun pandangan orang terhadap mereka yang dianggap berbeda atau mereka yang memiliki kekurangan, sesungguhnya mereka penting di hadapan Allah. Oleh Allah mereka diterima dan menjadi bagian penting dalam rencana Allah yaitu untuk mewujudkan karya pemulihan bagi dunia ini.
Karena hubungan kita dengan Allah sudah dipulihkan, maka kita pun dipanggil untuk berperanserta dalam karya pemulihan Allah dengan sesama dan alam, karena sesama dan alam juga berharga dan dikasihi oleh Allah .Tuhan tidak membeda-bedakan anakNya berdasarkan kondisi fisik, ganteng atau tidak, pintar atau tidak dan sebagainya. Penggalan ayat dalam Yesaya hari ini menjadi buktinya. "Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau.." (Yesaya 43:4a). Itulah pandangan Allah terhadap kita. Kita berharga di mataNya, kita mulia dalam pandanganNya, dan Dia sangat mengasihi kita.

Renungan Hari Selasa, 01 Juni 2010

Rencana Allah Tak Terhalangi
Roma 4: 21b
Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
Makna berpegang teguh kepada janji Allah pada masa kini makin tidak mudah. Selaku bangsa dan umat manusia saat ini kita telah menghadapi permasalahan hidup yang serba global dan makin kompleks seperti: fakta pemanasan global, rusaknya lingkungan hidup, makin terbatasnya sumber enersi bumi, meledaknya jumlah penduduk, makin tingginya tingkat kemiskinan, rusaknya komunikasi yang makin mempertebal dinding pembatas suku, agama dan ras.
Pada masa kini kita semua makin berada dalam ketidakpastian hidup, umat yang makin mengerang kesakitan, putus-asa, mengalami depresi, sekarat dan bunuh-diri. Seandainya kita membiarkan diri dipengaruhi dan diseret oleh berbagai peristiwa yang sedang terjadi, maka siapapun juga akan runtuh imannya. Karena itu kita membutuhkan iman yang semakin matang, “otonom” (mandiri) dan berkualitas sehingga kita mampu berdiri tegak di tengah-tengah pergolakan hidup. Kuncinya adalah kita tetap memiliki relasi dan komunikasi yang semakin intim dengan Tuhan di tengah-tengah permasalahan yang sedang terjadi.
Sehingga dengan persekutuan yang intim bersama Tuhan tersebut akan memampukan kita untuk tetap berpegang teguh kepada janji-janjiNya. Karena kita percaya bahwa Tuhan Yesus akan menyertai dan memampukan kita untuk melewati berbagai kesulitan, pergumulan dan krisis dalam kehidupan ini. Dan pada saatNya yaitu pada kedatangan Kristus yang terakhir, Tuhan Yesus akan membaharui seluruh kehidupan yaitu “langit dan bumi yang baru”. Jika demikian, apakah kehidupan kita senantiasa berfokus kepada Kristus selaku pengendali jalannya sejarah? Kalau hidup kita telah terarah dan berfokus kepada Kristus, maka kita tidak boleh membiarkan diri dipengaruhi oleh berbagai peristiwa yang menyedihkan dan mengecewakan khususnya ketika harapan-harapan atau keinginan kita tidak terpenuhi. Kita perlu terus berpegang teguh kepada janji-janji Tuhan yang memiliki masa dan waktu yang tepat bagi kita


Jika kita mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh, kita pasti mengerti bahwa antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru terdapat hubungan yang saling berkaitan, yaitu berupa nubuatan yang pasti akan digenapi (benar-benar terjadi). Hal ini terjadi karena pengarang dari Alkitab adalah satu pribadi, yaitu ROH KUDUS. Tetapi untuk menuliskan Firman yang dikehendaki ALLAH, ROH KUDUS menggunakan manusia dengan cara memberikan pewahyuan.
ALLAH memang merencanakan hal ini supaya semua manusia, baik yang hidup di masa lalu, maupun pada jaman ini yang tidak mengalami masa Perjanjian Lama, dapat mengerti seluruh rencana ALLAH. Karena itu jika seseorang tidak mengerti Firman ALLAH yang dituliskan dalam Alkitab, dia tidak akan mengetahui rencana ALLAH tentang keselamatan bagi dirinya. Hal ini tidak boleh diremehkan, sebab tanpa kita mengerti rencana keselamatan ALLAH maka kita tidak akan pernah dapat masuk ke dalam keselamatan yang sudah disediakan ALLAH bagi manusia, sehingga sia-sialah ibadah kita. Ibadah yang tidak didasari pada pengertian jalur kebenaran ALLAH hanya menghasilkan ibadah yang bersandar pada tradisi yang dibuat oleh manusia saja. Dan hal demikian tentu tidak berkenan bagi ALLAH, sebab DIA ingin segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana, kehendak dan aturan-NYA, bukan kehendak dan aturan manusia.

Renungan Hari Senin, 31 Mei 2010

Hikmat Dan Pengetahuan Allah
Roma 11 : 33
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya.
Dari segala masa, kematian Yesus Kristus merupakan pengorbanan terbesar, suatu penyataan kasih yang tidak terukur dalamnya. Oleh karena itu, memperlakukan Yesus sekedar sebagai manusia dalam arti makhluk ciptaan merupakan suatu penghujatan. Gagal dalam menyelaraskan kehidupan kita dengan ajaran-ajaran-NYA akan berarti kehilangan kehidupan itu sendiri.
Sebaliknya, apabila Yesus Kristus bukan Allah, melainkan makhluk ciptaan yang lebih rendah derajatnya, kita hanya akan merasa berterima kasih atas kehidupan, kematian, dan pengajaran-NYA, tetapi kita tidak akan menyembah Dia sebagai Allah. Bila kita menganggap Dia makhluk ciptaan Allah, lalu kita menyembah Dia sebagai Allah, itu merupakan suatu kesalahan yang sangat besar. Mengapa? Karena dengan demikian kita menjadikan Dia berhala yang menempati kedudukan Allah. Alkitab dengan tegas menentang penyembahan berhala. Allah mengatakan bahwa Ia tidak akan memberikan kemuliaan-NYA kepada yang lain, dan bahwa tidak ada Allah lain selain Dia, dan bahwa kita harus menyembah Dia saja. Jadi persoalannya, Yesus betul-betul Allah atau Ia bukan Allah. Percaya kepada Dia sebagai yang lain-lainnya merupakan suatu bentuk penghujatan, suatu penyembahan berhala.

Pembahasan seperti ini dapat menjadi sangat rumit, bergantung pada ajaran apa yang telah diterima seseorang. Berbagai argumentasi dapat dikemukakan untuk mendukung ataupun menentang keilahian Kristus. Misalnya, jika seseorang telah diajari bahwa Allah adalah satu Pribadi dan bahwa Yesus Kristus adalah makhluk ciptaan, maka dalam membaca Alkitab untuk pertama kalinya, ia dapat menemukan ayat-ayat yang kelihatannya mendukung pandangan tersebut. Sebaliknya, apabila seseorang telah diajari bahwa Allah adalah Yang Mahatinggi, sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan bahwa Anak melepaskan kesetaraan-NYA dengan Allah untuk menjadi manusia di dalam pribadi Yesus Kristus.
da banyak hal di dunia ini yang tidak dapat dipahami oleh alam pikiran manusia. Oleh karenanya, jangan heran kalau kita tidak dapat memahami sepenuhnya tentang bagaimana Allah menciptakan dunia.
Jika Allah tidak mewahyukan hal ini kepada kita, kita tidak akan pernah tahu bahwa ada tiga pribadi dalam satu Allah. Allah mewahyukan kepada kita kebenaran yang intim dari diri-Nya karena Dia mengasihi kita dan karena Dia ingin supaya kita melalui iman dan pembaptisan, mendapat keakraban yang mendalam dengan ketiga pribadi.



Rabu, 02 Juni 2010

Renungan epistel Minggu Trinitatis, 30 Mei 2010

Meninggikan Nama Tuhan
Mazmur 57 : 1-4
Mazmur 57 ditulis saat Daud bersembunyi di gua untuk menghindari kejaran Saul yang ingin membunuhnya. Saul adalah Raja Israel yang pertama, tetapi iri hati dan kedengkiannya terhadap Daud telah menjerumuskannya ke dalam tindakan-tindakan amat tercela. Saul, dalam bagian ini keadaannya sedang menurun. Hubungannya dengan Allah merenggang. Hal inilah yang menyebabkan kemundurannya. Lambat atau cepat, ia pasti akan mengalami kejatuhan. Di dalam diri Daud, Saul melihat saingan anaknya (putra mahkota). Karena Saul melihat kemenangan-kemenangan yang dicapai Daud dan sambutan rakyat terhadap Daud: "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa (berpuluh-puluh ribu)". Setiap kali Saul berusaha untuk menjatuhkan Daud, ia tidak berhasil. Akibatnya, Saul semakin membenci Daud. Saul iri hati karena Daud lebih dihargai orang-orang. Daud tidak mencari kemuliaan sendiri, tetapi kemuliaan Allah. Maka Allah memberinya kekuatan dalam hidupnya; tanpa kebencian dan iri hati. Daud memulai hidupnya sebagai anak gembala, kemudian ia menjadi penghibur istana, lalu menjadi pejuang, dan setelah itu ia menjdi raja, menggantikan Saul.
Saat itu Daud telah kehilangan banyak hal; istri, saudara, sahabat, juga kedudukan. Namun, Daud tidak kehilangan harta yang terindah, yaitu Tuhan. Sebetulnya, Raja Saul menyuruh Daud membunuh orang Filistin itu cuma alasan saja. Hati Raja Saul yang diliputi rasa iri kepada Daud, menghendaki Daud mati dibunuh oleh orang Filistin. Tapi Tuhan menyertai Daud; ia berhasil membunuh orang-orang Filistin. Bukan hanya 100 orang, melainkan 200 orang. Maka Raja Saul terpaksa memberikan Mikhal, puterinya, kepada Daud untuk dijadikan istri Daud. Karena menghormati Tuhan, Daud tidak melawan Saul, walaupun ia sanggup mengalahkannya. Daud adalah pribadi yang tepat untuk kita jadikan contoh. Walaupun ia tidak berbuat salah namun Saul sangat benci kepadanya dan ingin membunuhnya. Namun Daud tidak pernah membenci Saul. Bahkan ketika ada kesempatan baginya untuk membunuh Saul, Daud tidak melakukannya. Malah ia menasihati Saul dengan lembut. Itu dapat kita lihat pada I Samuel 24:10-12. Jika kita ingin orang yang berbuat salah berubah dari perbuatannya dan berbalik dari jalannya yang salah maka kita harus menegurnya dengan kasih, bukan dengan amarah atau dengan kebencian. Sebelum kita mengajak dia untuk hidup benar dalam Kristus maka kita harus menunjukkan terlebih dahulu kasih Kristus yang benar yaitu dengan cara menegurnya dalam kasih, Jika kita bisa melakukannya maka masalah yang baru yaitu pertengkaran tidak akan terjadi, dan orang yang kita tegur tersebut kemungkinan besar akan berubah.
Dan kerinduannya adalah bagaimana agar Tuhan ditinggikan dan dimuliakan. Ini yang membuat Daud tidak membunuh Saul walaupun kesempatan sudah di depan mata (1 Samuel 24:1-23). Sebaliknya, Daud dengan setia menunggu Tuhan menggenapi janji-Nya, pada waktu-Nya. Demikianlah Tuhan dipermuliakan di dalam hidup Daud.
Akankah tantangan yang kita hadapi dalam kehidupan—studi, pekerjaan, dan sebagainya, membuat kita tak sabar dan ingin mundur? Apabila keadaan tengah tidak menyenangkan, biarlah kita coba merenungkan kembali janji-janji Tuhan. Minta Dia menguatkan dan menjaga kita, sehingga tiap keputusan yang kita buat tidak menyeret kita ke dalam hal-hal buruk. Dan biarlah kita tetap taat agar nama-Nya dimuliakan.

Renungan Hari Minggu Trinitatis, 30 Mei 2010

Menyaksikan Kuasa Tritunggal Allah
Lukas 12 : 1-12
Dahulu 12 rasul itulah yang disebut murid-murid Yesus. Mereka ini juga sahabat-sahabatNya. Tapi sekarang ini, kita juga adalah murid-muridNya dan juga sahabat-sahabatNya. Jadi pengajaran itu juga ditujukan untuk kita. Kita harus mau menerima pengajaran tersebut. Di ayat ini Tuhan memperingatkan agar kita waspada terhadap kemunafikan. Jangan seperti orang-orang farisi, yang hanya bersih di bagian luar saja. Tetapi bagian dalamnya (bagian dalam itu adalah hati) kotor.
Peringatan ini dimaksudkan agar kita tidak hanya membereskan bagian luar dari hidup kita. Misalnya dari luar kita tampak alim tapi di hati kita penuh dengan kejahatan. Kejahatan di sini bukan hanya hal-hal yang besar seperti di TV, pembunuhan, perampokan, dsb. Kejahatan itu sebenarnya adalah suatu tindakan yang berfokus untuk kesenangan diri sendiri yang mengorbankan orang lain. Jadi hal kecil pun, bisa menjadi kejahatan. Misalnya, kalau yang lagi kuliah, titip absen. Titip absen itu jahat loh… Orang tua kita sudah membiayai kuliah kita yang tidak sedikit biayanya. Tapi demi menuruti kesenangan kita, kita bolos, titip absen. Ini kan tindakan yang berfokus untuk kesenangan diri sendiri, dengan mengorbankan sesuatu yang telah diberikan ortu.
Agar kita tidak hidup munafik, kita memerlukan suatu keterbukaan. Tapi keterbukaan ini juga harus PAKAI HIKMAT. Jadi tidak asal terbuka. Kalau asal-asalan terbuka, bukan malah jadi berkat, kita malah bisa kena batunya. Sebelum terbuka, juga sebaiknya kita doa dulu. Minta Tuhan jamah hati orang yang akan kita ajak bicara. Apabila ada konsekuensi yang harus kita tanggung, ya kita harus bertanggung jawab. Tuhan bisa mengampuni dosa-dosa kita, tetapi konsekuensi perbuatan kita itu, tetep harus kita tanggung. Jadi untuk kedepannya, berhati-hatilah sebelum menentukan keputusan. Kekuasaan terbesar yang Tuhan berikan kepada manusia adalah kekuasaan untuk menentukan pilihan, keputusan.

Penghalang keterbukaan ini biasanya adalah TAKUT AKAN MANUSIA. Lalu apa yang Tuhan ajarkan kepada sahabat-sahabatNya tentang takut akan manusia? (ayat 4). Apakah jalan keluar bagi orang yang takut akan manusia? (ayat 5). Tentang takut akan manusia, Tuhan mengajarkan agar kita jangan takut akan manusia. Manusia dapat membunuh kita, tapi setelah itu, tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Manusia bisa menghakimi kita di dunia ini, tetapi tidak setelah kita meninggal nanti. Jalan keluar untuk mengatasi halangan keterbukaan ini adalah dengan takut akan Tuhan. Tuhan punya kuasa untuk mengambil nyawa kita, dan mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka.
Murtad berarti menyangkal Yesus Kristus setelah mengecap karunia Sorgawi. Tidak mungkin orang yang didalam hatinya berdiam Roh Kudus, mengutuki Allah, tetapi setelah Roh Kudus pergi meninggal-kan dia! Jadi orang yang yang berdosa kepada Roh Kudus adalah orang yang pernah memiliki Roh Kudus di dalam hatinya, kemudian murtad, sehingga Roh Kudus pergi meninggalkan dia. I Korintus 12:3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus.
Kenapa tidak bisa diampuni? Dimana letak masalahnya? Apakah Allah yang tidak mau mengampuni? Ibrani 6:4-6 Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. Jadi menurut Alkitab, bukan karena Allah tidak mau mengampuni, tetapi karena TIDAK BISA atau TIDAK MUNGKIN DIBAHARUI LAGI !
Dosa kepada Roh Kudus bukanlah dosa yang tiba-tiba dapat dilakukan, tetapi merupakan dosa yang berlangsung secara bertahap dan melalui proses yang cukup lama. Orang itu berkali-kali mendukakan Roh Kudus, tidak mau mendengarkan suara Roh Kudus, tetap berbuat dosa sehingga hati nuraninya menjadi tumpul, hingga akhirnya murtad. Pada saat ini lah Roh Kudus meninggalkan dia !!
Roh Kudus itu sangat lemah lembut, Allah Roh Kudus itu tidak bisa marah. Yesus Kristus bisa marah, Allah Bapa bisa marah, tapi Roh Kudus tidak pernah marah, karena Dia sangat lemah lembut! Bila kita berbuat dosa, Roh Kudus tidak akan marah, tetapi Dia akan berduka cita !! Apa bukti Roh Kudus sedang berduka, yaitu bila kita kehilangan suka cita. Bila Roh Kudus berduka karena kita berbuat dosa, maka roh kita juga tidak bisa bersuka cita.
Efesus 4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.
Karena Roh Kudus sangat lemah lembut, maka bila ada orang yang berdosa sampai menghujat Roh Kudus sehingga murtad, maka Dia adalah orang benar-benar sangat berdosa. Dosa menghujat Roh Kudus tidak terhapuskan, karena Roh Kudus yang ada dalam hati manusia adalah kasih karunia terbesar Allah Tritunggal kepada manusia, tidak ada yang lebih besar dari pada itu ! Nah bila ada yang menghujat Roh Kudus tidak ada lagi kasih karunia yang mampu memperbaharui orang itu !!
Biarlah kita senantiasa mau mendengar suara Roh Kudus yang ada di dalam hati kita masing-masing. Jangan ada seorangpun diantara kita yang melakukan dosa yang demikian. Allah itu tidak jauh saudara-saudara, Allah ada di dalam hati kita, Allah Roh Kudus ada dalam hati kita !!
Pada masa kini kiranya jarang terjadi umat beriman mati karena imannya. Sebagaimana umat beriman kita mimiliki tugas menghayati jiwa kemartiran, maka marilah kita mawas diri sejauh mana kita setia pada panggilan untuk menjadi ‘martir’ masa kini. Kesetiaan pada iman, yang berarti hidup baik dan berbudi pekerti luhur, merupakan panggilan hidup kita masa kini. Marilah dalam cara hidup dan cara bertindak kita berpedoman pada motto ini: “jiwa lebih penting daripada tubuh, tubuh lebih penting daripada makanan dan pakaian, tubuh kita alias manusia lebih penting daripada binatang maupun tumbuh-tumbuhan serta barang atau harta benda”. Kami juga berharap kepada kita semua untuk tidak malu dan tidak takut mengakui dan menghayati jati diri yang benar, misalnya sebagai umat beragama berani mengakui agamanya serta menghayati ajaran utama dari agamanya dengan setia. Jiwa kemartiran masa kini juga dapat dihayati dengan setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing: suami-isteri setia saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, yang terpanggil menjadi imam, bruder atau suster setia menghayati panggilannya sampai mati. Hidup jujur dan tidak korupsi pada masa kini hemat saya juga merupakan bentuk penghayatan jiwa kemartiran, maka kami berharap para pegawai, pejabat, pemimpin dst, untuk hidup jujur dan tidak melakukan korupsi dalam bentuk apapun.
Maka hanya dengan ketulusan hati kita perlu membuka diri dan memurnikan hati, agar kita bisa melihat penyertaan Tuhan dalam hal yang sesederhana mungkin bahkan sering kitapun tidak menyadarinya. Seperti dalam perikop dikatakan bahwa rambut dikepala kitapun terhitung jumlahnya, tak ada satupun gugur tanpa sepengetahuanNya. Alangkah indahnya dicinta, alangkah nikmatnya berharga dimata Tuhan. Saat kita diserang rasa takut dan ragu, sebenarnya kita membutuhkan kasih dan perlindungan lebih dari biasanya. Semua yang kita takutkan, yang kita ragukan tidak ada artinya dibandingkan cinta Tuhan yang total pada kita. Alangkah indahnya dicinta, tidak ada lagi yang ditakutkan karena kita tidak sendiri.

Renungan Hari Sabtu, 29 Mei 2010

Roh Kudus Menuntun
Mazmur 143 : 10
Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!
Pentakosta dikenal sebagai peringatan akan turunnya Roh Kudus kepada para Rasul yang berkumpul di salah satu rumah di Yerusalem. Roh Kudus ini adalah utusan Bapa dalam Nama Yesus. Roh Kudus inilah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada-Mu dan mengingatkan kamu akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada kamu.

Roh Kudus menolong dikala jalan kita buntu dan gagal.Roh kudus mengibur dikala kita berduka,bersedih dan dilukai.Roh Kudus membela dikala manusia membuat tuduhan dan dikala iblis mendakwa.Roh Kudus mendampingi anda dikala keseorangan,kesunyian atau ditinggalkan orang lain.Roh Kudus menasihati dikala anda berbuat salah atau tersandung dalam perjalanan hidup anda.Roh Kudus mendoakan/memohon dikala anda kehabisan bahan doa,tak tau berdoa dan tak dapat berdoa.Roh Kudus mendorong kita dikala lemah semangat atau putus asa.Roh Kudus memberikan tenaga dan kekuatan dikala anda lemah jasmani,lemah semangat dan lemah emosi. “Parakletos –Pendorong yang dipanggil untuk mendampingi adalah ‘Tujuh dalam satu’ dalam menyertai hidup anda.Yesus menujukan Penolong itu sebagai seorang peribadi iaitu “DIA” yakni Roh kebenaran.Dalam Yohanes 14:26,Yesus kali ini menyatakan Roh Kebenaran itu sebagai :“Penghibur,yaitu ROH KUDUS,yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu,Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”

Satu hal yang kita sebagai manusia harus mengerti, yaitu kita kita akan pernah tahu tentang masa denpan kita bahkan satu detik di depan kita, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita butuh bimbingan Tuhan.
Roh Kudus memberikan hikmat dan pengertian kepada kita saat kita se¬dang melayani Allah. Kadang-kadang kita berada di dalam situasi yang mem¬buat kita kehabisan akal seperti menghadapi jalan buntu. Dalam keadaan semacam itu, bila kita sungguh-sungguh bersandar kepada pertolongan Roh kudus, Roh Kudus bisa memberikan kepada kita hikmat yang khusus, sehing¬ga kita bisa mendapatkan jalan keluar yang terbaik yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Ingatlah bagaimana Tuhan Yesus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menjebak (Misalnya Markus 12:13-17). Ingatlah pula bagaimana Roh Kudus memberikan pengertian kepada Rasul Petrus un¬tuk mengenali kebohongan Ananias dan Safira (Kisah Para Rasul 5:1-11).

Renungan Hari Jumat, 28 Mei 2010

Karunia Roh
1 Korintus 12:7
Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.
Herb Vander Lugt berkata, “Dari kesaksian- kesaksian masa kini, masalah "Bahasa Lidah" sungguh membingungkan sehingga sulit untuk membuktikan ataupun menyangkal bahwa hal tersebut sungguh-sungguh suatu keajaiban bahasa di antara orang Kristen atau hanya sekedar gejala kejiwaan, hasil bawah sadar seseorang!” Suatu gejala lain yang menunjukkan bahwa "Bahasa Lidah" kini berbeda dengan yang di dalam Alkitab adalah bahwa "Bahasa Lidah" masa kini dapat diajarkan atau dipelajari, oleh orang yang menganggap diri "mahir" dalam hal tersebut! Sedangkan apabila kita meneliti Alkitab, tidak tercatat satu kalipun pernah terjadi bahwa orang yang berbahasa lidah itu belajar atau diajari, kalau demikian berarti bukan lagi karunia, melainkan hanya sekedar seperti pelajaran bahasa lain saja!
A.F. Ballenger berkata: “Barangsiapa yang mencari pernyataan Karunia Roh sebelum pernyataan buah Roh, menunjukkan bahwa ia dalam kondisi yang belum siap untuk dipercayakan Karunia tersebut. Orang yang mencari Karunia Mujijat sebelum kelemah lembutan, tidak akan diberikan karunia tersebut.

Bagi yang mengejar Karunia Bahasa Lidah, tetapi tidak dapat menahan diri, adalah tidak tepat diberikan karunia tersebut sebab satu lidah saja belum digunakannya dengan tepat. Orang yang menuntut Karunia Kesembuhan namun tidak memiliki kasih, sesungguhnya ia sendiri perlu disembuhkan terlebih dahulu." Bagaimanakah pandangan atau sikap kita seharusnya.? Sikap sebaiknya adalah "Seek not, forbid not" artinya "Jangan dicari, jangan dilarang". Bila tidak mendapat karunia bahasa Roh tidak perlu menuntut agar dapat karunia tersebut. Bila seseorang sungguh memperolehnya gunakan untuk membangun jemaat. Namun perlu disadari bahwa bahasa lidah diberikan pada orang tertentu oleh Roh Kudus sesuai kehendakNya (I Korintus 12:11) sehingga tidak semua orang dapat mengklaim dirinya memiliki karunia berbahasa lidah.
Yang terpenting bagaimana karunia-karunia yang kita peroleh dari Tuhan dipergunakan untuk kepentingan bersama dalam arti kita dimampukan menjadi berkat buat orang-orang disekitar kita. Amin.


Jamita Epistel XV Dung Trinitatis, 13 September 2026

DEBATA PATUPA HALONGANGAN TU BANGSONA (Tuhan Melakukan Perbuatan Besar Bagi Umat-Nya) 1 Petrus 2: 1 - 10   1. Huria ni Tuhanta na h...